…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pulau Yang Mengecewakan

Posted in feature, Random by daengrusle on December 2, 2019

The Disappointment Islands are part of the Tuamoto Archipelago, a chain of nearly 80 islands (Credit: Credit: Andrew Evans)

Kehidupan Anda mengecewakan? Bisa saja, tapi tak perlu sampai baper menamai semua hal yang mengecewakan Anda itu seusai dengan suasana hati, seperti yang dilakukan John Byron ini.

Apalah arti sebuah nama, kata Shakespeare, untuk menafikan makna penamaan. Namun bagi penduduk pulau Tepoto dan Nepuka, penamaan “Disappointment Islands” untuk gugusan dua pulau hunian mereka sungguh tak adil. Penulisan sejarah yang tak bersahabat, membuat dua pulau itu mesti dikenali dengan nama yang menggelikan.

Bermula dari kisah John Byron, yang sepatutnya adalah nahkoda penuh pengharapan. Namun, lantaran rasa pundung yang memuncak, dia menamai dua pulau yang dikunjunginya tahun 1765 sebagai “Disappointment Islands; Kepulauan Yang Mengecewakan”.

Setelah lebih dari sebulan armada kapal Kerajaan Inggris yang dipimpin Byron mengarungi luasnya lautan Pasifik yang seakan tak bertepi nan membosankan, pada hari jumat pagi, 7 Juni 1765, nampak sebuah pulau kecil yang dikelilingi pasir putih dan ditumbuhi pohon-pohon kelapa tinggi menjulang, demikian Byron menggambarkan pulau cemerlang ‘temuannya’ itu.

Surga kecil di selatan Pasifik itu memukau Byron dan awak kapalnya. Segera ia menurunkan perahu kecil untuk mendekati pulau dengan nyiur melambai-lambai itu. Dalam lambung perahu itu, ia juga memuat beberapa tampuk roti untuk dibagikan kepada penduduk setempat. (more…)

Sauna Kota

Posted in cerita by daengrusle on June 20, 2019

images.jpg

gambar dari iStockphoto

Dua hari lepas, Dubai seperti kota sauna. Hampir sekujur kota diselimuti halimun putih, jarak pandang hanya sepersekian kilometer. Tapi ini bukan kabut yang dingin seperti di puncak bukit, ini kabut yang hangat, membuat kita segera berkeringat.

Dari aplikasi penunjuk suhu, menunjukkan “hanya” 38 derajat, tapi tingkat kelembaban sampai 100%. Artinya, setiap massa udara yang melingkupi kita juga mengandung uap air yang sama banyaknya. Ini seperti ketika Anda memasuki ruangan sauna yang hangat dan lembab. Baru 2-3 meter saja melangkah keluar dari ruangan, badan segera berpeluh dan terasa pengab. Ketek, selangkangan dan semua lipatan terasa basah.

Menjelang siang, suhu udara di Dubai juga menanjak, mencapai sekitar 45 derajat, tapi kelembaban menurun sampai 40% saja. Panas terik, tapi tak disertai uap yang menyesakkan.

Buat orang dari kampung tropis seperti saya, suhu dan kelembaban seperti ini membuat gak nyaman. Tapi untunglah waktu “berjemur” di luaran tak terlalu lama. Hanya saat mengantar anak2 ke sekolah dan jalan ke kantor, sekitar 15 menit, dan atau jalan keluar makan siang bersama teman-teman kantor, sekitar 10 menit. Selebihnya, nyari 20 jam lebih berada di dalam ruang berpendingin.

Setiap terpapar suhu yang panas, kadang pikiran saya selalu merenungi NERAKA.

Apakah neraka itu panas maksimal yang meletup2, seperti yang kita lihat saat gunung meletus, atau sesuatu yang lain. Saya sendiri berkeyakinan bahwa di alam selanjutnya nanti bukanlah tempat buat mengukur hal-hal materil seperti di dunia. Jadi tak akan ada panas atau dingin, seperti ukuran kita di dunia.

Di Neraka yang saya pikirkan itu, siksaan bersifat non-material, seperti perasaan sakit hati, cemburu, berduka teramat dalam, penyesalan, dan sebagainya. Siksaan seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada sentuhan panas pada kulit yang akan hilang seiring waktu.

Panas di Dubai, seperti di kota-kota berkawankan gurun, tentu tak seberapa. Jutaan manusia sudah melewati masa yang panas sekalipun, hingga saat ini. Tapi siksaan terberat manusia itu sejatinya adalah yang menghunjam ke hati.

Tanyalah pada mereka yang pernah ditolak cintanya, konon lebih sakit daripada sakit gigi. Sampai level “teganya” bisa sampai 13x menurut Meggy Z.

Tagged with: , , ,

Kisah Unik dari Makam Keramat

Posted in agama, cerita, feature by daengrusle on June 17, 2019

image.png

Majalah Tempo edisi 15 Juni 2019 terbit dengan sampul muka berlatar perempuan-perempuan berniqab di tenda penampungan tahanan ISIS di Suriah. Meski laporan investigative langsung dari kantong-kantong pengungsian di Suriah ini ciamik dan enak dibaca – tentu dengan perasaan getir bercampur marah, namun sejatinya saya lebih tertarik dengan reportase di rubrik “Iqra” yang mengambil bahan dari buku karya terbaru George Quinn “Bandit Saints of Java” – kisah makam-makan “wali pinggiran” atau “tokoh fenomenal” masa lalu yang ramai dikunjungi penziarah.

Yang menarik justru bagaimana persepsi masyarakat Jawa – juga hampir seluruh kebudayaan nusantara – yang membangun impresi dan gambaran tentang sosok-sosok yang mencuat namanya dalam bentuk paling hiperbola sekalipun ketika wujudnya sudah berbentuk kuburan. Dengan mitos, legenda, atau cerita-cerita berbumbu, makam-makam yang tersebar banyak hingga di hutan dan perbukitan dipercaya mampu mendatangkan nasib baik atau bisa mencukupkan hajat yang mendatanginya.

Padahal, beberapa di-antaranya hanyalah seorang berandalan (bandit) di masa hidupnya, seperti Ki Balak dan Ki Boncolono namun kemudian menyebarkan budi baik di masyarakat. Hasil jarahan atau rampokannya – seperti kisah Si Pitung atau Robin Hood – disebarkannya ke kaum miskin.

Jadilah, sepeninggal mereka, kuburannya menjadi semacam tempat keramat yang disinggahi penziarah. Menariknya, kuncen makam Ki Balak menganjurkan penziarah untuk memberi sesajen berupa candu mentah kalau hendak hajatnya dikabulkan. Konon karena Ki Balak semasa hidupnya ratusan tahun lalu adalah seorang penikmat candu.

Ada juga kisah lain, tentang Mbah Jugo, yang sejatinya menurut salah satu versi cerita, hanyalah seorang tabib Cina yang rajin menyembuhkan penduduk di Gunung Kawi – yang kini terkenal sebagai gunung pesugihan. Makamnya di desa Jugo menjadi tempat warga keturunan Tionghoa memohon rezeki dan dilancarkan usahanya.

Penziarah berdatangan tidak hanya dari nusantara, tapi juga dari Malaysia, Singapura, bahkan dari Taiwan, Hongkon dan Cina. Di sekitar makamnya berdiri banyak juga kelenteng Cina, berdampingan dengan masjid dan pesantren.

Anehnya, sosok Mbah Jugo juga muncul dalam versi Islamnya. Sosok mbah Jugo di-islam-kan sedemikian rupa sehingga ia kemudian diceritakan sebenarnya adalah seorang alim bernama Kiai Zakaria. Kiai ini konon adalah perwira dari pasukan Diponegoro yang menyingkir ke Gunung Kawi. Oleh penduduk sekitarnya, dua versi berbeda dalam satu sosok makam ini tidak begitu diributkan. Buat mereka, impresi para penziarah adalah hak masing-masing.

Cerita lainnya tentang makam yang dikeramatkan berasal dari Sumenep. Ada satu makam yang dipercaya menjadi tempat jasad Pangeran Jimat atau Cakranegara II beristirahat dan menjadi tempat yang ramai dikunjungi. Namun arsip kolonial menuliskan bahwa pangeran ini punya kecenderungan seksual yang berbeda dari umumnya, dia dianggap menyukai sesama jenis.

Pangeran yang tak pernah memiliki istri dan keturunan ini diceritakan suka memelihara prajurit atau pangeran yang tampan di istananya. Para penziarah bukan tak tahu mitos itu, mereka tahu ada versi cerita tentang Pangeran Jimat yang homoseksual. Tapi mereka cukup memaklumi, bagi penziarah itu, sosok wali memang terkadang punya perilaku yang tak biasanya.

