…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Blog dan Narasi 140 Karakter

Posted in Abu Dhabi, Indonesia by daengrusle on January 24, 2012

Apakah socmed itu akan membunuh pertumbuhan blog? Saya kira tidak. Adakalanya orang tak merasa cukup dengan menggalau di-wall atau timeline yang terbatas itu. Narasi 140 karakter di twitter kadang tak cukup untuk menumpahkan ide. Orang masih akan butuh wahana yang lebih luas dan bebas.

Barangkali Gola Gong seumur-umurnya tidak pernah berpikir suatu hari akan menjejakkan kakinya di sebuah kampung di tengah gurun pasir bernama Ruwais. Namun selama dua malam di penghujung tahun 2011, penulis produktif yang juga penggagas komunitas literasi Rumah Dunia itu diundang untuk menghirup udara musim dingin Ruwais. 

Bagi yang tak tahu dimana Ruwais, ia adalah sebuah kawasan industri di utara Uni Emirate Arab, terletak di pekarangan salah satu gurun pasir (empty quarter) terluas di dunia dan menghadap ke bibir Teluk Persia. Jaraknya sekitar 8 jam perjalanan udara ditambah 2 jam perjalanan darat dari Jakarta – Abu Dhabi – Ruwais. 

Di depan ratusan peminat literasi asal Indonesia, beberapa diantaranya adalah blogger aktif, Gola Gong memantik sumbu literasi di antara antusiasme yang sejatinya sudah menggumpal lama. Workshop menulis yang digelar dua hari tersebut seperti hendak menekankan bahwa hanya satu pekerjaan paling penting di dunia sampai mesti menerbangkan dirinya melintasi bentang ribuan kilometer dari tempat tetirahnya di Serang Banten: menulis!  (more…)

Tips Berdiskusi Dengan Perspektif Beda

Posted in Renungan by daengrusle on January 11, 2012

Beberapa hari terakhir ini saya dirundung kepenatan berpikir karena mesti berdiskusi dengan tema yang sensitive, terutama karena di dalamnya terdapat perbedaan perspektif yang sangat tajam. Kecenderungan untuk tidak memperturutkan emosi kadang goyah, dan sekira tidak berusaha untuk menjalin silaturahim tentu segala macam ungkapan emosional bisa saja terumbar dengan sendirinya. Namun, menjaga kedewasaan berpikir tentu lebih mulia dan Utama dalam sebuah diskusi, disamping terhormat juga sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan diskusi.

Beberapa diskusi yang saya terlibat di dalamnya, lebih banyak berkutat pada soal keyakinan. Yang mana agak susah mempertemukan dua hal yang pada dasarnya memiliki pijakan berbeda. Hal yang membuat hal ini ringan adalah bahwa tujuan diskusi bukanlah untuk meyakinkan lawan diskusi untuk menerima pendapat kita, tidak sampai segitu. Yang menjadi tujuan hanyalah bahwa si lawan diskusi bisa mengenal perspektif berbeda dari yang mereka yakini. Cukup mengenal dan mengetahui landasan berpikirnya saja, dan selebihnya silahkan mereka meneruskan penggaliannya sendiri. Baik dalam ber-tafakkur ataupun melakukan telaah literature untuk menguji kembali keyakinan yang dia miliki. (more…)