…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Seratus Tahun Kegelapan: Kisah Terjemahan Alquran Dalam Bahasa Inggris

Posted in Abu Dhabi, agama by daengrusle on November 1, 2016

Ada masa nyaris seratus tahun bahkan lebih, Islam digambarkan oleh Eropa sebagai agama orang Turki dengan ajaran yang menyimpang. Alexander Ross (wafat 1654), seorang pendeta yang juga berprofesi sebagai penulis dan penerjemah berkebangsaan Skotlandia, menerbitkan sebuah terjemahan AlQuran yang diberi judul “The Alcoran of Mahomet” (circa 1649). Ross yang tak punya keterampilan berbahasa Arab secuil pun, nekad merampungkan utuh Alquran berbahasa Inggris yang rupanya dia sadur dari buku terjemahan berbahasa Perancis. Para kritikus di masa belakangan menyebutkan bahwa hasil terjemahan Ross teramat buruk, bahkan dianggap telah menyalahartikan bukan saja makna ayat-ayat suci dalam Alquran, tetapi juga rancu memahami bahasa Perancis yang diterjemahkannya.

Meskipun demikian, hingga tahun 1734, kitab terjemahan Ross yang buruk ini dijadikan referensi utama bagi para pembelajar Islam dan Alquran di Inggris. Maka awan kegelapan menaungi para intelektual selama itu. Kitab terjemahan Ross ini bahkan dicetak ulang berkali-kali dan disebarkan hingga ke Amerika Serikat sampai tahun 1948 ketika buku itu berhenti diterbitkan lagi. Dari Ross inilah, kemungkinan para orientalis mendulang ilmu tentang Islam yang kemudian ternyata sangat bias dan tak tepat duga. Islam digambarkan sebagai sekte sesat yang menyimpang dari ajaran Kristen, demikian anggapan umumnya.

Hingga kemudian muncullah George Sale, anak seorang pedagang yang menjadi sarjana dalam bahasa Arab, melakukan koreksi atas kitab terjemahan Ross dengan menerbitkan buku terjemahan berjudul “The Koran” (circa 1734). Meski tak juga lepas dari kesalahan mendasar, misalnya menterjemahkan ayat “Hai Umat Manusia” dengan menyempitkan bahasanya menjadi hanya “Hai Penduduk Kota Mekah”, atau kata ganti “Muslim” diturunkan menjadi “Penduduk Arab atau Mekkah” saja. Namun, setidaknya kekeliruan mendasar dari terjemahan Ross bisa diperbaiki meskipun Sale sendiri memasukkan unsur-unsur subyektif dalam terjemahannya.

Arthur Arberry kemudian melakukan penyempurnaan terjemahan AlQuran secara lebih baik di tahun 1955, dengan bukunya “The Koran Interpreted”. Dengan pemahamannya yang cukup lengkap tentang bahasa dan kebudayaan Arab, juga Islam sebagai ajaran teologi, dan pergaulannya yang intens dengan penduduk Mesir saat tinggal di sana, Arberry cukup radikal melakukan koreksi atas kesalahan penerjemahan Alquran yang dilakukan oleh Ross dan Sale sebelumnya.

Kemungkinan besar bahwa penerjemahan, atau penafsiran keliru Alquran dan juga ajaran Islam serta sejarah Nabi Muhammad ke dalam buku-buku literatur berbahasa Eropa sangat dipengaruhi oleh isu politik panas saat itu antara Kesultanan Ottoman dengan Kerajaan Inggris Raya atau Eropa lainnya. Namun untunglah bahwa peradaban modern, dengan jargon paling khasnya “metoda ilmiah” selalu melahirkan koreksi-koreksi yang berasal dari klarifikasi atau tabayyun terhadap sumber primer-nya. Hingga kini, para pembelajar kemudian masuk lebih dalam lagi, berusaha memahami teks suci agama-agama, termasuk Islam, dari perspektif penganutnya sendiri. “Islam berbicara dengan perspektif Islam, bukan dari kacamata yang lain”.

Kitab suci dan teks-teks transenden memang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Namun patut diingat bahwa terjemahan tidaklah mampu membawa makna sejatinya sesempurna bahasa aslinya. Jangan latah menganggap terjemahan adalah teks suci itu sendiri. Ada banyak kemungkinan distorsi kalau sudah dialihbahasakan lepas dari bahasa aslinya. Pesan pendek saja kalau disampaikan sambung menyambung dari satu orang ke orang lain bisa mengalami reduksi kata, apalagi kalau disadur menjadi bahasa yang asing. Seperti kisah penerjemahan Alquran di Eropa di atas. Nah, dalam konteks kekinian mengelola infomasi, kita sekarang yang berada di abad modern, apakah masih enggan mencari tahu informasi langsung ke sumbernya? Dan hanya mengandalkan copy paste atau forward dari pribadi-pribadi yang setiap ditanya asal berita hanya santai berujar “Saya hanya forward aja, silahkan telusuri sendiri kebenarannya”?

Beriman Pada Media

Posted in agama, Random, Uncategorized by daengrusle on September 17, 2016
14344259_1204955849583588_4493759079424414387_n.jpg

this picture taken from Facebook or somewhere else, not mine.

Seorang kawan yang baik, yang saya kenal kebaikannya sejak belasan tahun, suatu kali menyatakan bahwa ia lebih mempercayai media non-mainstream daripada media yang sudah dikenal. Alasannya bahwa banyak fakta-fakta yang disampaikan media non-mainstream ini tidak diungkap oleh media besar. Sepintas saya menghargai sikapnya ini.

Namun, ketika menelusuri media non-mainstream mana yang dimaksud dengan melihat link-link yang biasa ia sampaikan di social media, saya tiba-tiba masygul. Kebanyakan adalah media yang menurut saya agak “abu-abu”, terutama karena dua hal; pertama, media itu tak menampilkan penanggungjawab redaksi perorangan secara jelas, kedua, kebanyakan berita atau artikel yang disampaikan oleh media itu nyata-nyata menyerang pihak atau tokoh pemerintahan tertentu, dengan dibumbui hal-hal yang dikaitkan dengan agama,ras,dan hal-hal primordial lainnya. Pun, berita yang disampaikan, dan dianggap fakta oleh kawan saya itu, sifatnya masih dugaan yang jauh dari konstruksi sebuah fakta. Selain tak dikutip dari narasumber yang akurat dan kompeten, juga lebih banyak hanya menyajikan sepihak, tanpa ada perimbangan opini dari pihak seberangnya.

Dan kawan baik saya ini ngotot menyatakan bahwa berita-berita semacam itulah fakta dan kebenaran yang coba ditutupi media mainstream. Dengan tambahan dugaan bahwa media mainstream itu sudah dikuasai (atau dibayar) oleh pihak yang tak disukainya. Sebagaimanapun kita berusaha membantunya dengan sajian informasi tabayyun/klarifikasi terhadap berita absurd itu, kawan saya tak akan mudah goyah dari keyakinan akan kebenaran media itu.

Saya seperti menemukan bentuk keimanan baru, sebagaimana agama atau kepercayaan. Kawan saya itu beriman pada media non-mainstream yang gemar dia kutip, dan di sisi yang berseberangan, dia menganggap media mainstream sudah kufur dalam pemberitaan sehingga tak layak masuk ke dalam konstruksi keimanan medianya. Kita yang memaparkan informasi berseberangan akan justru dianggap menyampaikan ketidakbenaran, meskipun hanya dalam rangka tabayyun.

Saya berpikir akan sia-sia rasanya berdiskusi dengan kawan seperti itu. Saya akan memilih abstain dan coba meninggalkan masalah itu. Toh, dia sudah punya keyakinan berbeda. Namanya juga keyakinan, bukan ketidak yakinan, tentu sulit sekali berubah atau bergeser. Dalam dunia psikologi, itu namanya WAHAM. Dalam istilah humor sufistik, mereka dianggap tersesat dalam keyakinannya.

Ragam “Mazhab” Islam di Amerika

Posted in agama by daengrusle on October 11, 2015

Masjid Maryam in Chicago, USA

Masyarakat Muslim di Indonesia dan beberapa belahan dunia lain mungkin hanya mengenal beberapa mazhab mainstream yang sering melintas dalam diskusi atau pelajaran teologi; ahlussunnah (hanafi, maliki, syafii, hambali), syiah (imamiah, zaidiyah, ismailiyah), mutazilah, ibadi, ahmadiyah. Setidaknya mazhab-mazhab itulah yang paling sering dibincangkan terutama ketika pokok diskusi merambah ke soal akidah dan fiqh.

Muslim di Amerika, dengan pola pikir yang terbuka dan bebas, ternyata juga mengalami pergulatan pemikiran dalam soal mazhab. Dilatar belakangi oleh sejarah perbudakan yang kelam, juga mungkin karena ketidaktahuan atau terputusnya arus dakwah di belahan barat ini, kemudian membuat muslim awal di Amerika mendirikan sekte atau mazhab tersendiri. Pikiran-pikiran kritis yang menolak untuk terpaku (atau taqlid) pada satu pemahaman saja, membuat Islam di Amerika menjadi lebih dinamis, dengan kebebasan mendefinisikan pokok syariah yang seperti tak terbendung. Di Amerika, sepertinya mazhab2 mainstream punya “kawan berdialog” lebih banyak daripada yang ada di Timur Tengah, Asia atau Afrika. Beberapa mazhab yang lahir dari rahim sejarah muslim di Amerika ini sebagai berikut.

1. Moorish Science Temple of America, didirikan oleh Drew Ali tahun 1913. Dia menggelari dirinya sebagai Nabi Mulia (Prophet Noble) Drew Ali dengan ajaran yang lebih bernuansa sinkretism, karena menggabungkan pokok ajaran Islam dengan Budha, Kristen, Sufism bahkan juga ajaran Tao. Meski memakain nama “Science” dalam mazhabnya, tapi konon keyakinannya malah banyak bertolak belakang dengan sains populer. Nampaknya mazhab ini didirikan untuk mengkonsolidasi muslim asal Afrika Barat yang berimigrasi ke Amerika sebagai budak. Tahun 1930an, jamaahnya mencapai jumlah 30,000 namun berkurang drastis menjadi hanya 800-an saja saat ini. Jumlah mesjidnya (disebut sebagai Temple) diklaim sebanyak 260 buah di seluruh Amerika Serikta.

2. Nation of Islam (dulu populer sebagai Black Moslem), didirikan tahun 1930 oleh Wallace Fard Muhammad. Tampaknya merupakan pecahan dari Moorish Science Temple of America. Pengganti Wallace, Elijah Muhammad kemudian menetapkan pokok-pokok ajaran mazhab ini sejak tahun 1934. Ajarannya cukup kontroversial dan dituding sebagai gerakan rasis, anti kulit putih, anti kristen, anti-semit dan digolongkan sebagai “gerakan kebencian” di beberapa tempat di Amerika. Mereka juga menetapkan bahwa Wallace adalah reinkarnasi Tuhan di bumi. Salah satu mantan anggota Black Moslem yang terkenal adalah Malcolm X, yang kemudian keluar dan terbunuh dengan tragis. Jumlah jemaat Nation of Islam kini berjumlah 20,000 dengan 130 mesjid, dipimpin oleh tokoh Louis Farrakhan.

3. Five-Percent Nation (Nation of Gods and Earths), didirikan tahun 1964 oleh Clarence 13X sebagai pecahan Nation of Islam. Clarence merupakan murid langsung Malcom X dan menyatakan pemisahan diri dari Nation of Islam karena tidak mengakui Fard Muhammad seorang sebagai jelmaan Tuhan. Ajarannya sendiri malah menyatakan bahwa seluruh bangsa kulit hitamlah yang justru merupakan jelmaan Tuhan di bumi. Mereka menyebut diri sebagai sekte 5% karena keyakinannya bahwa di seluruh dunia hanya 5% manusia yang mengenal kebenaran dan diwajibkan untuk memberikan pencerahan kepada yang lainnya.

4. United Submitters International, didirikan tahun 70-an oleh Rashad Khalifa, seorang imigran asal Mesir yang berprofesi sebagai Biochemist. Meski banyak mengambil ajaran Islam, tapi mereka tak menyebut diri sebagai Muslim, tetapi “Submitter”, yang kalau diamati merupakan terjemahan inggris dari makna muslim juga. Ajaran ini dikenal juga dengan nama Quraniyyun, dengan doktrin bahwa hanya Quran lah satu-satunya sumber kebenaran, sembari menolak hadist yang dianggap banyak mengalami penyimpangan karena tak bebas dari intervensi manusia, berbeda halnya dengan Alquran yang dianggap murni karena dijaga Tuhan. Mengajarkan monotheisme, Khalifa menyebut diri sebagai “pembawa pesan Tuhan” meski dia bersikeras bahwa ia bukanlah Nabi sebagaimana Muhammad. Dalam ajarannya, ia menyebut bahwa memang kenabian sudah terputus dan berhenti pada sosok Nabi Muhammad, namun Tuhan masih mengutus sosok “pembawa pesan” sebagaimana yang di emban. Meski begitu, ia menolak menyebut nama Muhammad dalam sholat karena dianggap sirik. Dalam ibadah, menurutnya, hanya boleh menyebut nama Tuhan saja tanpa ada sosok lain selainNya. Rashad Khalifa terbunuh di tahun 1990 oleh seorang muslim radikal yang terganggu oleh ajarannya yang dianggap sebagai nabi palsu yang mengajarkan ajaran sesat.

5. American Society of Moslem; didirikan tahun 1976 oleh Warith Deen Muhammad, yang merupakan anak kandung pemimpin Nation of Islam, Elijah Muhammad. Setelah ayahnya wafat, ia kemudian mengambil jalan yang ditempuh Malcolm X, melakukan reformasi ajaran dari ayahnya dan menjalankan tradisi Islam Sunni seperti shalat, puasa, ibadah haji dan juga menyingkirkan bangku-bangku dari mesjid yang didirikannya. Saat ini ia memiliki sekitar 200,000 pengikut. Organisasi ini kemudian dibubarkan tahun 2003 setelah Warith Deen Muhammad pensiun.

Sebahagian muslim mungkin akan menganggap bahwa sekte2 yang ada di Amerika Serikat itu menyimpang karena berbeda pokok ajaran dengan Islam yang mereka pahami. Meski memang aneh, dan cenderung kontroversial, namun setidaknya para jemaah yang tergabung dalam sekte2 d iatas itu mengaku diri mengambil pokok ajaran Islam sebagai dasar-dasar ajaran mereka. Wallahu ‘alam. [foto: Mesjid Maryam di Chicago, Amerika]

Nalar Yang Membusuk Di Dunia Maya

Posted in Abu Dhabi, agama, My Self-writing by daengrusle on May 30, 2015

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra.

Kalau anda banyak menghabiskan waktu di dunia maya, anda mesti sudah terbiasa disuguhi banyak berita online yang disebarkan atau ditulis tentang segala hal. Sebagaimana halnya di pasar, seringkali informasi yang ditawarkan tak begitu berguna untuk kita, bahkan lebih banyak informasi yang menyesatkan. Terkadang ada berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat. Misalnya kelompok tertentu menghalalkan untuk memakan kotoran manusia, pengikut agama tertentu menyembah imamnya, dan lain sebagainya. Nalar yang dangkal terkadang mudah begitu saja menerima informasi yang menyesatkan itu. Apa guna informasi menyesatkan disebar2? Saya juga sama bingungnya, tapi dugaan awal saya bahwa pihak penyebar itu berkepentingan untuk membentuk opini tertentu agar menguntungkan kelompoknya. Tak ada yang berdagang tanpa mengharapkan keuntungan.

Presiden negeri tertentu berkunjung ke kampung pengungsi dan memeluk mereka, tanpa ketahuan birokrasi negeri ini, Pemimpin agama yang menghalalkan kotorannya untuk disantap pengikutinya, partai politik tertentu dikabarkan punya kepentingan untuk menjual kekayaan negeri ke pihak asing, negeri tertentu mengirim aqidah sesat ke negeri kita untuk mengganti keyakinan seluruh penduduk negeri dan sebagainya. Untuk memperkuat perkabaran itu, penyebar berita busuk itu menampilkan gambar-gambar yang seakan-akan itulah obyek berita, tak lupa pula terkadang melampirkan link berita dari sumbernya yang tak lain hanya tautan ke blog atau media yang tak bisa diverifikasi kemampuannya mengolah produk jurnalistik. Apa yang terjadi, para pengguna dunia maya yang bersemangat segera menyebarkan berita itu.

Menyebarkan berita pada intinya setuju dengan isi berita, kecuali memberi pengantar negatif bagaimana sikapnya terhadap itu. Menyebarkan berita di dunia maya memang murah meriah, karena hanya bermodalkan jempol dan jaringan sekadarnya. Orang yang punya pemikiran sama dangkalnya, segera memberikan pujian dan dukungan dan tak lupa ikut menyebarkan. Maka tersebarlah kebodohan. Tadinya hanya berseliweran di dunia maya, kemudian membentuk pola pikir serupa di dunia nyata. Walhasil, sekelompok manusia dengan pemikiran yang sederhana teracuni dan mungkin saja melakukan kerusakan yang tak kalah rusuhnya di dunia nyata. Meski belum begitu masif terjadi, namun beberapa demonstrasi dan diskusi di masyarakat kadang terpicu oleh issue yang tak jelas di dunia maya.

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra. Apalagi yang menceritakan tentang orang, kelompok atau keyakinan tertentu, mesti juga menyertakan keterangan dan penjelasan dari mereka yang dijadikan obyek berita. Perbedaan pandangan politik, aliran keagamaan, dan segalanya meniscayakan adanya gesekan yang bisa saja menimbulkan kebencian. Kebencian, apalagi didasarkan “hanya” pada informasi yang berseliweran di dunia maya tentu terlalu murah untuk ditanamkan ke kepala kita, membentuk waham yang sayangnya dikemudian hari sulit untuk dikoreksi.

Mulai kini, mari mempersenjatai nalar kita dengan riset. Ada baiknya menanamkan sikap skeptis, atau kurang percaya kepada sebuah berita, terutama berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat, sebelum melakukan klarifikasi. Kadang-kadang sikap bersabar menunggu perkembangan beirta sampai 3-5 hari kemudian juga diperlukan. Karena dalam rentang waktu itu, ketika issue sudah menjadi umum dan dibicarakan banyak orang, obyek berita terkadang sudah muncul menyampaikan klarifikasi. Nalar yang membusuk, kadang mengabaikan klarifikasi. Untuk yang nalarnya membusuk itu, tak ada cara bijak lain selain kita “remove” atau “delete” dari dunia maya kita.

Tabayyun dan Social Media Kita

Posted in agama, Blogging by daengrusle on August 23, 2014

opini tribun Tabayyun 5 Des 2014

(dimuat di Tribun Timur, Jumat 5 Desember 2014)

Berkaca pada kegigihan Imam Buhari melakukan seleksi hadist, klarifikasi dan sikap selektif terhadap informasi wajib dilakukan. Tak serta merta informasi yang kita dapat dapatkan, meski sehaluan dengan pikiran kita, langsung bisa dijadikan sandaran. Perlu proses klarifikasi yang dalam agama sering diistilahkan dengan tabayyun, agar informasi itu menjunjung prinsip kebenaran dan keadilan.

Menyaring Informasi

Alkisah, Imam Bukhari, ulama arif pencinta hikmah/hadist yg hidup di abad 9M, tak pernah melupakan satu metodologi penting dalam mengumpulkan hadist, yakni klarifikasi langsung ke sumber periwayatan hadist. Dikisahkan beliau rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendengar langsung dari bibir periwayat. Baginya, untaian hikmah dari hadist itu layak diperjuangkan dengan mendatangi langsung sumbernya. Tak hanya merunut dan menelaah teksnya, tapi juga beliau menelisik perilaku keseharian periwayat. Kalau dijumpainya si periwayat tak bisa dpercaya (tak tsiqoh), maka gugur pula validitas hadistnya. Saking ketatnya melakukan seleksi dan klarifikasi, kumpulan hadist yang semula beliau peroleh berjumlah 600,000 hadist akhirnya hanya tersisa 7275 saja.

Metodologi Imam Bukhari yang ketat menelisik hadist kemudian diikuti oleh ulama-ulama bijak dan kritis setelahnya. Bagi mereka, pengetahuan yang baik itu diperoleh tidak dengan sederhana. Harus ada rentetan metodologi untuk mengurai validitasnya. Tanggung jawab keilmuan mensyaratkan demikian, karena beban moral membentangkan ilmu yang benar wajib hukumnya, belum lagi ancaman akherat kalau ternyata sengaja melakukan kekeliruan dalam menjabarkan ilmu.

Ilmu dan pengetahuan di masa silam, memang termasuk sulit diperoleh. Karenanya, banyak anjuran untuk mengejar hikmah itu hingga kemanapun. Peribahasa “tuntutlah ilmu meski ke negeri Cina sekalipun”, dan sebagainya menunjukkan betapa sakralnya jihad berilmu itu. Tentu saja dibarengi dengan metodologi pengumpulan yang ketat seperti kisah Imam Bukhari tersebut.

