…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

tentang setangkup embun yang kutadah setiap subuh

Posted in puisi by daengrusle on March 23, 2010

ketika kau bertanya tentang jiwa
aku merapatkan tubuhku pada tubuhmu
saat jantungmu merasakan debar jantungku, memainkan irama yang sama
membuat kita saling mendekap
dan kita sama menyebutnya cinta

kau bertanya tentang surga,
maka kuhadirkan setangkup embun yang kutadah setiap subuh,
yang mencair saat kau lelap melamunkan mimpi
saat wajahmu melukis segaris bibir yang tersenyum disana
dan kita sama menyebutnya cinta

kau bertanya tentang tuhan
dan kukecup keningmu lama, membuat matamu terpejam lama seakan larut dalam waktu
kuceritakan tentang samudera yang riaknya membuat nelayan selalu merindu
dan ikan-ikan di kutub selatan yang selalu menanti saat untuk berenang ke utara
dan kita sama menyebutnya cinta

lantas, bukankah seharusnya tiada aku dan tiada engkau?

Advertisements
Tagged with:

Agama, ringkasnya begini…

Posted in Kenangan by daengrusle on March 16, 2010

Sejatinya manusia dibekali embrio toleransi dalam ke-bhineka-an. Ketika sejak mula merintis sebuah komunitas, mereka meyakini sebuah keyakinan filosofis bahwa asal mereka hanya satu, meski kemudian berkecambah menjadi banyak ragam. Pun soal tradisi ritual dalam menyembah sang Satu, mereka punya kesepahaman bahwa cara boleh berbeda, tergantung tingkat penerimaan.

Kemudian muncullah konstruksi agama-agama formal yang coba ‘menata’ ulang kepercayaan itu, meluruskan yang agak serong, memperkuat yang sudah lurus. Hanya saja, agama formal itu secara tak terduga melahirkan kaum elit, yakni orang-orang yang mengaku punya tingkat kedekatan ‘lebih’ kepada kekuatan transenden dan dengan demikian menciptakan strata sosial dalam komunitasnya.

Maka muncullah otoritarianisme dalam ber-agama.

Tagged with:

Peringatan

Posted in Random by daengrusle on March 9, 2010

Peringatan
Oleh: Widji Thukul

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam
kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Tagged with: