…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Beroanging

Posted in Kenangan by daengrusle on January 31, 2016

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari jejeran tiga Sekolah Dasar di seberang pompa bensin itu, dua di antaranya diberi nama Beroanging; SDN Beroanging dan SDN Bertingkat Beroanging, merujuk ke bentuk gedung sekolahnya. Dua Beroanging ini cukup populer, karena punya taman bermain yang bersih dan luas. Selain itu, di belakangnya ada kompleks perumahan TNI AL yang memiliki danau buatan yang luas hingga ke jalan Kandea. Di salah satu sudut danau itu, berdiri sebuah menara pengintai dengan tiga lantai menjulang ke atas. Di dasar menara itu,  ada satu ruangan gelap yang bisa diintip dari lubang di atasnya. Konon menurut teman-teman yang sering berenang di danau itu, ruangan gelap itu sesungguhnya adalah terowongan yang dibuat penjajah Jepang di zaman dulu. Terowongan itu konon tembus hingga ke pangkalan Angkatan Laut di Satando yang berjarak kira-kira 5 kilometer dari tempat itu, dan menjadi jalur pelarian tentara Jepang saat kalah perang.  Cerita itu selalu diulang-ulang dan dipercaya sebagai kebenaran, meski tak ada yang berani membuktikan adanya terowongan rahasia itu. Mungkin karena cerita itu ditambahi lagi bahwa di dalam terowongan hidup banyak ular yang siap mematok kepala kecil kami.

 

Orangtua saya memasukkan saya ke sekolah yang bukan Beroanging, SD Negeri Pannampu. Tidak ada alasan pasti, namun hampir semua anak-anak tetangga saya juga disekolahkan di SD itu. Jadilah SD Pannampu menambah identitas baru di perumahan pasar tempat saya tinggal; bukan anak pasar kalau tak bersekolah di Pannampu juga. Jadi kalau anak-anak di kampung tetangga menyebut “anak Pannampu”, itu bisa berarti dua hal; anak-anak yang tinggal di pasar Pannampu dan juga bersekolah di SD Pannampu. Hingga bertahun-tahun lamanya, anak-anak Pannampu sering menjadi korban kekerasan dari anak-anak kampung sekitar. Alasannya bukan karena kami yang beramai-ramai sekolah di Pannampu juga, tetapi karena entitas tambahan kami sebagai perkampungan anak-anak suku bugis.

 

Di Makassar, meski merupakan kota yang majemuk dengan latar belakang sukunya, namun yang dianggap sebagai penduduk lokal tentu yang bersuku Makassar. Kami anak-anak Pannampu saat itu masih fasih bertutur dalam bahasa Bugis, meski untuk pergaulan sehari-hari sudah menggunakan bahasa Indonesia logat Makassar. Anak-anak kampung sekitar yang bersuku Makassar dan lebih banyak bercakap dalam Bahasa Makassar itu sungguh menjadikan kami, anak-anak Pannampu sebagai jajahan yang empuk. Beberapa saat kami tak pernah melawan, meski kami sepantaran saja tingginya. Yang membuat kami kadang bergidik adalah anak-anak Makassar itu sering membawa badik, atau menunjuk-nunjukkan bagian baju di batas perut dan celananya sebagai isyarat bahwa mereka membawa senjata tajam kecil itu. Kami tentu saja mudah percaya, di bawah bayang-bayang ketakutan terutama karena cerita-cerita penikaman yang masih lazim terjadi saat itu. Badik seumpama hantu yang sangat menakutkan.

 

Di masa itu, kami memang jarang melihat badik. Orang tua kami yang hanya pedagang bersuku Bugis umumnya tak pernah punya cerita kekerasan. Mereka lebih suka membicarakan soal dagang dan perempuan. Ya, selain pandai berdagang, mereka juga punya pandai dalam urusan memperbanyak isteri. Apalagi jangkauan wilayah dagang mereka bisa melewati batas kota dan propinsi, dan bisa berlama-lama tinggal di sana. Rumor bahwa para pedagang itu memiliki anak dan istri banyak kadang di kemudian hari menjadi cerita yang bukan isapan jempol belaka. Kami kadang-kadang tak lagi pusing mencari tahu apakah itu benar atau tidak, dan menunggu saja saat semuanya terungkap beberapa tahun kemudian. Itu juga ketakutan yang menyusup masuk ke keluarga kami, terutama bagi para ibu atau anak-anak perempuan yang umumnya tak begitu rela sekira itu benar terjadi.

 

Namun ada satu hal lain yang sering menjilati rasa ketakutan kami ketika tinggal di Pannampu itu. Di belakang kompleks perumahan kami itu, ada terbentang luas kawasan pekuburan Beroanging. Kami jarang bermain di sana, terutama karena sudah dihinggapi rasa takut duluan tentang mitos-mitos kuburan Beroanging. Konon pada malam-malam tertentu para penghuni kuburan Beroanging ini bisa bangkit dan menakut-nakuti anak-anak. Terutama bagi yang suka mengarahkan jari telunjuknya ke kawasan itu. Selain akan dihinggapi mimpi buruk, jari telunjuk kami akan tertekuk selamanya. Semacam orang yang dijangkiti penyakit kulit yang jemarinya tak lagi bisa lurus. Itulah sebab kami tak banyak menyentuh wilayah horror itu, belum lagi begitu banyak aturan tak tertulis yang harus kami patuhi saat melintasi pekuburan itu. Semisal mesti membawa sesuatu, terkadang batu atau sampah plastic yang kami temui di bibir pekuburan, untuk digenggam selama melintas. Batu atau apapun dalam genggaman itu baru bisa dibuang kembali sekira kita berada di sisi luar pekuburan itu kembali. Entah apa maknanya, yang jelas kami dibayangi tulah yang buruk kalau melanggar pantangan itu. Di pekuburan itu, kami juga sering diceritai, terbaring jenasah korban tenggelamnya kapal Tampomas di tahun 1980an. Kami pernah melihat ada deretan kuburan yang berada dalam satu bidang yang sama. Kata teman-teman, mereka adalah satu keluarga yang naas menjadi korban saat peristiwa itu terjadi. Cerita lainnya tentu tentang Setan Sumiati, yang baru-baru ini filemnya dirilis di Makassar. Satu cerita hingga di benak kecil kami saat itu, bahwa salah satu kuburan di Beroanging adalah milik Sumiati, setan yang paling populer di Makassar. Meski kami juga sering mendengar bahwa Sumiati berkubur di salah satu sudut Karebosi, namun buat kami setan bisa berkubur di banyak tempat, termasuk juga Beroanging. Toh, kami pikir wajar-wajar saja Setan yang suka menghantui anak-anak itu punya kuburan di mana saja. Namanya juga Setan.

