…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Beriman Pada Media

Posted in agama, Random, Uncategorized by daengrusle on September 17, 2016
14344259_1204955849583588_4493759079424414387_n.jpg

this picture taken from Facebook or somewhere else, not mine.

Seorang kawan yang baik, yang saya kenal kebaikannya sejak belasan tahun, suatu kali menyatakan bahwa ia lebih mempercayai media non-mainstream daripada media yang sudah dikenal. Alasannya bahwa banyak fakta-fakta yang disampaikan media non-mainstream ini tidak diungkap oleh media besar. Sepintas saya menghargai sikapnya ini.

Namun, ketika menelusuri media non-mainstream mana yang dimaksud dengan melihat link-link yang biasa ia sampaikan di social media, saya tiba-tiba masygul. Kebanyakan adalah media yang menurut saya agak “abu-abu”, terutama karena dua hal; pertama, media itu tak menampilkan penanggungjawab redaksi perorangan secara jelas, kedua, kebanyakan berita atau artikel yang disampaikan oleh media itu nyata-nyata menyerang pihak atau tokoh pemerintahan tertentu, dengan dibumbui hal-hal yang dikaitkan dengan agama,ras,dan hal-hal primordial lainnya. Pun, berita yang disampaikan, dan dianggap fakta oleh kawan saya itu, sifatnya masih dugaan yang jauh dari konstruksi sebuah fakta. Selain tak dikutip dari narasumber yang akurat dan kompeten, juga lebih banyak hanya menyajikan sepihak, tanpa ada perimbangan opini dari pihak seberangnya.

Dan kawan baik saya ini ngotot menyatakan bahwa berita-berita semacam itulah fakta dan kebenaran yang coba ditutupi media mainstream. Dengan tambahan dugaan bahwa media mainstream itu sudah dikuasai (atau dibayar) oleh pihak yang tak disukainya. Sebagaimanapun kita berusaha membantunya dengan sajian informasi tabayyun/klarifikasi terhadap berita absurd itu, kawan saya tak akan mudah goyah dari keyakinan akan kebenaran media itu.

Saya seperti menemukan bentuk keimanan baru, sebagaimana agama atau kepercayaan. Kawan saya itu beriman pada media non-mainstream yang gemar dia kutip, dan di sisi yang berseberangan, dia menganggap media mainstream sudah kufur dalam pemberitaan sehingga tak layak masuk ke dalam konstruksi keimanan medianya. Kita yang memaparkan informasi berseberangan akan justru dianggap menyampaikan ketidakbenaran, meskipun hanya dalam rangka tabayyun.

Saya berpikir akan sia-sia rasanya berdiskusi dengan kawan seperti itu. Saya akan memilih abstain dan coba meninggalkan masalah itu. Toh, dia sudah punya keyakinan berbeda. Namanya juga keyakinan, bukan ketidak yakinan, tentu sulit sekali berubah atau bergeser. Dalam dunia psikologi, itu namanya WAHAM. Dalam istilah humor sufistik, mereka dianggap tersesat dalam keyakinannya.

Bibir

Posted in Uncategorized by daengrusle on August 30, 2016

[sebuah prosa]

home-remedies-for-lips.jpg

BIBIR. Kau tahu bagian apa di wajahmu yang tak akan menua? Kawan-kawanku mengatakan bahwa pikiran lah yang selalu muda, segar dan bisa melawan waktu. Tapi kakekku berkata selain itu. Katanya, bibir lah yang akan selalu legit menemanimu, bahkan di hari-hari senjamu. Rasa hangat yang dia raba pada setiap sentuhannya di tepi gelas yang kau minum, sedari bocah hingga tua akan selalu sama. Hangat. Juga rasa gigil yang memeluknya saat musim dingin atau ketika berada di ruang berpendingin maksimal akan terasa sama.

Aku ingat bagaimana ketika masih bocah dan kesadaran pertamaku muncul. Hari sudah menjelang sore di ruang tunggu sebuah klinik. Bibirku bergetar menahan dingin, meski kuingat ibuku sudah membungkusku dengan jaket tebal. Tapi udara dingin dari mesin pendingin itu seakan menembus jaket itu, hingga ke tulang. Dan menurut ibuku, bibirku membiru karenanya. Berbilang tahun sampai aku dewasa, bibirku tetap membiru seperti itu. Ingatanku tidak sesegar bibirku kurasa. Ingatan lekas runtuh, keropos seperti logam yang digerogoti karat. Jangan ditanya sudah berapa banyak memori yang menguap ketika aku menjejak ke umur 35, kemudian 40. Kadang-kadang aku mengutuk umur yang seperti pelari ini. Terlalu cepat dia sampai di garis senja.

Tapi bibirku tidak. Dua baris daging lembut empuk di wajahku itu seperti antitesis dari wajah dan rambutku. Ia masih kuat mengingat setiap detail benda yang pernah dikecupnya. Makanan, minuman, juga sentuhan lembut ke kulit teman, pacar, istri hingga anak-anakku. Punggung tangan, kening, pipi, lengan, leher atau bibir. Bibirku bisa meresapi berlama-lama ingatan itu, siapa dan apa saja yang pernah berjarak terlalu dekat darinya. Karena bibir selalu menolak menjadi masa lalu, sepertinya.

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Posted in Uncategorized by daengrusle on June 1, 2016

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Kemarin sore, di salah satu rest area saat balik dari Dubai menuju Abu Dhabi, saya tetirah sholat Ashar sambil meregangkan kaki. Seusai sholat seseorang yang saya kira berperawakan negeri gurun, atau mungkin dari asia selatan memperhatikan saya. Pakaiannya gamis panjang berwana coklat muda.

Meski juga memperhatikan gerak geriknya, saya berusaha tidak melakukan kontak mata. Sesaat kemudian dia menghampiri saya, tersenyum dan menyalami. Saya balas senyum dan menjawab salam sambil menjabat tangannya. Setelah menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris dan saya iyakan, matanya yang seakan penuh selidik mulai melontarkan pertanyaan yang langsung membuat saya ilfil, gak enak. “Apakah kamu menganut mazhab ini atau itu? Dahi saya berkerut dan menanya balik “Kenapa nanya itu?

Seingat saya selama hidup lima tahun di negeri gurun ini, pertanyaan semacam itu tak begitu umum, cenderung dihindari. Orang-orang tak begitu peduli dengan sesuatu yang sesungguhnya urusan pribadi Anda dengan Tuhan. Orang itu berkata bahwa ia memperhatikan cara sholat saya (dan mungkin membandingkan dengan tatacara sholat yang ia pahami). Saya memang sholat tak bersedekap, saya (memilih) untuk sholat dengan meluruskan tangan, juga melakukan qunut sebelum ruku di setiap rakaat kedua.

Dan mulailah ia menceramahi saya dengan hal-hal yang sesungguhnya tak begitu saya sukai. Di antara khotbah sore yang saya dapatkan gratis itu, saya ingat dia menganjurkan saya untuk “Banyak-banyaklah membaca buku. Carilah cara sholat sesuai protocol Rasulullah” Saya memilih diam, senyum dan mengangguk-anggukkan kepala saja selama khotbah itu. Untuk mengakhiri khotbah agar tak terlalu panjang, saya segera ulurkan tangan, mengguncangkan kepalan tangannya dengan sungguh-sungguh sambil menutup dengan doa untuk dia “Barokallahu fikum ya my brother”. Dia ikut tersenyum, puas dan kemudian berlalu.

==

Sedari dulu saya selalu gamang oleh pertanyaan yang kepo “apa standar kebenaran itu? Beberapa orang yang mengaku soleh dan solehah menyatakan “benar itu mesti sesuai Alquran dan Sunnah”. Tapi bukankah dua hal yang sedang kita bicarakan itu sepanjang 1500 tahun usianya sudah melahirkan banyak mazhab, belasan sub-mazhab, puluhan aliran teologis, ratusan aliran tasawuf, jutaan karya buku yang bisa saja saling mengkoreksi satu sama lain.

Semuanya merasa dirinya benar, karena mengambil patokan dari dua hal yang benar itu. Bahkan banyak juga menghasilkan sinkretisme antar agama (islam disatukan dgn hindu krn kesamaan prinsip — menjadi agama Sikh, islam menyatu dgn majusi menjadi Bahaism, dsb-nya — mohon dikoreksi kalau ini anggapan keliru).

Standar yang kita bicarakan itu menghasilkan begitu banyak cabang, sehingga apa pantas ya seseorang mendaku sebagai pemilik sah dan satu2nya yang benar. Mungkin orang itu memang bercita-cita melampaui Nabi, yang sejatinya seorang yang terbuka dan memberikan kesempatan kepada sahabat2nya untuk berlomba2 berbuat baik, bukan berlomba2 untuk merasa benar

Seorang Ayah Yang Berulang Tahun dan Anak Perempuannya Yang Beranjak Remaja

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 31, 2016

Seorang Ayah Yang Berulang Tahun dan Anak Perempuannya Yang Beranjak Remaja

dad-toddler-silloutte-on-beach.jpg

Silhouette of father and little daughter walking on sunset beach [fathers.com]

Cobalah bertanya pada seorang ayah yang berulangtahun hari ini, bagaimana ia menghitung panjang hidupnya. Kalau ia memiliki seorang anak perempuan, matanya akan berkaca-kaca sambil mengingat pelan-pelan bagaimana gadis kecil itu belajar berjalan, tertatih-tatih ditemani pandangan cemas ayahnya.

Punggung tangannya yang berkulit kasar dengan urat menyembul berwarna hijau menyusup ke tulang jemari rapuhnya akan bercerita banyak, bagaimana ia dengan gugup merentangkan tangan hendak menangkap si bocah berwajah bulat dan mata berbinar itu. Lima jemarinya akan merasakan tubuh gadis kecilnya yang empuk, hangat seakan-akan darahnya sendiri yang mengalir menjadi sungai di sekujur tubuh montok tapi ringkih itu.

Tanyalah berapa usia sang ayah, dan ia mungkin akan menghitung malam2nya yang penuh mimpi bahwa ia akan selalu hadir di saat2 penting anaknya kelak; ketika lulus sekolah, bekerja atau memulai usahanya sendiri, dan paling penting ketika menghantar si gadis periang itu ke pelaminan. Kalau perlu ia menyempatkan bermimpi agar suatu hari kelak bisa ikut menimang bayi yang secara ajaib lahir dari rahim gadis kecilnya itu.

Tanyalah ayah yang sedang berulangtahun itu, kepada matanya yang sembab ketika kau, si gadis kecil itu bertanya berapa besar sisa cintanya kepadamu.

[Abu Dhabi, 13Sept16]

Pantang

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 11, 2016

book2.jpg

Malam ini saya melirik tumpukan pakaian yang habis dicuci dan digosok di kamar saya. Juga beberapa lemari yang isinya berlembar-lembar pakaian milik saya dan anak-anak. Nyaris penuh. Tiba-tiba ingatan saya terlempar kepada seorang kawan lama di Bandung dulu, 20 tahun yang lalu.

Kawan saya itu merasa pantang memiliki pakaian lebih dari yang dia butuhkan. “Saya takut berdosa, memiliki sesuatu yang tidak saya butuhkan” begitu alasannya. Ketika ia kuliah, ia hanya memiliki tidak lebih dari tiga pasang pakaian. Jadilah ia hanya memakai pakaian itu-itu saja. Tapi ia tak malu, malah kelihatan bangga dengan segala kesederhanaan itu.

Saya yakin sebetulnya ia punya uang dan mampu membeli berlembar-lembar baju atau celana. Di rumah kontrakannya yang ia sewa sekian juta setahun, ia menampung kawan-kawannya yang kesulitan menyewa kost-kostan. Jadilah rumah kontrakannya menjadi semacam penampungan mahasiswa. Semua kawan-kawannya boleh menempati kamar yang tersedia, kecuali kamar paling atas yang paling kecil dari semua kamar yang ada. Di situlah ia tinggal, berhadapan langsung dengan ruang terbuka tempat menjemur pakaian sehabis dicuci. Di kamar kecilnya itu, lebih tepat disebut kamar loteng, ia tidak punya banyak barang kecuali satu rak buku dan lemari plastik kecil. Bukunya pun tak banyak, meski saya tahu ia seorang pembaca yang lahap. Saya membayangkan ia memperlakukan buku sebagaimana pakaiannya, seterbatas mungkin. Selesai membaca, semua bukunya akan ia hibahkan ke teman-temannya yang tertarik. (more…)

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Semesta Kobokan

Posted in percikrenungan, Renungan by daengrusle on February 21, 2016

semesta-kobokan

[tulisan ini juga dimuat di web Riverpost]

Saya selalu membayangkan Ibu ketika membasuh tangan di dalam kobokan. Ia seperti ibu, yang selalu mengingatkan bahwa pikiran harus sering-sering dibersihkan.

Di masa kanak-kanak, saat yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika makan malam bersama di rumah. Selain menikmati masakan ibu yang selalu sedap di lidah, saya selalu bersemangat memerhatikan bagaimana kobokan berpindah dan berubah warna sedemikian rupa. Bagi keluarga kami yang penutur bahasa Bugis, kobokan dinamai akkenynyong; oleh orang Makassar ia disebut cimbokang, atau kimbokang.

Kami menyantap makanan dengan menggunakan tangan. Sendok hanya dipakai untuk mencedok sayuran dan nasi. Garpu tak ada, karena memang tak pernah kami gunakan. Dengan menggunakan tangan saja, sendok dan garpu tak akan punya peranan sama sekali di atas piring kami. Di meja makan, hal pertama yang menjadi perhatian kami semua adalah kobokan, wadah air yang berbentuk mangkok kecil dari bahan gelas atau besi yang cukup memuat satu kepalan tangan. Kami tak akan bisa memulai santap bersama kecuali kobokan sudah tersedia, untuk membersihkan tangan sebelum menyentuh makanan. Air bening yang mengisi kobokan ini diambil dari bak penampungan di dapur atau kamar mandi. Pada saat itu, meski kami berlangganan air bersih yang mengalir melalui keran, tapi aliran air hanya bisa dinikmati pada saat-saat tertentu saja dan biasanya tengah malam. Dan karenanya, kobokan menjadi satu-satunya alat bantu bagi kami untuk membersihkan tangan sebelum makan dengan lahap.

(more…)

Tagged with: , ,

Bugis dan Lima Gender

Posted in Renungan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on February 18, 2016

Kami di suku bugis mengenal lima jenis seksualitas manusia; lelaki, perempuan, bissu, calalai dan calabai. Mereka lahir semua dari rahim budaya setua usia peradaban suku bugis, sejak masa tomanurung – yang dipercaya sebagai manusia pertama yang diturunkan ke bumi. Tapi apakah lantas manusia bugis turut serta melakukan pelecehan terhadap jenis2 yang tak mainstream itu? Tidak. Kami justru menghargai mereka sebagai bagian utuh dari masyarakat bugis. Di setiap perayaan ritual kemasyarakatan tertentu, keterlibatan mereka dihargai dan dipandang sebagai kewajaran.

Apakah ada ketakutan dari masyarakat jenis lelaki atau perempuan bahwa suatu saat akan menjelma seperti mereka yg berbeda itu? Menularkah, dijadikan sampah masyarakatkah? Tidak sama sekali. Berbeda tak mesti kemudian menjadi dilecehkan atau dihina sedemikian rupa. Kemanusiaan mu berpijak pada keadilanmu. Kemuliaanmu bertaut pada perilakumu ke sesama, bukan pada motif seksualitasmu.

