…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Bibir

Posted in Uncategorized by daengrusle on August 30, 2016

[sebuah prosa]

home-remedies-for-lips.jpg

BIBIR. Kau tahu bagian apa di wajahmu yang tak akan menua? Kawan-kawanku mengatakan bahwa pikiran lah yang selalu muda, segar dan bisa melawan waktu. Tapi kakekku berkata selain itu. Katanya, bibir lah yang akan selalu legit menemanimu, bahkan di hari-hari senjamu. Rasa hangat yang dia raba pada setiap sentuhannya di tepi gelas yang kau minum, sedari bocah hingga tua akan selalu sama. Hangat. Juga rasa gigil yang memeluknya saat musim dingin atau ketika berada di ruang berpendingin maksimal akan terasa sama.

Aku ingat bagaimana ketika masih bocah dan kesadaran pertamaku muncul. Hari sudah menjelang sore di ruang tunggu sebuah klinik. Bibirku bergetar menahan dingin, meski kuingat ibuku sudah membungkusku dengan jaket tebal. Tapi udara dingin dari mesin pendingin itu seakan menembus jaket itu, hingga ke tulang. Dan menurut ibuku, bibirku membiru karenanya. Berbilang tahun sampai aku dewasa, bibirku tetap membiru seperti itu. Ingatanku tidak sesegar bibirku kurasa. Ingatan lekas runtuh, keropos seperti logam yang digerogoti karat. Jangan ditanya sudah berapa banyak memori yang menguap ketika aku menjejak ke umur 35, kemudian 40. Kadang-kadang aku mengutuk umur yang seperti pelari ini. Terlalu cepat dia sampai di garis senja.

Tapi bibirku tidak. Dua baris daging lembut empuk di wajahku itu seperti antitesis dari wajah dan rambutku. Ia masih kuat mengingat setiap detail benda yang pernah dikecupnya. Makanan, minuman, juga sentuhan lembut ke kulit teman, pacar, istri hingga anak-anakku. Punggung tangan, kening, pipi, lengan, leher atau bibir. Bibirku bisa meresapi berlama-lama ingatan itu, siapa dan apa saja yang pernah berjarak terlalu dekat darinya. Karena bibir selalu menolak menjadi masa lalu, sepertinya.