…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menantang Orde Baru, Kemudian Berpelukan Dengannya

Posted in Indonesia by daengrusle on September 27, 2014

Pagi 20 Mei 1998. Di kampus Ganesha kami sudah siap menerima lembaran ujian untuk mata kuliah Drainase. Ruang 3202 di Jurusan Teknik Sipil itu masih riuh rendah dengan mahasiswa yang menunggu kertas ujian dibagikan. Pengawas ujian yang juga pegawai Tata Usaha jurusan belum lagi muncul. Namun sekitar 300meter di luar sana, di Jalan Ganesha sudah terdengar toa yang memperdengarkan suara serak seorang danlap demonstrasi ITB. Hari-hari itu memang hari bergerak. Eskalasi gerakan mahasiswa Bandung dan bahkan seluruh Indonesia sedang berarak ke puncaknya. Rezim Soeharto sedang diujung tanduk, meski lebih banyak pesimis dan meragukan gerakan mahasiswa itu bakal mampu merubuhkan kekuasaan dengan dukungan militer ke-5 terkuat di dunia itu.

“Ayo kawan-kawan mahasiswa ITB. Keluarlah dari sangkar emasmu. “Sangkar Emas tak akan mampu mengubah burung nuri menjadi burung rajawali!”

Sebahagian besar mahasiswa gelisah. Ujian atau demonstrasi. Pilihan sulit. Sementara sekitar 300an mahasiswa ITB dengan jaket himpunannya masing-masing sudah berkerumun membentuk barisan di depan masjid Salman ITB. Rencananya mereka akan bergerak menuju lapangan Gasibu depan Gedung Sate, kantor pemerintahan gubernur Jawa Barat. Selentingan kabar berhembus bahwa seluruh kampus bergerak menuju lapangan itu. Mahasiswa ITB tak boleh ketinggalan. Hanya pecundang yang tak ikut menorehkan jejaknya di hari sejarah ini.

Yang ujian gelisah, yang berbaris di sepanjang jalan histeria. Sekelompok pasukan pengamanan dari kepolisian sudah berjejer rapi menghalangi jalan mahasiswa. Toa dan suara serak danlap bersahut-sahutan dengan teriakan para mahasiswa.

Tetiba, seorang mahasiswa senior Sipil ITB berteriak memecah kegelisahan. “Keluar semuaaaaa! Ujian diundur, atas permintaan mahasiswa (HMS?). Silahkan bergabung dengan kawan-kawan kita di sana! (more…)

Tagged with: ,