…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pantang

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 11, 2016

book2.jpg

Malam ini saya melirik tumpukan pakaian yang habis dicuci dan digosok di kamar saya. Juga beberapa lemari yang isinya berlembar-lembar pakaian milik saya dan anak-anak. Nyaris penuh. Tiba-tiba ingatan saya terlempar kepada seorang kawan lama di Bandung dulu, 20 tahun yang lalu.

Kawan saya itu merasa pantang memiliki pakaian lebih dari yang dia butuhkan. “Saya takut berdosa, memiliki sesuatu yang tidak saya butuhkan” begitu alasannya. Ketika ia kuliah, ia hanya memiliki tidak lebih dari tiga pasang pakaian. Jadilah ia hanya memakai pakaian itu-itu saja. Tapi ia tak malu, malah kelihatan bangga dengan segala kesederhanaan itu.

Saya yakin sebetulnya ia punya uang dan mampu membeli berlembar-lembar baju atau celana. Di rumah kontrakannya yang ia sewa sekian juta setahun, ia menampung kawan-kawannya yang kesulitan menyewa kost-kostan. Jadilah rumah kontrakannya menjadi semacam penampungan mahasiswa. Semua kawan-kawannya boleh menempati kamar yang tersedia, kecuali kamar paling atas yang paling kecil dari semua kamar yang ada. Di situlah ia tinggal, berhadapan langsung dengan ruang terbuka tempat menjemur pakaian sehabis dicuci. Di kamar kecilnya itu, lebih tepat disebut kamar loteng, ia tidak punya banyak barang kecuali satu rak buku dan lemari plastik kecil. Bukunya pun tak banyak, meski saya tahu ia seorang pembaca yang lahap. Saya membayangkan ia memperlakukan buku sebagaimana pakaiannya, seterbatas mungkin. Selesai membaca, semua bukunya akan ia hibahkan ke teman-temannya yang tertarik. (more…)

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Semesta Kobokan

Posted in percikrenungan, Renungan by daengrusle on February 21, 2016

semesta-kobokan

[tulisan ini juga dimuat di web Riverpost]

Saya selalu membayangkan Ibu ketika membasuh tangan di dalam kobokan. Ia seperti ibu, yang selalu mengingatkan bahwa pikiran harus sering-sering dibersihkan.

Di masa kanak-kanak, saat yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika makan malam bersama di rumah. Selain menikmati masakan ibu yang selalu sedap di lidah, saya selalu bersemangat memerhatikan bagaimana kobokan berpindah dan berubah warna sedemikian rupa. Bagi keluarga kami yang penutur bahasa Bugis, kobokan dinamai akkenynyong; oleh orang Makassar ia disebut cimbokang, atau kimbokang.

Kami menyantap makanan dengan menggunakan tangan. Sendok hanya dipakai untuk mencedok sayuran dan nasi. Garpu tak ada, karena memang tak pernah kami gunakan. Dengan menggunakan tangan saja, sendok dan garpu tak akan punya peranan sama sekali di atas piring kami. Di meja makan, hal pertama yang menjadi perhatian kami semua adalah kobokan, wadah air yang berbentuk mangkok kecil dari bahan gelas atau besi yang cukup memuat satu kepalan tangan. Kami tak akan bisa memulai santap bersama kecuali kobokan sudah tersedia, untuk membersihkan tangan sebelum menyentuh makanan. Air bening yang mengisi kobokan ini diambil dari bak penampungan di dapur atau kamar mandi. Pada saat itu, meski kami berlangganan air bersih yang mengalir melalui keran, tapi aliran air hanya bisa dinikmati pada saat-saat tertentu saja dan biasanya tengah malam. Dan karenanya, kobokan menjadi satu-satunya alat bantu bagi kami untuk membersihkan tangan sebelum makan dengan lahap.

(more…)

Tagged with: , ,

Bugis dan Lima Gender

Posted in Renungan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on February 18, 2016

Kami di suku bugis mengenal lima jenis seksualitas manusia; lelaki, perempuan, bissu, calalai dan calabai. Mereka lahir semua dari rahim budaya setua usia peradaban suku bugis, sejak masa tomanurung – yang dipercaya sebagai manusia pertama yang diturunkan ke bumi. Tapi apakah lantas manusia bugis turut serta melakukan pelecehan terhadap jenis2 yang tak mainstream itu? Tidak. Kami justru menghargai mereka sebagai bagian utuh dari masyarakat bugis. Di setiap perayaan ritual kemasyarakatan tertentu, keterlibatan mereka dihargai dan dipandang sebagai kewajaran.

Apakah ada ketakutan dari masyarakat jenis lelaki atau perempuan bahwa suatu saat akan menjelma seperti mereka yg berbeda itu? Menularkah, dijadikan sampah masyarakatkah? Tidak sama sekali. Berbeda tak mesti kemudian menjadi dilecehkan atau dihina sedemikian rupa. Kemanusiaan mu berpijak pada keadilanmu. Kemuliaanmu bertaut pada perilakumu ke sesama, bukan pada motif seksualitasmu.

Tulisan cerdas dari Andi Saiful Haq ini memberikan pandangan tentang relasi Gender di budaya suku Bugis. Sila disimak. (isi tulisan dicopy dari link di Qureta : Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT)

==

Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT

Saya lebih dulu menjelaskan identitas saya, bukan karena takut dicap Homophobia atau dicap salah satu dari kelompok LGBT. Saya hanya menjelaskan posisi gender saya dan cara pandang saya, agar tulisan ini bisa sampai pada maksud dan tujuan penulisannya. 

Saya berdarah Bugis, meski bagi saya Andi hanyalah sebuah nama, namun gelar Andi di depan nama saya menunjukkan strata sosial keluarga saya dalam sistem sosial masyarakat Bugis-Makassar. Andi betul adalah gelar yang digunakan Belanda untuk mempermudah sistem administrasi mereka.

Karena kemalasan mereka merinci, kekayaan istilah dan penyebutan dalam sistem sosial, mereka menggunakan Andi sebagai gelar generik dalam sistem administrasi mereka. Orientasi seksual saya Hetero, sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Oke, jelas yah? Oh iya, saya tidak menikah hanya untuk kamuflase murahan, atau hanya sekedar untuk menipu orang tua dan tetangga saya tentang kesejatian menjadi laki-laki dan perempuan. Sekarang, mari kita mengunjungi Ibu Haji Usman.

Ibu Haji Usman di Mata Orang Bugis

Namanya Haji Usman, dia sudah menunaikan ibadah Haji, setiap hari bekerja sebagai Indo’ Botting, profesi yang jika diterjemahkan secara sembarangan adalah Event Organizer atau Sewa Menyewa Pakaian Pengantin.

Namun makna Indo’ Botting jauh lebih dalam dari sekedar itu. Indo’ Botting punya peran sakral dalam pernikahan Orang Bugis. Tidak terlepas orang Bugis tersebut sudah memeluk agama Islam atau agama lain, ada adat yang tidak bisa mereka lepaskan. Boleh Pak Imam menikahkan, boleh juga Catatan Sipil meregistrasi pernikahan, tapi tanpa Indo’ Botting pernikahan pasangan Bugis Makassar tidak akan dianggap sah.

(more…)

Tagged with: , , ,

Beroanging

Posted in Kenangan by daengrusle on January 31, 2016

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari jejeran tiga Sekolah Dasar di seberang pompa bensin itu, dua di antaranya diberi nama Beroanging; SDN Beroanging dan SDN Bertingkat Beroanging, merujuk ke bentuk gedung sekolahnya. Dua Beroanging ini cukup populer, karena punya taman bermain yang bersih dan luas. Selain itu, di belakangnya ada kompleks perumahan TNI AL yang memiliki danau buatan yang luas hingga ke jalan Kandea. Di salah satu sudut danau itu, berdiri sebuah menara pengintai dengan tiga lantai menjulang ke atas. Di dasar menara itu,  ada satu ruangan gelap yang bisa diintip dari lubang di atasnya. Konon menurut teman-teman yang sering berenang di danau itu, ruangan gelap itu sesungguhnya adalah terowongan yang dibuat penjajah Jepang di zaman dulu. Terowongan itu konon tembus hingga ke pangkalan Angkatan Laut di Satando yang berjarak kira-kira 5 kilometer dari tempat itu, dan menjadi jalur pelarian tentara Jepang saat kalah perang.  Cerita itu selalu diulang-ulang dan dipercaya sebagai kebenaran, meski tak ada yang berani membuktikan adanya terowongan rahasia itu. Mungkin karena cerita itu ditambahi lagi bahwa di dalam terowongan hidup banyak ular yang siap mematok kepala kecil kami.

 

Orangtua saya memasukkan saya ke sekolah yang bukan Beroanging, SD Negeri Pannampu. Tidak ada alasan pasti, namun hampir semua anak-anak tetangga saya juga disekolahkan di SD itu. Jadilah SD Pannampu menambah identitas baru di perumahan pasar tempat saya tinggal; bukan anak pasar kalau tak bersekolah di Pannampu juga. Jadi kalau anak-anak di kampung tetangga menyebut “anak Pannampu”, itu bisa berarti dua hal; anak-anak yang tinggal di pasar Pannampu dan juga bersekolah di SD Pannampu. Hingga bertahun-tahun lamanya, anak-anak Pannampu sering menjadi korban kekerasan dari anak-anak kampung sekitar. Alasannya bukan karena kami yang beramai-ramai sekolah di Pannampu juga, tetapi karena entitas tambahan kami sebagai perkampungan anak-anak suku bugis.