Kita patut bersyukur hidup di masa yang begitu mudah menikmati sergapan informasi. Tak perlu beranjak ribuan kilometer untuk mendapatkan informasi, cukup membuka gadget atau media elektronik, maka ribuan informasi menyeruak masuk ke ruang baca kita. Dari ilmu agama, berita politik, hingga siaran niaga sangat mudah. Bahkan kini orang sangat getol berbagi pengetahuan di sebuah komunitas maya bernama social media. Tak perlu payah merengek asupan informasi, mereka yang masuk dalam daftar pertemanan kita begitu dermawan berbagi berita, informasi baik yang penting maupun tak penting. Semuanya tersedia dengan mudah dan berbiaya murah.

Bagi penikmat informasi, dan menyadari betapa pentingnya informas itu, masa kini adalah masa membahagiakan. Informasi bisa diolah sedemikian rupa sehingga bisa ikut memudahkan hidup kita, bahkan bisa menjadi sumur penghasilan yang tak akan kering-kering, selain menjadi ladang amal ibadah sekira kita berbagi informasi yang bermanfaat untuk sesama.

Namun ada hal lain yang bias membuat social media menjadi ajang yang menakutkan. Berkaca pada kegigihan Imam Bukhari, klarifikasi atas informasi tetap wajib dilakukan. Tak serta merta informasi yang kita dapat dapat kita jadikan sandaran, tanpa melakukan proses yang dalam agama sering diistilahkan dengan: tabayyun.

Tanpa proses cerdas menelaah dan menelisik informasi berikut sumber primernya, kita “terancam” ikut menyebarkan informasi yang keliru. Apalagi kalau informasi ini menyangkut pihak lain yang mungkin akan terganggu ketika misalnya kita menyerbarluaskannya. Hal yang jamak kita dapati baru-baru saja, ketika musim kampanye pemilihan presiden. Beragama fitnah dan tuduhan menyeruak seperti air bah di laman social media kita. Tak sedikit kemudian fitnah-fitnah itu menjadi ajang yang memperburuk silaturahim.

Social Media dan Prasangka Baik

Tak sedikit orang kemudian memutuskan silaturahim antar sesamanya hanya karena berseteru dalam menafsirkan sebuah informasi. Bagi yang sering berinteraksi di social media semacam facebook, twitter, path dan sebagainya, orang jamak sering berdebat soal sesuatu hal. Khususnya saat sekarang ini ketika suhu politik sedang mempertontonkan dua kubu yang diametrikal. Beberapa diantaranya bahkan memutuskan silaturahim hanya karena berbeda pandangan terutama karena link berita yang disampaikan memojokkan pilihan politik yang bersangkutan. Apalagi kalau kita ingatkan betapa buruk prasangka yang berangkat dari keterbatasan informasi. Tentu tak semua pihak merasa pantas untuk diingatkan. Padahal saat ini, begitu banyak bertebaran media abal-abal serupa blog atau akun twitter anonim a la kadarnya yang rajin menyebarkan fitnah atau cemoohan tanpa dasar fakta.

Selain bertebarannya media penghasut dan penyebar fitnah, masyarakat juga perlu seksama mengolah berita di media mainstream. Sejatinya tak perlu berharap agar media massa untuk bersikap netral sepenuhnya, karena dasarnya, memang media adalah alat untuk menyuarakan kepentingan. Meskipun ada jargon bahwa bahwa mereka menyuarakan kepentingan masyarakat, tapi tentu saja yang diwakili adalah kepentingan mereka yang sehaluan dengan mereka. Yang kemudian disayangkan kalau tak terjadi keseimbangan dalam pemberitaan, misalnya keengganan untuk menyiarkan informasi yang datang dari mereka yang berbeda pandangan politis dan ideologis. Hal paling baik dalam menelaah informasi adalah mengikuti rekam jejak media tersebut. Media yang baik adalah media yang punya metodologi ketat dalam menelaah informasi yang hendak dikabarkan, seperti metodologi Imam Buhari; klarifikasi. Meski punya kepentingan, tapi mencari informasi dari pihak yang sedang dibicarakan atau dibahas tentu tetap wajib hukumnya, agar informasi menjadi berimbang dan adil.

Satu hal lain yang mudah-mudahan masih akan kita temui dalam social media; prasangka baik. Sebagai salah satu sikap yang dianjurkan agama manapun, prasangka baik (husnudzon) akan mengikis kedengkian meski informasi bermula dari pihak yang tak sehaluan dengan kita. Namun satu yang pasti, hikmah akan kita raup sebanyak-banyaknya meski dari informasi negative, sekira kita tetap menjaga prasangka baik ini. Bukankah kita pernah mendengar kisah seorang pelacur yang konon menjadi ahli syurga karena sikap welas kasihnya memberi minum seekor anjing yang kehausan? Kalau kita hanya memandang profesi pelacurnya, tentu informasi itu akan kita buang selekasnya. Namun, kalau kita bersabar untuk menunggu seperti apa perilaku si pelacur ketika berhadapan dengan anjing yang haus, maka kita akan mereguk hikmah di akhir cerita. Meskipun tentu saja profesi pelacur adalah cacat, tapi syukurlah di kisah yang lain disebutkan juga bahwa akhirnya si pelacur bertobat dan menjadi wanita solehah.

Jadi, mari senantiasa melakukan klarifikasi atas segala informasi yang mengisi ruang baca kita, sambil tak lupa tetap berusaha berprasangka baik terhadap semuanya. Ketika informasi hanya menjadi ajang fitnah dan mengurai keburukan maka ambillah hikmah berupa kesyukuran dan doa semoga kita tak termakan fitnah kaum pencibir itu sambil berharap mereka dianugerahi kesadaran untuk menyesalinya di akhir hidupnya. Amin

UNREG [spasi] MAMA: Dari Ketiadaan Menuju Ketiadaan

Posted in agama, My Self-writing, Nasional, percikrenungan by daengrusle on May 18, 2010

Perencana atau istilah kerennya planner adalah profesi turunan dari peramal juga. Seorang perencana adalah perancang peta masa depan, dengan berbekal informasi-informasi pendukung baik yang sudah ada maupun yang dirancang sedemikian rupa untuk diadakan, untuk merekayasa masa depan agar sesuai dengan target capaian yang diinginkan.

Peramal juga berusaha memetakan masa depan, dengan ‘membaca’ penanda-penanda alam yang bermunculan di masa kini atau masa sebelumnya. Sebenarnya peramal hanya mencoba memformulasikan pengetahuan yang lazim dipakai binatang atau manusia ketika membaca alam. Bagi yang bisa membaca bagaimana reaksi hewan-hewan hutan yang lain dari biasanya, maka bisa diramalkan akan terjadi gempa atau bencana alam di kawasan yang berdekatan dengan hutan tersebut. Hal paling mudah adalah dengan melihat awan gelap berarak-arak yang disertai guntur menggedor angkasa berbarengan dengan kilat menyambar-nyambar, maka suatu kelaziman bahwa akan turun hujan yang bisa saja membawa bencana lain; angin ribut, banjir, atau longsor.

Tanda-tanda alam itu lebih banyak yang tersirat dibanding tersurat, lebih sering tersembunyi daripada kasat mata. Karenanya banyak orang gagal mengantisipasi musibah, bahkan ketika teknologi sedemikian canggihnya saat ini. Kemampuan membaca tanda-tanda yang tersembunyi itu konon tidak dimiliki oleh semua orang. Disamping memang karena bakat yang dibawa lahir, juga diperlukan latihan dan disiplin yang intens. Mama Lauren dan para ahli nujum ‘mungkin’ menjalani ritual yang ketat dalam mencapai pengetahuan membaca tanda-tanda alam ini.

Namun ada anomali yang membuat kita kadang meluruhkan rasa percaya pada ahli nujum ini, mereka terkadang tak mampu meramal nasib sendiri. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap premis kemampuan ahli nujum untuk memetakan masa depan. Mama Lauren, ahli nujum kesohor itu pernah terjebak banjir di rumahnya di bulan Januari 2009. Sementara tetangga-tetangganya yang bergerak cepat dgn mengungsi ke daerah aman bisa ‘membaca’ tanda-tanda banjir itu beberapa jam sebelumnya. Ki Joko Bodo mesti menjomblo terus meski sudah berupaya berpartisipasi dalam acara Takes Celebrity Out yang digeber salah satu stasiun televisi. Sementara banyak ‘pasien’nya mudah saja mendapat jodoh. Ki Gendeng Pamungkas pun demikian, alih-alih memenangkan masa depan, dia takluk dalam pilkada Bogor beberapa waktu lalu. Ustad Quraish Shihab mengajukan proposisi yang cukup telak untuk memvonis semua ahli nujum: peramal berbohong, walau kebetulan benar. Itu karena tidak semua masa depan yang dipetakannya terjadi. Bahkan lebih banyak salahnya, mungkin. (more…)

Tagged with: ,