…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menunggu Mereka Bermain Api di Pasar Pannampu

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on October 8, 2012

Pasar Pannampu, meluber hingga ke perumahan

Tulisan ini juga dimuat di web MakassarNolKm.

Pasar Pannampu, yang mulai dibuka sejak tahun 1980, adalah salah satu dari sekian pasar tradisional di Makassar yang masih belum “diremajakan”. Jargon “peremajaan” pasar sesungguhnya mengandung terror bagi warga, karena dianggap bermakna sama dengan pembakaran pasar. Dalam tulisan ini, saya bercerita sebagai warga yang mendiami Pasar Pannampu sejak tahun 1980.

Pasar Panampu adalah masa lalu. Itu buat saya. Tapi buat ibu saya, Hajah Hatika (65tahun) pasar tradisional itu ibarat roda tua yang masih berputar. Pasar Pannampu yang kumuh seumpama geliat hidup yang menemani usianya hingga kini di bibir senja, nun sejak 32 tahun silam. Padahal sejak 5 tahun lalu kami sekeluarga pindah menetap di Ujungpandang Baru, tapi hanya ibu yang rajin mengunjungi rumah lama kami di pasar Panampu. Di rumah lama itu, beliau setia menjaga lapak jualannya. Ada puluhan warga asli pasar Pannampu yang seperti ibu saya, enggan beranjak dari pasar tua itu. Terutama karena pasar itu sudah memberi asupan ekonomi buat mereka sejak lama.

Api dan Peremajaan Pasar
Pasar Pannampu, yang mulai dibuka sejak tahun 1980, adalah salah satu dari sekian pasar tradisional di Makassar yang masih belum “diremajakan”. Itupun hanya tinggal waktu, tinggal menunggu api dipantik. Ini makna sebenarnya, bukan sekedar kiasan. Bagi pola pikir pemerintahan yang menghalalkan segala cara demi komersialisasi kawasan, peremajaan lebih sering bermakna “memantik api”. Membakar!.

Bagi warga pasar Pannampu, jargon pemerintah atau politisi yang sering menyebut-nyebut istilah “peremajaan” mengandung ancaman yang menakutkan, teror dalam bentuk kecemasan. Peremajaan, seperti modus yang jamak dipahami, selalu dimulai dengan pembakaran pasar lama. Dianggap sebagai cara termudah untuk mengusir pedagang lama tanpa harus melakukan negosiasi yang alot. Beberapa kali pasar “nyaris” terbakar, tinggal menunggu waktu saja pasar tua itu menjadi remaja kembali setelah diratakan. Tinggal menunggu mereka bermain api.

Api menjadi semacam obat “kembali” muda bagi pasar tua. Mungkin ingatan kita masih belum pudar tentang Pasar Sentral Makassar. Pusat perdagangan tradisional kota Makassar ini tercatat beberapa kali terbakar, untuk kemudian diremajakan; 1982, 1991 dan terakhir tahun 2011. Pasar Pannampu juga sudah beberapa kali terancam api, terutama di tahun 1990-an, 2009, 2011, 2012. Memang kebakaran-kebakaran itu tak sampai menghanguskan seluruhnya, tapi itu sekedar pertanda bahwa saat hangus seluruhnya mungkin akan tiba. (more…)