…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

menjadi dirimu, barangkali

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

ada angka dan tanda-tanda, menyelinap diam di setiap lipatan ingatan
kita menyebutnya sebagai tanggal, dan membendung semua peristiwa
agar waktu menjadi beku, membekas seumpama batu di mataku

aku berharap matamu menjadi telaga, menampung seluruh ingatanku
meluruhkan semua angka, juga tanda-tanda sampai musim dingin tiba
ketika hatimu menjelma selimut, menghangatkan semua tanda
agar kau lekas terjaga pada ingatan-ingatan

aku tahu kau kadang lupa, ketika remah ingatan tertanam debu luka
dan aku tak paham menyembuhkan luka, juga tak pintar menjadi tabib
tapi aku selalu berusaha luruh di telaga matamu, menjadi ingatan-ingatanmu
menjadi dirimu, barangkali.