Menariknya, di tengah semakin maraknya Islam konservatif yang kadang bernuansa politis ke nusantara, jumlah penziarah ke makam-makam suci ini konon semakin melonjak jumlahnya. Artinya, penganut Islam tradisional tidak terpengaruh dengan perkembangan “dakwah” islam a la kaum kota atau – entah bagaimana mengklasifikasikannya. Di tahun 1988, makam-makam suci ini diziarahi hanya sekitar 500ribu orang. Namun di tahun 2005, jumlah ini meningkat menjadi tiga setengah juga.

Sebuah makam akan lestari diziarahi orang kalau ada masyarakat yang “merawat” ingatan atau kisah-kisah seputar sosok yang terbaring di dalam makam itu. Ingatan dan kisah yang kemudian dibumbui dengan karomah atau hal-hal supranatural tentu akan menarik orang untuk mendatangi. Namun kalau orang sekitar mulai abai, tentu “kekeramatan” makam itu akan berangsur punah. Begitu pula dengan ingatan kita ke sesepuh keluarga. Semakin jauh, semakin lupa.

Tagged with: , ,

Efek Dunning-Kruger

Posted in cerita, Good Article, Umum aja! by daengrusle on June 12, 2019

Kalau di Group WA atau FB yang anda ikuti ada anggota group yang gemar menyebarkan postingan atau artikel bernada kebencian atau memaki kelompok tertentu, maka kemungkinan ‘rekan’ Anda itu mengidap gejala Dunning-Kruger.

Gejala psikologis ini biasanya terpapar pada mereka yang menganggap dirinya lebih hebat dari semua orang, sehingga perilaku “halu” ini membuatnya mudah memaki atau meremehkan orang lain. Berbekal bacaan online, atau kadang hanya berdasar keyakinan pribadi, ia mendaku diri menjadi jaksa sekaligus hakim buat kelompok yang dimusuhinya.

Hal yang paling mengkhawatirkan dari mereka ini, adalah keengganannya menerima kenyataan bahwa orang lain bisa saja mengajukan opini berbeda, atau berseberangan.

Keyakinan seperti ini biasanya kadang dikait-kaitkan dengan keyakinan agamanya. Lumrah didapati bahwa pemeluk agama tertentu selalu merasa agamanya satu-satunya yang benar, yang lain salah dan keliru.

Dalam ilmu psikologi, efek Dunning-Kruger ini dianggap sebagai gejala yang parah karena pengidapnya tidak memiliki kemampuan untuk mengukur diri sendiri, sehingga selalu terjebak ke dalam kondisi halusinasi yang merasa diri lebih berilmu daripada yang lain.

Penemu gejala psikologis ini, David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University menyatakan bahwa, “kesalahan dalam menilai orang lain sejatinya berawal dari kesalahan menilai diri sendiri”. Artinya ilmu TAHU DIRI-nya kurang. Atas temuannya, Dunning dan Kruger berhasil mendapatkan hadiah Nobel di tahun 2000 untuk bidang Psikologi.

Kata Imam Ali kw, sejalan dengan efek ini, bahwa “Seseorang cenderung memusuhi sesuatu yang tidak dipahaminya”. Jadi #sabarki saja.

==

Do not be troubled about whether your heart is good or bad, or your sin light or grievous. Only determine in your heart that you will be born into the Pure Land, and so repeat the “Namu Amida Butsu” with your lips, and let the conviction accompany the sound of your voice.…- Honen  – Japanese Buddhism (died 1212)dunning kruger.png

Pakappala Tallang

Posted in Indonesia, Random by daengrusle on March 28, 2019

Ketika masih kuliah dulu, saya sering mudik ke Makassar menumpang kapal Pelni. Kadang berangkat dari Perak Surabaya, atau Priok Jakarta. Sehari sebelum tiba di tujuan, biasanya kapal akan melewati perairan Masalembo.

Di perairan itu, kapal akan melambat sejenak kemudian membunyikan klason 3 kali keras-keras. Itu sebagai tanda penghormatan nahkoda terhadap kapal Tampomas II beserta korban-korbannya.

Saya sering teringat cerita tentang Kapten Abdul Rivai, nahkoda pemberani. Ia menjadi kapten kapal Tampomas II ketika karam di perairan Masalembo tahun 1981. Ketika KM Sangihe datang hendak mengevakuasi penumpang, ia menolak untuk ikut menyelamatkan diri.

“Saya akan tetap berada di kapal ini hingga detik terakhir” pesannya kepada awak kapal sebelum mereka menyeberang ke kapal tersebut.

Di hari berikutnya, mayat kapten pemberani itu ditemukan oleh KM Sonne, kapal bantuan yang dikirimkan untuk menyisir korban Tampomas. Peristiwa tragis ini sempat dijadikan lagu oleh Iwan Fals.

Para Nahkoda konon memang dilahirkan untuk selalu menjadi paling pemberani. Begitu yang sering kita dengar.

**

Jelang pemilu 1997, Soeharto pernah gusar dengan tiga kekuatan sosial politik yang dianggap bakal menggerus kekuatan Orde Baru. Para mahasiswa jaman itu mungkin masih ingat tiga organisasi yang dipecah-pecah ini; PDI, NU dan HKBP.

PDI dipecah dua menjadi PDI Suryadi dan PDI Mega. Sejak memenangi kongres luar biasa tahun 1993 di Surabaya, Megawati menjadi sosok alternative yang dielu-elukan. Soeharto jelas tak senang. Dengan segala cara ia berusaha mengeliminasi Megawati dari panggung politik.

Tahun 1996, Orba membuat kongres tandingan dan memunculkan Soeryadi. Megawati terdongkel namun pendukungnya tetap menguasai markas partai di Diponegoro Jakarta. Setahun kemudian, tetap di 27 Juli 1997, terjadi penyerangan ke markas PDI tersebut dan melahirkan persitiwa “Kuda Tuli”. Banyak korban yang jatuh, tapi dikaburkan oleh pemerintah.

Akibat tekanan penguasa, banyak teman-teman seperjuangan Megawati meninggalkan dirinya. Sebagian menyeberang ke parpol lain, seperti fenomena kelompok “Mega Bintang” yang mendukung PPP di pemilu 1997. Mega tetap bertahan dengan sedikit loyalisnya, melahirkan Partai PDI-Perjuangan yang tak diakui oleh pemerintah.

NU sempat digoyang oleh Orba ketika Gus Dur, Allahuyarham, mengajukan diri lagi sebagai Ketua PBNU untuk jabatan ke-3 di muktamar tahun 1992. Pembangkangannya terhadap Orba dimulai ketika mendirikan Forum Demokrasi dan bersama Megawati, menjadi kelompok oposisi yang diperhitungkan Orba.

HKBP juga demikian. Kisah pecah belah terjadi saat kelompok Kristen Batak ini semakin menguat, dan tentu saja penguasa status quo bergidik kalau melihat ada organisasi non-pemerintah yang tak bisa mereka kendalikan.

**

Tiga kelompok ini, pernah ditinggalkan beramai-ramai. Para pendukungnya beralih ke sudut lain yang lebih aman, menjanjikan kesejahteraan atau apapun yang lebih nyaman.

Dalam situasi seperti ini, organisasi itu biasa disebut sebagai “Sinking Ship” — kapal karam. Kalau kapal hendak karam, para penumpang beserta awak kapal akan ramai-ramai meninggalkan kapal tersebut. Dipikirnya buat apa bertahan di atas kapal yang pasti tenggelam. Naluri bertahan hidup itu biasa.

Dalam politik, persitiwa sinking ship ini juga sering terjadi. Mereka yang punya loyalitas tipis pada ideologi kadang mudah saja lompat kapal ke organisasi lain. Apalagi kalau merasa tak puas atau tak dapat jabatan di organisasi lama. Kadang gelombang eksodus ini dibuat massif terutama kalau mendapat ancaman atau iming-iming dari kekuatan yang lebih menjanjikan. Seperti kasus PDI, NU dan HKBP itu.

Tapi peristiwa ini juga menghamparkan hal positif, bahwa yang tersisa nantinya hanyalah kader atau pendukung yang benar-benar murni. Mereka tetap berada di kapal yang hendak karam, atau di-karam-kan karena semata naluri kebenaran yang mereka pegang teguh. Kapten Kapal Tampomas II, Abdul Rivai adalah contoh paling sempurna untuk ini.

Orang-orang tersisa, yang masih punyya integritas bakal tak mudah beralih ke gerbong keramaian “bandwagon” yang kadang hanya menjanjikan ilusi keselamatan semu. Politik adalah soal kepentingan, bukan soal kebenaran.

Di masa riuh pasar politik, hal ini mudah terlihat. Lihatlah siapa yang ramai-ramai bergabung ke “bandwagon”, garbong besar yang dianggap kuat pada detik-detik terakhir. Mereka juga mungkin yang bakal pertama melompat meninggalkan sinking ship kalau turbulensi politik tiba-tiba menghunjam.

Kami di Makassar, punya julukan pas untuk kaum oportunis itu; Pakappala Tallang.

Tagged with: ,

Relusi

Posted in My Self-writing, percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on March 13, 2019

delusions-788.jpg

(Foto ilustrasi dari sini)

Ini menyedihkan. Seorang Ibu meledakkan diri di rumahnya semalam (13-03-2019) di Sibolga. Di dalam rumah yang malang itu, sang ibu tinggal bersama dua anaknya yang masih kecil. Kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka tewas dalam ledakan itu.

Sang suami, yang menurut berita disebut bernama Husain atau Abu Hamzah, sudah lebih dulu ditangkap aparat. Konon, penangkapan ini karena ada dugaan aklsi terorisme yang dilakukan oleh mereka.

Seusai penangkapan Abu Hamzah yang diduga jaringan kelompok radikal bersenjata, aparat kepolisian berupaya menggeledah rumah Abu Hamzah. Namun ada benda diduga bom meledak saat polisi hendak masuk ke rumah. Sang Ibu yang ada di dalam rumah belum menyerah.

Semalam, ledakan berikutnya terdengar dari dalam rumah. Kabarnya sang ibu meledakkan diri. Dari polisi kita mendengar kabar duka bahwa ibu dan anak-anaknya tewas seketika. (more…)

Tambora

Posted in Indonesia, Nasional by daengrusle on March 12, 2019

Mount_Tambora_Volcano,_Sumbawa_Island,_Indonesia.jpg

(foto dari Wikipedia, Kaldera Gunung Tambora)

1815. Salah satu suku asli nusantara, berikut bahasa tuturnya, Tambora, hilang dan punah disapu letusan gunung Tambora. Bersama suku Tambora, konon ada sekitar 50ribu hingga 117ribu jiwa korban kematian akibat murka gunung setinggi 2850mtr ini.

Efek letusan Tambora ini menjangkau pula benua Eropa, dikenal dengan masa “a year without summer” – karena efek erupsinya, langit eropa sepanjang tahun 1816 tertutup awan pekat dari letusan gunung api ini. Konon, tak ada sinaran cahaya matahari setahun itu. Gelap dan buram saja. Seperti suasana sosmed jelang pilpres.

Bahasa Tambora, bahasaa yang sudah punah itu, ternyata dimasukkan ke dalam rumpun Bahasa Papua.

==

Papua, pulau besar yang terbelah ke dalam dua negara ini dianggap sebagai kawasan yang paling kaya akan ragam bahasa. Penduduk asli pulau ini berlimpah kekayaan bahasa dengan 800 variasi bahasa yang tersebar dari kepala burung dan Halmahera hingga ke teluk Milne di ekor Papua Nugini. Terkadang masing-masing tidak memiliki keterkaitan akar kata satu dengan lainnya. Belum lagi beberapa bahasa unik yang tak bisa dikelompokkan ke dalam Bahasa Papua karena perbedaan yang sangat tajam. Menurut ahli Bahasa, sebaran bahasa Papua ini berbeda dengan puak bahasa Melanesia di pasifik atau bahasa-bahasa Austronesia yang dituturkan penduduk Asia tenggara.

Dengan penutur yang diperkirakan berjumlah 4 juta jiwa, kelompok bahasa-bahasa Papua juga mencapai Sumbawa dan Timor Timur. Salah satu variasi bahasa Papua di Sumbawa, yakni bahasa Tambora sudah punah sejak 1815 karena penutur-penuturnya tewas disapu letusan dahsyat gunung Tambora. Tambora ini juga dikenal sebagai titik paling barat sebaran bahasa-bahasa Papua. Keberadaan kosa kata bahasa Tambora sempat dibukukan tahun 1817 oleh Raffless, sang Gubernur Jendral Inggris di Indonesia yang memang gemar menulis etnografi nusantara saat memerintah. Beberapa bahasa yang dipakai penduduk Timor Timur juga diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga bahasa-bahasa Papua semisal Fataluku dan Makasae yang jamak dituturkan oleh penduduk Timor bagian timur.

Dari 800-an varian Bahasa Papua, hanya ada sekitar 10 bahasa yang dituturkan secara luas oleh lebih dari 20ribu jiwa. Bahasa-bahasa dominan ini diantaranya; Dani (180ribu penutur), Ekari (100ribu) di Papua Indonesia, kemudian ada Enga, Huli, Melpa dituturkan di Papua Nugini. Selain di pulau Papua, ada juga Makasae dan Fataluku yang dijadikan bahasa sehari-hari orang Timor Timur, juga ada Galela di Halmahera Maluku.

Untungnya, tak ada di antara Bahasa Papua itu yang punah selain Bahasa Tambora yang disapu letusan gunung tahun 1815. Meski ada juga beberapa bahasa-bahasa Papua yang digolongkan terancam punah, namun upaya peletarian bahasa-bahasa lokal ini diupayakan terus menerus melalui berbagai penelitian dan pengembangan yang melibatkan organisasi internasional. Menurut catatan UNESCO yang diterbitkan tahun 2010, ada 88 jenis bahasa Papua yang terancam punah yang sedang diupayakan pelestariannya.

==

TAHUN 2050, diperkirakan 90% dari bahasa yang ada di dunia saat ini – sekitar 7000 bahasa, akan punah. Artinya ada 6000-an bahasa yang kehilangan penuturnya. Kebanyakan bahasa ini punah karena terjajah dan tergantikan oleh bahasa yang lebih jamak dipakai oleh orang-orang sekitarnya. Salah satu contoh yang paling sering dibicarakan oleh para ahli bahasa adalah bahasa2 asli Amerika. Sebagian besar bahasa tempatanyang dituturkan oleh suku Indian ini punah karena terdesak oleh penggunaaan bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Belanda sebagai akibat langsung dari proses kolonialisasi. Kalau tak punah, bahasa itu tercemari oleh kosa kata baru dari bahasa pendatang.

Bahasa melayu juga demikian. Saya kadang mengalami kesulitan memahami kosa kata dari teman yang bertutur melayu Malaysia. Kalau tak bertanya, mungkin tak akan paham maksudnya. Sebahagian kata-kata yang tak dimengerti itu rupanya adalah kosa kata yang tergerus atau berubah karena sentuhan bahasa asing itu.

Suatu saat bahasa Bugis, Jawa, Sunda, Batak mungkin akan ikut punah atau tercemari oleh kosa kata yang merengsek masuk dari luar. Itu seperti keniscayaan zaman, apalagi serbuan pengaruh media semakin beringas di zaman kini. Meski bahasa berangsur-angsur punah, atau berubah, namun cara manusia berkomunikasi selalu akan menemukan bentuknya. Selamat BERBAHASA.

Tagged with:

Istanbul dan Museum Khilafah

Posted in Indonesia, jalan-jalan by daengrusle on March 12, 2019
IMG_20190220_201310_493.jpg

Di ISTANBUL, saya jarang menemukan foto atau gambar Erdogan di jalan2 atau ruang publik. Yang justru banyak adalah bendera Turki bergambar bulan sabit putih dengan bintang di atas kain merah. Ada di mana2.

Saya kira nasionalisme orang2 Turki sangat besar. Mereka bangga akan negerinya. Di setiap toko atau rumah, mereka memajang bendera nasionlnya, Republik Turki. Khilafah? Itu hanya ada di museum kayaknya. Meski begitu, di sini polisi banyak sekali berjaga2 dengan persenjataan lengkap di semua tempat. Mungkin mewaspadai amuk negeri tetangga menular ke kota ini.

Negeri sekuler ini seperti terbiasa dengan demokrasi, pemimpin bisa datang dan pergi. Tak seperti di negeri2 arab gurun dimana anda bisa tak jemu memandangi foto2 besar pemimpin atau raja mereka dipajang di semua sudut kota.

Walau kesan sekuler sangat kentara, tapi mesjid juga ramai. Setiap waktu sholat tiba, suara azan berkumandang ke mana2. Mereka juga selalu tersenyum bahagia kalau bertemu wajah2 melayu seperti saya sambil menyapa hangat, “Mosoleman? Yang saya jawab dengan mengangguk sambil tersenyum.

Orang2 di sini baik2, bersahabat meski tak begitu banyak tersenyum. Sayangnya mereka umumnya tak bisa berbahasa Inggris kecuali sedikit saja. Kadang bahasa isyarat diperlukan utk bertransaksi. Harga-harga barang yang mereka jajakan cenderung lebih murah dari Dubai, dan jarang ada kesan menipu atau memanfaatkan turis. Semua sesuai harga normal.

Yang paling mengagumkan adalah bagaimana mereka merawat semua artefak peradaban berbentuk bangunan2, kastil, mesjid, gereja2 tua. Bangunan2 kuno ini sebagian besar masih berdiri kokoh, menjadi tujuan wisata historis yang menyenangkan. Kota pelabuhan tua ini bersih dan rapi, dengan jalan2 yang kecil berkelok2 mendaki dan menurun. Mengingatkan saya akan kota Balikpapan atau Pare-pare.

Transportasi publik mudah dan murah sekali. Anda bisa berwisata dengan sehemat mungkin memanfaatkan tram, metro atau bus kota. Taxi juga banyak, tak begitu mahal juga tarifnya. Ada juga jenis angkot di sini, cepat dan murah. Tinggal pilih. Orang2 lokal akan sangat senang menunjukkan jalan ke arah tempat yg dituju, meski mgk kesulitan mengungkapkan dalam bahasa Inggris.

Tempat wisata yang wajib dikunjungi di awal kunjungan bagi pemula seperti saya ada tiga: SultanAhmet Square Istanbul (Blue Mosque, Hagia sofia dan Topkafi Palace), Taksim Square dan Bursa di luar kota Istanbul.

Bursa, kota kecil pegununan yang pernah jadi ibukota Ottoman sebelum dipindahkan ke Konstantinopel/Istanbul ini punya wisata salju yang keren. Untuk ke Bursa, saya memilih naik ferry menyeberangi Boshporus selama 2 jam, kemudian lanjut dengan bis kecil menuju Uludag yang memiliki puncak bersalju. Tak begitu dingin di musim semi ini.

Turki adalah negara yang mewarisi banyak peradaban besar sejak ribuan tahun lalu; Byzantium, Ottoman, dan kini Republik Sekuler Turki. Di sini, kekhalifaan hanya jadi artefak sejarah, menjadi museum yang mengundang jutaan turis. Saya pribadi tak yakin masyarakat Turki menginginkan kembali ke jaman jadul itu.

Di hampir setiap restoran2nya anda bisa meminta minuman beralkohol dengan harga terjangkau.

Perempuan2nya juga tak begitu banyak yang berhijab. Saya melihat kebanyakan yang berhijab adalah wisatawan asal Arab dan Melayu. Selain itu, anda bisa menikmati kecantikan Eurasia di paras perempuan2 Turki.

Tagged with: , , , , ,

Sepakbola Indonesia: Pembinaan Setengah Hati

Posted in Indonesia, Nasional, Uncategorized by daengrusle on March 10, 2019

tulisan lama, pertamakali muat di blog di tahun 2008

++

Syaifullah Daeng Gassing, seorang profesional muda yang juga pencinta fanatik olahraga sepakbola, mengungkapkan keperihannya tentang kisah muram sepakbola Indonesia dalam tulisan di blognya http://daenggassing.com. Penggemar MU itu menumpahkan kekecewaannya dengan merapalkan kalimat dukacita akan kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Sea Games 2007. Syaifullah menulis postingan yang diberi tajuk “Sepakbola kita yang telah mati”, “Saya dan mungkin teman-teman yang lain juga hanya bisa berteriak kesal, mengumpat dan mencaci maki. Kita mungkin tak punya cukup kuasa untuk memperbaiki sepakbola kita yang kusutnya jauh lebih kusut dari kusutnya benang manapun di dunia ini. Kita sama sekali sudah bingung harus memulai dari mana. Semua seperti tak berujung dan tak berpangkal. Kita berada dalam sebuah labirin yang terus saja menubrukkan kita pada dinding-dinding masalah tanpa pernah melihat titik terang yang sesungguhnya.”

Tidak ada yang lebih sia-sia selain kemunduran. Kemunduran berarti menafikkan semua harapan, potensi, sumberdaya dan kesempatan yang telah diberikan. Semua pihak akan kecewa, terutama karena kemunduran mengandung arti bahwa keadaan saat ini lebih buruk dari sebelumnya. Dari kacamata etis, ada unsur korupsi waktu dan kesempatan. Mundur jauh lebih buruk dari pada gagal, walaupun sama mengecewakan. Tapi kita bisa banyak belajar dan bangkit maju setelah gagal. Sementara, mundur adalah kebodohan yang diulangi dari kegagalan demi kegagalan, berulang-ulang tanpa ada gerak positif ke depan. Tidak ada proses belajar dan kebangkitan dalam suatu kemunduran. Tidak ada introspeksi, tidak ada etos. Malu, sekiranya masih punya rasa ini, dan kecewa sudah pasti.