 

Di Makassar, meski merupakan kota yang majemuk dengan latar belakang sukunya, namun yang dianggap sebagai penduduk lokal tentu yang bersuku Makassar. Kami anak-anak Pannampu saat itu masih fasih bertutur dalam bahasa Bugis, meski untuk pergaulan sehari-hari sudah menggunakan bahasa Indonesia logat Makassar. Anak-anak kampung sekitar yang bersuku Makassar dan lebih banyak bercakap dalam Bahasa Makassar itu sungguh menjadikan kami, anak-anak Pannampu sebagai jajahan yang empuk. Beberapa saat kami tak pernah melawan, meski kami sepantaran saja tingginya. Yang membuat kami kadang bergidik adalah anak-anak Makassar itu sering membawa badik, atau menunjuk-nunjukkan bagian baju di batas perut dan celananya sebagai isyarat bahwa mereka membawa senjata tajam kecil itu. Kami tentu saja mudah percaya, di bawah bayang-bayang ketakutan terutama karena cerita-cerita penikaman yang masih lazim terjadi saat itu. Badik seumpama hantu yang sangat menakutkan.

 

Di masa itu, kami memang jarang melihat badik. Orang tua kami yang hanya pedagang bersuku Bugis umumnya tak pernah punya cerita kekerasan. Mereka lebih suka membicarakan soal dagang dan perempuan. Ya, selain pandai berdagang, mereka juga punya pandai dalam urusan memperbanyak isteri. Apalagi jangkauan wilayah dagang mereka bisa melewati batas kota dan propinsi, dan bisa berlama-lama tinggal di sana. Rumor bahwa para pedagang itu memiliki anak dan istri banyak kadang di kemudian hari menjadi cerita yang bukan isapan jempol belaka. Kami kadang-kadang tak lagi pusing mencari tahu apakah itu benar atau tidak, dan menunggu saja saat semuanya terungkap beberapa tahun kemudian. Itu juga ketakutan yang menyusup masuk ke keluarga kami, terutama bagi para ibu atau anak-anak perempuan yang umumnya tak begitu rela sekira itu benar terjadi.

 

Namun ada satu hal lain yang sering menjilati rasa ketakutan kami ketika tinggal di Pannampu itu. Di belakang kompleks perumahan kami itu, ada terbentang luas kawasan pekuburan Beroanging. Kami jarang bermain di sana, terutama karena sudah dihinggapi rasa takut duluan tentang mitos-mitos kuburan Beroanging. Konon pada malam-malam tertentu para penghuni kuburan Beroanging ini bisa bangkit dan menakut-nakuti anak-anak. Terutama bagi yang suka mengarahkan jari telunjuknya ke kawasan itu. Selain akan dihinggapi mimpi buruk, jari telunjuk kami akan tertekuk selamanya. Semacam orang yang dijangkiti penyakit kulit yang jemarinya tak lagi bisa lurus. Itulah sebab kami tak banyak menyentuh wilayah horror itu, belum lagi begitu banyak aturan tak tertulis yang harus kami patuhi saat melintasi pekuburan itu. Semisal mesti membawa sesuatu, terkadang batu atau sampah plastic yang kami temui di bibir pekuburan, untuk digenggam selama melintas. Batu atau apapun dalam genggaman itu baru bisa dibuang kembali sekira kita berada di sisi luar pekuburan itu kembali. Entah apa maknanya, yang jelas kami dibayangi tulah yang buruk kalau melanggar pantangan itu. Di pekuburan itu, kami juga sering diceritai, terbaring jenasah korban tenggelamnya kapal Tampomas di tahun 1980an. Kami pernah melihat ada deretan kuburan yang berada dalam satu bidang yang sama. Kata teman-teman, mereka adalah satu keluarga yang naas menjadi korban saat peristiwa itu terjadi. Cerita lainnya tentu tentang Setan Sumiati, yang baru-baru ini filemnya dirilis di Makassar. Satu cerita hingga di benak kecil kami saat itu, bahwa salah satu kuburan di Beroanging adalah milik Sumiati, setan yang paling populer di Makassar. Meski kami juga sering mendengar bahwa Sumiati berkubur di salah satu sudut Karebosi, namun buat kami setan bisa berkubur di banyak tempat, termasuk juga Beroanging. Toh, kami pikir wajar-wajar saja Setan yang suka menghantui anak-anak itu punya kuburan di mana saja. Namanya juga Setan.

 

Abu Dhabi, 31 Januari 2016.

Tagged with: , ,

Pipit

Posted in cerita, Review by daengrusle on January 29, 2016

Barangkalai kalau tak membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohammad di Tempo tentang Ben Anderson, saya akan terlambat mengenal nama Pipit Rochijat. Yang menarik, GM menggambarkan Pipit sebagai “berandal dalam pikiran, suka meledek, menulis dengan bahasa Indonesia yang eksentrik”. Pipit adalah aktifis Indonesia yang sempat dicabut paspornya oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1987. Pipit bukan komunis, malah dulu punya sejarah sebagai aktifis anti-komunis, bergabung dalam Gerakan Siswan Nasinoalis Indonesia, underbow PNI tahun 1960an. Pasalnya, ayahanda Pipit yang jadi Direktur Pabrik Gula di Ngadirejo sejak 1959, Kediri sempat mengalami penentangan, bahkan diancam jiwanya saat menghadapi organisasi buruh yang digerakkan oleh yang berhaluan komunis.

Setelah itu, mata Pipit seperti menjadi alat perekam sejarah. Dari mengalami permusuhan dengan kaum komunis, kemudian menyaksikan bagaimana orang-orang yang dituduh komunis menjadi korban pembantaian di kampungnya. Selepas peristiwa kelam 1965 itu, ia menjadi mahasiswa ITB dan lagi-lagi saksi sejarah bagaimana Rene Congrad ditembak oleh oknum siswa Akpol tahun 1970 di kampus ITB. Dia menceritakan memoarnya dalam tulisan beberapa halaman berjudul “Saya PKI atau Bukan PKI?” yang terbit di Majalah GotongRoyong milik PPI Jerman Barat tahun 1983. Karena tulisan inilah, yang isinya banyak mengecam Orde Baru, membuat nasib kewarganegaraannya sempat terlunta-lunta.

Sepertinya nasib Pipit dijaring oleh sesuatu yang bernama stereotyp. Oleh kaum komunis, keluarganya dimasukkan ke dalam kelompok “7 Setan Desa” dan wajib dienyahkan. Konon, ia bercerita, sekira peristiwa G 30 S tak meletus, keluarganya mungkin sudah dikubur hidup-hidup oleh buruh komunis. Selepas bahu membahu bersama tentara, kelompok agama, dan Front Marhaen, memberantas komunis di desanya, ia yang nasionalis malah mulai mengalami tekanan dari tentara karena aktifitasnya, juga ideologinya yang sangat memuja Bung Karno. Semua tahu, Orde Baru tak begitu nyaman merawat ajaran Bung Karno, apalagi mengagungkannya. Dia dicap sosialis, yang ujung-ujungnya kemudian dianggap komunis. Katanya, kaum komunis sering disalahartikan sebagai kaum tak beragama. Padahal soal beragama atau tidak, tak bisa disimpulkan hanya memandang afiliasi politiknya. Saya sepakat. Stereotyp atau sikap gebyah uyah menyamaratakan segala sesuatu, hanya karena pembacaan singkat yang premature sangat berbahaya.

Abu Dhabi, 29 Januari 2016

Tagged with:

Sajak-sajak yang dimuat Lombok Post

Posted in Uncategorized by daengrusle on January 17, 2016

6f2a8ad7-582e-4c70-9fc8-84a7a844c6e5

Sajak-sajak saya hari ini dimuat Harian Lombok Post, edisi 17 Januari 2016.

Sehimpun Rindu

Setiap pagi, di seberang jalan. Aku membayangkan dirimu melambai selalu. Menawarkan sehimpun bebungaan yang basah oleh embun subuh. Aku berharap senyumku selalu bisa menyeberangkan tubuhku. Tapi jalan di hadapan kita selalu ramai, oleh waktu, oleh jarak.

Kau tahu, berhari-hari kucari cara untuk masuk ke ruang ingatanmu. Memanggil-manggil kenangan yang karam di lautan lupa. Memanggul setiap lukisan di masa lampau, membawanya kembali ke setiap malam. Aku berharap malam meluruhkan ingatan-ingatan itu. Menjadikan ia puisi, agar kujadikam selimut untuk memeluk tidurmu. Menjadi mimpi, barangkali.

Ketika malam luruh, aku ingin menjadi dingin.

Menjilati sekujur rambut di kulitmu. Agar tubuhmu merekah mencari pelukan-pelukan.

Pelukan-pelukan itu kemudian kurangkai menjadi selimut, menghangatkanmu – kala dipeluk dingin. Ketika malam luruh.

[Abu Dhabi, Oktober 2015]

(more…)

Tips Menulis: Riset Sebelum Menulis, Pentingkah?

Posted in Blogging, My Self-writing by daengrusle on December 8, 2015

Menulis memang kegiatan yang mengasyikkan, selain membaca. Dengan menulis, kita berusaha menyampaikan isi pikiran kita tentang sesuatu hal ke dalam media yang bisa dicerna oleh pikiran pembaca. Pembaca bisa meraup informasi dari tulisan kita sehingga memberikan manfaat buat mereka. Namun apa jadinya kalau tulisan kita malah mengundang malu karena apa yang disampaikan ternyata keliru?

 

Yang Umum Belum Tentu Benar

Seorang blogger yang menggemari sejarah lokal menulis di blognya: “Kerajaan Makassar merupakan kerajaan pertama dan terbesar di Sulawesi Selatan. Sejak awal, kerajaan ini turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan mengusir penjajah Belanda dari bumi Angin Mamiri

 

Sepintas, tulisan singkat itu tak ada salahnya. Pemahaman sejarah masyarakat kita memang demikian umumnya tentang Makassar. Namun, bagi mereka yang bergelut dengan bacaan sejarah, alinea singkat itu mengandung beberapa kesalahan mendasar sebagai berikut;

1-     Kerajaan Makassar tidak pernah ada dalam lintas sejarah. Makassar hanyalah sebutan untuk sebuah kota pelabuhan di lingkup kerajaan kembar bernama Gowa dan Tallo.

2-     Kerajaan itu pun – kalau yang dimaksud adalah Gowa-Tallo, bukanlah yang pertama di Sulawesi Selatan. Masih ada beberapa kerajaan yang mendahuluinya, misalnya Kerajaan Siang di Pangkep. Juga ada kerajaan Luwu dan Bantayan yang dicatat dengan rapi dalam epos La Galigo.

3-     Kerajaan ini pernah terlibat perang dengan VOC pada pertengahan abad 17. VOC adalah perusahaan swasta dan bukan representasi resmi kerajaan Belanda. Karenanya agak keliru menyatakan bahwa Gowa-Tallo mengusir Belanda. Apalagi, dalam peristiwa yang terkenal dengan nama “Perang Makassar”, VOC keluar sebagai pemenang.

4-     Kerajaan ini mengalami puncak keemasannya di abad 16&17, saat negara Indonesia belum lahir. Karenanya tak tepat menyatakan bahwa ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebelum ide tentang negara kesatuan Indonesia hadir, kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara berjuang menegakkan kedaulatannya masing-masing.

5-     Penyebutan Angin Mamiri juga kurang tepat, karena penulisan yang benar dan disesuaikan dengan lidah pengguna Bahasa Makassar adalah Anging Mammiri.

Anda bisa menambahkan lagi daftar panjang kekeliruan dalam satu alinea itu. Tentu masih ada saja ide yang bisa diperdebatkan, misalnya apakah betul Makassar (atau Gowa-Tallo) itu merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Sulawesi Selatan, dan sebagainya. Dari situ kita bisa melihat, betapa banyak kekeliruan yang bisa dijejak hanya dari dua kalimat itu. Semangat menuliskan isi pikiran memang perlu, namun hal penting lainnya adalah menulis dengan seksama.

Ada baiknya menanamkan dalam pikiran kita bahwa apa yang dipahami secara umum belum tentu selalu benar. Diperlukan bukti atau fakta atau rujukan pendukung untuk mengklarifikasi pemahaman kita. Apalagi di era internet dan social media yang menyediakan informasi demikian cepat dan melimpah. Orang bisa dengan mudahnya terlibat dalam penyampaian informasi yang keliru, hoax, dangkal dan memalukan. Diperlukan kehati-hatian dalam menyaring informasi, apalagi kalau kemudian menuliskan dan menyebarkannya.

Riset Itu Sederhana Tapi Penting

Kekeliruan dalam menulis dapat dihindari dengan melakukan riset dengan mengumpulkan ragam informasi tentang hal yang hendak kita tulis. Riset juga tak mesti lama atau ribet dengan membaca banyak buku referensi atau mewawancarai beragam sumber. Untuk tulisan yang bersifat personal atau ringan, cukup riset singkat saja dengan membaca informasi di internet atau bertanya ke mereka yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang hal itu. (more…)

Ragam “Mazhab” Islam di Amerika

Posted in agama by daengrusle on October 11, 2015

Masjid Maryam in Chicago, USA

Masyarakat Muslim di Indonesia dan beberapa belahan dunia lain mungkin hanya mengenal beberapa mazhab mainstream yang sering melintas dalam diskusi atau pelajaran teologi; ahlussunnah (hanafi, maliki, syafii, hambali), syiah (imamiah, zaidiyah, ismailiyah), mutazilah, ibadi, ahmadiyah. Setidaknya mazhab-mazhab itulah yang paling sering dibincangkan terutama ketika pokok diskusi merambah ke soal akidah dan fiqh.

