…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pesona Historis Bukit Siguntang: Muasal Sebuah Peradaban

Posted in Indonesia by daengrusle on April 28, 2012

Pesona Historis Bukit Siguntang, Muasal Sebuah Peradaban
ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Taman Bukit Siguntang (sumber: terserah.byethost3.com)

ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang merawat kisahnya

Konon peradaban nusantara bermula di pesisir, bukan di perbukitan. Dari bentang pasir yang sejajar bibir lautan atau tepian sungai itu, leluhur kita memulai jejak eksistensialnya. Jejak peradaban itu terangkai kebanyakan dari kronik para pengelana yang pernah menyinggahinya. Mungkin karena renta di makan usia, atau karena tak begitu terbiasa mengabadikan kabar dalam bentuk tulisan, kita jarang menemukan jejak tulisan dari para leluhur kita kecuali sedikit saja.

Dari yang sedikit itu, perlu disyukuri bahwa ada jejak leluhur yang terawat telaten oleh alam di sebuah bukit bernama Siguntang. Peradaban yang dibangun di pesisir sungai Musi sejak abad 7M, kemudian dirawat jejaknya oleh bukit kecil ini. Ketika pesisir melahirkan peradaban, perbukitanlah yang kemudian merawat kisahnya. Ini seumpama asmara abadi dua wajah daratan membesarkan peradaban manusia yang mendiaminya agar kekal di rentang sejarah.

Bukit Siguntang adalah sebuah jejak. Ada jejak artefak sejarah yang direkam oleh daratan yang menonjol setinggi 30meter di barat daya Palembang ini. Pesona yang sejatinya masih setia menanti untuk dipinang dalam bentuk ulasan ilmiah. Alih-alih menjadikannya sebagai tempat “keramat dengan segala horor tahayul” karena kemisteriusannya, tempat bersejarah ini sejatinya banyak memaparkan kisah memikat tentang awal sebuah peradaban besar bernama Sriwijaya. (more…)

Advertisements

Passerpis Hempong; Makkomputer Hingga Ke Malangke

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 10, 2012

Siapa bilang komputer hanya diperlukan oleh kalangan kampus atau pegawai kantoran? Perangkat canggih untuk data processing ini rupanya tidak hanya digunakan di ruang kelas, kost-kostan atau kantor ber-AC, tapi juga dengan mudah ditemukan di kios-kios pinggiran jalan. Maraknya pemakaian telepon genggam sejak awal dekade 2000-an menumbuh-suburkan ceruk usaha sampiran di industri ini: menjadi passerpis hempong. Bahkan nun jauh hingga ke Malangke’.

Ruang reparasi handphone (Sumber: http://jj-cell.blogspot.com/)

Ini bukan pengalaman saya pribadi tentang perkenalan awal dengan Komputer, saya hanya meminjam latarnya dimana saya terlibat hanya sebagai orang kedua atau ketiga. Sebetulnya, ini cerita tentang sepupu-sepupu saya di Palopo yang mencoba turut riuh dengan teknologi canggih ini.

Di awal-awal tahun 2000-an, ketika teknologi telepon genggam tidak secerdas saat ini, telepon hanya berfungsi a la kadarnya; sebagai perangkat penerus komunikasi suara dan pesan singkat, sesekali juga  menjadi perangkat hiburan dengan games sederhana atau lagu/video berdurasi singkat di dalamnya. Meski tak seberapa cerdas, telepon ini tetap membutuhkan penanganan cerdas dari ahlinya ketika suatu waktu bermasalah. Pemilik handphone bermasalah umumnya tak berani mengutak-atik sendiri karena ketakmengertian soal teknis perangkat itu, khawatir akan malah semakin error. Mereka lebih memilih menyerahkan urusan ini ke ahlinya. Pemeo “Serahkan ke ahlinya” meminjam jargon sesumbar gubernur ibukota saat itu, rupanya menjadi pemicu tumbuh suburnya ceruk usaha baru di Palopo: menjadi Passerpis hempong – pengucapan populer di lidah penutur bugis untuk teknisi handphone! (more…)

Wisata “Kembali” Ke Kampung Bugis

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 6, 2012

WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang

Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)

Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.

Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.

Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.

Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka. (more…)