…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

kingdom of heaven

Posted in Kenangan by daengrusle on November 27, 2006

Lihat Gambar

Kesucian, kebenaran, dan kebaikan hati itu terpatri dalam hati setiap manusia, dan hanya Tuhan dan manusia itu sendiri yang menyadari sepenuhnya. Bukan pada simbol-simbol fisik keagamaan. Kerajaan Surga itu ada di hati manusia yang baik, bukan di Yerusalem. Yerusalem hanyalah simbol ketuhanan yang coba diterjemahkan oleh manusia ke dalam bentuk fisik karena dasarnya manusia yang hanya terpuaskan oleh bentuk kebutuhan ragawi yang materialistik. 

Diilhami oleh khutbah Jumat (24Nov06) di Mushalla Nurul Islah BDI – Chevron Pasir Ridge yang menyebut ttg Film “Kingdom of Heaven” yang menceritakan perang Salib terutama ketokohan Sultan Saladin. Penasaran akan film yang terkenal itu (release May 2005), saya coba mencari film nya di rental langganan saya, rupanya ada. Namun, asumsi dan praduga saya ketika melihat CDnya, “wah ini pasti salah satu versi Hollywood yang biasanya negatif-minded. Sebagaimana sering kita temukan dalam film-film produksi Hollywood lainnya yang kadang kelewat ‘kritis’, ‘stereotype’ dan ‘negative’ terhadap Islam, terutama setelah tragedi WTC 9/11”.

Tapi, setelah menonton film tersebut yg berdurasi kurang lebih 2 jam, i was speechless, rupanya penyajian nya lebih netral, bahkan di akhir film diperlihatkan kemenangan Sultan Saladin dalam merebut Yerusalem, walau dengan susah payah dan melalui negosiasi yang elegan dengan Balian of Ibelin. Yang juga sangat menariknya adalah, filem ini malah menggambarkan sisi keburukan dari perangai dan misi para Crusader itu sendiri, yang selalu dianggap suci dan jarang dipublikasikan oleh Media Barat, walaupun tentunya juga masih banyak yang mempertanyakan validitas sejarah yang menjadi dasarnya. Seperti tokoh Guy de Lusignan dan Raynald de Chatillon yang haus perang, dan dengan menjual nama Tuhan beranggapan bahwa perang Salib adalah kehendakNya lewat to kill an infidel is not a murder, it is the path to heaven!” atau “There must be war, God wills it!”. , bahkan dengan cara yang bejat sekalipun,  membunuh kafilah muslim dan adik Saladin di masa damai. Banyak ungkapan kenetralan (atau kejujuran) yang diperlihatkan dalam filem ini, misalnya ketika Godfrey menasihati putranya, Balian, bahwa perang ini tidak seharusnya terjadi, bahkan seharusnya Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai, bukannya berperang”…

Walaupun secara keseluruhan filem ini sangatlah bagus, namun ada dua hal yang membuat saya masih kurang sreg. Pertama, saya kurang yakin cara sholat Muslim Saracen (orang-orang Syria) yang berjamaah tapi posisinya terpisah-pisah tidak dalam satu shaf, ini terlihat ketika Muslim shalat di Messina (apakah banyak Muslim di Messina Italia waktu itu???) dan ketika di Ibelin yang juga sholat berjamaah namun shaf nya tidak teratur walau tidak dalam kondisi perang/darurat. Namun, sholat berjamaah yang dalam shaff teratur diperlihatkan ketika pasukan Saladin sholat di depan Yerusalem, saat jeda perang. Kedua, di filem ini kesan karakter Princess Sybillia sangat jablai (jarang dibelai) atau haus sex, apalagi pas ngelihat Balian, padahal posisinya waktu itu adalah Putri/Ratu Yerusalem yang seharusnya menjunjung tinggi martabat kebangsawanan (:p). Klimaksnya adalah ketika Princess Sybillia merayu Balian dan kemudian bercinta di istana Ibelin. Hollywood banget, yang bumbu sex gak pernah lepas, bahkan di filem ber genre perang Suci ini…:p

Pada akhirnya, init pesan yang ingin disampaikan sutradara Ridley Scott ini adalah bahwa apapun itu, perang bukanlah perintah Tuhan, ini hanyalah bentuk terburuk dari angkara nafsu manusianya akan kejayaan dan kekuasaan. Apalagi semua agama tidak satupun yang mengajarkan kekerasan terhadap sesama dan pesan damai menjadi inti dari semua ajaran. Rekan Bagus Pramono dari Komunitas Penulis Kristen, memaparkan…Dari segi cerita, film ini dihujani banyak kritikan, terutama dari kalangan barat dan pengkaji sejarah Perang Salib. Kritikan dilontarkan dengan tuduhan “memutihkan sejarah” dan beberapa agenda murni untuk mengendurkan ketegangan antara agama. Dilain pihak, saya kagum atas keberanian Sir Ridley Scott, Sutradara Inggris itu dalam membuat film seperti ini di dalam konteks dan semangat Barat yang kini kurang lebih anti-muslim. Scott telah membuat film yang kurang-lebih proporsional terhadap Islam yang diwakili oleh pasukan Saladin. Dan penulis skrip, William Monahan, menyatakan, “film ini menyuguhkan pesan bahwa, adalah lebih baik hidup bersama daripada berperang.”
Tentunya ini mungkin menjadi pelajaran buat Mr BUSH yang malah menganggap perang melawan terorisme setelah tragedi WTC 9/11 sebagai kelanjutan dari Crusade War atau Perang Salib modern. (baca ulasannya di sini: Bush Crusade).

Film ini ditutup dengan dialog antara Saladin dan Balian. Setelah penyerahan Yerusalem, Balian yang penasaran menanyakan seberapa nilai Yerusalem buat sang Unmercy – Saladin, “What is the Yerusalem worthed?”..dengan tersenyum Salading menjawab “Nothing”…namun setelah beberapa langkah, dia berbalik dan mengepalkan kedua tangannya di dada dan berujar “Everything”…seakan Saladin hendak menunjukkan bahwa sebagai sebuah simbol fisik, Yerusalem tidak lebih dari sekedar kota dan tanah, namun jauh di lubuk terdalam, Yerusalem adalah sebuah manifestasi kemerdekaan beribadah, suatu wujud akhir dari perjuangan, kesyahidan, yang mana setiap Muslim terobsesi untuk mencapai Kerajaan Surga melalui jalan suci itu.

banyak ulasan menarik yang perlu disimak mengenai film ini;
– dari rekan Komunitas Penulis Kristen: Ulasannya menarik dan sangat bagus, alinea terakhir mereka menulis: …..”Walau bagaimanapun Perang Salib adalah sejarah hitam akibat dari abusement terhadap ajaran Tuhan Yesus Kristus, bagaimana Lambang Salib Sang Raja Damai itu dijadikan ‘icon-perang’ selama hampir 4 abad. Pada akhirnya Perang-Salib ini dimenangkan oleh kubu Sabil. Tahun 1453 merupakan masa jatuhnya Konstantinopel, kota kebanggaan Kristen itu menjadi Negara Islam hingga sekarang. Maka, hendaknya hal tersebut menjadikan suatu bukti bahwa Perang-Salib itu tidak dikehendaki Tuhan.” ulasan lengkap baca disini.
– Priyadi. juga membahas filem ini, baca disini. …”Tokoh utama pada film ini adalah Balian dari Ibelin, salah seorang dari pihak Kristen yang menghendaki perdamaian dengan pihak Islam yang dipimpin oleh Saladin. Film ini berusaha untuk adil, ada protagonis dan antagonis di pihak Kristen dan Islam. Protagonis adalah orang-orang yang menghendaki perdamaian, sedangkan antagonisnya adalah orang-orang yang mencoba untuk menyulut permusuhan”.
– Bagi rekan-rekan yang penasaran dengan sosok the Unmercy Saladin dapat dibaca sosoknya di web Jay yang menulis tentang Saladin disini.
– Republika juga memuat ulasannya tentang bagaimana film ini disambut baik oleh dunia Islam disini. ...Film Kingdom of Heaven besutan sutradara Hollywood, Ridley Scott direspons positif oleh pemerhati film di dunia Islam, khususnya Arab. Film yang bercerita tentang pertempuran memperebutkan kota Yerusalem antara pasukan Muslim dan pasukan Kristen pada abad ke-12 atau Perang Salib ini dianggap objektif dan memotret fakta sejarah.
– Kapanlagi.com juga mengulas dengan menyorot kisah cinta yang justru menjadi trade mark filem2 Hollywood. :p (judulnya saja: Kingdom of Heaven: Cinta Terlarang Bersemi di Medan Perang)
– dan masih banyak lagi, coba aja goggling….:p

berikut salah satu quotes yang diucapkan oleh Tiberias, salah satu penasehat Raja Yerusalem Baldwin IV kepada Balian of Ibelin ketika bermaksud meninggalkan Yerusalem karena kekecewaannya atas pengangkatan Guy de Lusignan menjadi Raja Yerusalem menggantikan Baldwin IV yang cinta damai.

” First, I thought we were fighting for God
then, I realized.
We were fighting for wealth and land,
I was ashamed!”
By Raymond III of Tripoli (Tiberias)

KINGDOM OF HEAVEN
Directed by Ridley Scott
Written by William Monahan
Music by Harry Gregson-Williams
Cast :
Orlando Bloom – Balian of Ibelin
Eva Green – Sibylla
Liam Neeson – Godfrey of Ibelin
Jeremy Irons – Tiberias (the movie’s name for the historical Raymond III of Tripoli)
Marton Csokas – Guy de Lusignan
Jon Finch – Patriarch of Jerusalem
Brendan Gleeson – Reynald of Chatillon
Ghassan Massoud – Saladin
Edward Norton – Baldwin IV
Alexander Siddig – Nasir
David Thewlis – Hospitaller

18november2004

Posted in Kenangan by daengrusle on November 18, 2006

18november2004, Palopo, 11.00WITA, kita menikah.

hari ini, 18november2006, our lovely Mahdi tertawa bahagia..
..look at his happy face!

susah liat orang senang, senang liat orang susah

Posted in Renungan by daengrusle on November 7, 2006

Public Sinism…. untuk kebijakan publik yang di dalamnya terkandung hajat hidup vital rakyat, disamping sikap optimisme dan prasangka baik, juga perlu melakukan kontrol yang kritis mengingat betapa sering kita dibohongi dan dipecundangi oleh maruknya sang pelayan publik untuk mensejahterakan diri di atas kesejahteraan publik. Kita mungkin tidak akan lupa, bagaimana tsunami Aceh dan Nias mendatangkan gelontoran dana dalam dan luar negeri, dan kemudian menjadi santapan sang pejabat. Dana pangandaran dan gempa yogya juga tak lepas dari korupsi. Tak lupa juga bagaimana dana jamaah haji di department agama digunakan untuk hal yang sangat paradoks di tengah jeritan ekonomi rakyat; mengongkosi para pejabat dan keluarga naik haji, sudah barang tentu kita semua sepakat bahwa para pejabat pemerintah dan keluarganya bukanlah termasuk golongan ekonomi lemah sehingga perlu dibantu. Naudzubillahi min dzalik.
Berikut beberapa berita terhangat yang ‘mungkin bisa di sinisi:
1. Tommy Soeharto bebas bersyarat karena berkelakukan baik; masih ingat betapa susahnya menangkap si ‘buron’ Tommy, betapa dengan sadisnya membunuh sang Hakim Agung, dan proyek ‘terima kasih’ yang membuat banyak direksi BUMN tersenyum kecut dan jantungan ketika menghadapi auditor dan kejaksaan. Namun kemudian, dia dianggap berkelakuan baik, sehingga yang mestinya baru bisa bebas tahun 2016, tapi tahun ini sudah bisa menghirup udara bebas, karena katanya prosedur dan peraturan sudah mengatakan demikian. Alih-alih mendapat hukuman mati karena menghilangkan nyawa yang mulia Hakim Agung yang notabene pejabat negara, ini malah mendapat remisi 10 tahun!!! Bisakah kemudian Amrozi dkk juga mendapatkan perlakuan yang sama? Atau tidak usah lah yang punya kejahatan kronis, tarohlah para maling kelas teri atau TKI di malaysia, arab, dll pernahkah mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, bil khusus pak Menteri yang terhormat Hamid Awaluddin yang juga sumpah ‘palsu’ nya mengorbankan rekan kerjanya….
2. lumpur sidoarjo; mendengar ini kita hanya bisa mengelus dada. Kok bisa, sudah nyaris 4 bulan, melewati puasa dan ramadhan, persoalan ini gak terselesaikan, dan cenderung lamban dengan hanya mengandalkan solusi temporer; membuat tanggul dengan dana milyaran?
3. kerusuhan Poso; memang kita sepakat bahwa para pelaku teror itu pantas untuk dikejar dan dihukum setimpal atas perbuatannya, juga 29 pemuda Poso yang menjadi DPO dan dianggap dilindungi oleh Ustad Adnan Arsal. Tapi mengapa para anggota brimob yang jelas2 sudah membunuh seorang warga terkesan dilindungi; justru yang muncul dan dikedepankan adalah 29 pemuda Poso ini. Kadang kita lupa menerapkan teladan yang baik, sebelum menyruuh orang lain berbuat baik, hendaknya contoh yang baik juga ditunjukkan. Masa’ cuman abu nawas doang yang bisa memberi pelajaran kebaikan ini, sewajarnya pejabat Polri juga bisa menunjukkan citra dan watak yang bersih.
4. dan lain-lain

Tradisi paradoks, sudah jamak dan umum kita dapati, bukan cuman di Indonesia, tapi juga di lingkungan global ini, banyak terjadi paradoks dan standar ganda. Ketika menerapkan suatu hukum kepada pihak lain, terutama kepada pihak musuh, sanksi tegas dan berlaku seakan hamba hukum yang sangat teramat jujur dan adil diterapkan. Tapi apa yang terjadi sekiranya, kejadian ini terjadi di pihak sendiri atau kawan main, mulailah permainan silat lidah dimulai, dan ujung2nya kepercayaan pun meluntur. Kok mau nyapu jalan pake sapu kotor…hehehe
Beberapa paradoks yang bisa diambil contoh;
1.UPK3R
2. paradoks hukum extradisi negara Singapura

tulisan ini belum lah selesai….kawan…