Muslim di Amerika, dengan pola pikir yang terbuka dan bebas, ternyata juga mengalami pergulatan pemikiran dalam soal mazhab. Dilatar belakangi oleh sejarah perbudakan yang kelam, juga mungkin karena ketidaktahuan atau terputusnya arus dakwah di belahan barat ini, kemudian membuat muslim awal di Amerika mendirikan sekte atau mazhab tersendiri. Pikiran-pikiran kritis yang menolak untuk terpaku (atau taqlid) pada satu pemahaman saja, membuat Islam di Amerika menjadi lebih dinamis, dengan kebebasan mendefinisikan pokok syariah yang seperti tak terbendung. Di Amerika, sepertinya mazhab2 mainstream punya “kawan berdialog” lebih banyak daripada yang ada di Timur Tengah, Asia atau Afrika. Beberapa mazhab yang lahir dari rahim sejarah muslim di Amerika ini sebagai berikut.

1. Moorish Science Temple of America, didirikan oleh Drew Ali tahun 1913. Dia menggelari dirinya sebagai Nabi Mulia (Prophet Noble) Drew Ali dengan ajaran yang lebih bernuansa sinkretism, karena menggabungkan pokok ajaran Islam dengan Budha, Kristen, Sufism bahkan juga ajaran Tao. Meski memakain nama “Science” dalam mazhabnya, tapi konon keyakinannya malah banyak bertolak belakang dengan sains populer. Nampaknya mazhab ini didirikan untuk mengkonsolidasi muslim asal Afrika Barat yang berimigrasi ke Amerika sebagai budak. Tahun 1930an, jamaahnya mencapai jumlah 30,000 namun berkurang drastis menjadi hanya 800-an saja saat ini. Jumlah mesjidnya (disebut sebagai Temple) diklaim sebanyak 260 buah di seluruh Amerika Serikta.

2. Nation of Islam (dulu populer sebagai Black Moslem), didirikan tahun 1930 oleh Wallace Fard Muhammad. Tampaknya merupakan pecahan dari Moorish Science Temple of America. Pengganti Wallace, Elijah Muhammad kemudian menetapkan pokok-pokok ajaran mazhab ini sejak tahun 1934. Ajarannya cukup kontroversial dan dituding sebagai gerakan rasis, anti kulit putih, anti kristen, anti-semit dan digolongkan sebagai “gerakan kebencian” di beberapa tempat di Amerika. Mereka juga menetapkan bahwa Wallace adalah reinkarnasi Tuhan di bumi. Salah satu mantan anggota Black Moslem yang terkenal adalah Malcolm X, yang kemudian keluar dan terbunuh dengan tragis. Jumlah jemaat Nation of Islam kini berjumlah 20,000 dengan 130 mesjid, dipimpin oleh tokoh Louis Farrakhan.

3. Five-Percent Nation (Nation of Gods and Earths), didirikan tahun 1964 oleh Clarence 13X sebagai pecahan Nation of Islam. Clarence merupakan murid langsung Malcom X dan menyatakan pemisahan diri dari Nation of Islam karena tidak mengakui Fard Muhammad seorang sebagai jelmaan Tuhan. Ajarannya sendiri malah menyatakan bahwa seluruh bangsa kulit hitamlah yang justru merupakan jelmaan Tuhan di bumi. Mereka menyebut diri sebagai sekte 5% karena keyakinannya bahwa di seluruh dunia hanya 5% manusia yang mengenal kebenaran dan diwajibkan untuk memberikan pencerahan kepada yang lainnya.

