…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

buku bapak

Posted in puisi by daengrusle on December 22, 2014

buku bapak

dan sudahlah beku,
semua ingatan, melambai lesu
pada ruas-ruas buku
sehangat jejak jemari tuamu,
tersisa di setiap sudut lembar

dan lihatlah kini mataku memanjat kenangan
pada deretan kata seperti tahun berlalu
mengendapkan waktu, dan
mereka ulang garis bibirmu
menuntun aku pulang

ajari aku lagi, bapak
mengeja segala, seperti pelukmu!

Advertisements

wangi pagi dan senyum westerling di wajah kita

Posted in puisi by daengrusle on December 20, 2014

wangi pagi

sudah lama aku tak menghirup wangi pagi
dan menikmatinya serupa pengantin kesepian
buih waktu ‘lah membawaku jauh
terasing di palung malam

lalu hari ini kuputuskan bangun lebih pagi
mengusir gelap lebih dini, mengejar wangi pagi
menjemput hangat dari tempias sinar matahari
menciumi lembab bau tanah merasuk pelan,
dan berdiam sejenak mencandai
dedaun yang berselimut embun

aku bermandi cahaya, juga basah oleh curahan embun daun-daun
dihibur manja kelopak anyelir bersolek merah
lantas kupejamkan mata, kubuka seluruh nafas menghirupi
wangi pagi yang basah, molek pagi yang ramah

kicau burung tekukur, yang menguap ke langit
seperti ikut membasuh rinduku pada cerita
tentang langit terang biru, padang hijau sahaja
tentang orang-orang yang larut pada pagi
mencacah nasib, membilang masa

terpujilah engkau, wangi pagi

Abu Dhabi, Desember 2014

==

senyum westerling di wajah kita

tuan, berbilang tahun rupanya
kau mengubur petaka di buritan ingatan kami
dan memupuknya dengan senyap amis darah
kini ia terhambur naik ke haluan, menampar
sepetak sejarah di buram wajah pias kami

tahukah tuan kami bergumul sebagai paria
ribuan nyawa melayang dan kami membekukan pilu
ingatan kami membatu sebagai malin kundang,
memamah kutukan dari anak-anak kecil,
mereka bertanya masygul di balik buku-buku kosong,
tak adakah yang kalian lakukan saat itu,

ketika senapan menggelut batok kepala, mengoyak dada yang mekar
apakah gerangan bambu runcing serupa isapan dongeng belaka?

kemudian sepi, tuan
senyummu di wajah kami adalah luka tak sembuh
nanahnya bercucur seperti pesta lara yang tandas
kami masih berhitung berapa nyawa, dan membangun batu-batu
di jalan-jalan, di gedung tinggi, di lapangan upacara
di buku sejarah, kami tak kuasa mengukir
berapa codet di wajah kami.

Abu Dhabi, Desember 2014

Tagged with: ,

Turisalo

Posted in cerita by daengrusle on December 11, 2014

Tayang bersamaan di Harian Fajar, 14 Desember 2014 dan Media Online Lenteratimur.com tgl 13 Desember 2014

IMG_20141220_114239

Turisalo

Sungai itu bernama Salo’ Bolong. Mengalir tenang tepat di belakang rumah kami. Airnya yang buram, seperti memendam cerita kelam. Cerita yang dipungut dari ketidakpahaman yang diturunkan bertahun-tahun, seperti kisahku ini.

Aku seperti terlahir dari rahim kesedihan. Masa kecilku disuapi oleh banyak tanda tanya. Malam ketika aku dilahirkan, ibu terisak lama sekali. Ia yang masih tergolek lemah sehabis bersalin, sesenggukan meratapi hilangnya, konon, saudara kembarku. Ayah pun tak kuasa menyembunyikan kesedihan. Meski tak terisak seperti ibu, tapi ayah sangat menyesal. Ia hanya duduk termangu di tepian ranjang, bola matanya bergantian menatap sayu kepada ibu dan bayi kecil di pelukannya, aku. Telaga di matanya seperti hendak tumpah.

Sanro Calapari, dukun beranak yang membantu persalinan ibu malam itu, juga dililit rasa bersalah. Semua mata seakan melesakkan tanya ke dirinya. “Tarajaka dampeng, bapak ibu sekalian. Mohon maaf, Aku tak sigap menangkapnya” ujarnya lemah seakan memahami maksud tatapan mata hadirin. Perempuan gemuk bersarung hitam itu tak lama berdiam diri. Selepas membersihkan segala air tumpah dan kain yang berantakan di kamar ibu, ia beringsut pergi. Kerabat yang hadir di malam itu juga gelisah dan tak bisa berbuat banyak. Hanya kakak lelakiku, La Lebbi yang tak berhenti dijerat tanya, “Ada apa?. Tapi semua diam, kecuali beberapa bisik-bisik yang kemudian juga reda oleh keheningan.

La Lebbi, yang masih bocah berumur 5 tahun, duduk di sisi Amma’, panggilan kami untuk ibu. Kebingungan memaksanya menjadi pengamat yang tekun dan merekam setiap detik peristiwa. Tak pernah ia bosan menceritakan kejadian ketika aku dilahirkan, dan jejak cerita yang tak pernah dimengertinya.

“Ketika tangisnya berangsur pudar, Amma’ membisikiku. Katanya, beliau melahirkan bayi kembar. Engkau dan seorang lagi” matanya mulai berbinar.

“Bagaimana mungkin. Aku kini hanya seorang, tak punya kembaran!

“Itulah. Aku tak paham juga. Kata Sanro, kembaranmu langsung meloncat, merayap dan menghilang di sela-sela dapara’ bambu dapur rumah kita “

“Kemanakah ia, apakah ke sungai belakang rumah, Salo’ Bolong?

“Tak tahu aku. Ambo’ dan beberapa kerabat bergegas mengejarnya malam itu, tapi tak berhasil”

“Aku heran. Bagaimana bisa bayi baru lahir berlari sekencang itu!

“Hush, kembaranmu bukan bayi biasa kata mereka. Turisalo!

“Aduh, apa itu? Kalau ia kembaranku, kenapa tak serupa aku?

Hingga ujung pertanyaanku itu, mulut La Lebbi kemudian terkatup. Ia bungkam bukan karena urung memberitahu. Menurutnya, pemahamannya terhenti di situ saja. Selebih yang ia ceritakan, tak kunjung juga dimengertinya. Terutama tentang rupa Turisalo, kembaranku itu.

*** (more…)

Tagged with: , ,