…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pipit

Posted in cerita, Review by daengrusle on January 29, 2016

Barangkalai kalau tak membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohammad di Tempo tentang Ben Anderson, saya akan terlambat mengenal nama Pipit Rochijat. Yang menarik, GM menggambarkan Pipit sebagai “berandal dalam pikiran, suka meledek, menulis dengan bahasa Indonesia yang eksentrik”. Pipit adalah aktifis Indonesia yang sempat dicabut paspornya oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1987. Pipit bukan komunis, malah dulu punya sejarah sebagai aktifis anti-komunis, bergabung dalam Gerakan Siswan Nasinoalis Indonesia, underbow PNI tahun 1960an. Pasalnya, ayahanda Pipit yang jadi Direktur Pabrik Gula di Ngadirejo sejak 1959, Kediri sempat mengalami penentangan, bahkan diancam jiwanya saat menghadapi organisasi buruh yang digerakkan oleh yang berhaluan komunis.

Setelah itu, mata Pipit seperti menjadi alat perekam sejarah. Dari mengalami permusuhan dengan kaum komunis, kemudian menyaksikan bagaimana orang-orang yang dituduh komunis menjadi korban pembantaian di kampungnya. Selepas peristiwa kelam 1965 itu, ia menjadi mahasiswa ITB dan lagi-lagi saksi sejarah bagaimana Rene Congrad ditembak oleh oknum siswa Akpol tahun 1970 di kampus ITB. Dia menceritakan memoarnya dalam tulisan beberapa halaman berjudul “Saya PKI atau Bukan PKI?” yang terbit di Majalah GotongRoyong milik PPI Jerman Barat tahun 1983. Karena tulisan inilah, yang isinya banyak mengecam Orde Baru, membuat nasib kewarganegaraannya sempat terlunta-lunta.

Sepertinya nasib Pipit dijaring oleh sesuatu yang bernama stereotyp. Oleh kaum komunis, keluarganya dimasukkan ke dalam kelompok “7 Setan Desa” dan wajib dienyahkan. Konon, ia bercerita, sekira peristiwa G 30 S tak meletus, keluarganya mungkin sudah dikubur hidup-hidup oleh buruh komunis. Selepas bahu membahu bersama tentara, kelompok agama, dan Front Marhaen, memberantas komunis di desanya, ia yang nasionalis malah mulai mengalami tekanan dari tentara karena aktifitasnya, juga ideologinya yang sangat memuja Bung Karno. Semua tahu, Orde Baru tak begitu nyaman merawat ajaran Bung Karno, apalagi mengagungkannya. Dia dicap sosialis, yang ujung-ujungnya kemudian dianggap komunis. Katanya, kaum komunis sering disalahartikan sebagai kaum tak beragama. Padahal soal beragama atau tidak, tak bisa disimpulkan hanya memandang afiliasi politiknya. Saya sepakat. Stereotyp atau sikap gebyah uyah menyamaratakan segala sesuatu, hanya karena pembacaan singkat yang premature sangat berbahaya.

Abu Dhabi, 29 Januari 2016

Tagged with: