…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hendak Masuk Surga, Seringlah Memandikan Anak

Posted in Abu Dhabi, Blogging, keluarga by daengrusle on October 15, 2014

dikecup anak

Saya sering berpikir bahwa anak-anak seumpama malaikat yang dititipkan Tuhan di rumah kita. Tingkah polos mereka seperti riak-riak kasih sayang yang ditebarkan dari sayap-sayap yang tak hentinya membuat kita terkagum-kagum. Bagaimana Tuhan bisa menghadirkan kenikmatan wangi surga seperti ini. Tugas kita adalah mengekalkan wangi surga itu di kenang kita, kenang mereka.

Waktu luang yang berlimpah. Itulah mungkin salah satu kemewahan yang saya dapatkan menetap di kota yang tingkat kemacetannya rendah (dan juga beban kerja yang sama rendahnya). Ketika masih bekerja di Jakarta, waktu luang menjadi barang langka. Itu karena saya masih berada di kuadran “kuli”, yang mesti mengikuti ritme jam kantoran. Meski jam kantor sama 8-jam, tapi waktu tempuh dari rumah ke kantor dan balik lagi ke rumah menghabiskan total lebih dari setengah hari. HIngga ada pemeo bahwa kerja di Jakarta itu mengikuti adagium ini “berangkat kantor ketika anak-anak masih tidur, dan pulang kantor ketika anak-anak sudah tidur”.

Tapi untunglah, bekerja di negeri gurun ini memberikan saya waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Di Abu Dhabi, jam kantor saya mulai dari jam 08.00 hingga jam 16.00 petang. Tak ada jeda istirahat, tak ada lembur. Jarak apartemen dari kantor saya hanya sekitar 5-6 blok, dengan waktu tempuh maksimal 10 menit dengan kendaraan pribadi. Dengan begitu, waktu “berpisah” dengan keluarga memang hanya 8jam kurang lebih, selebihnya adalah waktu-waktu emas bersama mereka. Emas dan Surga.

Nah, sebelum berangkat ke kantor, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan rutinitas yang membuat saya seakan-akan mencium wangi surga. Surga ini mungkin tentu saja bukan yang sering dikhotbahkan di mimbar-mimbar para agamawan. Surga yang saya ciptakan sendiri, saya nikmati dan rasakan di sisi saya setiap hari. Surga bernama “kebersamaan” dengan anak-anak. Sebelum mereka nanti beranjak remaja, dewasa dan kemudian menempuh hidupnya masing-masing. Selepas itu, tentu saya perlu menciptakan surga yang lain lagi, semisal meluangkan waktu beberapa saat untuk sekadar berkomunikasi dengan anak-anak, nanti. (more…)

Advertisements

WALIKOTA MAKASSAR SEHARUSNYA SEORANG BLOGGER ANGINGMAMMIRI

Posted in komunitas by daengrusle on October 13, 2014

Kopdar dengan AngingMammiri di tahun 2007

Kalau bukan karena sebuah pesan di sebuah thread diskusi blogfam, mungkin saya akan sangat terlambat mengenal komunitas blogger Angingmammiri ini. Jejak itu seingat saya di bulan Juni 2006 ketika saya masih menetap dan bekerja di Balikpapan. Di salah satu thread blogfam, ada sekumpulan blogger berkumpul di kelurahan “Makassar”, membincangkan apa saja tentang kota ini. Berikutnya, bincang-bincang ini menjadi pesan berantai di inbox, email, milis dan akhirnya bersua dalam serangkaian kopdar seru baik di Makassar, ataupun di Jakarta.

Akhir 2000-an memang masa keemasan blog. Saat belum “terkalahkan” oleh maraknya micro-blogging atau orang lebih sering menyebutnya “social media”, blog menjadi media yang laris manis. Blog portal, blog-walking, lomba blog, blog review dan semacamnya pernah menjadi aktifitas wajib bagi para blogger. Saat itu, tradisi menulis tulisan panjang masih terjaga, dan tentu lebih panjang dari 140 karakter. Karena blog, banyak yang tiba-tiba menjadi penulis cerpen yang baik, ada yang gandrung menjadi penyair, atau paling tidak menjadi seorang citizen reporter. Tapi inti semuanya adalah aktifitas berbagi cerita dalam bentuk tulisan menjadi trend. Bayangkan betapa kerennya melihat anak-anak muda yang melek internet tapi juga punya kemampuan menuangkan isi pikiran nya melalui tulisan, dan dibaca oleh orang lain (dan dikomentari!). Pramoedya Ananta Toer mesti bangga dengan ini.

Namun, sebagaimana sebuah siklus produk, blog kemudian menurun intensitasnya, meski tak semua blogger kemudian berhenti menulis. Sebagian masih setia merawat “bakat” menulis itu, sebagian lain merasa sudah cukup ngeblog di facebook atau twitter, path atau instagram. Sebahagian malah melompat jauh ke dunia yang lebih serius, menjadi penulis. Ada juga blogger yang kemudian benar-benar berhenti, dan membiarkan blognya menjadi museum jejak tulisan nya di “masa lalu”. (more…)

Tagged with: