…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Mengenang Chairil Anwar: Sekali Berarti Sudah itu Mati

Posted in puisi by daengrusle on April 27, 2011

28 April 1949, ia mati di usia muda, 26 tahun karena sakit paru-paru. Jasadnya dibenamkan di Karet, tempat yang disebutnya sebagai “daerahku y.a.d” (y.a.d adalah singkatan dari yang akan datang).

 

Sajak pertama yang membuatku mengenalnya pertama kali adalah sajak “Diponegoro”, salah satu sajak pernyataan Chairil Anwar diantara sajak terkenal lainnya “Aku” atau “Karawang-Bekasi”. Sajak Diponegoro, yang saya bacakan di bangku SMP sebagai salah satu tugas pelajaran Bahasa Indonesia, lantang menyatakan kekaguman kepada sosok Diponegoro. Yang paling teringat, dan kemudian menjadi semacam idiom dalam kehidupan kita adalah “pedang di kiri, keris di kanan”…

 

Kesan pertama saya terhadap sosok ini adalah bahwa ia adalah seorang pemberontak, paling tidak ia memberontak terhadap pakem puisi yang mendayu-dayu tentang cinta, religious dan hal yang mungkin dianggap absurd lainnya. Mungkin saja karena kebetulan ia beranjak di masa perjuangan revolusi kemerdekaan, sehingga darah pejuang mengalir deras di setiap bait sajaknya. “Sekali berarti sudah itu mati”.

 

Meski mungkin hanya sedikit rekam jejaknya ikut dalam perang fisik, namun sajak-sajak perjuangannya seperti yang paling terkenal “Antara Karawang-Bekasi”. Sajak ini menginspirasi, bukan saja mengguncang dada kejuangan kita, tapi rasa solidaritas untuk mengenang yang telah mati.

“Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa..”

 

Namun belakangan, ketika menemu sajak-sajak lainnya, saya kemudian sering terkagum dengan kelihaiannya memainkan harmonika kata-kata yang kadang getas tapi bernuansa misteri, misalnya: “Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin/Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang”. Apa yang dia benahi, dan siapa yang dia nanti? Apakah yang dia maksud adalah sosok Hapsah, istrinya?

 

Dalam benak saya, sajak-sajak Chairil adalah sajak-sajak bergelora. Ia pandai memainkan gelombang, juga pandai menghempaskan riak perasaan. Sajaknya bisa mebangkitkan batam terendam, hingga kemudian muncul dan berubah jadi semangat, meski sekali berarti sudah itu mati.

 

Ia layak dikenang, sajaknya layak dibaca. Dan kita, layak memekikkan gema suara nya sampai ke generasi mendatang. Kita sudah lama terbenam dalam ketidakpedulian, dan mungkin Chairil Anwar seolah tak henti membangunkan kita. Bahwa hari depan yang lebih baik, lebih tulus dan lebih percaya diri masih bisa diraih.

 

“Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”.

Advertisements

Hello world!

Posted in Random by daengrusle on April 26, 2011

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Perjalanan Menyiram Dahaga – Baitullah

Posted in Abu Dhabi, Kenangan by daengrusle on April 25, 2011

Tidak ada suasana paling mengharukan selain ketika pertamakali memandang langsung Baitullah. Sekian tahun menghadap sang Khalik dengan posisi badan mengarah ke Baitullah tentu menjadi alasan logis mengapa kemudian suasana haru itu muncul. Belum lagi, dan tentu paling utama, titik spiritual kita yang tergugah karena demikian sacral nan mulianya tempat ini dimana kita bisa membayangkan nabi-nabi dan waliyullah pernah berada di tempat terbaik ini. Dan kita berada di jejak yang sama.

Bukan soal berapa kali kelipatan kuantitatif pahala yang diperoleh ketika beribadah mendekat ke pusat kiblat ini, tapi lebih dari itu, sesuatu yang mungkin tak terbahasakan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Sama tak terbahasakannya ketika seseorang yang mencari sekian lama sesuatu miliknya yg berharga yang hilang, kemudian menemu ‘sesuatu’ itu tepat di depan matanya. Ungkapan terbaik adalah ungkapan dalam keriuhan hati yang bahagia tertuju langsung ke sang Pemilik, bukan dengan ucapan-ucapan atau kata-kata yang sungguh terbatas.

(more…)

Dari Buku ATLAS dan Saya Ada Di Sini

Posted in Abu Dhabi, Kenangan by daengrusle on April 13, 2011

Biasanya ada banyak hal yang menginspirasi orang-orang untuk beranjak menuju keadaan lain yang diinginkan. Terkadang inspirasi dicomot dari kisah sukses orang lain, keinginan melepas dari kesulitan diri sendiri, dari filem, buku, dan lain-lain. Semuanya akan bermuara ke satu hal: cita-cita.

Dari sebuah obrolan di milis blogger Angingmammiri, Opa Brad melempar postingan berjudul “Buku Yang Mengubah Hidup Anda? Dia bercerita tentang buku yang dia baca dan kemudian mengubah jalan pikirannya. Teman-teman lain juga merangkai cerita yang sama mengenai buku-buku yang membuat mereka tergugah untuk beranjak ke keadaan hidup yang lebih baik, setidaknya ‘lebih baik’ menurut perspektif masing-masing.

Tentang buku yang menggugah itu, satu hal yang kemudian terlintas di kepala saya, mozaik kenangan di Makassar tahun 1986. Ketika itu saya masih kelas 4 SD, dan baru saja memenangkan juara 1 Lomba menggambar sketsa yang diadakan oleh Harian Pedoman Rakyat. Saya masih ingat persis detail gambar sketsa pensil saya tentang suasana pasar Pannampu, tempat saya tinggal ketika itu, memenangi lomba dari sekitar 100-an peserta. Hadiahnya cukup banyak, dari hadiah uang Rp 100ribu dan beasiswa sebesar Rp 25,000 per bulan – nilai yang lumayan besar saat itu dengan harga BBM hanya Rp 250, seperangkat alat music organ untuk SD saya, plus voucher buku senilai Rp 25,000 juga.

  (more…)

Wajah Melayu di Mesjid Shiah

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on April 12, 2011

 

(gambar di atas adalah gambar salah satu mesjid di AbuDhabi, di TCA, di depan sebuah bangunan yang sedang diruntuhkan. Mesjid ini bukan mesjid Shiah)
Mesjid itu serasa bersembunyi dari penglihatan awam, hanya menyisakan menara kurus setinggi pohon kelapa bagi mata yang awas. Letaknya berada di antara kepadatan rumah-rumah vila (sebutan untuk rumah tinggal 1-2 lantai) di distrik Madinat Zayed tengah kota Abu Dhabi.

Untuk menuju ke mesjid tersebut, land mark yang paling dikenal adalah Restauran Ibrahimi, warung makan Pakistan yang sangat dikenal oleh hampir semua sopir taxi di Abu Dhabi. Restaurant ini punya menu lamb chop dan nasi briyani yang sangat popular, bahkan oleh warga Indonesia yang tinggal di kota minyak ini.
 
Di antara vila-vila di belakang restaurant Ibrahimi ini terdapat dua mesjid; mesjid Abdullah Hussain dan mesjid alHaj Isa al Mahfudz. Masjid alHaj Isa al Mahfudz inilah yang dikenal sebagai mesjid Shiah yang paling besar di Abu Dhabi, kira-kira sama luasnya dengan Mesjid Sunda Kelapa di Jakarta. Di dalam mesjid ini, di beberapa sudutnya terletak tempat-tempat penyimpanan turbah dan tasbeh yang akan dipergunakan jamaah ketika sholat. Di dekat pintu masuk, ada deretan lemari yang berisikan kitab-kitab bacaan termasuk al-Quran. (more…)