…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Tabayyun dan Social Media Kita

Posted in agama, Blogging by daengrusle on August 23, 2014

opini tribun Tabayyun 5 Des 2014

(dimuat di Tribun Timur, Jumat 5 Desember 2014)

Berkaca pada kegigihan Imam Buhari melakukan seleksi hadist, klarifikasi dan sikap selektif terhadap informasi wajib dilakukan. Tak serta merta informasi yang kita dapat dapatkan, meski sehaluan dengan pikiran kita, langsung bisa dijadikan sandaran. Perlu proses klarifikasi yang dalam agama sering diistilahkan dengan tabayyun, agar informasi itu menjunjung prinsip kebenaran dan keadilan.

Menyaring Informasi

Alkisah, Imam Bukhari, ulama arif pencinta hikmah/hadist yg hidup di abad 9M, tak pernah melupakan satu metodologi penting dalam mengumpulkan hadist, yakni klarifikasi langsung ke sumber periwayatan hadist. Dikisahkan beliau rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendengar langsung dari bibir periwayat. Baginya, untaian hikmah dari hadist itu layak diperjuangkan dengan mendatangi langsung sumbernya. Tak hanya merunut dan menelaah teksnya, tapi juga beliau menelisik perilaku keseharian periwayat. Kalau dijumpainya si periwayat tak bisa dpercaya (tak tsiqoh), maka gugur pula validitas hadistnya. Saking ketatnya melakukan seleksi dan klarifikasi, kumpulan hadist yang semula beliau peroleh berjumlah 600,000 hadist akhirnya hanya tersisa 7275 saja.

Metodologi Imam Bukhari yang ketat menelisik hadist kemudian diikuti oleh ulama-ulama bijak dan kritis setelahnya. Bagi mereka, pengetahuan yang baik itu diperoleh tidak dengan sederhana. Harus ada rentetan metodologi untuk mengurai validitasnya. Tanggung jawab keilmuan mensyaratkan demikian, karena beban moral membentangkan ilmu yang benar wajib hukumnya, belum lagi ancaman akherat kalau ternyata sengaja melakukan kekeliruan dalam menjabarkan ilmu.

Ilmu dan pengetahuan di masa silam, memang termasuk sulit diperoleh. Karenanya, banyak anjuran untuk mengejar hikmah itu hingga kemanapun. Peribahasa “tuntutlah ilmu meski ke negeri Cina sekalipun”, dan sebagainya menunjukkan betapa sakralnya jihad berilmu itu. Tentu saja dibarengi dengan metodologi pengumpulan yang ketat seperti kisah Imam Bukhari tersebut.

Kita patut bersyukur hidup di masa yang begitu mudah menikmati sergapan informasi. Tak perlu beranjak ribuan kilometer untuk mendapatkan informasi, cukup membuka gadget atau media elektronik, maka ribuan informasi menyeruak masuk ke ruang baca kita. Dari ilmu agama, berita politik, hingga siaran niaga sangat mudah. Bahkan kini orang sangat getol berbagi pengetahuan di sebuah komunitas maya bernama social media. Tak perlu payah merengek asupan informasi, mereka yang masuk dalam daftar pertemanan kita begitu dermawan berbagi berita, informasi baik yang penting maupun tak penting. Semuanya tersedia dengan mudah dan berbiaya murah.

Bagi penikmat informasi, dan menyadari betapa pentingnya informas itu, masa kini adalah masa membahagiakan. Informasi bisa diolah sedemikian rupa sehingga bisa ikut memudahkan hidup kita, bahkan bisa menjadi sumur penghasilan yang tak akan kering-kering, selain menjadi ladang amal ibadah sekira kita berbagi informasi yang bermanfaat untuk sesama.

Namun ada hal lain yang bias membuat social media menjadi ajang yang menakutkan. Berkaca pada kegigihan Imam Bukhari, klarifikasi atas informasi tetap wajib dilakukan. Tak serta merta informasi yang kita dapat dapat kita jadikan sandaran, tanpa melakukan proses yang dalam agama sering diistilahkan dengan: tabayyun.

Tanpa proses cerdas menelaah dan menelisik informasi berikut sumber primernya, kita “terancam” ikut menyebarkan informasi yang keliru. Apalagi kalau informasi ini menyangkut pihak lain yang mungkin akan terganggu ketika misalnya kita menyerbarluaskannya. Hal yang jamak kita dapati baru-baru saja, ketika musim kampanye pemilihan presiden. Beragama fitnah dan tuduhan menyeruak seperti air bah di laman social media kita. Tak sedikit kemudian fitnah-fitnah itu menjadi ajang yang memperburuk silaturahim.

Social Media dan Prasangka Baik

Tak sedikit orang kemudian memutuskan silaturahim antar sesamanya hanya karena berseteru dalam menafsirkan sebuah informasi. Bagi yang sering berinteraksi di social media semacam facebook, twitter, path dan sebagainya, orang jamak sering berdebat soal sesuatu hal. Khususnya saat sekarang ini ketika suhu politik sedang mempertontonkan dua kubu yang diametrikal. Beberapa diantaranya bahkan memutuskan silaturahim hanya karena berbeda pandangan terutama karena link berita yang disampaikan memojokkan pilihan politik yang bersangkutan. Apalagi kalau kita ingatkan betapa buruk prasangka yang berangkat dari keterbatasan informasi. Tentu tak semua pihak merasa pantas untuk diingatkan. Padahal saat ini, begitu banyak bertebaran media abal-abal serupa blog atau akun twitter anonim a la kadarnya yang rajin menyebarkan fitnah atau cemoohan tanpa dasar fakta.

Selain bertebarannya media penghasut dan penyebar fitnah, masyarakat juga perlu seksama mengolah berita di media mainstream. Sejatinya tak perlu berharap agar media massa untuk bersikap netral sepenuhnya, karena dasarnya, memang media adalah alat untuk menyuarakan kepentingan. Meskipun ada jargon bahwa bahwa mereka menyuarakan kepentingan masyarakat, tapi tentu saja yang diwakili adalah kepentingan mereka yang sehaluan dengan mereka. Yang kemudian disayangkan kalau tak terjadi keseimbangan dalam pemberitaan, misalnya keengganan untuk menyiarkan informasi yang datang dari mereka yang berbeda pandangan politis dan ideologis. Hal paling baik dalam menelaah informasi adalah mengikuti rekam jejak media tersebut. Media yang baik adalah media yang punya metodologi ketat dalam menelaah informasi yang hendak dikabarkan, seperti metodologi Imam Buhari; klarifikasi. Meski punya kepentingan, tapi mencari informasi dari pihak yang sedang dibicarakan atau dibahas tentu tetap wajib hukumnya, agar informasi menjadi berimbang dan adil.

Satu hal lain yang mudah-mudahan masih akan kita temui dalam social media; prasangka baik. Sebagai salah satu sikap yang dianjurkan agama manapun, prasangka baik (husnudzon) akan mengikis kedengkian meski informasi bermula dari pihak yang tak sehaluan dengan kita. Namun satu yang pasti, hikmah akan kita raup sebanyak-banyaknya meski dari informasi negative, sekira kita tetap menjaga prasangka baik ini. Bukankah kita pernah mendengar kisah seorang pelacur yang konon menjadi ahli syurga karena sikap welas kasihnya memberi minum seekor anjing yang kehausan? Kalau kita hanya memandang profesi pelacurnya, tentu informasi itu akan kita buang selekasnya. Namun, kalau kita bersabar untuk menunggu seperti apa perilaku si pelacur ketika berhadapan dengan anjing yang haus, maka kita akan mereguk hikmah di akhir cerita. Meskipun tentu saja profesi pelacur adalah cacat, tapi syukurlah di kisah yang lain disebutkan juga bahwa akhirnya si pelacur bertobat dan menjadi wanita solehah.

Jadi, mari senantiasa melakukan klarifikasi atas segala informasi yang mengisi ruang baca kita, sambil tak lupa tetap berusaha berprasangka baik terhadap semuanya. Ketika informasi hanya menjadi ajang fitnah dan mengurai keburukan maka ambillah hikmah berupa kesyukuran dan doa semoga kita tak termakan fitnah kaum pencibir itu sambil berharap mereka dianugerahi kesadaran untuk menyesalinya di akhir hidupnya. Amin