…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Kronik Abu Dhabi: Menjadi Abu, Menyisir Debu

Posted in Renungan by daengrusle on February 7, 2011

Mungkin ada sekitar 25tahun lebih sejak terlahir di dusun kecil bernama Sempangnge, Wajo Sulawesi Selatan, tak pernah rasanya berinteraksi langsung dengan peradaban asing. Interaksi tak langsung dan terbatas hanya melalui bacaan atau tontonan, dan di kepala ada selintas imajinasi iseng apakah betul ada kampong dengan penduduk berkulit putih, merah atau hitam yang berbicara dengan bahasa aneh yang tak pernah kami pahami sebelumnya. Atau jangan-jangan semuanya itu hanya skenario ilusif saja atau manipulasi gambar yang dilakukan pihak tertentu, seperti di film Truman Show (1994).

Interaksi awal mulai terjadi ketika pertamakali bekerja di Jakarta, satu dua orang rekan kerja berbangsa asing berkulit putih. Kemudian berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, namun tak pernah terlintas akan membaur dan bekerja di tanah asing. Angan-angan bekerja di luar negeri mungkin sekali dulu ada, tapi itu hanya seumpama pungguk merindukan bulan. Apalagi melihat kemampuan diri yang tidak seberapa dibanding yang lain.

Satu hal yang mungkin memupuk rasa percaya diri adalah bahwa saya pernah menempuh pendidikan di salah satu institusi perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun tentu saja itu tak cukup. Selain kemampuan teknis, keterampilan berkomunikasi dan kematangan berpikir adalah kunci untuk menembus lingkungan asing tersebut. Tentu saja saya merasa tak memiliki modal yang cukup untuk itu. Ibaratnya, saya hanya abu yang berharap diterbangkan angin ke negeri seberang, hanya debu yang berharap menempel di sepatu atau roda agar bisa berpindah ke jejak yang lain.

Sampailah datangnya tahun 2011, tahun yang mungkin menjadi batu jejak saya untuk lompatan hidup berikutnya. Jejak yang sama sekali baru, dengan segenggam harapan yang dipaksakan ikut jua melompat naik. Kini di Abu Dhabi, kota kecil di kawasan seberang, berjarak 8 jam perjalanan udara dari Jakarta, saya mulai menjejak di awal 2011. Banyak yang harus ditinggalkan dengan keputusan ini, namun jauh lebih banyak lagi yang akan diraup setelah ini. Itu sejenis doa, dan semoga bukan sebaliknya. Resiko terbilang mungkin akan banyak, namun seperti yang saya yakini sejak dulu, tak pernah ada pilihan yang salah.

Pilihan adalah sesuatu yang bebas nilai ketika diambil dari kotak keputusan. Yang mungkin perlu dimaklumi adalah konsekuensi-konsekuensi yang akan menyertainya. Jangan berharap bahwa kehidupan akan mulus seperti permukaan kaca, hidup seperti itu tentu tak layak dijalani karena tak member pelajaran untuk memaknai bagaimana memperjuangkan hidup.

Disini, saya berharap menjadi abu dan debu yang bergerak makin ‘dekat’. Dekat sedekat nadi di leher. Dekat secara spiritual, semoga. Karena hakekat kehidupan spiritual adalah sebuah perjalanan, bukan stagnasi.

Advertisements
Tagged with: