…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

mari menggelar sajadah, istriku

Posted in Kenangan by daengrusle on July 24, 2006

Aku tak tahu seberapa panjang umur kita, sayang. Yang aku tahu bahwa ajal itu akan tiba. Pun bahwa kita dikaruniai jasmani yang sehat saat ini, tapi entah besok hari. Mungkin kita dilimpahi rezeki yang disyukuri hari ini, tapi apa tak mungkin petaka  besok mengetuk pintu rumah kita. 

Seberapa sering bibir indahmu berujar, dirimu sudah memesan rumah indah di syurga, namun aku prihatin anak kita tak pernah kau sentuh dengan usapan wudhu di jarimu. Kau tersenyum senang betapa si kecil terpana di depan TV mendengar azan yang melantun indah, namun tak jua kau tergerak membasuh wajahmu dengan air suci. 

Mari menggelar sajadah istriku, nikmat ini singkat, bisa hilang dalam sekejap, pun hidup yang fana ini. Hari ini mereka, dia, tentu besok giliran kita. 

Mari sholat istriku…

Advertisements

wahai neraka, ambil nyawaku

Posted in Renungan by daengrusle on July 24, 2006

pada kita yang lupa akan adanya tuhan
pada kita yang lupa akan adanya nurani di hati kita
pada kita yang lupa akan tetangga yang tak bisa makan 3x sehari
pada kita yang lupa akan kotak amal masjid masih kosong melompong
pada kita yang lupa akan panti asuhan yang kekurangan dana untuk membeli pakan untuk anak asuhnya
pada kita yang lupa akan sekolah di kelurahan hampir ambruk karena gak pernah di renovasi selama 10tahun…
pada kita yang lupa menyaksikan kejahatan kemanusiaan di selingi iklan sabun di tv nasional
pada kita yang masih menyisakan duit ratusan ribu di dompet, tapi tidak tahu mau diapakan karena kebutuhan bulanan sudah terpenuhi semuanya….
pada kita semua, mari menjejak ke tanah
dan teriak, wahai neraka, ambil nyawaku…!

Ya Allah, Cukuplah Sampai di Sini …

Posted in Random by daengrusle on July 21, 2006

Go to fullsize imageYa Allah, kami takut lelah atas musibah demi musibah ini. Kami takut, musibah yang beruntun ini sebagai suatu yang biasa, sehingga kami kehilangan rasa cinta, dan tak hendak lagi tolong-menolong. Kami takut kehilangan pegangan, kehilangan rasa kemanusiaan, lelah berharap, panik, dan menjadi putus asa.

Ya Allah, kami yang bodoh dan hina ini tidak ingin berprasangka buruk, tak ingin lagi bertanya, apakah segala bencana ini tanda cinta atau kemurkaan-Mu? Bantulah kami memahami semua yang terjadi dan hentikan ketakutan kami.

Cukuplah kaum Nabi Nuh as, kaum Nabi Luth as merasakan kepedihan karena ingkar, jangan lagi timpakan kepada kami bencana. Cukupkan ya Allah, cukupkan sampai di sini.

Belum kering tanah makam saudara-saudara kami di Yogyakarta dan Jawa Tengah, belum tumbuh pohon-pohon di pusara, belum lekang ingatan kami jerit perih bayi dan anak-anak akibat gempa teknonik. Belum mengatup luka di tubuh saudara-saudara kami. Kini, 17 Juli, Senin sore yang cerah, gempa diikuti gelombang pasang telah pula melanda Pangandaran, Ciamis, Cilacap, dan Tasikmalaya.

Lebih seratus orang tewas, ratusan orang lagi luka-luka. Rumah-rumah roboh. Sebagian besar mereka adalah orang-orang miskin. Dan, perahu-perahu nelayan itu, ratusan jumlahnya, semula mengapung dalam ayunan ombak, tiba-tiba terpelanting dan pecah. Sebagian nelayan-nelayan itu tidak diketahui nasibnya, tak sempat berkata apa-apa, tak sempat berpamitan untuk selamanya.

Ya Allah, musibah datang silih berganti, sangat cepat. Belum sempat kami menghitung jarak hari dari satu musibah ke musibah lainnya. Belum sempat kami memahami apa yang terjadi. Kami takut Kau marah, seperti terhadap kaum Nabi Nuh, yang ingkar dan menyekutukan-Mu.

Ya, Allah … telah begitu banyak kesesatan terjadi dan sebagian dari kami melihatnya sebagai suatu yang biasa. Bahkan, bencana yang bertubi-tubi inipun tak membuat kami benar-benar sadar dan mengubah tingkah laku kami. Kami lebih suka berdebat — termasuk tentang berbagai bencana ini, apakah atas kehendak-MU atau gejala alam biasa — kami lebih suka mencari-cari penyebab dan saling menyalahkan, padahal semua yang terjadi ada dalam firman-MU. Kami lupa kembali pada firman-firman suci itu. Kami merasa mengetahui semuanya, berkehendak atas semuanya. Kami merasa kematian tidak pernah datang tiba-tiba, tapi mengikuti keinginan dan khayalan kami.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.’ (QS Hud: 25-26)

Jangan jadikan kami kaum Nabi Nuh. Orang-orang kaya, bangsawan, dan terpandang mengusir orang lemah, orang-orang miskin, atas nama persamaan dan menantang kekuasaan-MU. Jangan biarkan kami menyekutukan-MU, membiarkan kami melambai-lambai perahu Nuh yang menjauh dalam arus air bah yang semakin besar.

Jika bencana demi bencana ini merupakan peringatan dari-MU, maka tolonglah kami: Janganlah Engkau masukkan kami dalam golongan bangsawan dan putra Nuh yang durhaka itu, tapi masukkan kami dalam perahu Nuh, bersama puluhan pasang hewan-hewan itu. Ya Allah, kami sangat takut. Cukupkanlah sampai di sini. (RioL)

dikutip dari e-mail seorang teman

ke jakarta

Posted in Kenangan by daengrusle on July 17, 2006

Pekan kemaren 10-17 Juli 2006, saya berkesempatan mengambil cuti ke Jakarta, sekalian ngurusin tetek bengek administrasi untuk keperluan employement dengan Chevron. Alhamdulillah, udah sempet ngeliat Seaworld…padahal udah lama banget yah…hehe, dasar udik.