…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

dua puluh enam tahun silam – saya baru bisa baca di kelas 3 SD!

Posted in Kenangan by daengrusle on September 25, 2008

foto-jaman-sd-dulu.jpg
(foto saya thn 1987, dari kiri ; rusle, rusdin, rustam, diana, anto, emmang)

“Pak Amir sudah pensiun”, begitu jawab cucu saya, Iqbal-10tahun, – sesungguhnya saya merasa terlalu muda untuk menjadi kakek, – ketika saya iseng bertanya gmana keadaan sekolah nya, adakah yang telah berubah setelah berselang hampir 26 tahun saya tinggalkan? SD Negeri Inpres Pannampu 1 yang sekarang menjadi tempat si Iqbal menapak pendidikan dasar itu, pernah pula menjadi tempat saya ‘nongkrong’ selama enam tahun. sekolah itu sejatinya adalah sekolah yang amat sederhana, apalagi dibandingkan dengan sekolah tetangganya, SD Beroanging yang gedungnya bertingkat dan muridnya sombong-sombong.

Sekolah itu sederhana, bukan saja dari bangunannya yang hanya satu tingkat dengan fasilitas sederhana, tapi juga guru-guru nya teramat bersahaja. setiap tempat punya cerita nya, demikian juga dengan sekolah ini. Banyak cerita yang menghiasi masa kecil saya disana.

Saya menapak pertama kali bangku sekolah ini tiga bulan setelah masa sekolah dimulai, tepatnya di bulan Oktober 1982. Nomor induk atau stambuk saya, 8283023. 8283 menunjukkan tahun ajaran ketika memasuki sekolah; 1982/1983, dan 023 menunjukkan nomor urut daftar di kelas yang bersangkutan. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya mengenakan seragam yang tidak umum, seragam putih-putih.

Pak Amir, dengan badannya yang tegap pendek, rambut ikal dan senyum kebapakan, menyambut saya dengan antusias. Sambutan hangatnya tidak melepaskan beliau dari keheranan, “kenapa kamu baru masuk sekarang, setelah tiga bulan teman2mu bersekolah? saya jawab dengan tertunduk malu, “Bapak saya belum datang dari berjualan, saya belum punya seragam. Jadi malu kalau saya ke sekolah tidak pakai seragam”. Padahal saat saya masuk pun, sesungguhnya saya juga tak berseragam.

Yah, hari pertama yang mencemaskan. Saya lupa bagaimana detailnya, namun saya yakin saat itu saya dibanjiri perasaan cemas tak karuan takut disetrap atau diapakan karena bolos tiga bulan, plus kebingungan apa yang harus saya kerjakan di kelas dengan murid berjumlah lebih kurang 20-an itu. Di kelas itu, saya hanya mengenal tidak lebih dari lima murid, tetangga saya. Saya tinggal di suatu deretan perumahan yang kami namakan kompleks pasar Pannampu.

Kompleks kami dan SD Inpres Pannampu ini terhitung dekat, hanya diantarai oleh satu pom bensin dan satu jalan besar. Entah kenapa, semua anak-anak yang tinggal di kompleks memilih (atau didaftarkan oleh orang tua mereka) bersekolah di SD Inpres Pannampu, bukan di SD Beroanging yang megah. Persoalan pembayaran? saya kira tidak, karena kala itu pembayaran uang sekolah anak SD sudah gratis, yang beda mungkin uang BP3 dan Uang Pramuka. Gedung yang megah dan bertingkat sepertinya menjadi pelatuk resistensi tetangga-tetangga saya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD itu.

Saya ingat, Pak Amir saat itu sedang getol mengajar murid-muridnya membaca, tepatnya mengeja. Cara mengajarnya sungguh lucu. Dia melafalkan huruf demi huruf seperti tercekak. Misalnya mengeja huruf “b” dengan “eb”, atau huruf “r” dengan “rrrr”. Ah, sungguh menggelikan, dan terus terang buat saya cara beliau mengajar tidaklah membantu, malah menyusahkan.

Tapi kami semua menikmati pelajaran itu, dan hasilnya adalah bahwa saya baru bisa membaca ketika menginjak kelas 3 SD. Hahaha. Berbeda dengan anak murid sekarang yang masih duduk di Play Group sudah bisa membaca dengan lancar…

dalam waktu dekat, di sebuah peron

Posted in puisi by daengrusle on September 23, 2008

kereta-reu-palinggi.jpg

::gerbong riuh
saya, yang hanya berbekal mungkin, tersamar pada gundah selasar peron setasiun tua. cemas menerka gumam dari lintas kereta dan gerbong yang riuh itu.

::diatap nasib
di atas atap yang bertelingkup pada kabel listrik bertegangan, kujumpai wajah-wajah nanar menanti nasib. hendak sampaikah menjejak pulang, atau terpapar kematian yang bodoh. berselimut tangan, menekuk lutut, mereka mungkin sedang asyik membincangkan sinetron yang sedang tayang di kala primetime, tapi nasib juga sedang bergerak mendekat mengais petaka diantara jeda hidup atau mati, milik mereka. sedetik saja angin menggoyang badannya, atau tempias hujan iseng menyiramnya dari sekelebat pancaran listrik itu, maka nasib menjadi pantas dijejalkan.

::di gerbong sesak
mereka, yang megap mencari ruang selapang dua lubang hidung, terserak diantara pengab dan sesak, dan bau dari semua jenis peluh. dalam mana norma persentuhan sudah nihil adanya, ruang dan antara menjadi barang mahal, dan keluh kesah jadi niaga yang murah. tangan-tangan gelisah mencari dinding atau apa saja yang bisa disangkutkan, mencoba selamat dari lembam gerbong berderak. sejatinya semua menjadi mahfum, itu demokrasi dimana nasib kaya miskin tergencet oleh buta-ruang. sempit, bahasa umumnya.

::di pintu masuk
tak ada yang bisa diceritakan, selain bahwa pintu masuk menjadi semacam khayalan semua orang, di kereta yang sesak, dan rindu pulang ke rumah biar lega mendekap dan napas tak perlu memburu.

Foto: Crack Palinggi/Reuters

dua puluh enam tahun silam – saya baru bisa baca di kelas 3 SD!

Posted in Renungan by daengrusle on September 23, 2008

foto-jaman-sd-dulu.jpg
(foto saya thn 1987, dari kiri ; rusle, rusdin, rustam, diana, anto, emmang)

“Pak Amir sudah pensiun”, begitu jawab cucu saya, Iqbal-10tahun, – sesungguhnya saya merasa terlalu muda untuk menjadi kakek, – ketika saya iseng bertanya gmana keadaan sekolah nya, adakah yang telah berubah setelah berselang hampir 26 tahun saya tinggalkan? SD Negeri Inpres Pannampu 1 yang sekarang menjadi tempat si Iqbal menapak pendidikan dasar itu, pernah pula menjadi tempat saya ‘nongkrong’ selama enam tahun. sekolah itu sejatinya adalah sekolah yang amat sederhana, apalagi dibandingkan dengan sekolah tetangganya, SD Beroanging yang gedungnya bertingkat dan muridnya sombong-sombong.

Sekolah itu sederhana, bukan saja dari bangunannya yang hanya satu tingkat dengan fasilitas sederhana, tapi juga guru-guru nya teramat bersahaja. setiap tempat punya cerita nya, demikian juga dengan sekolah ini. Banyak cerita yang menghiasi masa kecil saya disana.

Saya menapak pertama kali bangku sekolah ini tiga bulan setelah masa sekolah dimulai, tepatnya di bulan Oktober 1982. Nomor induk atau stambuk saya, 8283023. 8283 menunjukkan tahun ajaran ketika memasuki sekolah; 1982/1983, dan 023 menunjukkan nomor urut daftar di kelas yang bersangkutan. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya mengenakan seragam yang tidak umum, seragam putih-putih.

Pak Amir, dengan badannya yang tegap pendek, rambut ikal dan senyum kebapakan, menyambut saya dengan antusias. Sambutan hangatnya tidak melepaskan beliau dari keheranan, “kenapa kamu baru masuk sekarang, setelah tiga bulan teman2mu bersekolah? saya jawab dengan tertunduk malu, “Bapak saya belum datang dari berjualan, saya belum punya seragam. Jadi malu kalau saya ke sekolah tidak pakai seragam”. Padahal saat saya masuk pun, sesungguhnya saya juga tak berseragam.

Yah, hari pertama yang mencemaskan. Saya lupa bagaimana detailnya, namun saya yakin saat itu saya dibanjiri perasaan cemas tak karuan takut disetrap atau diapakan karena bolos tiga bulan, plus kebingungan apa yang harus saya kerjakan di kelas dengan murid berjumlah lebih kurang 20-an itu. Di kelas itu, saya hanya mengenal tidak lebih dari lima murid, tetangga saya. Saya tinggal di suatu deretan perumahan yang kami namakan kompleks pasar Pannampu.

Kompleks kami dan SD Inpres Pannampu ini terhitung dekat, hanya diantarai oleh satu pom bensin dan satu jalan besar. Entah kenapa, semua anak-anak yang tinggal di kompleks memilih (atau didaftarkan oleh orang tua mereka) bersekolah di SD Inpres Pannampu, bukan di SD Beroanging yang megah. Persoalan pembayaran? saya kira tidak, karena kala itu pembayaran uang sekolah anak SD sudah gratis, yang beda mungkin uang BP3 dan Uang Pramuka. Gedung yang megah dan bertingkat sepertinya menjadi pelatuk resistensi tetangga-tetangga saya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD itu.

Saya ingat, Pak Amir saat itu sedang getol mengajar murid-muridnya membaca, tepatnya mengeja. Cara mengajarnya sungguh lucu. Dia melafalkan huruf demi huruf seperti tercekak. Misalnya mengeja huruf “b” dengan “eb”, atau huruf “r” dengan “rrrr”. Ah, sungguh menggelikan, dan terus terang buat saya cara beliau mengajar tidaklah membantu, malah menyusahkan.

Tapi kami semua menikmati pelajaran itu, dan hasilnya adalah bahwa saya baru bisa membaca ketika menginjak kelas 3 SD. Hahaha. Berbeda dengan anak murid sekarang yang masih duduk di Play Group sudah bisa membaca dengan lancar…

dalam waktu dekat, di sebuah peron

Posted in Renungan by daengrusle on September 20, 2008

kereta-reu-palinggi.jpg

::gerbong riuh
saya, yang hanya berbekal mungkin, tersamar pada gundah selasar peron setasiun tua. cemas menerka gumam dari lintas kereta dan gerbong yang riuh itu.

::diatap nasib
di atas atap yang bertelingkup pada kabel listrik bertegangan, kujumpai wajah-wajah nanar menanti nasib. hendak sampaikah menjejak pulang, atau terpapar kematian yang bodoh. berselimut tangan, menekuk lutut, mereka mungkin sedang asyik membincangkan sinetron yang sedang tayang di kala primetime, tapi nasib juga sedang bergerak mendekat mengais petaka diantara jeda hidup atau mati, milik mereka. sedetik saja angin menggoyang badannya, atau tempias hujan iseng menyiramnya dari sekelebat pancaran listrik itu, maka nasib menjadi pantas dijejalkan.

::di gerbong sesak
mereka, yang megap mencari ruang selapang dua lubang hidung, terserak diantara pengab dan sesak, dan bau dari semua jenis peluh. dalam mana norma persentuhan sudah nihil adanya, ruang dan antara menjadi barang mahal, dan keluh kesah jadi niaga yang murah. tangan-tangan gelisah mencari dinding atau apa saja yang bisa disangkutkan, mencoba selamat dari lembam gerbong berderak. sejatinya semua menjadi mahfum, itu demokrasi dimana nasib kaya miskin tergencet oleh buta-ruang. sempit, bahasa umumnya.

::di pintu masuk
tak ada yang bisa diceritakan, selain bahwa pintu masuk menjadi semacam khayalan semua orang, di kereta yang sesak, dan rindu pulang ke rumah biar lega mendekap dan napas tak perlu memburu.

Foto: Crack Palinggi/Reuters

Blog: Antitesis Media Mainstream

Posted in Kenangan by daengrusle on September 9, 2008

Menurut saya, Blog adalah antitesis media mainstream.

mahdi-botak.JPGBlog adalah bentuk perlawanan terbuka atas penguasaan sumbat informasi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh media mainstream yang komersial; koran, majalah, televisi. Blog mampu menciptakan, tepatnya membuka sumbat hajat hidup orang banyak dengan menyuarakan perspektif baru yang membumi ke khalayak. Tanpa ada proses editing dan proses penyaringan, blog menjadi media merdeka yang bebas sepenuhnya, bahkan dari pihak regulator! Ibarat negara, blog adalah kawasan bebas tanpa aturan. Yang menjadi aturan yang berlaku adalah etika umum yang dilandaskan kepada kepentingan banyak.

Sejak jaman baheula, kita dijejali oleh media pustaka dengan informasi yang berlandaskan pengetahuan yang dibumbui interpretasi subyektif penulisnya. Tidak jarang kita digiring untuk mempercayai sesuatu berita yang fakta dan latar belakangnya bisa berbeda 90 derajat. Parahnya adalah penjejalan dan penggiringan ini kemudian membentuk pola pikir dan cara pandang kita sejak di bangku sekolahan sampai kemudian menjadi inheren dalam kehidupan kita dan kemudian diwariskan pula ke anak-cucu. Media seperti ini lebih banyak bersikap bak guru sekolahan jaman Orde Baru; menyuap tanpa merasa penting untuk ditanggapi, menggurui tanpa merasa wajib untuk melakukan riset kebenaran, mengajar tanpa boleh didebat. Yang terjadi kemudian hanyalah komunikasi satu arah antara si pemberi informasi dan penerima informasi.

