…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

menjadi dirimu, barangkali

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

ada angka dan tanda-tanda, menyelinap diam di setiap lipatan ingatan
kita menyebutnya sebagai tanggal, dan membendung semua peristiwa
agar waktu menjadi beku, membekas seumpama batu di mataku

aku berharap matamu menjadi telaga, menampung seluruh ingatanku
meluruhkan semua angka, juga tanda-tanda sampai musim dingin tiba
ketika hatimu menjelma selimut, menghangatkan semua tanda
agar kau lekas terjaga pada ingatan-ingatan

aku tahu kau kadang lupa, ketika remah ingatan tertanam debu luka
dan aku tak paham menyembuhkan luka, juga tak pintar menjadi tabib
tapi aku selalu berusaha luruh di telaga matamu, menjadi ingatan-ingatanmu
menjadi dirimu, barangkali.

Advertisements

malam setelah supermoon

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on November 15, 2016

super-moon

[pic was copied from this link]

aku mungkin rindu pada kesejukan

di pipimu,

ketika kulit wajah kita beradu

kau tahu, rindu seperti itu

akan melukis sebaris senyum di bibirku,

bibir yang mungkin cemburu.

selalu cemburu. nasib nya selalu saja tak beruntung

bibir yang hanya bisa bermimpi. betul, bermimpi saja

(auh, malam setelah supermoon)

Tagged with: ,

buku bapak

Posted in puisi by daengrusle on December 22, 2014

buku bapak

dan sudahlah beku,
semua ingatan, melambai lesu
pada ruas-ruas buku
sehangat jejak jemari tuamu,
tersisa di setiap sudut lembar

dan lihatlah kini mataku memanjat kenangan
pada deretan kata seperti tahun berlalu
mengendapkan waktu, dan
mereka ulang garis bibirmu
menuntun aku pulang

ajari aku lagi, bapak
mengeja segala, seperti pelukmu!

wangi pagi dan senyum westerling di wajah kita

Posted in puisi by daengrusle on December 20, 2014

wangi pagi

sudah lama aku tak menghirup wangi pagi
dan menikmatinya serupa pengantin kesepian
buih waktu ‘lah membawaku jauh
terasing di palung malam

lalu hari ini kuputuskan bangun lebih pagi
mengusir gelap lebih dini, mengejar wangi pagi
menjemput hangat dari tempias sinar matahari
menciumi lembab bau tanah merasuk pelan,
dan berdiam sejenak mencandai
dedaun yang berselimut embun

aku bermandi cahaya, juga basah oleh curahan embun daun-daun
dihibur manja kelopak anyelir bersolek merah
lantas kupejamkan mata, kubuka seluruh nafas menghirupi
wangi pagi yang basah, molek pagi yang ramah

kicau burung tekukur, yang menguap ke langit
seperti ikut membasuh rinduku pada cerita
tentang langit terang biru, padang hijau sahaja
tentang orang-orang yang larut pada pagi
mencacah nasib, membilang masa

terpujilah engkau, wangi pagi

Abu Dhabi, Desember 2014

==

senyum westerling di wajah kita

tuan, berbilang tahun rupanya
kau mengubur petaka di buritan ingatan kami
dan memupuknya dengan senyap amis darah
kini ia terhambur naik ke haluan, menampar
sepetak sejarah di buram wajah pias kami

tahukah tuan kami bergumul sebagai paria
ribuan nyawa melayang dan kami membekukan pilu
ingatan kami membatu sebagai malin kundang,
memamah kutukan dari anak-anak kecil,
mereka bertanya masygul di balik buku-buku kosong,
tak adakah yang kalian lakukan saat itu,

ketika senapan menggelut batok kepala, mengoyak dada yang mekar
apakah gerangan bambu runcing serupa isapan dongeng belaka?

kemudian sepi, tuan
senyummu di wajah kami adalah luka tak sembuh
nanahnya bercucur seperti pesta lara yang tandas
kami masih berhitung berapa nyawa, dan membangun batu-batu
di jalan-jalan, di gedung tinggi, di lapangan upacara
di buku sejarah, kami tak kuasa mengukir
berapa codet di wajah kami.

Abu Dhabi, Desember 2014

Tagged with: ,

perempuan dan mataku

Posted in poem, puisi by daengrusle on November 22, 2014

mata

perempuan dan mataku

ribuan hari silam, seorang perempuan celaka
menggali lubang di mataku, menanam jelaga
pohon luka tumbuh, berbuah duka
katanya: ini obat untuk masa lalu,
biar ia gelap saja – kemudian pergi

ratusan hari berlalu
seorang perempuan buruk hati menjenguk pohon luka
bongkah garam dipupuknya ke akar jelaga
pohon luka berdaun rimbun: amarah
ini baik agar kau waspada pada masa kini, katanya
hidupmu mahal, jangan mudah tertipu cinta
kemudian pergi

hari ini perempuan lain datang, memeluk perigi kecil
dipetiknya buah duka, dedaun amarah
ia biarkan pohon luka meranggas
: aku hendak menimbun jelaga di matamu
menjadi telaga lagi.

tapi ia lupa,
mataku telah karam oleh petaka

(Abu Dhabi, November 2014)

hijrah

Posted in Kenangan, puisi by daengrusle on June 4, 2014

setiap detik adalah jejak, seumpama titik di bentang garis
dalam rentang ribuan detik yang panjang, jejakmu akan membeku terkenang-kenang
lihatlah, lima tahun sudah kau mengukir kesan
dan siapa yang sudi menghapus jejak panjang itu?

orang menyebut horizon, ketika mata melukis garis yang panjang
seperti itu mungkin, panjang jejakmu yang tak ada akhir
kita boleh menapak di benua berbeda, dengan bahasa yang asing dan wajah-wajah aneh
tapi siapa yang mampu memutuskan ikatan hati?

hijrah, kata seseorang, selalu menjadi jalan yang lengang
tapi juga indah, kalau kau mencari yang baik, yang beda, dan yang baru
masa depan, mungkin akan menemukan jawaban terbaik
di jejak yang lengang itu.

[abu dhabi, 4 juni 2014]

Kerendahan Hati

Posted in puisi by daengrusle on February 26, 2014

Puisi ini menginspirasi. Meredam jumawa, merawat kesederhanaan. Hidup memang untuk ditaklukkan, tapi bukan untuk dikorbankan demi hal-hal yang dipaksakan. Hidup memang untuk diperjuangkan, tapi kehidupan layak juga diseimbangkan.

==

Kerendahan Hati

By Douglas Malloch

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

————–

Puisi Asli:

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

 

Douglas Malloch

Douglas Malloch (1877-1938) was an American poet, short story writer, and associate editor of American Lumberman, an adventure magazine connected with Edgar Rice Burroughs. Some have commented that his philosophy was one of “contentment.” Some of his often cited comments echo with wisdom today and reflect that life philosophy of contentment, being satisfied with one’s lot in life: “The biggest liar in the world is They say,” which comments hugely on the “unnamed source” and “experts” mentioned in the daily news today, and “Courage is to feel the daily daggers of relentless steel and keep on living,” which reflects the simple advice, “persevere.” His wife, Helen Miller Malloch, was a newswoman who gained fame in her own right as founder of the National Association of Presswomen

Tagged with: ,

Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu

Posted in puisi by daengrusle on December 24, 2012

Ann dan Heru

Sajak Pernikahan: Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu

untuk ann&heru

jarak terlalu jauh, juga masa terlampau lama
kita tak hendak memungut keduanya,
di dalam kenang cinta yang nyaris menguap

karenanya kita lantas mengikatnya,
seikat pelukan
mungkin akan membekukan jarak,
juga melelehkan waktu

kau tahu, aku seumpama pelaut sendu
yang mencoba berlabuh di matamu;
telaga yang hendak tumpah itu

tapi seikat pelukan menarikku diam-diam
mengubah debur ombak menjadi endapan bisu
layarku terkulai dan terperangkap dalam lautan senyap
aku tahu, aku takkan bisa mendayung lagi

tapi rentang pelukmu seperti mata ibu,
madrasah yang mengajarkan seribu ciuman, sejuta pelukan
aku menyebutnya tempat kembali
jalan pulang paling lengang,
direntang sejauh ingatanku membawanya

serpihan sepi yang jatuh dari jendela malam
dan bulan yang sendu, melirik lirih pada seikat pelukan
yang kubawa pulang, ke matamu
tempat berlabuh paling rindu

abudhabi, 23desember2012

Cerita Muram Tentang Bangsamu

Posted in Indonesia, puisi, Renungan, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 16, 2012

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

bangsamu terlalu banyak menanam dendam.
aku takut jika kembali, jalanan dijejali amarah, buah dendam yang berbiak.
tanahmu memang subur untuk lahan pertengkaran,
lihatlah mahasiswa kini lebih suka memegang badik daripada diktat dan pena.
para dosen konon gemar mampir ke meja proyek berhitung neraca untung rugi
daripada membuihkan tinta di kertas jurnal

bangsamu terlalu banyak menimbun prasangka
aku takut jika kembali, rumah2 menatapku kecut seperti lampu muram
kudengar para pengkhotbah kini suka merentangkan telunjuk, seumpama tongkat guru yang menghukum murid nakal sebagai sesat dan kafir,
padahal para murid juga merapal rukun yang lima, mengingat rukun yang enam.
murid yang nakal, konon karena berani berpendapat beda, entahlah.

bangsamu terlalu sering menumpahkan serapah
aku takut kalau kembali, tiba-tiba menjadi batu, menjadi malin kundang
konon serapah perempuanmu bisa menjadikan siapa saja menjadi batu yang malang

padahal aku menyimpan bekal ribuan maaf di pundakku, juga di telaga mataku
aku dengar karena berbeda, orang mudah meludahi saudaranya dengan serapah
aku takut berlumur lumpur,

maka kuputuskan untuk diam di sini, di negeri asing
aku dianggap asing, karenanya dianggap tak ada,
tak ada juga dendam, prasangka dan serapah.

karena aku asing, tentunya.

(abudhabi, desember 2012)

Ia bertengger di pelupuk benak

Posted in puisi by daengrusle on October 2, 2011

foto sticker di pintu kamar Diana, Pannampu

:: mengenang Diana (1974-2008)

Keramaian. Di mana gerangan keramaian, ketika semua sama menggenggam ide, melemparkan bicara dan hilir mudik seperti dunia tak akan berlari tanpa gerak kaki kita. Di mana gerangan keriuhan, apakah ia masih membopong semua petuah bagaimana cara praktis untuk sibuk mengisi dunia, mencernanya dan melahap habis semua kesempatan yang hinggap bertengger di pelupuk benak.

Di tengah keramaian, kesenyapan mengendap segan dan memamah yang tersingkir. Didekapnya diriku, si masygul yang bodoh, dan dibisikkan bahwa tak pantas aku berada di dunia yang ramai. Keramaian hanya alat untuk menjauhkannya dari jiwa, memotong setiap mata rantai yang menghubungkanku dengan semesta. Lihatlah semesta hitam, dan masukkan ia ke matamu. Bukankah semesta adalah dirimu, ketika senyap?

Sekali ia menampar pipiku. Bukankah hidup adalah perpanjangan kelahiran, juga pendahulu kematian? Bukankah kelahiran dan kematian sejatinya berada dalam ruang yang senyap, tanyanya. Aku tak begitu tahu, aku terlalu bodoh dan belia untuk memahami ruang senyap. Saat lahir, aku belum menjadi diriku, pun aku belum benar-benar paham seperti apa kematian, apakah senyap atau ramai dengan dunia roh seperti yang sering kutonton.

di sana, ramaikah kakak?

abudhabi, 02.10.2011