…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Datu Museng, Makam Yang Tersembunyi

Posted in Sulawesi Selatan by daengrusle on September 28, 2012

Foto Makam Datu Museng, (sumber: http://jalan2serumakassar.com/)

Dua anak kecil itu riang mengantar saya ke makam Datu Museng. Keduanya, Farid dan Uceng, adalah siswa SD Mangkura yang letaknya tak jauh dari situ. Saya bertemu mereka ketika pagi itu saya kebingungan sendirian di depan bilik makam Datu Museng yang terkunci rapat. Saya katakan bilik, karena memang makamnya hanya seperti sebuah kamar kecil berukuran 2×2 meter dengan tembok berwarna merah muda. Bilik makam ini diberi pagar besi hijau, mengitari pekarangan makam yang tak lebih luas dari bilik itu sendiri.

Kondisi bilik makam ini mengenaskan. Saat saya berkunjung, sampah dan debu pasir hitam berserakan di mana-mana. Di beberapa bagian pekarangan, ada tumpukan sampah dan bangkai bunga dan dedaunan. Mungkin bekas penziarah yang membuang begitu saja sampah itu. Dinding makam terutama di bagian bawah dipenuhi jelaga hitam, mirip tembok bengkel motor yang dilumuri oli. Sebuah makam kecil berkeramik putih yang terletak persis di bawah dua jendela makam di pekarangan itu tak ubahnya seperti tempat sampah saja. Padahal makam itu konon mengubur jazad seorang pengawal Datu Museng.

Hanya ada satu penanda papan nama kecil tepat di atas pintu berwarna hijau, bertuliskan dengan cat emas “Makam Datu Museng”. Selain penanda itu, orang tak akan mengenali siapa yang berada di dalam bilik ini. Pun ketika pertama kali mencari sendiri letak makam ini, dengan menyusuri jalan Datu Museng di Makassar, saya seperti kehilangan jejak. Tak ada penanda ataupun bangunan yang secara kasat mata menunjukkan keberadaan makam ini. Barulah ketika bertanya ke seorang daeng becak yang mangkal di seberang kantor kelurahan Maloku, saya ditunjuki arahnya.

Sebuah bangunan kecil yang berada di bibir lorong kecil, nyaris tersembunyi di antara kios rokok dan warung makan di depannya. Kalau tak awas mata menyusuri sekitar, makam ini tak akan teramati dengan jelas. Beberapa teman juga tak mengira bahwa tepat di depan RS Stella Maris yang terkenal itu, sesungguhnya ada makam Datu Museng; tokoh yang menginsipirasi legenda asmara yang dikisahkan turun temurun oleh para tetua Makassar melalui prosa liris Sinrilik Datu Museng – Maipa Deapati.

Padahal makam ini, menyimpan sosok seorang “pahlawan” yang kemudian lebih benderang sebagai pijar legenda asmara dari Makassar. Lebih dikenal sebagai tokoh dalam kisah fiksi daripada sosok yang menyejarah dalam lini masa kerajaan Sumbawa, juga kota Makassar. Jejak heroik, tak hanya kisah percintaan, mendekap erat di kisah pemuda yang berusia tak lebih dari 30 tahun ketika tewas dibunuh pasukan Belanda di bibir pantai yang kini dikenal dengan sunset yang indah, Losari.