…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Posted in Uncategorized by daengrusle on June 1, 2016

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Kemarin sore, di salah satu rest area saat balik dari Dubai menuju Abu Dhabi, saya tetirah sholat Ashar sambil meregangkan kaki. Seusai sholat seseorang yang saya kira berperawakan negeri gurun, atau mungkin dari asia selatan memperhatikan saya. Pakaiannya gamis panjang berwana coklat muda.

Meski juga memperhatikan gerak geriknya, saya berusaha tidak melakukan kontak mata. Sesaat kemudian dia menghampiri saya, tersenyum dan menyalami. Saya balas senyum dan menjawab salam sambil menjabat tangannya. Setelah menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris dan saya iyakan, matanya yang seakan penuh selidik mulai melontarkan pertanyaan yang langsung membuat saya ilfil, gak enak. “Apakah kamu menganut mazhab ini atau itu? Dahi saya berkerut dan menanya balik “Kenapa nanya itu?

Seingat saya selama hidup lima tahun di negeri gurun ini, pertanyaan semacam itu tak begitu umum, cenderung dihindari. Orang-orang tak begitu peduli dengan sesuatu yang sesungguhnya urusan pribadi Anda dengan Tuhan. Orang itu berkata bahwa ia memperhatikan cara sholat saya (dan mungkin membandingkan dengan tatacara sholat yang ia pahami). Saya memang sholat tak bersedekap, saya (memilih) untuk sholat dengan meluruskan tangan, juga melakukan qunut sebelum ruku di setiap rakaat kedua.

Dan mulailah ia menceramahi saya dengan hal-hal yang sesungguhnya tak begitu saya sukai. Di antara khotbah sore yang saya dapatkan gratis itu, saya ingat dia menganjurkan saya untuk “Banyak-banyaklah membaca buku. Carilah cara sholat sesuai protocol Rasulullah” Saya memilih diam, senyum dan mengangguk-anggukkan kepala saja selama khotbah itu. Untuk mengakhiri khotbah agar tak terlalu panjang, saya segera ulurkan tangan, mengguncangkan kepalan tangannya dengan sungguh-sungguh sambil menutup dengan doa untuk dia “Barokallahu fikum ya my brother”. Dia ikut tersenyum, puas dan kemudian berlalu.

==

Sedari dulu saya selalu gamang oleh pertanyaan yang kepo “apa standar kebenaran itu? Beberapa orang yang mengaku soleh dan solehah menyatakan “benar itu mesti sesuai Alquran dan Sunnah”. Tapi bukankah dua hal yang sedang kita bicarakan itu sepanjang 1500 tahun usianya sudah melahirkan banyak mazhab, belasan sub-mazhab, puluhan aliran teologis, ratusan aliran tasawuf, jutaan karya buku yang bisa saja saling mengkoreksi satu sama lain.

Semuanya merasa dirinya benar, karena mengambil patokan dari dua hal yang benar itu. Bahkan banyak juga menghasilkan sinkretisme antar agama (islam disatukan dgn hindu krn kesamaan prinsip — menjadi agama Sikh, islam menyatu dgn majusi menjadi Bahaism, dsb-nya — mohon dikoreksi kalau ini anggapan keliru).

Standar yang kita bicarakan itu menghasilkan begitu banyak cabang, sehingga apa pantas ya seseorang mendaku sebagai pemilik sah dan satu2nya yang benar. Mungkin orang itu memang bercita-cita melampaui Nabi, yang sejatinya seorang yang terbuka dan memberikan kesempatan kepada sahabat2nya untuk berlomba2 berbuat baik, bukan berlomba2 untuk merasa benar

Advertisements