…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menakar Kebencian Di Sekitar Kita

Posted in feature, My Self-writing by daengrusle on January 10, 2015

Opini di Harian Tribun Timur edisi 10 Januari 2015

Tiba-tiba orang terpana ketika peristiwa Charlie Hebdo (9/1/2015) merengsek masuk ke ruang baca kita semua. Kita menyaksikan bagaimana lelucon satir memantik kekerasan, membunuh belasan orang. Dunia mengecam pembantaian di kantor majalah karikaturis itu, namun juga tak mengerti bagaimana ada sekelompok orang kreatif getol merawat pelecehan terhadap berbagai keyakinan itu. Kebencian, bisa muncul di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja, namun memperlihatkan kepada khalayak, terlebih memunculkan kekerasan atas nama kebencian itu sungguh mengerikan.

Kisah kebencian di zaman dahulu pernah pula memunculkan ironi, tentang seorang anakarung Bone bernama Arung Bakke. Ia yang bergelar Todani Datu Citta (wafat 1681) mungkin tak pernah menduga nasibnya akan berakhir di ujung badik orang suruhan Arung Palakka. Dua bangsawan Bone yang dulunya bahu membahu memimpin pasukan Toangke dan terlibat memenangkan perang Makassar (1666-1669) itu akhirnya terseret dalam perseteruan berdarah. Status kekerabatan sebagai saudara ipar, Bakke menikahi adik Palakka, tak mampu mengekalkan ikatan emosional yang karib antar dua sahabat lama ini.

Pasal perselisihan keduanya mungkin bisa sedemikian rumit, menyangkut intrik politik dan semacamnya. Namun yang tertinggal di benak generasi setelahnya hanyalah soal riwayat kekerasan yang menyedihkan. Kisah perseteruan ini sejatinya berusaha dikubur di kubangan sejarah, sampai kemudian catatan buram ini digali kembali oleh sejarawan Leonard Andaya dalam bukunya Warisan Arung Palakka (Ininnawa, 2004).

Orang awam mungkin akan mempertanyakan bagaimana bisa seseorang membenci sesamanya sedemikian, bahkan terhadap mereka yang dulunya berkarib dan berkerabat sebagaimana perseteruan dua anakarung Bone abad 17 itu. Kalau hanya soal perbedaan, bukankah perbedaan itu sejatinya adalah keniscayaan. Penciptaan semesta ini hadir dengan segala keunikannya. Keadaan berbeda memang bisa menimbulkan kesenjangan dan meletupkan kecemburuan. Namun, itu hanya bisa terjadi sekira perbedaan tidak dipahami dengan arif dan melihatnya sebagai sebuah ancaman. Ini yang mungkin terjadi pada Arung Bakke, yang pada beberapa bagian dalam buku Andaya tersebut dianggap menggerogoti kewibawaan Arung Palakka. (more…)