…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

::selarik bentang tak berukur::

Posted in puisi by daengrusle on October 15, 2009

orang-orang riuh ketika penanda-penanda itu senyap
seumpama rimbun pohon yang terpangkas,
atau genta yang tak lagi berdentang
yang tertinggal adalah lambai tangan yang makin menjauh
dan bibir-bibir tersenyum menyisakan cerita untuk dikenang
tak ada lagi warna dan gambar yang sama,
nama-nama yang sama, di jarak pandang yang sama,
tak nampak lagi

penanda itu kini dua kata yang asing; “kami” dan “mereka”
meski tak ada jarak, kita seakan terpisah jauh

itu cerita berbulan silam,
ketika ramai berita tak-teringinkan itu melindap kita dalam cemas
membawa angin tanya melibas siapa dan apa saja
dan mendudukkan kita di tempat dimana kini kita berada
kita benar terpisah oleh sesuatu,
tapi kita juga kemudian menjadi sangat dekat
oleh sesuatu yang lain

sesuatu yang dekat,
selarik bentang yang tak berukur
diam menyusup mencari celah di labirin yang kosong, di hati kita
seumpama gambar yang berkelebatan tak terbendung
atau kidung yang sahut menyahut
mencari jejak yang dulu miliknya,
kita menyebutnya; kenangan

kenangan,
tiba-tiba membuat kita kembali menapak
mencari asal tempat dulu mengikat simpul yang konon abadi
dan kita coba memastikan itu benar adanya
menjejakkan semuanya surut ke asal kita kembali,
bukan untuk menegaskan keterpisahan itu
atau menggali penanda yang asing itu,
tapi mengikat simpul yang lebih kuat, mesti kuat

bahwa kita sebenarnya awalnya satu belaka, akhirnya pun satu.
::: kita, tanpa ada kami, atau mereka.

Advertisements
Tagged with:

Mama Lauren: Kekaguman di Kotak Kaca

Posted in Kenangan by daengrusle on October 10, 2009

Tak ada yang membuka bendala kekaguman saya lebar-lebar pekan ini selain seorang Mama Lauren. Sampai saya mesti mengungkapkan rasa kagum itu kepada teman-teman sekantor, dan beberapa kali mengutip quote dari sang Mama. Tiga malam lalu saya menyaksikan salah satu iklannya di televisi, ketika dengan tenangnya sang pesohor dalam hal ramal-meramal itu menyatakan bahwa ia mengetahui akan ada kejadian-kejadian tertentu di tahun mendatang.

Kasyaf! Saya tiba-tiba teringat kata itu. Dan serta merta sibuk membuka simpul-simpul memori yang ada dalam kepala. Seingat saya, seorang kasyaf adalah seorang yang tercerahkan. Padanya Allah Yang Maha Pandai menitipkan beberapa pengetahuan khusus yang sifatnya sangat selektif, berupa petunjuk-petunjuk di masa depan. Seorang yang kasyaf biasanya bisa melihat sedikit dari masa depan. Nabi Yusuf as, Nabi Nuh as, dan Nabi Muhammad SAWW adalah beberapa diantara sekian manusia terpilih yang punya kemampuan itu. Beberapa orang saleh yang dikeramatkan sebagai wali juga banyak dikabarkan orang punya kemampuan itu. Nubuwat mereka bukan isapan jempol belaka, karena bersumber dari Sang Pemilik Waktu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi dari masa nol hingga masa akhir.

Mama Lauren, atau bolehlah saya ubah sedikit panggilannya menjadi lebih keren: Ummu Lauren, kiranya tergolong manusia khusus. Pengetahuannya tentang masa depan bisa memasukkan dirinya kepada segolongan kecil manusia yang kasyaf. Penerawangannya tentang masa depan tentu akan banyak membantu manusia lainnya untuk memilih takdirnya. Apalagi akhir-akhir ini Indonesia banyak tertimpa bencana gempa atau kasus-kasus terorisme. Dengan bantuan ‘pengetahuan’ Ummu Lauren ini, tentu masalah pemerintah bisa banyak teratasi, bahkan sebelum terjadi.

Kalau Ummu Lauren bisa meramal gempa akan terjadi di daerah tertentu pada waktu tertentu, maka pemerintah bisa meminimalisasi korban dengan segera mengevakuasi penduduk daerah itu. Atau kalau benak sang peramal melihat ada aksi terorisme bakal terjadi di hotel mewah, maka dengan segera Densus-88 bisa dikerahkan untuk mencegah sang teroris meledakkan hotel tersebut. Korban nyawa dan reputasi Indonesia tentu bisa diselamatkan. Ah, betapa mulia-nya peran seorang Ummu Lauren bagi masyarakat ini. (more…)

Tagged with: , ,