 

Abu Dhabi, 31 Januari 2016.

Advertisements
Tagged with: , ,

Pipit

Posted in cerita, Review by daengrusle on January 29, 2016

Barangkalai kalau tak membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohammad di Tempo tentang Ben Anderson, saya akan terlambat mengenal nama Pipit Rochijat. Yang menarik, GM menggambarkan Pipit sebagai “berandal dalam pikiran, suka meledek, menulis dengan bahasa Indonesia yang eksentrik”. Pipit adalah aktifis Indonesia yang sempat dicabut paspornya oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1987. Pipit bukan komunis, malah dulu punya sejarah sebagai aktifis anti-komunis, bergabung dalam Gerakan Siswan Nasinoalis Indonesia, underbow PNI tahun 1960an. Pasalnya, ayahanda Pipit yang jadi Direktur Pabrik Gula di Ngadirejo sejak 1959, Kediri sempat mengalami penentangan, bahkan diancam jiwanya saat menghadapi organisasi buruh yang digerakkan oleh yang berhaluan komunis.

Setelah itu, mata Pipit seperti menjadi alat perekam sejarah. Dari mengalami permusuhan dengan kaum komunis, kemudian menyaksikan bagaimana orang-orang yang dituduh komunis menjadi korban pembantaian di kampungnya. Selepas peristiwa kelam 1965 itu, ia menjadi mahasiswa ITB dan lagi-lagi saksi sejarah bagaimana Rene Congrad ditembak oleh oknum siswa Akpol tahun 1970 di kampus ITB. Dia menceritakan memoarnya dalam tulisan beberapa halaman berjudul “Saya PKI atau Bukan PKI?” yang terbit di Majalah GotongRoyong milik PPI Jerman Barat tahun 1983. Karena tulisan inilah, yang isinya banyak mengecam Orde Baru, membuat nasib kewarganegaraannya sempat terlunta-lunta.

Sepertinya nasib Pipit dijaring oleh sesuatu yang bernama stereotyp. Oleh kaum komunis, keluarganya dimasukkan ke dalam kelompok “7 Setan Desa” dan wajib dienyahkan. Konon, ia bercerita, sekira peristiwa G 30 S tak meletus, keluarganya mungkin sudah dikubur hidup-hidup oleh buruh komunis. Selepas bahu membahu bersama tentara, kelompok agama, dan Front Marhaen, memberantas komunis di desanya, ia yang nasionalis malah mulai mengalami tekanan dari tentara karena aktifitasnya, juga ideologinya yang sangat memuja Bung Karno. Semua tahu, Orde Baru tak begitu nyaman merawat ajaran Bung Karno, apalagi mengagungkannya. Dia dicap sosialis, yang ujung-ujungnya kemudian dianggap komunis. Katanya, kaum komunis sering disalahartikan sebagai kaum tak beragama. Padahal soal beragama atau tidak, tak bisa disimpulkan hanya memandang afiliasi politiknya. Saya sepakat. Stereotyp atau sikap gebyah uyah menyamaratakan segala sesuatu, hanya karena pembacaan singkat yang premature sangat berbahaya.

Abu Dhabi, 29 Januari 2016

Tagged with:

Sajak-sajak yang dimuat Lombok Post

Posted in Uncategorized by daengrusle on January 17, 2016

6f2a8ad7-582e-4c70-9fc8-84a7a844c6e5

Sajak-sajak saya hari ini dimuat Harian Lombok Post, edisi 17 Januari 2016.

Sehimpun Rindu

Setiap pagi, di seberang jalan. Aku membayangkan dirimu melambai selalu. Menawarkan sehimpun bebungaan yang basah oleh embun subuh. Aku berharap senyumku selalu bisa menyeberangkan tubuhku. Tapi jalan di hadapan kita selalu ramai, oleh waktu, oleh jarak.

Kau tahu, berhari-hari kucari cara untuk masuk ke ruang ingatanmu. Memanggil-manggil kenangan yang karam di lautan lupa. Memanggul setiap lukisan di masa lampau, membawanya kembali ke setiap malam. Aku berharap malam meluruhkan ingatan-ingatan itu. Menjadikan ia puisi, agar kujadikam selimut untuk memeluk tidurmu. Menjadi mimpi, barangkali.

Ketika malam luruh, aku ingin menjadi dingin.

Menjilati sekujur rambut di kulitmu. Agar tubuhmu merekah mencari pelukan-pelukan.

Pelukan-pelukan itu kemudian kurangkai menjadi selimut, menghangatkanmu – kala dipeluk dingin. Ketika malam luruh.

[Abu Dhabi, Oktober 2015]

(more…)