Media massa yang dianggap sebagai lokomotif kebebasan bersuara juga berperilaku sama. Mereka, yang kemudian menganggap diri sebagai mainstream informasi Indonesia, hanya menampilkan berita yang ‘sejalan’ dengan idealisme mereka, atau kasarnya yang bisa membuat dapur redaksi mereka tetap mengepul, wartawan bisa digaji, dan tiras tidak anjlok. Intinya, mereka menyediakan informasi kepada khalayak sudah dengan ‘pesanan’ tertentu . Maka dipenuhilah ruang baca kita dengan informasi yang nyaris seragam, beritanya ibarat lawakan badut yang hambar disuarakan oleh hampir semua media, tidak ada yang kreatif, aneh dan nyata. Tidak jarang dalam beberapa pemberitaan tendensius si ‘pemesan’ teramat kentara dan kita, pembaca tidak punya pilihan lain untuk berbicara ‘beda’ kecuali dalam satu rubrik sempit bernama Surat Pembaca, itupun mesti melalui filter redaksi yang sangat ketat. Surat yang isinya cukup mengganggu dan membahayakan masa depan media sudah pasti tidak akan termuat.

Perspektif warga, perspektif pembaca. Ini yang sulit ditemukan dalam media mainstream saat itu. Seakan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungnya. Pelaku media hanya mengenal dua pihak yang boleh disuarakan dalam lembaran beritanya; sumber berita yang berasal dari kalangan istana atau gedung, suara redaksi yang tak jarang hanya membenarkan si sumber berita. Kalaupun ada, suara warga hanya mengisi kolom tertentu yang tak begitu menarik perhatian, tidak eye catching menurut insan komunikasi. Opini dari para aktivis yang bisa dianggap mewakili kepentingan khalayak seringkali hanya mampir di meja Redaksi kemudian masuk kotak sampah.

Nah, dimana ruang warga bersuara ‘beda’ dan magnitudenya besar hingga bisa terbaca oleh seluruh warga dunia? Jawab nya singkat, padat dan jelas: Blog.

Apakah blog hanya sekedar trend sesaat? Maaf, blog adalah trend yang bermatra keabadian. Seandainya teknologi internet sudah ada sejak jaman filosof Yunani hidup, maka kita akan bisa membaca blog-blog dari Socrates, Aristoteles, Plato, Democritus, hingga Pramoedya Ananta Toer. Karena menulis, yang menjadi cikal bakal munculnya blog, adalah kegiatan kemanusiaan yang terus menerus. Bahkan seandainya memungkinkan, Tuhan bisa saja menurunkan kitab suciNya kepada para rasul di dunia dalam bentuk online untuk menjangkau para pengikut di belahan dunia nan jauh dan maha luas. Blog adalah manifestasi dari proses sejarah kemanusiaan, karenanya ia akan terus hadir dan hidup sepanjang usia kemanusiaan itu!

Blogger Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara dramatis sudah saatnya memantapkan diri menjadi pilar utama pengawal kejujuran dan keadilan masyarakat Indonesia. Lewat suara yang jernih tanpa tendensi dan vibrasi kepentingan kapital tertentu, blogger Indonesia bisa menyuarakan nurani kejujuran, Insya Allah.

Ramadhan: Hormati yang tak puasa

Posted in Kenangan by daengrusle on September 6, 2008

menikmati.JPGJangan manja, kalau hendak menjadi manusia yang tangguh dan mandiri. Ibarat pelaut, yang terulung adalah yang lahir bukan dari laut yang tenang tanpa gelombang. Pelaut yang ulung lahir dari tempaan alam yang keras, dan tak dimanja oleh fasilitas.

Di masa berpuasa, Umat Islam di beberapa tempat seperti bertambah sensitifitasnya. Beberapa diantaranya meminta perlakuan istimewa, kalau tidak hendak dikatakan hendak diperhatikan kebutuhannya. Saat berpuasa, gerai-gerai makanan diminta untuk ditutup, musik hingar bingar dihentikan, berbagai tempat olahraga ketangkasan disuspend.

Warung makan di siang hari kenapa mesti ditutup? Bukankah ada juga umat lain yang tidak berpuasa dan dengan demikian mesti dipenuhi hajat hidupnya. Karyawan restoran dan warung itu juga sebahagian besar diantaranya adalah saudara kita sesame Muslim yang butuh nafkah untuk anak istrinya. Apakah pajangan makanan dan minuman di gerai-gerai makan itu bisa mengurangi pahala puasa kita, ataukah bisa membuat kekhusyu’an kita berpuasa berkurang? Saya yakin tidak. Hanya orang-orang yang lemah iman yang akan tergiur. Sedangkan puasa hanya diperuntukkan khusus bagi umat Islam yang berkategori beriman.

Sedangkan untuk klub malam, olahraga ketangkasan yang biasa buka di malam hari, sebaiknya tidak perlu dilarang total. Tapi hanya diperuntukkan bagi kegiatan yang mesum saja dan tidak perlu menunggu Ramadhan untuk diberangus.

So, mari kita membalik paradigma. Hormati orang yang tidak berpuasa! Dengan demikian pahala puasa Anda makin bertambah. Amin!