…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menjadi Datu Museng

Posted in Review, Sejarah by daengrusle on January 18, 2018

link dari Locita

Tulisan ini terbit perdana di web locita.co dengan tajuk “Fakta dan Fiksi Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati” tertanggal 13 Januari 2018.

DI layar-layar bioskop tanah air, film berjudul Maipa Deapati dan Datu Museng, yang diangkat dari tradisi tutur Makassar tengah tayang. Film yang disebut-sebut menampilkan kisah asmara yang lebih tragis dari kisah Romeo dan Juliet itu mendapat atensi banyak orang. Bioskop di Kota Makassar dibanjiri mereka yang penasaran dengan kisah asmara berlatar sejarah itu.

Kisah itu berpangkal pada seorang utusan Sultan Sumbawa yang mengamuk di Makassar, di awal Maret 1765. Utusan bernama Datu Busing itu menolak menyerahkan diri dan bersikukuh melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pengikutnya.Kisah kecil dalam sengkarut perebutan kekuasaan Sumbawa abad 18 ini, kemudian menjelma menjadi cerita utama dalam seni sastra tutur Sinrilik dalam budaya Makassar. Sinrilik Datu Museng diceritakan berulang-ulang beratus tahun kemudian, dalam bentuk novel, pertunjukan teater dan film.

***

SERATUS tahun selepas perang Makassar, Kerajaan Gowa-Tallo dan seluruh wilayah bawahannya sudah benar-benar dikuasai oleh VOC. Kisah kejayaan dan keberanian pasukan Makassar lamat-lamat karam oleh penghambaan penguasanya pada ambisi dagang VOC dan sekutunya. Sejak benteng terakhir Kale Gowa direbut pasukan Arung Palakka, 1677, tak ada lagi pergolakan berarti di Gowa-Tallo.

Sebagian bangsawan yang menolak takluk eksil ke Jawa atau paling jauh ke Johor di semenanjung Malaya. Sementara itu, para bangsawan yang tersisa sudah mulai terbiasa berbaik-baik dengan Kumpeni, sebutan lazim VOC kala itu. Hingga seratus tahun setelah perang yang melelahkan itu, tampaknya geliat perlawanan bangsa petarung itu terendam oleh kegiatan dagang yang monopolistik setelah diambil alih Kompeni.

Di bulan Desember 1764, tiga utusan raja Sumbawa yang sedang berkuasa, Datu Taliwang, menjejak di Makassar; Datu Busing, Nene Rangan dan seorang lagi yang tak disebutkan namanya. Sumbawa adalah salah satu kerajaan bawahan Gowa-Tallo yang ikut dikuasai Kumpeni paska perang Makassar.

Tiga bangsawan Sumbawa ini membawa misi khusus untuk membujuk Gubernur Sinkelaar yang berkedudukan di benteng Jumpandang agar junjungan mereka Datu Taliwang tetap dikukuhkan sebagai penguasa Sumbawa. Ini karena ada rumor bahwa Datu Jarewe, seteru Taliwang yang saat itu ditahan di Makassar mulai membujuk Kumpeni untuk mendepak Taliwang dari tahta.

Malangnya, utusan-utusan itu telat datangnya. Sinkelaar sudah memutuskan untuk mendukung Datu Jarewe sebagai Sultan Sumbawa yang sah. Bulan Februari 1765, Sinkelaar melantik Jarewe sebagai Sultan dan imbasnya, nasib para utusan Datu Taliwang terancam. Perintah penahanan untuk Datu Busing dan pengiringnya diedarkan. Perburuan terjadi, dua utusan termasuk Nene Rangan berhasil dipaksa menyerah tanpa perlawanan berarti.

Datu Busing, yang juga merupakan penguasa Busing dan Re, dua wilayah dalam kesultanan Sumbawa kala itu, menolak menyerah. Selama lebih kurang sebulan lamanya, hingga 4 Maret 1765, Datu Busing mengamuk di Makassar.

Dalam laporannya, Gubernur Sinkelaar menulis “pada sore hari, dua utusan (Sumbawa) itu dibawa menghadap saya sementara yang ketiga berhasil lolos dan kembali ke kediamannya dengan penjagaan ketat dari anak-buahnya, meskipun pada akhirnya dia berhasil dibunuh”.

