…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Sejarah Syiah Nusantara – Prof DR Abubakar Aceh

Posted in Indonesia, Sejarah by daengrusle on November 19, 2013

Dikutip dari buku “Aliran Syiah di Nusantara” karangan Prof Dr Aboebakar Atjeh* terbitan Islamic Research Institute, Jakarta, 1977.

==

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Beberapa pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, menyatakan bahwa di kalangan Mubaligh-mubaligh yang menyebarkan Islam di nusantara terdapat Ahlil Bait atau orang Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said.

Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam dizaman purbakala itu, yang terdiri dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu.

Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain,
2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,
3. Diantara mazhab pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,
4. Pemeriksaan yang teliti dan jujut akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.

Sebagai keterangan ad 1. ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman, seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orang-orang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah”(“Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.) (Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapal-kapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampung yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa. (more…)

Riwayat Sebuah Buku Tua Tentang Makassar

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
buku Gervaise ttg Makassar

buku Gervaise ttg Makassar

Buku kecil bersampul coklat itu dicetak dalam bahasa Perancis dengan judul “Description Historique du Royaume de Macaçar” (Deskripsi Sejarah Kerajaan Makassar). Penulisnya disebutkan bernama Nicolas Gervaise, seorang pendeta Jesuit berkebangsaan Prancis. Buku yang terdiri dari tiga bagian itu khusus mengulas tentang Kerajaan Makassar bertarikh tahun 1700.

Di laman website forumrarebooks – forum kolektor kitab kuno berbasis di Belanda, buku kecil berukuran setengah halaman folio itu tak tanggung-tanggung dilelang dengan banderol € 4,950 atau setara dengan Rp 75juta. Dalam katalognya bertema khusus Indonesia, buku ini termasuk yang paling mahal. Buku antik itu senilai dengan puluhan jilid ensiklopedia keluaran terbaru atau bahkan bisa membeli satu unit mobil murah asal pabrikan Jepang saat ini. Padahal, bagi pembaca di zaman sekarang tak ada yang begitu istimewa dari isi buku yang tebalnya 280 halaman itu, apalagi yang dipaparkannya tergolong informasi yang umum bahkan beberapa bagian malah sudah tak akurat lagi.

Usianya yang lebih dari 310tahun-lah yang mungkin menjadikannya teramat mahal dihargai oleh pengelola situs kurator kitab kuno itu. Diterbitkan lebih dari tiga abad silam, bisa menjadikannya sebagai buku resmi pertama yang diterbitkan oleh Eropa tentang Sulawesi Selatan. Bahkan mungkin termasuk buku terbitan Eropa paling awal yang mengulas Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Sebenarnya buku yang dilelang ini hanyalah edisi kedua dari buku yang edisi pertamanya diterbitkan di Paris 12 tahun sebelumnya, 1688.

Meski dipercaya bahwa Sumatera, Jawa dan kepulauan Maluku sudah terkenal sebagai penghasil emas, padi dan rempah jauh sejak sebelum permulaan abad masehi, namun belum ada buku khusus yang diterbitkan mengenai Indonesia hingga tahun 1688 ketika buku edisi pertama “Description Historique du Royaume de Macaçar” diterbitkan. Buku “History of Java” karangan Sir Stamford Raffless yang terkenal itu, baru diterbitkan di tahun 1817, demikian juga buku Adolf Bastian yang mula memperkenalkan nama Indonesia “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” baru diterbitkan tahun 1884.

Menarik bahwa dari penelusuran riwayat hidupnya, penulis buku ini diyakini tak pernah menginjakkan kakinya di Makassar, sehingga patut dipertanyakan dari sumber mana Gervaise menuliskan buku deskriptif dengan tebal 280 halaman ini. Dengan memberikan informasi detail tentang sejarah, tetumbuhan, adat kebiasaan, hingga makanan orang Makassar, ditengarai bahwa sang penulis memperoleh asupan informasi dari orang asli Makassar yang saat itu bermukim di Prancis. Apa yang dilakukan oleh orang Makassar di negeri yang jauhnya hampir separuh bola bumi di masa itu? Juga, mengapa yang disebutkan adalah kerajaan Makassar, bukan Gowa-Tallo sebagaimana yang umumnya dikenal. Makassar memang cukup dikenal oleh VOC dan para pedagang asing sebagai kota pelabuhan atau nama suku tetapi ia bukanlah nama resmi kerajaan maritim yang pernah sangat berkuasa di kepulauan timur nusantara abad 16-17M itu. Saat buku itu diterbitkan, Kerajaan kembar Gowa-Tallo baru saja ditaklukkan oleh persekutuan VOC – Bone yang dipimpin CJ Speelman – Arung Palakka dalam perang Makassar 1667-1669.

Riwayat buku tua tentang Makassar ini melebar jauh. Keberadaannya meninggalkan jejak sejarah; migrasi awal orang Makassar ke Eropa pada akhir abad 17 saat buku tersebut diterbitkan. Konon, itulah jejak diaspora orang Makassar pertama ke daratan Eropa yang dapat dilacak. Dua Indonesianis asal Prancis; Denys Lombard dan Christian Pelras memerlukan melakukan riset mendalam mengenai buku kecil ini. Hasil riset mereka kemudian diterbitkan dalm Jurnal Archipel terbitan Paris, Prancis edisi tahun 1971 (Lombard) dan 1997 (Pelras).

Tagged with: , ,

Makassar Dalam Ensiklopedia Inggris Bertarikh 1836

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Bukan Gowa-Tallo yang dikenal oleh bangsa Eropa hingga abad 19, tapi Makassar. Dalam banyak literatur Eropa masa itu, memang banyak ditemukan kekeliruan dalam mengidentifikasi kerajaan kembar di selatan Sulawesi itu dengan menyebutnya sebagai Makassar saja. Mungkin karena kota pelabuhan itu yang lebih dikenal oleh para pedagang, atau bisa jadi untuk menghindarkan kesalahan identifikasi karena di saat yang sama Goa juga menjadi nama sebuah daerah terkenal di India Selatan. Sejarawan Edward Polinggomang (2002) yang meneliti kegiatan niaga Makassar abad 19 juga mengindikasikan lumrahnya kesalahan ini ditemukan dalam banyak penelitian.

Makassar sendiri sudah kadung dikenal sebagai pelabuhan internasional semenjak jatuhnya Malaka oleh serangan Portugis tahun 1511. Sejak Portugis memonopoli jalur laut di Selat Malaka, para pedagang saat itu kemudian memindahkan kegiatannya ke kerajaan Siang, kemudian ke Makassar. Kerajaan Siang adalah satu kerajaan pra-islam yang pernah berdiri di sekitar Pangkep sebelum kemudian ditaklukkan oleh Gowa-Tallo.

Perihal Makassar, raja Gowa-Tallo saati itu Sultan Malikussaid bersama Karaeng Pattingalloang (1639-1653) memang mencanangkannyasebagai pelabuhan niaga internasional yang disesuaikan dengan azas Mare Liberum (Laut milik bersama). Sejak itu, Makassar menjadi kota dunia dan menjadi pusat transaksi niaga dan lalu lalang rempah, teripang, keramik dan sebagainya. Tercatat beberapa negara Eropa semisal Inggris, Portugis, Belanda, Denmark membangun pos dagangnya di Makassar, selain pos dagang Cina, Arab dan Melayu. Konon, penduduknya mencapai jumlah seratus ribu jiwa pada tahun 1615. Sayangnya popularitas nama Makassar justru membuat nama Gowa-Tallo menjadi terpendam. Gowa-Tallo sendiri lebih memusatkan pemerintahannya di Somba Opu, juga Galesong yang letaknya cukup jauh dari Makassar.

Sebuah ensiklopedia lawas bertajuk “British Cyclopedia” terbitan Orr and Smith London tahun 1836 juga memuat kekeliruan ini. Ensiklopedia tersebut hanya menyebut nama “kerajaan” Makassar sebagai representasi kerajaan yang sebenarnya, Gowa-Tallo. Meski ada juga kata Goa dalam buku itu, tapi merujuk ke nama daerah di India yang saat itu dikuasai Portugis. Nama Gowa ataupun Tallo tak disebutkan sama sekali. Di halaman 764 dari volume-2 ensiklopedia itu, sang penulis Prof Charles Partington membuka pemaparan tentang kota ini dengan cukup dramatis;

Makassar, dahulunya merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda, terletak di barat daya pulau Celebes, kekuasaannya pernah membentang dari teluk Bone hingga Tanete. Puncak kejayaanya terjadi pada masa pertengahan abad ke-17, dengan tak hanya menguasai sebahagian besar pulau Celebes, tapi juga menjangkau Loma, Mandelly (Mandar?), Bima, Tambora, Dompo and Sangar (Sangir?). Pemerintahannya juga berhasil menaklukkan Buton, Bungay, Gapi, Xulla Island (Sulu?) dan Sumbhawa. Mereka juga menguasai Salayr (Selayar?) yang merupakan wilayah pemberian Baabullah (Sultan Ternate yang berkuasa kurun 1528-1583, pen)

Ensiklopedia ini juga mengulas bangsa asing yang mula menginjakkan kaki di kerajaan ini. Disebutkan bahwa orang Portugis menjejak sejak tahun 1512, juga orang-orang Melayu mulai berdatangan pada periode setelahnya. Orang Melayu bahkan diperbolehkan mendirikan masjid di perkampungannya. Agama Islam (disebutkan sebagai Mohammedan religion) disebutkan belum dianut oleh orang-orang Makassar saat kedatangan Portugis, meski juga tak bisa ditelusuri agama apa yang diyakini oleh orang2 Makassar saat itu, walaupun diakui bahwa mereka sudah punya peradaban tinggi. Baru pada tahun 1603, keseluruhan Makassar beralih menjadi penganut Islam dengan masuknya Raja Tallo berikut bangsawan Gowa-Tallo.

Tagged with: ,