Kemunduran Prestasi Sepakbola Indonesia
Membicarakan kemunduran, adalah membicarakan prestasi. Contoh paling baik yang merepresentasikan makna sebuah kemunduran adalah prestasi sepakbola Indonesia. Indonesia pernah menjajal ajang Piala Dunia di Prancis tahun 1938 yang saat itu bernama Hindia-Belanda, dan tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke putaran final Piala Dunia. Namun setelahnya, tidak pernah sekalipun masuk lagi. Bahkan berita terkini tentang keikutsertaan Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2010 yang sama kita ingin segera melupakannya karena malu; langkah tim nasional Indonesia terhenti di ronde kedua usai tersingkir secara memalukan di tangan Suriah dengan agregat 11-1. Dalam pertandingan leg kedua, Suriah menang dengan skor mencolok 7-0. Negara Arab – Suriah yang tradisi perangnya masih lebih kondang daripada sepakbola nya membuat tim Indonesia seperti tim kampungan.

Terakhir tim kita juga kehabisan napas di ajang regional, SEA Games 2007 di Thailand. Kalah bersaing dengan Myanmar dan Thailand. Dan sang pelatih; Ivan Kolev pun pasrah, mengaku siap dipecat sembari menyalahkan persiapan yang hanya sedikit. Walau kita sama tahu bahwa untuk ‘persiapan’ ini si Kolev sudah menghabiskan miliaran duit negara untuk beranjangsana ke negara kampiun bola, Argentina. Hasil pelesir ke negeri Maradona itu kemudian terbukti cuman pepesan kosong saja atawa cekak prestasi; melawan tim sekelas Kamboja hanya bisa menang tipis, 3-1, bermain kaca mata 0-0 melawan Burma, dan keok (lagi) di tangan Tim Gajah Putih, 1-2. Dan Indonesia pun gagal melaju ke babak berikutnya, tersisih oleh Burma dan Thailand. (more…)

HARI HUJAN

Posted in cerita by daengrusle on February 14, 2019

#Cerpen

Istrinya mati karena demam berdarah. Hari itu, di kamar mayat ia duduk berselonjor begitu saja di lantai. Pandangannya kosong, meski orang banyak lalu lalang di depannya.

Tiga bulan lalu mereka menikah. Keduanya bertemu tak sengaja, di antrian sembako yang digelar Haji Salim di depan rumahnya. Keduanya berebutan beras kemasan 1kg, yang dilemparkan begitu saja oleh anak buah Haji Salim ke kerumunan orang.

Ia dan perempuan yang kelak menjadi istrinya itu bersitatapan. Dan seperti kisah di film-film, mereka kenalan dan saling jatuh cinta. Kemudian menikah, di surau Haji Salim hanya dua minggu setelahnya.

Pernikahan keduanya hanya disaksikan pak Tresno, marbot surau, yang juga merangkap jadi penghulu. Tak ada surat nikah, tak ada jamuan, tak ada apapun dan siapapun. Hanya ijab Kabul sederhana. Keduanya miskin, sebatangkara, tak punya siapa dan apa.

Setelah menikah, ia membawa istrinya ke gubuk kecil di tengah hutan desa. Sejak kecil dan menyadari keberadaan dirinya, di gubuk itulah dia tinggal. Untungnya tak ada yang mengusik dan menanyai sertifikat tanah yang ia tinggali.

Istrinya, dulunya tumbuh besar dan menetap di semangnya, Haji Rambe, yang memungutnya dari Panti Asuhan kota. Karena sering diperlakukan kasar, suatu hari ia minggat dari rumah. Dan hanya berkeliaran di pasar, bekerja dengan membantu siapa saja dengan imbalan berapa saja. Semangnya, Haji Rambe dan istrinya juga tak peduli. Tak pernah meminta lagi dia kembali.

Ketika itu musim penghujan tiba. Tiada hari tanpa hujan, lebat sekalipun.

Dipan kecil yang biasanya hanya menampung dirinya, kini mesti berbagi dengan istrinya. Jadinya suaranya berderik-derik keras ketika keduanya berada di atasnya.

(more…)

Tagged with: ,