Catatan sejarah di atas direkam dari buku Bima en Sumbawa (1987) yang ditulis oleh Noorduyn, yang kemudian disajikan ulang oleh Thomas Gibson dalam bukunya Narasi Islam dan Otoritas di Asia Tenggara (2011). Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Ininawa di Makassar.

***

JIKA menilik catatan ini, perlawanan Datu Busing ini sejatinya datar dan singkat saja tanpa dramatisasi yang berlebihan, dan tak lebih sekadar sengkarut perebutan tahta Kesultanan Sumbawa antara Taliwang dan Jarewe. Namun kenyataannya, catatan sejarah di atas menjadi inspirasi lahirnya kisah Datu Museng, cerita utama paling terkenal dalam sastra tutur Sinrilik yang banyak diperdengarkan di masyarakat berbahasa Makassar sejak abad 17.

Bagi lidah penutur bahasa Makassar, Busing kemudian berubah menjadi Museng, yang pengucapannya lebih mudah sehingga melahirkan nama Datu Museng. Selain memuat kisah amuk sang Datu dalam perlawananya melawan serdadu Kompeni, cerita Datu Museng kemudian dibumbui dengan kisah asmara dengan kekasihnya, Maipa Deapati, atau Maipa Daeng Nipati.

Kisah Sinrilik yang dilantunkan berirama ini dimainkan oleh seorang pendongeng sambil memainkan alat musik gesek kesok-kesok¸sejenis rebab. Terkadang dalam pagelaran yang lebih besar, musiknya juga diiringi gendang dan gong kecil.

Sinrilik Datu Museng ini mengatasi kepopuleran kisah sinrilik yang lain; Sinrilik Kappalak Tallumbatua, Sinrilik Tuanta Salamaka Syekh Yusuf, Bonto-bonto dan lainnya. Bahkan, kisah Datu Museng juga menyeberang ke utara menyusup ke dalam seni sastra tutur khas Bugis; Pakkacaping, yang dimainkan dengan alat musik petik sejenis kecapi.

Meski konon sudah dituturkan sejak 1765, Sinrilik Datu Museng baru disadur ke dalam bentuk tulisan atas upaya Benjamin Matthes, seorang misionaris Belanda yang juga menjadi pelopor penerjemahan Injil ke Bahasa Makassar. Ia menyalin ulang Sinrilik Datu Museng pada tahun 1852 dalam tulisan yang memuat 1.150 baris.

Kisah Datu Museng rupanya juga dicatat dalam versi yang sedikit berbeda oleh misionaris lainnya, Donselaar di Bantaeng tahun yang hampir sama. Dua versi ini memiliki alur cerita yang mirip tapi berbeda dalam penggambaran sosok-sosok antagonisnya.

Lama setelah itu, di tahun 1967 penulis Verdy R Baso menyadur kisah Datu Museng ini ke dalam bentuk novel dan menerbitkannya melalui penerbit Merappi. Novel kecil ini kemudian menjadikan jangkauan kisah Datu Museng lebih luas ke masyarakat.

Satu dekade kemudian, Fahmi Syarif, seniman teater Makassar, mementaskan Datu Museng dalam drama 4 babak pada bulan Agustus 1975 di gedung bioskop Madya kemudian dipindahkan ke panggung terbuka Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam). Sejak itu, kisah Datu Museng mulai disebar lebih massif dalam bentuk teatrikal, layar kaca hingga film yang pekan ini tayang.

***

MESKI lahir dari peristiwa sejarah di tahun 1765 seperti diuraikan di awal tulisan ini, namun kisah Datu Museng kemudian terurai panjang menjadi semacam cerita fiksi dengan berbagai penambahan di sana sini. Di semua versi yang disajikan ke masyarakat, cerita Datu Museng memuat tiga tema utama; asmara, perlawanan dan mistisme.

Kisah romantis yang berakhir tragis, konon lebih mencekam dibanding cerita fiksi Romeo dan Juliet, antara Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati sudah kadung terkenal. Bahkan tema asmara ini lebih dominan dalam penceritaan, mulai dari jejak keduanya di masa remaja, hingga upaya pangeran jahat hendak mempersunting Maipa, sampai kemudian keterlibatan Gubernur Sinkelaar yang jatuh hati pada kecantikan Maipa.

Kematian tragis Maipa yang ditikam oleh badik Datu Museng sendiri menjadi puncak kisah ini, berikut kematian Datu Museng yang melepaskan semua ajimat kekebalannya demi menyusul kekasihnya ke alam kematian. Tak berhenti di alam nyata, asmara keduanya melebar lagi ketika diceritakan bahwa nisan pasangan kekasih ini entah bagaimana, masing-masing saling mendekat dan akhirnya berkumpul lagi bersama dalam satu petak kuburan.

Sinrilik Datu Museng juga menjadi representasi perlawanan, ia seperti obat yang menuntaskan dahaga orang Makassar tentang sosok pemberani setelah lama dikungkung Kompeni. Seratus tahun tanpa perlawanan tentu begitu menjemukan bagi masyarakat Gowa-Tallo saat itu.

Kebencian pada Kompeni dan kerinduan akan pahlawan yang berani melawan itu diwujudkan dalam sosok Datu Museng, tokoh utama dalam Sinrilik itu. Sehingga, Sinrilik Datu Museng menjadi semacam alat propaganda bagi kekuatan politik di Makassar saat itu untuk mulai menyusun lagi perlawanan.

Secara diametrikal, penggambaran tentang Gubernur Jendral Sinkelaar beserta para bangsawan bawahannya sedemikian rendah dalam Sinrilik itu. Simaklah bagaimana lukisan perbandingan kualitas moral antara Datu Museng dan sang gubernur Sinkelaar dalam catatan Matthes (1852)

Karaeng I Datu Museng, yang taat pada agamanya, pemurah dalam berderma kepada yang mengunyah sirih dan kepada orang miskin; yang mengasihi orang malang; /yang berpaling dari larangan dan menghindari keburukan; yang diangkat oleh cahaya dalam dirinya; /yang mujur dalam perbuatan dan jernih dalam pikiran; yang kehendaknya tidak terhambat, begitu pula perbuatannya; /dialah keturunan nabi, pemimpin orang beriman; /dialah keturunan para guru dan putra orang bijak (panrita).

Sebaliknya, sang Gubernur Belanda dilukiskan dengan teramat buruknya. Tuan Besar, pencinta-dunia, ornamen-dunia;/ yang mengayunkan pedang kepada mereka yang sudah berlutut; /yang mengenakan topi lebar, rambutnya kuning, berkulit putih; /giginya tidak rata, dan tidak dikhitan.

Penggambaran yang bertolak belakang ini seperti mewakili perasaan orang Makassar kala itu, yang mungkin tak punya saluran lain untuk menyampaikan kritik selain melalui Sinrilik.

Dalam sastra tutur Sinrilik, juga novel dan filmnya, perang antara pasukan Datu Museng melawan kompeni Belanda digambarkan sangat heroik, kolosal dan panjang. Meski aslinya, menurut catatan Noorduyn sebelumnya, sejatinya perlawanan itu berakhir dalam waktu singkat dengan terbunuhnya sang Datu.

Tentu saja penggambaran perlawanan yang sangat didramatisir dari seorang bangsawan Sumbawa di tanah Makassar mungkin agak berlebihan, namun pengisahan ini mengandung pesan politik bahwa perlawanan mesti mulai digalakkan. Terbukti, baik akibat langsung maupun tak langsung, mulai muncul tokoh-tokoh pahlawan Makassar setelah era Datu Museng, semisal I Sangkilang (1790), I Tolo (1900an) dan seterusnya.

Walaupun kisah heroiknya tersebar kemana-mana, Datu Museng mungkin lebih dianggap sebagai tokoh mitos — meskipun kuburannya di tepi pantai Losari ramai dikunjungi peziarah dan karenanya tak kebagian gelar pahlawan ketika pemerintah Soekarno mencari sosok daerah untuk ditonjolkan. Hasanuddin, yang kalah dalam perang Makassar dan hidup seratus tahun sebelum Museng, kemudian terpilih menjadi pahlawan nasional. Bukan Datu Museng, bukan Pattingalloang, bukan yang lain.

Tema terakhir dalam kisah Datu Museng adalah soal mistisme, dalam pengertian positif; tasawuf. Di masa ketika kisah Datu Museng mulai dituturkan, praktek keagamaan masyarakat Makassar lebih cenderung dipengaruhi oleh aliran tasawuf. Apalagi pada masa itu masih kuat pengaruh ajaran Syekh Yusuf yang menyebarkan ajaran tarekat Khalwatiyah. Ada unsur-unsur penyebaran ajaran agama Islam dalam penuturan kisah Datu Museng, termasuk kisah sang datu menuntut ilmu ke dua tanah suci; Mekkah dan Madinah.

Konon, ketika berguru di Mekkah, Datu Museng memperoleh ilmu sakti Bunga Ejana Madinah yang kemudian dipergunakan saat bertempur melawan serdadu Kompeni. Kesaktian Datu Museng digambarkan sangat berlebihan dalam kisah itu, misalnya kebal terhadap peluru atau bisa memasukkan bola sepak takraw ke dalam tubuh Maipa Deapati.

Sampai akhir 1990-an kepercayaan soal kesaktian seseorang karena ajimat atau dzikir mistis tertentu masih terpelihara dalam budaya Makassar. Kisah Datu Museng juga menyajikan peragaan kesaktian mistis sedemikian rupa, yang mungkin lebih mudah disampaikan ke masyarakat luas ketimbang mangkul atau berguru ke orang-orang yang tertentu.

Dengan semakin maraknya kelompok keagamaan literalis belakangan ini, kepercayaan mistis yang biasa diyakini oleh pengikut tarekat semakin lama tergerus dan terpinggirkan. Kisah Datu Museng mungkin akan menjadi artefak naratif yang mengabadikan kepercayaan yang pernah dominan dalam masyarakat Makassar.

***

DATU Busing, orang kepercayaan Datu Taliwang, penguasa Sumbawa tahun 1763–1765 yang bergelar Sultan Jalaluddin, mungkin tak pernah mengira bahwa namanya (beralih menjadi Datu Museng) akan menjadi sedemikian terkenal hingga 300 tahun kemudian. Pun sosok Maipa Deapati, yang sama sekali tak pernah disebut dalam catatan sejarah penelitian Noorduyn dan Gibson, menjadikan keduanya pasangan paling romantis namun berakhir tragis dalam budaya tutur Makassar.

Sayangnya, para penulis atau pendongeng kisah Datu Museng melewatkan satu episode penting tentang maraknya perbudakan kala itu. Datu Taliwang, junjungan Datu Museng konon disebut-sebut sebagai pemasok budak untuk kepentingan penguasa VOC kala itu.

Tak tanggung-tanggung, jelang diangkat sebagai Sultan Sumbawa, Taliwang mempersembahkan seratus budak kepada residen Bima, Johann Tinne yang memerintah dari 1758–1764) untuk dijual ke negeri seberang. Sayangnya Tinne mangkat ketika Taliwang baru berkuasa dua atau tiga tahun, yang kemudian mengubah peta politik di Sumbawa. Seperti diceritakan sebelumnya, Taliwang mengutus Datu Busing ke Makassar.

Takdir sang utusan sudah digariskan, dalam kisah sinrilik Daru Museng. Karena kisahnya yang diceritakan berulang-ulang dalam Sinrilik, nisan yang dipercaya sebagai makam Datu Museng dikunjungi penziarah setiap Jumat. Kuburannya yang berlindung dalam bangunan kecil bertembok merah di pesisir pantai Losari seakan bersaksi tentang sebuah kisah biasa yang didramatisir sedemikian rupa dalam seni lakon modern.

Adaptasi kisah Sinrilik Datu Museng dalam bentuk film bertajuk sama, Datu Museng — Maipa Deapati produksi Paramedia Indonesia tayang di Indonesia mulai 11 Januari 2018 kemarin. Semoga tulisan di atas ikut menemani Anda merenungi banyak hal yang mungkin tak sempat diceritakan dalam film layar lebar berdurasi 118 menit itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: