…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Balian

Posted in agama, cerita, Uncategorized by daengrusle on June 30, 2017
balian.jpg

foto from http://www.defenderofjerusalem.com/

Ia sempat merinding ketika bersiap menyerahkan kota suci itu ke Salahuddin Al-Ayyubi, atau nama lain Sultan Saladin, panglima pasukan Islam yang mengepung kota itu.

Balian Of Ibelin, sang penjaga kota suci Yerusalem saat perang Salib III berakhir (1192M) – ketika para Knights yang lain sudah takluk tak berdaya, ia mampu berdiri gagah menahan gempuran ribuan pasukan Saladin. Dengan kekuatan tersisa, Ia berharap perang melelahkan itu berakhir dengan damai.

“Akankah kau melakukan hal yang sama 100 tahun lalu, ketika pasukan Salib Eropa menjarah dan membunuhi seluruh penduduk muslim kota ini?

“Aku bukan mereka” jawab Saladin singkat dengan senyum terlukis di raut wajah kerasnya.

Alhasil, tidak ada pembantaian di akhir perang.

Penduduk kota yang kalah itu dibolehkan tinggal menetap atau meninggalkan Yerusalem dengan damai. Versi cerita lain menyebutkan bahwa, penduduk diperkenankan menebus kemerdekaannya dengan sejumlah uang. Bagi yang tak memiliki harta, terpaksa menerima nasib menjadi budak. Tapi sekali lagi, tak ada pembantaian seperti yang terjadi ratusan tahun sebelumnya. Trauma buruk yang mengendap dalam kenangan kedua umat saat itu.

Itu adegan yang muncul di akhir film “Kingdom of Heaven” (2005) – dibintangi Orlando Bloom dan menjadi salah satu film Hollywood yang konon cukup obyektif melukiskan perang Salib – perang ratusan tahun (1096 – 1204), terpanjang dan berjilid-jilid sepanjang sejarah, yang melibatkan dua agama besar dunia; Katholik dan Islam.

Perang ini lokusnya hanya di satu tempat; Yerusalem, kota suci tiga agama besar dunia. Silih berganti penguasa Muslim dan Kristen merebut kota suci tempat kelahiran Yesus atau Isa bin Maryam alaihissalam itu, namun hingga kini, seribu tahun sejak Paus Urban II mendeklarasikan perang suci itu, kota itu tak kunjung damai.

Di masa kini, kota yang menjadi tempat berdakwah nabi welas kasih yang menentang kekerasan itu “kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu pula” masih menjadi pusat bara konflik. Masa modern malah menambah satu pihak yang sebelumnya tak terlibat perang Salib berkepanjangan itu; kaum yahudi Zionist, yang mengangkanginya sekarang.

Film ini juga membuka satu hal yang selama ini tertutupi; bahwa perang Salib bukanlah melulu tentang perang antar agama untuk merebut kota suci; tetapi soal politik; tentang siapa berkuasa dan menguasai apa; tentang siapa yang mengejar kemuliaan nama dengan jalan kekerasan atau damai; dan paling utama; Tuhan sebenarnya menghendaki perang atau hanya nafsu manusia saja yang membonceng namaNya.

Kini perang tak berkesudahan itu berpindah ke dunia maya, tempat nyaman kita sebagai sesuatu yang lain. Lain dari kenyataan, sepertinya.

Meski sering kita berkeyakinan “Aku bukan mereka”, tapi nyatanya kita kadang melakukan hal yang sama; mengumpat, mencaci, memaki, atau berprasangka buruk hanya karena sudah merasa beda sejak awal. Perasaan dan pikiran seperti itu, kata Tuhan, akan menghambatmu naik ke derajat kemuliaan.

Advertisements

Lebaran Tak Berlebaran

Posted in Abu Dhabi, agama, Renungan, Uncategorized by daengrusle on June 26, 2017

11796213_10153430497541327_7660910469704979051_n.jpg

Ini tentang Lebaran yang tak lebaran. Tentang mesjid di dekat rumah saya.

Salah satu yang membuat saya selalu berusaha menyempatkan sholat berjamaah di masjid itu karena soal ringan: salaman dan jabat tangan. Di masjid-mesjid lain di negeri gurun ini, saya agak kesulitan menemukan “ritual” salam-salaman ini seperti yang saya alami waktu kanak-kanak. Mungkin karena ada fatwa sekelompok ulama yang menganggap salaman sehabis sholat itu bid’ah dan tidak ada dalil nya menurut mereka, selain juga berdoa sehabis sholat yang tak dilakukan berjamaah. Di masjid ini, bahkan kita bisa bersama-sama melantunkan doa dan munajat dengan suara nyaring pada bagian-bagian tertentu. Pada akhir doa, kita bersama mengakhirkan dengan bacaan sholawat dan alfatihah, kemudian menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan jamaah yang ada di sebelah kiri, kanan, depan dan belakang. Persis di Indonesia.

Rasa bahagia berjamaah di masjid itu semakin membuncah ketika sholat jumatan. Pasalnya, sehabis ritual doa dan salam-salaman, akan ada sesi khusus untuk bersalaman dengan khatib yang juga merangkap sebagai imam sholat jumat. Para jamaah akan membentuk barisan antrian panjang seperti di pesantren. Yang menarik bahwa kita tak hanya bersalaman, tapi juga berkesempatan mencium kening, atau sekira memungkinkan bersentuhan pipi kanan dan kiri dengan sang Imam. Betapa bahagianya! Saya kadang menambahi dengan merapatkan wajah dan hidung saya ke jubah sang Imam tepat di dada kanannya. Wangi harum jubah dan rasa takzim bercampur baur setelahnya.

Saat akhir Ramadan kemaren, masjid ini menyatakan bahwa bulan puasa genap 30 hari. Hal ini menjadikan penentuan 1 Syawal berbeda dengan pemerintah setempat yang diumumkan sehari sebelumnya. Ketika saya menemui Ejaz, salah satu petugas di Mesjid itu, dengan wajah tersenyum dia berkata singkat, “Iya, hari Eid kita jatuh di hari Senin, bukan Ahad seperti yang lain. Tapi kita tak menyelenggarakan sholat Eid tahun ini”.

Saya tak perlu menanyakan musababnya. Dalam hati saya mencoba mencari pembenaran. Mungkin mereka hendak menjaga situasi yang nyaman untuk semuanya. Perbedaan tak melulu mesti ditunjukkan ke semua orang, terkadang keharmonisan bermasyarakat menjadi hal yang jauh lebih penting. Di tengah keriuhan dunia yang rawan oleh konflik sektarian, bersabar dan mendiamkan diri tentu lebih baik. Dan kegiatan di masjid itu kembali berjalan normal tanpa berubah sedikitpun, meski tanpa Sholat Eid.

Oh iya, Masjid itu bernama Al Rasool Al A’adham Mosque, atau Mesjid Rasul (Muhammad) Yang Agung. Di dinding depannya, terpampang lima nama sosok suci keluarga Rasul; Muhammad, Ali, Fatima, Hasan dan Husein. Mesjid ini menjadi tempat peribadatan muslim bermazhab Jakfari yang bermukim di kota ini. Tahun ini, mereka berketetapan untuk tak menyelenggarakan sholat Eid di masjid itu karena jatuhnya berbeda dengan masyarakat setempat. Mereka ber-lebaran di hati.

Tagged with: ,

Kairouan Kota Suci Anti Poligami

Posted in agama, Sejarah, Uncategorized by daengrusle on June 24, 2017

orig-mosque-of-uqba-in-kairouan-tunisia-17.jpg

Namanya selintas mirip dengan kata karavan, serapan dari bahasa Persia yang bermakna tempat beristirahat. Di masa perang, nama ini identik dengan basis militer atau penduduk sipil. Di masa sekarang, caravan juga bermakna sebagai sekelompok orang yang bepergian dalam barisan yang sama. Kota Kairouan, berdiri di ujung bulan Ramadan, 29 tepatnya, di tanduk daratan Tunisia. Adalah jendral tersohor dari dinasti Umayah, yakni Uqbah bin Nafi, keponakan tokoh Amr bin Ash yang mendirikan kota Kairouan ini di tahun 670M (48H). Saat salah satu pasukan Uqbah menemukan sumur sumber air di kota itu, banyak yang menyebut airnya berasal dari air yang sama dengan air zamzam di Mekkah.

Kairouan, berkembang pesat, terlebih kemudian menjadi pusat pemerintahan kekhalifaan Umayah di barat Afrika. Setelah jatuh bangun karena serangan dari bangsa lokal Berber, dan juga silih berganti penguasa hingga pernah dikuasai kaum Fatimid, dinasti Syiah yang mendirikan Kairo dan AlAzhar di Mesir, Kairouan kemudian berkembang menjadi pusat kebudayaan Islam.

Mesjid besar di tengah kotanya, yang dinamai dari pendirinya, Mesjid Besar Sidi Uqbah, sejak abad ke-9 hingga 11M, menjadi tempat berkumpulnya ulama dan sufi dari mazhab Maliki. Mesjid dan kota ini menjadi tujuan para pelajar muslim dari seluruh Afrika untuk belajar ilmu Islam dan Sains. Salah satu tradisi khas yang berkembang di kota tua ini adalah kewajiban untuk menghargai monogamy, alih-alih poligami sebagaimana yang banyak dipraktekkan di tempat lain. Di kota itu, para isteri berhak mengajukan tuntutan hukum sekira sang suami berniat menikah lagi.

Saking berkembangnya kota ini, selain mitos bahwa air yang mengalir di kota itu berasal dari sumber yang sama dengan sumur Zamzam di Mekkah, kota Kairouan sempat didaulat sebagai kota suci ke-4 peradaban Islam, setelah tiga kota suci lainnya: Mekkah, Medinah dan Yerusalem. Konon penduduk kota Kairouan percaya bahwa berziarah sebanyak 7 kali ke Mesjid agung Sidi Uqbah, sama derajatnya dengan berziarah 1 kali ke Mekkah.

Itulah kota Kairouan, alQayrawaan, atau caravan, kota suci ke-4 peradaban Islam, pusat pembelajaran mazhab Maliki, dan juga kota yang anti poligami. Kota tua ini kemudian dilindungi sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO sejak 1988.

Khamim Pejalan Kaki Ke Baitullah

Posted in Abu Dhabi, agama, cerita, Uncategorized by daengrusle on June 3, 2017

kamim2-e1496491833416.jpg

“Iya nih, saya mesti menghapus beberapa akun dulu baru bisa menambah pertemanan,” ujarnya tersenyum ketika saya menanyakan jatah pertemanan di akun Facebook nya yang sudah penuh. Mohammad Setiawan, 29 tahun – pemuda pejalan asal Pekalongan itu kami undang untuk berbagi cerita pengalaman perjalanannya sore itu, Kamis 1 Juni 2017 ke acara buka puasa bersama IA-ITB dan IATMI UAE di Abu Dhabi, UAE.

Ia memang semakin disibukkan oleh banyaknya permintaan pertemanan di akun Facebook-nya sejak namanya menjadi viral di beberapa media massa nasional lantaran memuat kisah gila petualangannya berjalan kaki untuk berhaji dari tanah air. Media sosial Facebook dan WhatsApp dia gunakan untuk berkomunikasi dan berkirim kabar dengan teman-temannya, juga keluarganya. Di akun Facebooknya, ia banyak meng-upload foto-fotonya di perjalanan, termasuk beberapa video seputar kesehariannya dalam perjalanan.

“Awalnya saya menolak untuk diwawancarai wartawan. Saya tidak ingin perjalanan ini dimuat media,” ujarnya tersenyum ketika disinggung tentang kisahnya yang sudah terlanjur viral.

Padahal, menurutnya perjalanan spiritual yang dia lakukan ini bukan sekadar aksi gagah-gagahan. Tapi merupakan panggilan Tuhan yang harus dipenuhi. Sekitar empat tahun silam, Khamim merasa mendapatkan muhadatsah, sebuah komunikasi spiritual yang menuntunnya untuk melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki menuju .

(more…)

Tagged with: , ,