Tulisan cerdas dari Andi Saiful Haq ini memberikan pandangan tentang relasi Gender di budaya suku Bugis. Sila disimak. (isi tulisan dicopy dari link di Qureta : Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT)

==

Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT

Saya lebih dulu menjelaskan identitas saya, bukan karena takut dicap Homophobia atau dicap salah satu dari kelompok LGBT. Saya hanya menjelaskan posisi gender saya dan cara pandang saya, agar tulisan ini bisa sampai pada maksud dan tujuan penulisannya. 

Saya berdarah Bugis, meski bagi saya Andi hanyalah sebuah nama, namun gelar Andi di depan nama saya menunjukkan strata sosial keluarga saya dalam sistem sosial masyarakat Bugis-Makassar. Andi betul adalah gelar yang digunakan Belanda untuk mempermudah sistem administrasi mereka.

Karena kemalasan mereka merinci, kekayaan istilah dan penyebutan dalam sistem sosial, mereka menggunakan Andi sebagai gelar generik dalam sistem administrasi mereka. Orientasi seksual saya Hetero, sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Oke, jelas yah? Oh iya, saya tidak menikah hanya untuk kamuflase murahan, atau hanya sekedar untuk menipu orang tua dan tetangga saya tentang kesejatian menjadi laki-laki dan perempuan. Sekarang, mari kita mengunjungi Ibu Haji Usman.

Ibu Haji Usman di Mata Orang Bugis

Namanya Haji Usman, dia sudah menunaikan ibadah Haji, setiap hari bekerja sebagai Indo’ Botting, profesi yang jika diterjemahkan secara sembarangan adalah Event Organizer atau Sewa Menyewa Pakaian Pengantin.

Namun makna Indo’ Botting jauh lebih dalam dari sekedar itu. Indo’ Botting punya peran sakral dalam pernikahan Orang Bugis. Tidak terlepas orang Bugis tersebut sudah memeluk agama Islam atau agama lain, ada adat yang tidak bisa mereka lepaskan. Boleh Pak Imam menikahkan, boleh juga Catatan Sipil meregistrasi pernikahan, tapi tanpa Indo’ Botting pernikahan pasangan Bugis Makassar tidak akan dianggap sah.

(more…)

Tagged with: , , ,

Beroanging

Posted in Kenangan by daengrusle on January 31, 2016

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari jejeran tiga Sekolah Dasar di seberang pompa bensin itu, dua di antaranya diberi nama Beroanging; SDN Beroanging dan SDN Bertingkat Beroanging, merujuk ke bentuk gedung sekolahnya. Dua Beroanging ini cukup populer, karena punya taman bermain yang bersih dan luas. Selain itu, di belakangnya ada kompleks perumahan TNI AL yang memiliki danau buatan yang luas hingga ke jalan Kandea. Di salah satu sudut danau itu, berdiri sebuah menara pengintai dengan tiga lantai menjulang ke atas. Di dasar menara itu,  ada satu ruangan gelap yang bisa diintip dari lubang di atasnya. Konon menurut teman-teman yang sering berenang di danau itu, ruangan gelap itu sesungguhnya adalah terowongan yang dibuat penjajah Jepang di zaman dulu. Terowongan itu konon tembus hingga ke pangkalan Angkatan Laut di Satando yang berjarak kira-kira 5 kilometer dari tempat itu, dan menjadi jalur pelarian tentara Jepang saat kalah perang.  Cerita itu selalu diulang-ulang dan dipercaya sebagai kebenaran, meski tak ada yang berani membuktikan adanya terowongan rahasia itu. Mungkin karena cerita itu ditambahi lagi bahwa di dalam terowongan hidup banyak ular yang siap mematok kepala kecil kami.

 

Orangtua saya memasukkan saya ke sekolah yang bukan Beroanging, SD Negeri Pannampu. Tidak ada alasan pasti, namun hampir semua anak-anak tetangga saya juga disekolahkan di SD itu. Jadilah SD Pannampu menambah identitas baru di perumahan pasar tempat saya tinggal; bukan anak pasar kalau tak bersekolah di Pannampu juga. Jadi kalau anak-anak di kampung tetangga menyebut “anak Pannampu”, itu bisa berarti dua hal; anak-anak yang tinggal di pasar Pannampu dan juga bersekolah di SD Pannampu. Hingga bertahun-tahun lamanya, anak-anak Pannampu sering menjadi korban kekerasan dari anak-anak kampung sekitar. Alasannya bukan karena kami yang beramai-ramai sekolah di Pannampu juga, tetapi karena entitas tambahan kami sebagai perkampungan anak-anak suku bugis.

 

Di Makassar, meski merupakan kota yang majemuk dengan latar belakang sukunya, namun yang dianggap sebagai penduduk lokal tentu yang bersuku Makassar. Kami anak-anak Pannampu saat itu masih fasih bertutur dalam bahasa Bugis, meski untuk pergaulan sehari-hari sudah menggunakan bahasa Indonesia logat Makassar. Anak-anak kampung sekitar yang bersuku Makassar dan lebih banyak bercakap dalam Bahasa Makassar itu sungguh menjadikan kami, anak-anak Pannampu sebagai jajahan yang empuk. Beberapa saat kami tak pernah melawan, meski kami sepantaran saja tingginya. Yang membuat kami kadang bergidik adalah anak-anak Makassar itu sering membawa badik, atau menunjuk-nunjukkan bagian baju di batas perut dan celananya sebagai isyarat bahwa mereka membawa senjata tajam kecil itu. Kami tentu saja mudah percaya, di bawah bayang-bayang ketakutan terutama karena cerita-cerita penikaman yang masih lazim terjadi saat itu. Badik seumpama hantu yang sangat menakutkan.

 

Di masa itu, kami memang jarang melihat badik. Orang tua kami yang hanya pedagang bersuku Bugis umumnya tak pernah punya cerita kekerasan. Mereka lebih suka membicarakan soal dagang dan perempuan. Ya, selain pandai berdagang, mereka juga punya pandai dalam urusan memperbanyak isteri. Apalagi jangkauan wilayah dagang mereka bisa melewati batas kota dan propinsi, dan bisa berlama-lama tinggal di sana. Rumor bahwa para pedagang itu memiliki anak dan istri banyak kadang di kemudian hari menjadi cerita yang bukan isapan jempol belaka. Kami kadang-kadang tak lagi pusing mencari tahu apakah itu benar atau tidak, dan menunggu saja saat semuanya terungkap beberapa tahun kemudian. Itu juga ketakutan yang menyusup masuk ke keluarga kami, terutama bagi para ibu atau anak-anak perempuan yang umumnya tak begitu rela sekira itu benar terjadi.

 

Namun ada satu hal lain yang sering menjilati rasa ketakutan kami ketika tinggal di Pannampu itu. Di belakang kompleks perumahan kami itu, ada terbentang luas kawasan pekuburan Beroanging. Kami jarang bermain di sana, terutama karena sudah dihinggapi rasa takut duluan tentang mitos-mitos kuburan Beroanging. Konon pada malam-malam tertentu para penghuni kuburan Beroanging ini bisa bangkit dan menakut-nakuti anak-anak. Terutama bagi yang suka mengarahkan jari telunjuknya ke kawasan itu. Selain akan dihinggapi mimpi buruk, jari telunjuk kami akan tertekuk selamanya. Semacam orang yang dijangkiti penyakit kulit yang jemarinya tak lagi bisa lurus. Itulah sebab kami tak banyak menyentuh wilayah horror itu, belum lagi begitu banyak aturan tak tertulis yang harus kami patuhi saat melintasi pekuburan itu. Semisal mesti membawa sesuatu, terkadang batu atau sampah plastic yang kami temui di bibir pekuburan, untuk digenggam selama melintas. Batu atau apapun dalam genggaman itu baru bisa dibuang kembali sekira kita berada di sisi luar pekuburan itu kembali. Entah apa maknanya, yang jelas kami dibayangi tulah yang buruk kalau melanggar pantangan itu. Di pekuburan itu, kami juga sering diceritai, terbaring jenasah korban tenggelamnya kapal Tampomas di tahun 1980an. Kami pernah melihat ada deretan kuburan yang berada dalam satu bidang yang sama. Kata teman-teman, mereka adalah satu keluarga yang naas menjadi korban saat peristiwa itu terjadi. Cerita lainnya tentu tentang Setan Sumiati, yang baru-baru ini filemnya dirilis di Makassar. Satu cerita hingga di benak kecil kami saat itu, bahwa salah satu kuburan di Beroanging adalah milik Sumiati, setan yang paling populer di Makassar. Meski kami juga sering mendengar bahwa Sumiati berkubur di salah satu sudut Karebosi, namun buat kami setan bisa berkubur di banyak tempat, termasuk juga Beroanging. Toh, kami pikir wajar-wajar saja Setan yang suka menghantui anak-anak itu punya kuburan di mana saja. Namanya juga Setan.

 

Abu Dhabi, 31 Januari 2016.

Tagged with: , ,

Pipit

Posted in cerita, Review by daengrusle on January 29, 2016

Barangkalai kalau tak membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohammad di Tempo tentang Ben Anderson, saya akan terlambat mengenal nama Pipit Rochijat. Yang menarik, GM menggambarkan Pipit sebagai “berandal dalam pikiran, suka meledek, menulis dengan bahasa Indonesia yang eksentrik”. Pipit adalah aktifis Indonesia yang sempat dicabut paspornya oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1987. Pipit bukan komunis, malah dulu punya sejarah sebagai aktifis anti-komunis, bergabung dalam Gerakan Siswan Nasinoalis Indonesia, underbow PNI tahun 1960an. Pasalnya, ayahanda Pipit yang jadi Direktur Pabrik Gula di Ngadirejo sejak 1959, Kediri sempat mengalami penentangan, bahkan diancam jiwanya saat menghadapi organisasi buruh yang digerakkan oleh yang berhaluan komunis.

Setelah itu, mata Pipit seperti menjadi alat perekam sejarah. Dari mengalami permusuhan dengan kaum komunis, kemudian menyaksikan bagaimana orang-orang yang dituduh komunis menjadi korban pembantaian di kampungnya. Selepas peristiwa kelam 1965 itu, ia menjadi mahasiswa ITB dan lagi-lagi saksi sejarah bagaimana Rene Congrad ditembak oleh oknum siswa Akpol tahun 1970 di kampus ITB. Dia menceritakan memoarnya dalam tulisan beberapa halaman berjudul “Saya PKI atau Bukan PKI?” yang terbit di Majalah GotongRoyong milik PPI Jerman Barat tahun 1983. Karena tulisan inilah, yang isinya banyak mengecam Orde Baru, membuat nasib kewarganegaraannya sempat terlunta-lunta.

Sepertinya nasib Pipit dijaring oleh sesuatu yang bernama stereotyp. Oleh kaum komunis, keluarganya dimasukkan ke dalam kelompok “7 Setan Desa” dan wajib dienyahkan. Konon, ia bercerita, sekira peristiwa G 30 S tak meletus, keluarganya mungkin sudah dikubur hidup-hidup oleh buruh komunis. Selepas bahu membahu bersama tentara, kelompok agama, dan Front Marhaen, memberantas komunis di desanya, ia yang nasionalis malah mulai mengalami tekanan dari tentara karena aktifitasnya, juga ideologinya yang sangat memuja Bung Karno. Semua tahu, Orde Baru tak begitu nyaman merawat ajaran Bung Karno, apalagi mengagungkannya. Dia dicap sosialis, yang ujung-ujungnya kemudian dianggap komunis. Katanya, kaum komunis sering disalahartikan sebagai kaum tak beragama. Padahal soal beragama atau tidak, tak bisa disimpulkan hanya memandang afiliasi politiknya. Saya sepakat. Stereotyp atau sikap gebyah uyah menyamaratakan segala sesuatu, hanya karena pembacaan singkat yang premature sangat berbahaya.

Abu Dhabi, 29 Januari 2016

Tagged with: