…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pakappala Tallang

Posted in Indonesia, Random by daengrusle on March 28, 2019

Ketika masih kuliah dulu, saya sering mudik ke Makassar menumpang kapal Pelni. Kadang berangkat dari Perak Surabaya, atau Priok Jakarta. Sehari sebelum tiba di tujuan, biasanya kapal akan melewati perairan Masalembo.

Di perairan itu, kapal akan melambat sejenak kemudian membunyikan klason 3 kali keras-keras. Itu sebagai tanda penghormatan nahkoda terhadap kapal Tampomas II beserta korban-korbannya.

Saya sering teringat cerita tentang Kapten Abdul Rivai, nahkoda pemberani. Ia menjadi kapten kapal Tampomas II ketika karam di perairan Masalembo tahun 1981. Ketika KM Sangihe datang hendak mengevakuasi penumpang, ia menolak untuk ikut menyelamatkan diri.

“Saya akan tetap berada di kapal ini hingga detik terakhir” pesannya kepada awak kapal sebelum mereka menyeberang ke kapal tersebut.

Di hari berikutnya, mayat kapten pemberani itu ditemukan oleh KM Sonne, kapal bantuan yang dikirimkan untuk menyisir korban Tampomas. Peristiwa tragis ini sempat dijadikan lagu oleh Iwan Fals.

Para Nahkoda konon memang dilahirkan untuk selalu menjadi paling pemberani. Begitu yang sering kita dengar.

**

Jelang pemilu 1997, Soeharto pernah gusar dengan tiga kekuatan sosial politik yang dianggap bakal menggerus kekuatan Orde Baru. Para mahasiswa jaman itu mungkin masih ingat tiga organisasi yang dipecah-pecah ini; PDI, NU dan HKBP.

PDI dipecah dua menjadi PDI Suryadi dan PDI Mega. Sejak memenangi kongres luar biasa tahun 1993 di Surabaya, Megawati menjadi sosok alternative yang dielu-elukan. Soeharto jelas tak senang. Dengan segala cara ia berusaha mengeliminasi Megawati dari panggung politik.

Tahun 1996, Orba membuat kongres tandingan dan memunculkan Soeryadi. Megawati terdongkel namun pendukungnya tetap menguasai markas partai di Diponegoro Jakarta. Setahun kemudian, tetap di 27 Juli 1997, terjadi penyerangan ke markas PDI tersebut dan melahirkan persitiwa “Kuda Tuli”. Banyak korban yang jatuh, tapi dikaburkan oleh pemerintah.

Akibat tekanan penguasa, banyak teman-teman seperjuangan Megawati meninggalkan dirinya. Sebagian menyeberang ke parpol lain, seperti fenomena kelompok “Mega Bintang” yang mendukung PPP di pemilu 1997. Mega tetap bertahan dengan sedikit loyalisnya, melahirkan Partai PDI-Perjuangan yang tak diakui oleh pemerintah.

NU sempat digoyang oleh Orba ketika Gus Dur, Allahuyarham, mengajukan diri lagi sebagai Ketua PBNU untuk jabatan ke-3 di muktamar tahun 1992. Pembangkangannya terhadap Orba dimulai ketika mendirikan Forum Demokrasi dan bersama Megawati, menjadi kelompok oposisi yang diperhitungkan Orba.

HKBP juga demikian. Kisah pecah belah terjadi saat kelompok Kristen Batak ini semakin menguat, dan tentu saja penguasa status quo bergidik kalau melihat ada organisasi non-pemerintah yang tak bisa mereka kendalikan.

**

Tiga kelompok ini, pernah ditinggalkan beramai-ramai. Para pendukungnya beralih ke sudut lain yang lebih aman, menjanjikan kesejahteraan atau apapun yang lebih nyaman.

Dalam situasi seperti ini, organisasi itu biasa disebut sebagai “Sinking Ship” — kapal karam. Kalau kapal hendak karam, para penumpang beserta awak kapal akan ramai-ramai meninggalkan kapal tersebut. Dipikirnya buat apa bertahan di atas kapal yang pasti tenggelam. Naluri bertahan hidup itu biasa.

Dalam politik, persitiwa sinking ship ini juga sering terjadi. Mereka yang punya loyalitas tipis pada ideologi kadang mudah saja lompat kapal ke organisasi lain. Apalagi kalau merasa tak puas atau tak dapat jabatan di organisasi lama. Kadang gelombang eksodus ini dibuat massif terutama kalau mendapat ancaman atau iming-iming dari kekuatan yang lebih menjanjikan. Seperti kasus PDI, NU dan HKBP itu.

Tapi peristiwa ini juga menghamparkan hal positif, bahwa yang tersisa nantinya hanyalah kader atau pendukung yang benar-benar murni. Mereka tetap berada di kapal yang hendak karam, atau di-karam-kan karena semata naluri kebenaran yang mereka pegang teguh. Kapten Kapal Tampomas II, Abdul Rivai adalah contoh paling sempurna untuk ini.

Orang-orang tersisa, yang masih punyya integritas bakal tak mudah beralih ke gerbong keramaian “bandwagon” yang kadang hanya menjanjikan ilusi keselamatan semu. Politik adalah soal kepentingan, bukan soal kebenaran.

Di masa riuh pasar politik, hal ini mudah terlihat. Lihatlah siapa yang ramai-ramai bergabung ke “bandwagon”, garbong besar yang dianggap kuat pada detik-detik terakhir. Mereka juga mungkin yang bakal pertama melompat meninggalkan sinking ship kalau turbulensi politik tiba-tiba menghunjam.

Kami di Makassar, punya julukan pas untuk kaum oportunis itu; Pakappala Tallang.

Advertisements
Tagged with: ,

Relusi

Posted in My Self-writing, percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on March 13, 2019

delusions-788.jpg

(Foto ilustrasi dari sini)

Ini menyedihkan. Seorang Ibu meledakkan diri di rumahnya semalam (13-03-2019) di Sibolga. Di dalam rumah yang malang itu, sang ibu tinggal bersama dua anaknya yang masih kecil. Kabar terakhir menyebutkan bahwa mereka tewas dalam ledakan itu.

Sang suami, yang menurut berita disebut bernama Husain atau Abu Hamzah, sudah lebih dulu ditangkap aparat. Konon, penangkapan ini karena ada dugaan aklsi terorisme yang dilakukan oleh mereka.

Seusai penangkapan Abu Hamzah yang diduga jaringan kelompok radikal bersenjata, aparat kepolisian berupaya menggeledah rumah Abu Hamzah. Namun ada benda diduga bom meledak saat polisi hendak masuk ke rumah. Sang Ibu yang ada di dalam rumah belum menyerah.

Semalam, ledakan berikutnya terdengar dari dalam rumah. Kabarnya sang ibu meledakkan diri. Dari polisi kita mendengar kabar duka bahwa ibu dan anak-anaknya tewas seketika. (more…)

Tambora

Posted in Indonesia, Nasional by daengrusle on March 12, 2019

Mount_Tambora_Volcano,_Sumbawa_Island,_Indonesia.jpg

(foto dari Wikipedia, Kaldera Gunung Tambora)

1815. Salah satu suku asli nusantara, berikut bahasa tuturnya, Tambora, hilang dan punah disapu letusan gunung Tambora. Bersama suku Tambora, konon ada sekitar 50ribu hingga 117ribu jiwa korban kematian akibat murka gunung setinggi 2850mtr ini.

Efek letusan Tambora ini menjangkau pula benua Eropa, dikenal dengan masa “a year without summer” – karena efek erupsinya, langit eropa sepanjang tahun 1816 tertutup awan pekat dari letusan gunung api ini. Konon, tak ada sinaran cahaya matahari setahun itu. Gelap dan buram saja. Seperti suasana sosmed jelang pilpres.

Bahasa Tambora, bahasaa yang sudah punah itu, ternyata dimasukkan ke dalam rumpun Bahasa Papua.

==

Papua, pulau besar yang terbelah ke dalam dua negara ini dianggap sebagai kawasan yang paling kaya akan ragam bahasa. Penduduk asli pulau ini berlimpah kekayaan bahasa dengan 800 variasi bahasa yang tersebar dari kepala burung dan Halmahera hingga ke teluk Milne di ekor Papua Nugini. Terkadang masing-masing tidak memiliki keterkaitan akar kata satu dengan lainnya. Belum lagi beberapa bahasa unik yang tak bisa dikelompokkan ke dalam Bahasa Papua karena perbedaan yang sangat tajam. Menurut ahli Bahasa, sebaran bahasa Papua ini berbeda dengan puak bahasa Melanesia di pasifik atau bahasa-bahasa Austronesia yang dituturkan penduduk Asia tenggara.

Dengan penutur yang diperkirakan berjumlah 4 juta jiwa, kelompok bahasa-bahasa Papua juga mencapai Sumbawa dan Timor Timur. Salah satu variasi bahasa Papua di Sumbawa, yakni bahasa Tambora sudah punah sejak 1815 karena penutur-penuturnya tewas disapu letusan dahsyat gunung Tambora. Tambora ini juga dikenal sebagai titik paling barat sebaran bahasa-bahasa Papua. Keberadaan kosa kata bahasa Tambora sempat dibukukan tahun 1817 oleh Raffless, sang Gubernur Jendral Inggris di Indonesia yang memang gemar menulis etnografi nusantara saat memerintah. Beberapa bahasa yang dipakai penduduk Timor Timur juga diidentifikasi sebagai bagian dari keluarga bahasa-bahasa Papua semisal Fataluku dan Makasae yang jamak dituturkan oleh penduduk Timor bagian timur.

Dari 800-an varian Bahasa Papua, hanya ada sekitar 10 bahasa yang dituturkan secara luas oleh lebih dari 20ribu jiwa. Bahasa-bahasa dominan ini diantaranya; Dani (180ribu penutur), Ekari (100ribu) di Papua Indonesia, kemudian ada Enga, Huli, Melpa dituturkan di Papua Nugini. Selain di pulau Papua, ada juga Makasae dan Fataluku yang dijadikan bahasa sehari-hari orang Timor Timur, juga ada Galela di Halmahera Maluku.

Untungnya, tak ada di antara Bahasa Papua itu yang punah selain Bahasa Tambora yang disapu letusan gunung tahun 1815. Meski ada juga beberapa bahasa-bahasa Papua yang digolongkan terancam punah, namun upaya peletarian bahasa-bahasa lokal ini diupayakan terus menerus melalui berbagai penelitian dan pengembangan yang melibatkan organisasi internasional. Menurut catatan UNESCO yang diterbitkan tahun 2010, ada 88 jenis bahasa Papua yang terancam punah yang sedang diupayakan pelestariannya.

==

TAHUN 2050, diperkirakan 90% dari bahasa yang ada di dunia saat ini – sekitar 7000 bahasa, akan punah. Artinya ada 6000-an bahasa yang kehilangan penuturnya. Kebanyakan bahasa ini punah karena terjajah dan tergantikan oleh bahasa yang lebih jamak dipakai oleh orang-orang sekitarnya. Salah satu contoh yang paling sering dibicarakan oleh para ahli bahasa adalah bahasa2 asli Amerika. Sebagian besar bahasa tempatanyang dituturkan oleh suku Indian ini punah karena terdesak oleh penggunaaan bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Belanda sebagai akibat langsung dari proses kolonialisasi. Kalau tak punah, bahasa itu tercemari oleh kosa kata baru dari bahasa pendatang.

Bahasa melayu juga demikian. Saya kadang mengalami kesulitan memahami kosa kata dari teman yang bertutur melayu Malaysia. Kalau tak bertanya, mungkin tak akan paham maksudnya. Sebahagian kata-kata yang tak dimengerti itu rupanya adalah kosa kata yang tergerus atau berubah karena sentuhan bahasa asing itu.

Suatu saat bahasa Bugis, Jawa, Sunda, Batak mungkin akan ikut punah atau tercemari oleh kosa kata yang merengsek masuk dari luar. Itu seperti keniscayaan zaman, apalagi serbuan pengaruh media semakin beringas di zaman kini. Meski bahasa berangsur-angsur punah, atau berubah, namun cara manusia berkomunikasi selalu akan menemukan bentuknya. Selamat BERBAHASA.

Tagged with:

Istanbul dan Museum Khilafah

Posted in Indonesia, jalan-jalan by daengrusle on March 12, 2019
IMG_20190220_201310_493.jpg

Di ISTANBUL, saya jarang menemukan foto atau gambar Erdogan di jalan2 atau ruang publik. Yang justru banyak adalah bendera Turki bergambar bulan sabit putih dengan bintang di atas kain merah. Ada di mana2.

Saya kira nasionalisme orang2 Turki sangat besar. Mereka bangga akan negerinya. Di setiap toko atau rumah, mereka memajang bendera nasionlnya, Republik Turki. Khilafah? Itu hanya ada di museum kayaknya. Meski begitu, di sini polisi banyak sekali berjaga2 dengan persenjataan lengkap di semua tempat. Mungkin mewaspadai amuk negeri tetangga menular ke kota ini.

Negeri sekuler ini seperti terbiasa dengan demokrasi, pemimpin bisa datang dan pergi. Tak seperti di negeri2 arab gurun dimana anda bisa tak jemu memandangi foto2 besar pemimpin atau raja mereka dipajang di semua sudut kota.

Walau kesan sekuler sangat kentara, tapi mesjid juga ramai. Setiap waktu sholat tiba, suara azan berkumandang ke mana2. Mereka juga selalu tersenyum bahagia kalau bertemu wajah2 melayu seperti saya sambil menyapa hangat, “Mosoleman? Yang saya jawab dengan mengangguk sambil tersenyum.

Orang2 di sini baik2, bersahabat meski tak begitu banyak tersenyum. Sayangnya mereka umumnya tak bisa berbahasa Inggris kecuali sedikit saja. Kadang bahasa isyarat diperlukan utk bertransaksi. Harga-harga barang yang mereka jajakan cenderung lebih murah dari Dubai, dan jarang ada kesan menipu atau memanfaatkan turis. Semua sesuai harga normal.

Yang paling mengagumkan adalah bagaimana mereka merawat semua artefak peradaban berbentuk bangunan2, kastil, mesjid, gereja2 tua. Bangunan2 kuno ini sebagian besar masih berdiri kokoh, menjadi tujuan wisata historis yang menyenangkan. Kota pelabuhan tua ini bersih dan rapi, dengan jalan2 yang kecil berkelok2 mendaki dan menurun. Mengingatkan saya akan kota Balikpapan atau Pare-pare.

Transportasi publik mudah dan murah sekali. Anda bisa berwisata dengan sehemat mungkin memanfaatkan tram, metro atau bus kota. Taxi juga banyak, tak begitu mahal juga tarifnya. Ada juga jenis angkot di sini, cepat dan murah. Tinggal pilih. Orang2 lokal akan sangat senang menunjukkan jalan ke arah tempat yg dituju, meski mgk kesulitan mengungkapkan dalam bahasa Inggris.

Tempat wisata yang wajib dikunjungi di awal kunjungan bagi pemula seperti saya ada tiga: SultanAhmet Square Istanbul (Blue Mosque, Hagia sofia dan Topkafi Palace), Taksim Square dan Bursa di luar kota Istanbul.

Bursa, kota kecil pegununan yang pernah jadi ibukota Ottoman sebelum dipindahkan ke Konstantinopel/Istanbul ini punya wisata salju yang keren. Untuk ke Bursa, saya memilih naik ferry menyeberangi Boshporus selama 2 jam, kemudian lanjut dengan bis kecil menuju Uludag yang memiliki puncak bersalju. Tak begitu dingin di musim semi ini.

Turki adalah negara yang mewarisi banyak peradaban besar sejak ribuan tahun lalu; Byzantium, Ottoman, dan kini Republik Sekuler Turki. Di sini, kekhalifaan hanya jadi artefak sejarah, menjadi museum yang mengundang jutaan turis. Saya pribadi tak yakin masyarakat Turki menginginkan kembali ke jaman jadul itu.

Di hampir setiap restoran2nya anda bisa meminta minuman beralkohol dengan harga terjangkau.

Perempuan2nya juga tak begitu banyak yang berhijab. Saya melihat kebanyakan yang berhijab adalah wisatawan asal Arab dan Melayu. Selain itu, anda bisa menikmati kecantikan Eurasia di paras perempuan2 Turki.

Tagged with: , , , , ,

Sepakbola Indonesia: Pembinaan Setengah Hati

Posted in Indonesia, Nasional, Uncategorized by daengrusle on March 10, 2019

tulisan lama, pertamakali muat di blog di tahun 2008

++

Syaifullah Daeng Gassing, seorang profesional muda yang juga pencinta fanatik olahraga sepakbola, mengungkapkan keperihannya tentang kisah muram sepakbola Indonesia dalam tulisan di blognya http://daenggassing.com. Penggemar MU itu menumpahkan kekecewaannya dengan merapalkan kalimat dukacita akan kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Sea Games 2007. Syaifullah menulis postingan yang diberi tajuk “Sepakbola kita yang telah mati”, “Saya dan mungkin teman-teman yang lain juga hanya bisa berteriak kesal, mengumpat dan mencaci maki. Kita mungkin tak punya cukup kuasa untuk memperbaiki sepakbola kita yang kusutnya jauh lebih kusut dari kusutnya benang manapun di dunia ini. Kita sama sekali sudah bingung harus memulai dari mana. Semua seperti tak berujung dan tak berpangkal. Kita berada dalam sebuah labirin yang terus saja menubrukkan kita pada dinding-dinding masalah tanpa pernah melihat titik terang yang sesungguhnya.”

Tidak ada yang lebih sia-sia selain kemunduran. Kemunduran berarti menafikkan semua harapan, potensi, sumberdaya dan kesempatan yang telah diberikan. Semua pihak akan kecewa, terutama karena kemunduran mengandung arti bahwa keadaan saat ini lebih buruk dari sebelumnya. Dari kacamata etis, ada unsur korupsi waktu dan kesempatan. Mundur jauh lebih buruk dari pada gagal, walaupun sama mengecewakan. Tapi kita bisa banyak belajar dan bangkit maju setelah gagal. Sementara, mundur adalah kebodohan yang diulangi dari kegagalan demi kegagalan, berulang-ulang tanpa ada gerak positif ke depan. Tidak ada proses belajar dan kebangkitan dalam suatu kemunduran. Tidak ada introspeksi, tidak ada etos. Malu, sekiranya masih punya rasa ini, dan kecewa sudah pasti.

Kemunduran Prestasi Sepakbola Indonesia
Membicarakan kemunduran, adalah membicarakan prestasi. Contoh paling baik yang merepresentasikan makna sebuah kemunduran adalah prestasi sepakbola Indonesia. Indonesia pernah menjajal ajang Piala Dunia di Prancis tahun 1938 yang saat itu bernama Hindia-Belanda, dan tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke putaran final Piala Dunia. Namun setelahnya, tidak pernah sekalipun masuk lagi. Bahkan berita terkini tentang keikutsertaan Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2010 yang sama kita ingin segera melupakannya karena malu; langkah tim nasional Indonesia terhenti di ronde kedua usai tersingkir secara memalukan di tangan Suriah dengan agregat 11-1. Dalam pertandingan leg kedua, Suriah menang dengan skor mencolok 7-0. Negara Arab – Suriah yang tradisi perangnya masih lebih kondang daripada sepakbola nya membuat tim Indonesia seperti tim kampungan.

Terakhir tim kita juga kehabisan napas di ajang regional, SEA Games 2007 di Thailand. Kalah bersaing dengan Myanmar dan Thailand. Dan sang pelatih; Ivan Kolev pun pasrah, mengaku siap dipecat sembari menyalahkan persiapan yang hanya sedikit. Walau kita sama tahu bahwa untuk ‘persiapan’ ini si Kolev sudah menghabiskan miliaran duit negara untuk beranjangsana ke negara kampiun bola, Argentina. Hasil pelesir ke negeri Maradona itu kemudian terbukti cuman pepesan kosong saja atawa cekak prestasi; melawan tim sekelas Kamboja hanya bisa menang tipis, 3-1, bermain kaca mata 0-0 melawan Burma, dan keok (lagi) di tangan Tim Gajah Putih, 1-2. Dan Indonesia pun gagal melaju ke babak berikutnya, tersisih oleh Burma dan Thailand. (more…)

HARI HUJAN

Posted in cerita by daengrusle on February 14, 2019

#Cerpen

Istrinya mati karena demam berdarah. Hari itu, di kamar mayat ia duduk berselonjor begitu saja di lantai. Pandangannya kosong, meski orang banyak lalu lalang di depannya.

Tiga bulan lalu mereka menikah. Keduanya bertemu tak sengaja, di antrian sembako yang digelar Haji Salim di depan rumahnya. Keduanya berebutan beras kemasan 1kg, yang dilemparkan begitu saja oleh anak buah Haji Salim ke kerumunan orang.

Ia dan perempuan yang kelak menjadi istrinya itu bersitatapan. Dan seperti kisah di film-film, mereka kenalan dan saling jatuh cinta. Kemudian menikah, di surau Haji Salim hanya dua minggu setelahnya.

Pernikahan keduanya hanya disaksikan pak Tresno, marbot surau, yang juga merangkap jadi penghulu. Tak ada surat nikah, tak ada jamuan, tak ada apapun dan siapapun. Hanya ijab Kabul sederhana. Keduanya miskin, sebatangkara, tak punya siapa dan apa.

Setelah menikah, ia membawa istrinya ke gubuk kecil di tengah hutan desa. Sejak kecil dan menyadari keberadaan dirinya, di gubuk itulah dia tinggal. Untungnya tak ada yang mengusik dan menanyai sertifikat tanah yang ia tinggali.

Istrinya, dulunya tumbuh besar dan menetap di semangnya, Haji Rambe, yang memungutnya dari Panti Asuhan kota. Karena sering diperlakukan kasar, suatu hari ia minggat dari rumah. Dan hanya berkeliaran di pasar, bekerja dengan membantu siapa saja dengan imbalan berapa saja. Semangnya, Haji Rambe dan istrinya juga tak peduli. Tak pernah meminta lagi dia kembali.

Ketika itu musim penghujan tiba. Tiada hari tanpa hujan, lebat sekalipun.

Dipan kecil yang biasanya hanya menampung dirinya, kini mesti berbagi dengan istrinya. Jadinya suaranya berderik-derik keras ketika keduanya berada di atasnya.

(more…)

Tagged with: ,

Manuel Eredia Godinha

Posted in cerita, feature, Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on January 21, 2019

Kalau tak ada peta awal yang dibuat oleh pemuda peranakan Bugis-Peranggi, Manuel Godinho Eredia, mungkin Abel Tasman atau William Dampier tak pernah menemukan Australia, atau setidaknya tak mendapat petunjuk awal ke benua selatan itu.

Di pertengahan abad 16, tepatnya di tahun 1545, serombongan misionaris asal Peranggi (Portugis) berkunjung ke istana Suppa – salahsatu kerajaan yang terhampar di Ajatappareng – konfederasi negeri-negeri pesisir barat danau Sidenreng – Tempe, Sulawesi bagian Selatan.

Misionaris ini datang atas undangan La Putebulu, Datu Suppa – yang saat itu sedang berseteru dengan kerajaan Siang. Portugis yang sedang mencari koalisi kuat untuk membuka jalur ke kepulauan rempah, Maluku ini menyambut baik undangan Suppa, sekaligus bermaksud menyebarkan agama Katolik di kerajaan bugis itu.

Raja Suppa berikut bangsawan dan rakyatnya kemudian beralih memeluk agama Katolik, sekaligus mengukuhkan kerjasama militer dengan Portugis. Turut menjadi pemeluk Katolik adalah pemimpin negeri Ajatappareng lainnya, yakni raja Alitta, Bacukiki, Sawitto dan Sidenreng. Konon raja Siang, seteru Ajatappareng, juga ikut dibaptis beberapa hari setelahnya.

Gelombang Katolikisasi orang-orang Bugis ini rupanya berakhir singkat, hanya beberapa bulan atau beberapa tahun saja. Bubarnya persekutuan dua bangsa berikut mandeknya “dakwah” katolik ini akibat kejadian kecil yang mengganggu. (more…)

Menjadi Datu Museng

Posted in Review, Sejarah by daengrusle on January 18, 2018

link dari Locita

Tulisan ini terbit perdana di web locita.co dengan tajuk “Fakta dan Fiksi Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati” tertanggal 13 Januari 2018.

DI layar-layar bioskop tanah air, film berjudul Maipa Deapati dan Datu Museng, yang diangkat dari tradisi tutur Makassar tengah tayang. Film yang disebut-sebut menampilkan kisah asmara yang lebih tragis dari kisah Romeo dan Juliet itu mendapat atensi banyak orang. Bioskop di Kota Makassar dibanjiri mereka yang penasaran dengan kisah asmara berlatar sejarah itu.

Kisah itu berpangkal pada seorang utusan Sultan Sumbawa yang mengamuk di Makassar, di awal Maret 1765. Utusan bernama Datu Busing itu menolak menyerahkan diri dan bersikukuh melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pengikutnya.Kisah kecil dalam sengkarut perebutan kekuasaan Sumbawa abad 18 ini, kemudian menjelma menjadi cerita utama dalam seni sastra tutur Sinrilik dalam budaya Makassar. Sinrilik Datu Museng diceritakan berulang-ulang beratus tahun kemudian, dalam bentuk novel, pertunjukan teater dan film.

***

SERATUS tahun selepas perang Makassar, Kerajaan Gowa-Tallo dan seluruh wilayah bawahannya sudah benar-benar dikuasai oleh VOC. Kisah kejayaan dan keberanian pasukan Makassar lamat-lamat karam oleh penghambaan penguasanya pada ambisi dagang VOC dan sekutunya. Sejak benteng terakhir Kale Gowa direbut pasukan Arung Palakka, 1677, tak ada lagi pergolakan berarti di Gowa-Tallo.

Sebagian bangsawan yang menolak takluk eksil ke Jawa atau paling jauh ke Johor di semenanjung Malaya. Sementara itu, para bangsawan yang tersisa sudah mulai terbiasa berbaik-baik dengan Kumpeni, sebutan lazim VOC kala itu. Hingga seratus tahun setelah perang yang melelahkan itu, tampaknya geliat perlawanan bangsa petarung itu terendam oleh kegiatan dagang yang monopolistik setelah diambil alih Kompeni.

Di bulan Desember 1764, tiga utusan raja Sumbawa yang sedang berkuasa, Datu Taliwang, menjejak di Makassar; Datu Busing, Nene Rangan dan seorang lagi yang tak disebutkan namanya. Sumbawa adalah salah satu kerajaan bawahan Gowa-Tallo yang ikut dikuasai Kumpeni paska perang Makassar. (more…)

Rara Avis in Terris

Posted in percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on October 27, 2017

maipa reading book

Rara Avis in Terris*

Saya bersepakat dengan Javheer, si sopir taxi, ketika suatu pagi ia menyambut saya di pelataran apartemen. Baru lima menit saya bersama anak-anak duduk menunggu bis sekolah yang selalu tepat waktu itu; 06.54 pagi kendaraan berbentuk kotak kuning panjang itu tiba seperti biasa.

Kemudian Gale, perempuan Filipina yang bertugas mendampingi anak-anak selama perjalanan itu turun dari bus dengan sebaris senyum tipis; menyambut anak saya yang paling kecil. Gale kemudian meraih tas sekolah si kecil yang tampak keberatan, dan menuntun tangan murid kelas tiga itu naik ke undakan bus. Dua kakaknya yang lain sudah lebih dulu naik, menyodorkan papan nama untuk dipindai oleh Singh, bapak sopir bertudung biru. Selepas prosesi yang berlangsung tak lebih dari satu menit itu, pak Singh kemudian melambaikan tangan sebentar ke saya sambil tersenyum. Kumisnya yang tipis menempel diatas bibirnya ikut merekah membentuk busur panah ketika ia tersenyum sesaat.

Javheer, si sopir taxi yang selalu membanggakan asalnya dari Pakistan itu mendekat ketika saya masih tersenyum. Senyum saya masih tersisa sambil mengikuti laju bis sekolah itu meninggalkan tempat saya berdiri. Ia menyapa dengan senyum yang setiap hari ia lemparkan ke saya dan anak-anak. Dengan didahului sedikit berbasa-basi bertanya kabar masing-masing, Javheer kemudian menunjuk ke bis sekolah yang sudah nyaris berbelok ke jalan yang lain.

“Tahukah kamu, dia beragama Sikh!

Saya tak menghiraukan si Javheer, terlebih karena tak mengerti apakah dia sedang bertanya atau menguji pengetahuan saya soal busana.

Ekor mata saya masih mengikuti bagian belakang bis sekolah itu sampai kemudian hilang ditelan belokan jalan. Barulah kemudian saya berpaling ke si Javheer yang menunggu tepat di sisi kanan.

“Saya tahu” sambil menatap matanya kemudian. “Memang kenapa?”

“Iya, dia itu orang Sikh. Lihat tudung kepalanya, itu bukan sorban. Dia bukan muslim seperti kita”

Perbincangan pagi ini seharusnya ringan saja, tapi apa yang disampaikan Javheer sebetulnya membuat saya sekelebat mengalami sedikit trauma. Ketika dulu saya masih berpikir soal kotak dan hal-hal yang menjadi sekat antara saya dan orang lain. Ketika saya masih berkutat dengan keyakinan primordial bahwa apa yang saya anut ini lebih baik dan yang selainnya pasti salah. Pikiran seperti ini sudah lama saya tinggalkan, dan tentu teramat malas untuk saya buka kembali. Saya tak perlu kembali lagi ke soal remeh itu.

“Javheer, saya tahu dia bukan muslim. Tapi dia orang yang baik”.

Dia sedikit tertegun, kemudian tangannya mengusap rambutnya yang bermodel belah dua, khas orang-orang Pakistan sepertinya.

“Iya, dia orang baik” Javheer mengulang ucapan saya, terpaksa bersepakat.

Saya kemudian berbalik masuk kembali ke apartemen, sedang Javheer masih berdiri merapikan rambutnya, menunggu anak sekolah jemputannya yang tampaknya tak lama lagi datang.

Abu Dhabi, 27 Oktober 2017

==
*Rara avis in terris (latin) = a rare bird upon the earth, sebuah keanehan dalam berpikir atau berperilaku ketika hanya terpaku pada penampakan lahir saja.

Tagged with: ,

Diwali Merayakan Cahaya

Posted in percikrenungan, Umum aja! by daengrusle on October 20, 2017

diwali oud metha.jpg

DIWALI, celebrating the Festival of Light. Di Dubai, saya menetap di sekitaran Oud Metha – salah satu sudut lama kota ini. Lingkungan ini banyak dihuni oleh pendatang asal India; komunitas terbesar di UAE yang konon merupakan pembangun sejati kota megapolitan di bibir teluk Persia ini.

Pertengahan Oktober ini adalah hari-hari perayaan Diwali, sebuah tradisi agama Hindu yang merayakan cahaya dalam artian sesungguhnya. Perayaan tahun ini jatuh antara tanggal 18 dan 19 Oktober. Mereka membersihkan rumah dan menghiasinya secantik mungkin. Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi balkon apartemen, juga kerlap kerlip aneka lampu hias di seluruh dinding memenuhi wajah restoran atau toko-toko yang pemiliknya ikut merayakan hari besar ini. Inilah perayaan yang membuat saya sumringah. Ketika malam tiba, Oud Metha menjadi semarak seumpama taman cahaya. Kamis malam, puncak perayaan Diwali dimeriahkan pula dengan letupan kembang api di mana-mana. Merayakan CAHAYA!

Inilah hari ketika umat Hindu India sangat berbahagia, seumpama Idul Fitri bagi muslim, atau Natal bagi Kristen. Ketika kita semua umat beragama memiliki hari untuk berbahagia, bukankah bumi menjadi semacam tempat bertebarannya kedamaian dan senyuman?

Tagged with: , ,