…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Blog: Antitesis Media Mainstream

Posted in Renungan by daengrusle on August 23, 2008

Menurut saya, Blog adalah antitesis media mainstream.

Blog adalah bentuk perlawanan terbuka atas penguasaan sumbat informasi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh media mainstream yang komersial; koran, majalah, televisi. Blog mampu menciptakan, tepatnya membuka sumbat hajat hidup orang banyak dengan menyuarakan perspektif baru yang membumi ke khalayak. Tanpa ada proses editing dan proses penyaringan, blog menjadi media merdeka yang bebas sepenuhnya, bahkan dari pihak regulator! Ibarat negara, blog adalah kawasan bebas tanpa aturan. Yang menjadi aturan yang berlaku adalah etika umum yang dilandaskan kepada kepentingan banyak.

Sejak jaman baheula, kita dijejali oleh media pustaka dengan informasi yang berlandaskan pengetahuan yang dibumbui interpretasi subyektif penulisnya. Tidak jarang kita digiring untuk mempercayai sesuatu berita yang fakta dan latar belakangnya bisa berbeda 90 derajat. Parahnya adalah penjejalan dan penggiringan ini kemudian membentuk pola pikir dan cara pandang kita sejak di bangku sekolahan sampai kemudian menjadi inheren dalam kehidupan kita dan kemudian diwariskan pula ke anak-cucu. Media seperti ini lebih banyak bersikap bak guru sekolahan jaman Orde Baru; menyuap tanpa merasa penting untuk ditanggapi, menggurui tanpa merasa wajib untuk melakukan riset kebenaran, mengajar tanpa boleh didebat. Yang terjadi kemudian hanyalah komunikasi satu arah antara si pemberi informasi dan penerima informasi.

Media massa yang dianggap sebagai lokomotif kebebasan bersuara juga berperilaku sama. Mereka, yang kemudian menganggap diri sebagai mainstream informasi Indonesia, hanya menampilkan berita yang ‘sejalan’ dengan idealisme mereka, atau kasarnya yang bisa membuat dapur redaksi mereka tetap mengepul, wartawan bisa digaji, dan tiras tidak anjlok. Intinya, mereka menyediakan informasi kepada khalayak sudah dengan ‘pesanan’ tertentu . Maka dipenuhilah ruang baca kita dengan informasi yang nyaris seragam, beritanya ibarat lawakan badut yang hambar disuarakan oleh hampir semua media, tidak ada yang kreatif, aneh dan nyata. Tidak jarang dalam beberapa pemberitaan tendensius si ‘pemesan’ teramat kentara dan kita, pembaca tidak punya pilihan lain untuk berbicara ‘beda’ kecuali dalam satu rubrik sempit bernama Surat Pembaca, itupun mesti melalui filter redaksi yang sangat ketat. Surat yang isinya cukup mengganggu dan membahayakan masa depan media sudah pasti tidak akan termuat.

Perspektif warga, perspektif pembaca. Ini yang sulit ditemukan dalam media mainstream saat itu. Seakan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungnya. Pelaku media hanya mengenal dua pihak yang boleh disuarakan dalam lembaran beritanya; sumber berita yang berasal dari kalangan istana atau gedung, suara redaksi yang tak jarang hanya membenarkan si sumber berita. Kalaupun ada, suara warga hanya mengisi kolom tertentu yang tak begitu menarik perhatian, tidak eye catching menurut insan komunikasi. Opini dari para aktivis yang bisa dianggap mewakili kepentingan khalayak seringkali hanya mampir di meja Redaksi kemudian masuk kotak sampah.

Nah, dimana ruang warga bersuara ‘beda’ dan magnitudenya besar hingga bisa terbaca oleh seluruh warga dunia? Jawab nya singkat, padat dan jelas: Blog.

Apakah blog hanya sekedar trend sesaat? Maaf, blog adalah trend yang bermatra keabadian. Seandainya teknologi internet sudah ada sejak jaman filosof Yunani hidup, maka kita akan bisa membaca blog-blog dari Socrates, Aristoteles, Plato, Democritus, hingga Pramoedya Ananta Toer. Karena menulis, yang menjadi cikal bakal munculnya blog, adalah kegiatan kemanusiaan yang terus menerus. Bahkan seandainya memungkinkan, Tuhan bisa saja menurunkan kitab suciNya kepada para rasul di dunia dalam bentuk online untuk menjangkau para pengikut di belahan dunia nan jauh dan maha luas. Blog adalah manifestasi dari proses sejarah kemanusiaan, karenanya ia akan terus hadir dan hidup sepanjang usia kemanusiaan itu!

Blogger Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara dramatis sudah saatnya memantapkan diri menjadi pilar utama pengawal kejujuran dan keadilan masyarakat Indonesia. Lewat suara yang jernih tanpa tendensi dan vibrasi kepentingan kapital tertentu, blogger Indonesia bisa menyuarakan nurani kejujuran, Insya Allah.

Advertisements

Kapan Pulang Ke Kampung?

Posted in Kenangan by daengrusle on August 19, 2008

kaelomang.JPGPertanyaan ini mengusik saya sekelebat siang ini, di sela kemalasan luar biasa menyelesaikan clearance pekerjaan tersisa.

Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?

Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian. Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.

Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi selamanya?

Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita, menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.

Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti belingsatan menjadi penyanyi.

Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa padanya.

Saya punya impian muluk, bahwa Sengkang, Impa-impa, Sempangnge, akan menjadi petirahan saya nantinya…menjadi tempat saya pensiun dan menghabiskan sisa hidup dengan bertani, berkebun atau beternak sapi…sambil men-share pengalaman dengan saudara sekampung disana….

Jadi pada kampung saya hendak mengembalikan utang yang belum lunas…disana kita berasal, dan kemudian pergi menghilang hingga berbilang tahun, dan akhirnya ke sana pula kita nanti kembali…..

(more…)

Garage Patriotism

Posted in Kenangan by daengrusle on August 17, 2008

Musim kering kemarau yang semestinya sudah menjemur balikpapan, tak kunjung datang sebagaimana yang sudah terjadi di belahan nusantara lain. Yang hadir di Balikpapan saban hari hanyalah rinai musim penghujan tiada henti. 17 agustusan yang mungkin lebih elok diwarnai lomba-lomba di tengah lapang yang cerah, kali ini mesti berpindah lokasi ke garasi warga.

Kuantitas lomba yang dipertandingkan pasti berkurang karena kondisi ini, namun susasana keceriaan tak lantas hilang hanya karena suasana yang serba basah-basahan, toh mereka tak kurang kreatif dalam menyelenggarakan lomba ini.

rs150635.JPG

rs150506.JPG

rs150580.JPG

(more…)

A letter to myself

Posted in Kenangan by daengrusle on August 13, 2008

aku di tumasek

There is no point of return, absolutely! Even, no time to think about that ‘think’.

These are the points that you will pursue and fulfill in your next dream. First of all you will close to your all happily premises. With them you can share your adorable passion together, especially for one you are trying to hug at all. May Allah bless her in her next life.What is the next? There are many challenges lied on your next way. You can prefer to build your new career or another one, explore your another potential capability in new line of your career. Just choose it, and the existing train will bring you to it. You just need to suffer for a while, but at the end of the rail, you will release many things that you were doubt on them. You can found yourself as a very wide person, with many opportunities. Otherwise, you will have better portfolio to expand your geographic determination, perhaps even do not much store your hope on it.

How about my stakeholders, as they are the most important thing after my supreme soulholder? There will be more widely joy of life to be share together with them. By collecting all stakeholder into the big one, it will make a bunch of happiness. For all of my derivatives, I will take them closely to the center of excellence coordinates; education, family, and others.

So, despite all those goodness and opportunities unwritable here, do not keep all doubt in your head. Go head, and smile. You are the winner, absolutely!

Makassar: A Bird View

Posted in Kenangan by daengrusle on August 7, 2008

Senang rasanya bisa menyaksikan Makassar dari atas langit, meski itu meminjam mata kamera seorang rekan – Iwan Sandeq yang mengizinkan saya memuatnya di blog ini. Nah, nikmatilah.

Jadi rindu pulang ke Makassar!

sampai nanti kawan, ketika mana gelegar rindu memuncak rawan
dan meliuk mesra laksana sungai menawan perawan
padamu nanti kususuri semua jejak embun di cendawan
seperti rindu sangat seorang kawan

Makassar - 1

makassar_udara_01.JPG

(more…)

Kisah Dua Arumpone yang Disingkirkan Rakyatnya

Posted in Kenangan by daengrusle on August 5, 2008

Lazimnya, raja sebagai pemimpin kerajaan dalam struktur kebudayaan nusantara adalah perwujudan strata tertinggi dan paripurna. Karenanya titah nya wajib diikuti oleh rakyat bawahannya. Namun dalam kronik kerajaan Bone, terdapat dua Raja Bone (Arumpone) yang ditentang oleh masyarakatnya.

Sebagaimana yang banyak disaksikan dalam beberapa kronik sejarah umumnya, penaklukan atas suatu daerah berdaulat bukan saja mengangkangi sumber-sumber ekonomi daerah tersebut, tetapi juga menusuk ke dalam sendi terdalam kehidupan rakyatnya; kehidupan spiritual. Peperangan yang terjadi di muka bumi ini, bahkan hingga jaman modern sekarang, selain bermotif ekonomi juga dibonceng oleh motif politik-religius yang pengaruhnya jauh lebih lama dan permanen dibanding penguasaan geografis belaka.

Pada awal abad 15, Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri gelar Sultan Awaluddin memeluk agama Islam, disusul oleh Raja Gowa I Mangngarangi Daeng Manrabia gelar Sultan Alauddin. Proklamasi pengakuan agama Islam sebagai agama resmi kerajaan serta merta membuat konstelasi politik kerajaan-kerajaan di semenanjung selatan Sulawesi berangsur dinamis. Agama baru ini ditengarai justru menjadi momentum kembalinya perseteruan klasik antara pucuk-pucuk kekuasaan di kawasan ini. Setelah hampir 20 tahun perseteruan antara Gowa dan Bone memasuki masa jeda (1590 – 1607) yang justru dipicu bukan karena perdamaian tetapi karena konflik internal masing-masing kerajaan, maka diresmikannya agama Islam menjadi agama kerajaan Gowa merekatkan kembali anasir-anasir yang terpecah sebelumnya. Setelah rekonsiliasi internal tercapai dan sistem politik kerajaan Gowa kembali berpusat di tangan dua raja kembar tersebut, maka langkah selanjutnya adalah mengembalikan khittah dominasi Gowa atas semenanjung selatan Sulawesi. Kali ini motif dominasi adalah motif spiritual; penyebaran agama Islam yang diyakini oleh Sultan Alauddin sebagai jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan kebaikan.

Sudah mahfum dalam perjanjian masa sebelumnya diantara kerajaan-kerajaan di semenanjung selatan Sulawesi, bahwa sesiapa yang menemukan jalan kebenaran (laleng adecengeng), maka wajib baginya untuk menyampaikan kepada yang lain. Dalam rangka melaksanakan perjanjian inilah, Raja Gowa-Tallo bermaksud untuk menyebarkan secara militer dan politis, jalan baru yang mereka klaim sebagai jalan kebenaran; Islam, kepada kerajaan-kerajaan lainnya. Islam yang dianut oleh Gowa-Tallo, menurut beberapa kronik sejarah sesungguhnya adalah Islam yang beraliran mistik sufiisme, yang lebih menekankan aspek spiritual (tarekat) dibanding ritual (syariat). Aliran itu bisa cepat diterima karena memiliki banyak kesamaan dengan struktur kepercayaan pra-Islam. Karenanya sampai zaman modern beberapa perilaku adat Bugis Makassar yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam masih bisa ditemui semisal; sabung ayam, minum arak (ballo’), dan tradisi klenik yang dipelihara semisal Bissu’ dan arajangeng nya. Meskipun ajaran Islam yang diserukan sebenarnya masih mengakomodir adat istiadat bugis, namun maksud penyebaran agama Islam ini tidak serta merta dipahami oleh kerajaan-kerajaan Bugis sebagai sebuah jalan yang mengajak kepada kebaikan, tapi terlebih sebagai upaya perluasan kekuasaan Gowa-Tallo sebagaimana pernah dikerahkan oleh raja-raja pendahulu mereka. Meskipun sudah banyak rakyatnya yang memeluk agama Islam, terlebih karena peran vital tiga ulama asal Minangkabau yang diutus oleh Sultan Johor; Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, Datuk Patimang, namun faktor kesejajaran politik yang timpang membuat raja-raja Bugis tidak begitu saja menerima ajakan ini dan lebih memilih perlawanan militer ketimbang tunduk secara politis. Melalui rangkaian peperangan yang dikenal sebagai perang Islam (musu’ assellengnge) terjadi dalam empat tahun (1607-1611) berturut-turut kerajaan-kerajaan Bugis jatuh dalam kekuasaan Gowa-Tallo; Suppa (1607), Sidenreng (1608), Soppeng (1609), Wajo (1610) dan terakhir Bone (1611).

La Tenrirua Matinroe ri Bantaeng (berkuasa 1607-1608)
Yang menarik justru ketika mengamati kondisi internal kerajaan Bone sebelum penaklukan. Berbeda dengan rakyat Wajo yang lebih memihak kerajaan Gowa-Tallo karena alasan ‘ajakan’ kebaikan yang dibawa oleh Gowa-Tallo layak diikuti – namun Arung Wajo menampiknya, situasi kerajaan Bone justru sebaliknya. Penguasa Bone kala itu, Arumpone La Tenrirua (Arung Bone biasanya dituliskan mengikuti pelafazannya : Arumpone) menerima dengan baik ajakan Gowa untuk memeluk Islam dan menyerukan bangsawan dan rakyatnya untuk ikut bersamanya sebagai bentuk kepatuhan akan perjanjian purba yang ia yakini sebelumnya. Seruan ini juga kemungkinan bermuatan politis sebagai upaya La Tenrirua melindungi rakyat Bone dari nasib lebih buruk sekiranya jalan militer ditempuh dan kemudian dijadikan kerajaan bawahan sebagaimana lazimnya negara taklukan. Apalagi saat itu kekuatan militer kerajaan Gowa-Tallo sedang pada masa keemasannya sehingga perimbangan kekuatan Bone menjadi inferior terhadap Gowa-Tallo. Konstelasi politik kala itu memang menempatkan Kerajaan Gowa-Tallo sebagai kerajaan yang unggul dalam segala hal, bukan saja soal ekonomi, militer dan politik. Tapi juga diketahui umum bahwa dengan diresmikannya Islam sebagai ajaran resmi kerajaan, maka secara otomatis, kerajaan Gowa-Tallo masuk dalam traktat persekutuan internasional antara kerajaan-kerajaan Islam yang beranggotakan kerajaan-kerajaan adidaya masa itu; Turki, Mogul India, Ternate-Tidore, Aceh dan sebagainya.

(more…)