4. United Submitters International, didirikan tahun 70-an oleh Rashad Khalifa, seorang imigran asal Mesir yang berprofesi sebagai Biochemist. Meski banyak mengambil ajaran Islam, tapi mereka tak menyebut diri sebagai Muslim, tetapi “Submitter”, yang kalau diamati merupakan terjemahan inggris dari makna muslim juga. Ajaran ini dikenal juga dengan nama Quraniyyun, dengan doktrin bahwa hanya Quran lah satu-satunya sumber kebenaran, sembari menolak hadist yang dianggap banyak mengalami penyimpangan karena tak bebas dari intervensi manusia, berbeda halnya dengan Alquran yang dianggap murni karena dijaga Tuhan. Mengajarkan monotheisme, Khalifa menyebut diri sebagai “pembawa pesan Tuhan” meski dia bersikeras bahwa ia bukanlah Nabi sebagaimana Muhammad. Dalam ajarannya, ia menyebut bahwa memang kenabian sudah terputus dan berhenti pada sosok Nabi Muhammad, namun Tuhan masih mengutus sosok “pembawa pesan” sebagaimana yang di emban. Meski begitu, ia menolak menyebut nama Muhammad dalam sholat karena dianggap sirik. Dalam ibadah, menurutnya, hanya boleh menyebut nama Tuhan saja tanpa ada sosok lain selainNya. Rashad Khalifa terbunuh di tahun 1990 oleh seorang muslim radikal yang terganggu oleh ajarannya yang dianggap sebagai nabi palsu yang mengajarkan ajaran sesat.

5. American Society of Moslem; didirikan tahun 1976 oleh Warith Deen Muhammad, yang merupakan anak kandung pemimpin Nation of Islam, Elijah Muhammad. Setelah ayahnya wafat, ia kemudian mengambil jalan yang ditempuh Malcolm X, melakukan reformasi ajaran dari ayahnya dan menjalankan tradisi Islam Sunni seperti shalat, puasa, ibadah haji dan juga menyingkirkan bangku-bangku dari mesjid yang didirikannya. Saat ini ia memiliki sekitar 200,000 pengikut. Organisasi ini kemudian dibubarkan tahun 2003 setelah Warith Deen Muhammad pensiun.

Sebahagian muslim mungkin akan menganggap bahwa sekte2 yang ada di Amerika Serikat itu menyimpang karena berbeda pokok ajaran dengan Islam yang mereka pahami. Meski memang aneh, dan cenderung kontroversial, namun setidaknya para jemaah yang tergabung dalam sekte2 d iatas itu mengaku diri mengambil pokok ajaran Islam sebagai dasar-dasar ajaran mereka. Wallahu ‘alam. [foto: Mesjid Maryam di Chicago, Amerika]

MENJADI BODOH ATAU CERDAS MELALUI INTERNET

Posted in Uncategorized by daengrusle on September 4, 2015

MENJADI BODOH ATAU CERDAS MELALUI INTERNET

Melalui internet [bil khusus social media], peluang anda untuk menjadi bodoh dan pintar sama besarnya, 50-50. Otak anda bisa makin tumpul kalau setiap hari diasupi dengan beragam link berita atau status yang hanya berisikan hujatan, serangan atau celaan ke golongan tertentu. Nyinyir dan sok merasa lebih cerdas dan mampu mengatasi masalah – walaupun hanya sekadar di status socmed, semua orang sepertinya bisa melakukannya. Terlalu mudah. Semudah anda juga akan dicap “haters” atau “bigot” karena terus-terusan bertingkah seperti anak kecil yang berbekal informasi copas sekadarnya sudah berani cuap-cuap gak karuan tentang hal-hal kenegaraan dan ketuhanan sambil menyerang pihak seberang. Itu kalau anda memilih untuk memanfaatkan peluang pertama.

Nah peluang kedua, anda bisa berada di sisi sebelahnya. Menjadi pemakai internet yang positif. Daripada ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, Anda bisa menjadi pembelajar yang kritis. Lakukanlah riset mudah dengan berselancar di dunia maya. Bukankah perintah agama, juga petuah bijak dari kearifan tradisional yang kita anut, meniscayakan keharusan untuk menggali lebih banyak informasi sebelum mengunyahnya menjadi keyakinan?

Selain milyaran artikel penambah pengetahuan, semisal know-how atau motivasi [agama, self-help, popular science], juga bertebaran jutaan buku digital [ebook] yang bisa anda akses dengan gratis. Menurut Wikipedia, ada sekitar 6,000,000 ebook yang sudah diaplod ke berbagai website penyedia layanan ebook. Sebahagian besar adalah gratisan, termasuk yang disediakan googlebooks di mesin pencarinya.

Bagi anda penyuka novel atau sastra, ada sekitar 21% ebook yang disajikan adalah genre fiksi. Tentu saja yang lebih banyak masih ebook jenis non-fiksi, terutama buku-buku ilmiah populer; komputer, sejarah, sains, agama, budaya, dan sebagainya. Anda penyuka penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra, ES Ito, hingga Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami? Buku-buku karya mereka bisa dinikmati hanya dengan sekali klik. Di salah satu web, karya Pramoedya dari Arus Balik, Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai hingga beberapa kumpulan Cerpen Cerita Dari Blora tersedia dan bisa diunduh gratis.

Wikipedia mencatat bahwa 42% dari ebook yang tersedia di internet itu tergolong non-fiksi, sebahagian besar mungkin buku serius untuk menambah pengetahuan Anda. Semacam perpustakaan besar untuk Anda meraup sebanyak mungkin pengetahuan. Anda bisa jadi sarjana, tanpa perlu memasuki jenjang formal kependidikan. Untuk apa mengejar gelar akademik kalau tujuan utama anda adalah Ilmu semata. Buku-buku yang pernah ditulis Gus Dur, Nurkholis Majid, hingga Buya Hamka juga tersedia di sana. Yang masalah mungkin tidak begitu banyak buku berbahasa Indonesia yang bisa didapatkan, karena sebahagian besar buku referensi dalam bahasa inggris, kecuali dari penulis2 Indonesia tentunya. Buku-buku klasik Agama Islam yang berbahasa Arab juga bisa didapatkan. Kitab-kitab babon semacam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lain dalam bahasa dan tulisan aslinya juga tersedia.

Ya, internet menyediakan segalanya. Anda bisa menyusun kurikulum sendiri dengan rujukan yang mirip dengan apa yang Anda dapatkan di Universitas. Kalau Anda ingin terbebas dari ketidaktahuan, misalnya tentang “Apa itu Mazhab Mu’tazilah?” . Anda bisa menyusun kerangka belajar sendiri dengan menyusun formulasi tema seperti: 1) Sejarah Mu’tazilah dan Ajarannya, 2) Pandangan Luar Terhadap Mu’tazilah 3) Karya2 Pemikir Mu’tazilah Masa Awal 4) Mu’tazilah di era Modern 5) Mu’tazilah di Indonesia (melalui pemikir Harun Nasution dan Cak Nur). Ketimbang mengutuk dan mencemooh, justru lebih mulai mempelajari dan memahaminya dari riset atau karya langsung yang bersangkutan. Nyaris semua karya besar pemikir2 agung itu tersedia di internet melalui ebooks gratisan. Hampir semua ebook itu memuat keseluruhan halaman buku fisiknya, dari halaman judul hingga indeks dan daftar referensi. Dari daftar referensi, Anda bisa kembali menelusuri buku-buku lainnya dengan tema yang sejenis untuk memperkaya bacaan. Dan sekali lagi, bukan tidak mungkin buku-buku rujukan itu juga tersedia bebas dalam bentuk ebooks.

Siapa yang menyediakan ebooks ini? Semua bermula dari niat mulia, berbagi ilmu. Mungkin ada segeintir mereka yang bermaksud menyebarkan ideologi untuk dikenali seluruh dunia dengan buku-buku yang disebar. Tapi tentu saja kita mesti bijak menanggapi. Ilmu adalah bebas nilai, anda boleh menggunakan tidak saja untuk mendukung kepentingan anda, tapi juga bisa untuk menyerang kepentingan orang lain. Terserah Anda. Bahkan kitab suci pun kalau ditanggapi dengan sinis, bisa anda gunakan untuk menyerang siapa saja, termasuk Tuhan bukan?

Dari sekian situs penyedia ebook yang saya sering kunjungi maka ada tiga website ini yang paling lengkap menurut saya:

http://en.bookfi.org/

http://libgen.io/

http://www.gutenberg.org/

Sebenarnya ada masih banyak penyedia ebook dan artikel positif lainnya di dunia maya, termasuk yang temanya khusus. Website2 dengan orientasi keagamaan atau ideologi tertentu bisanya menyediakan semua bahan bacaan untuk mengenali pemikiran mereka. Itu tinggal diklik aja ke situs resmi mereka dan dari situ akan diarahkan ke arsip bacaan mereka.

Satu masalah etik yang mungkin jadi pertimbangan adalah soal pelanggaran hak cipta. Di hampir setiap buku yang diterbitkan ada disclaimer untuk tidak menyebarluaskan dan memperbanyak buku tersebut tanpa seizin penulis atau penerbit. Tentu saja ini dilema, apalagi sepertinya masih banyak buku tersebut tersedia dalam bentuk fisiknya. Ya, agar barokah lebih baik memang membeli buku fisiknya, sekira masih bisa didapatkan dengan mudah di toko buku atau toko online. Bukankah rasa membaca buku sambil membaui aroma kertas itu lebih nikmat dan eksotik ketimbang memelototi layar monitor desktop atau tablet?

Ayo, jadikan internet sebagai tempat Anda belajar menjadi cerdas!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.