…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

untuk lelaki pemulung hikmah

Posted in puisi by daengrusle on March 31, 2011

sajak untuk lelaki pemulung hikmah
:: untuk Goenawan Mohamad
 
dunia adalah lansekap yang tak rapi, tak urun rapi, bahkan sekira kita membawa ia ke semesta mimpi
selalu ada dinding yang retak, selalu ada jalan berlubang, atau pohon yang rantingnya menjuntai patah dan tak elok
dan baiknya manusia, negasi keindahan selalu ada obatnya; umpama demam yang didinginkan, umpama gigil yang dihangatkan
benak kita menyimpan jutaan racik kesempurnaan,
bawaan yang diasupkan dia sang pelempar awal ke alam mulk ini
 
lalu lahirlah sajak tentang bulan, pada setiap senja,
ketika nelayan-nelayan berjanji bersama sambil mendayung, di antara remang-remang api dapur perahu.
mengukir bulatan cahaya yang lebih ramah pada mata, melagukan romansa pada setiap cahaya yang tempias melawan gelap
ia menjadi sajak riang yang berbicara tidak atas nama siapapun atau puak yang bangga dengan hitungan,
ia dikemudi oleh dunia penghayatan yang terbuka untuk dibentuk sendiri
 
tak pernah ada yang final dalam diri manusia,
selayak menghitung jarak antara lakon Damarwulan dengan terjemahan Treasure Island,
seperti jarak antara kita dan orang-orang desa, jarak antara masa depan dan masa lalu,
jarak antara amarah yang membuncah dengan diam yang menggumam keluh, jarak antara istana dan penjara
bahkan ketika kita fana dalam mengukur jarak, kita larut dalam samudera jejak tak terhitung
 
kata pencibir raungmu raung yang tak terserap karang, hingga harus pulang sebagai orang asing
kau berdiri bebas tanpa masa lalu dan berbicara laik seorang penyendiri kepada seorang pembaca yang bersendiri
ini tidak berarti, bahwa negeri ini kemudian menjadi sebuah negeri tanpa kata-kata
karena setiap penghamba pada revolusi dan politik, sejatinya adalah kepalsuan
termasuk Tuhan yang mereka teriakkan, juga rakyat, juga hati. sejatinya palsu.
 
lantas apa yang kita perjuangkan?
pertanyaan mengandung filsafat, dan karenanya ia tak harus dimengerti dalam gegas
yang perlu kita gegaskan adalah sikap kita menolak hari kemaren dan beranjak membangun hari esok
tentu hari esok dengan lansekap yang meski tak rapi dan tak final, tapi ia berbicara atas nama semua
 
sekelompok orang yang membawa ilusi di kepalanya sambil membawa kitab suci,
mungkin jadi penggonggong yang galau, tapi bukankah ia hanya sisa peradaban yang sekarat?
 
Abudhabi, 31 Maret 2011

Pesan ‘Religius’ Berantai Tsunami: Menggarami Luka Menganga

Posted in Renungan by daengrusle on March 15, 2011

…memberi vonis pendosa kepada para korban bencana alam tentu suatu hal yang teramat berlebihan. Logika sederhana kita mengatakan bahwa tak semua korban itu adalah pelaku dosa besar yang harus diganjar dengan azab.

Acapkali bencana menimpa suatu daerah, seperti yang baru-baru ini terjadi di Jepang, maka para pengguna gadget akan dibanjiri pesan-pesan religious yang mengingatkan betapa hina dina diri kita yang tak mampu melawan kuasa semesta.

Beberapa akan terpekur dan kemudian ber-istigfar atau mensyukuri nikmat yang kini dirasakan, beberapa lagi mungkin akan abai dan merasa tak ada hubungannya. Semua punya pandangan dalam memaknai bencana, meski berbeda dalam penyikapan. (more…)

Celana Dalam itu bernama Supersemar

Posted in Renungan by daengrusle on March 11, 2011

Tulisan ini terinspirasi dari status facebook dua kawan saya hari ini, membuat saya mencoba menjalin dua hal yang sepertinya menarik untuk disimak. Celana Dalam dan Supersemar.

Celana dalam adalah proposisi eksistensial kita yang sangat personal. Meski kita mengakui dan memerlukan (secara mutlak) keberadaannya, namun tak banyak yang berani membicarakannya. Tabu dan malu melekat erat dengan benda satu ini, meski banyak lelaki (atau perempuan?) sangat menggemari pemandangan benda ini terutama kalau secara sensasional melekat pada pemakainya :).

Siapa yang hendak memulai perbincangan mengenai apa warna celana dalam yang sedang dipakai di dalam sebuah obrolan santai ataupun serius? Tak ada, kecuali anda hendak di-labeli saru, atau lale atau mangure’ (makassar/bugis: saru). Terkadang juga, mungkin karena yang letaknya menyembunyi dari pandangan umum (siapa yang suka mempertontonkan benda ini kecuali di pantai atau kolam renang?), maka kita tidak mempersoalkan warna ataupun bentuknya, belel longgar atau sudah sobek sana sini. Celana dalam adalah wajib hukumnya untuk dikenakan, tapi terkadang makruh bahkan haram untuk diperbincangkan.

(more…)

Tagged with: ,