…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Menantang Orde Baru, Kemudian Berpelukan Dengannya

Posted in Indonesia by daengrusle on September 27, 2014

Pagi 20 Mei 1998. Di kampus Ganesha kami sudah siap menerima lembaran ujian untuk mata kuliah Drainase. Ruang 3202 di Jurusan Teknik Sipil itu masih riuh rendah dengan mahasiswa yang menunggu kertas ujian dibagikan. Pengawas ujian yang juga pegawai Tata Usaha jurusan belum lagi muncul. Namun sekitar 300meter di luar sana, di Jalan Ganesha sudah terdengar toa yang memperdengarkan suara serak seorang danlap demonstrasi ITB. Hari-hari itu memang hari bergerak. Eskalasi gerakan mahasiswa Bandung dan bahkan seluruh Indonesia sedang berarak ke puncaknya. Rezim Soeharto sedang diujung tanduk, meski lebih banyak pesimis dan meragukan gerakan mahasiswa itu bakal mampu merubuhkan kekuasaan dengan dukungan militer ke-5 terkuat di dunia itu.

“Ayo kawan-kawan mahasiswa ITB. Keluarlah dari sangkar emasmu. “Sangkar Emas tak akan mampu mengubah burung nuri menjadi burung rajawali!”

Sebahagian besar mahasiswa gelisah. Ujian atau demonstrasi. Pilihan sulit. Sementara sekitar 300an mahasiswa ITB dengan jaket himpunannya masing-masing sudah berkerumun membentuk barisan di depan masjid Salman ITB. Rencananya mereka akan bergerak menuju lapangan Gasibu depan Gedung Sate, kantor pemerintahan gubernur Jawa Barat. Selentingan kabar berhembus bahwa seluruh kampus bergerak menuju lapangan itu. Mahasiswa ITB tak boleh ketinggalan. Hanya pecundang yang tak ikut menorehkan jejaknya di hari sejarah ini.

Yang ujian gelisah, yang berbaris di sepanjang jalan histeria. Sekelompok pasukan pengamanan dari kepolisian sudah berjejer rapi menghalangi jalan mahasiswa. Toa dan suara serak danlap bersahut-sahutan dengan teriakan para mahasiswa.

Tetiba, seorang mahasiswa senior Sipil ITB berteriak memecah kegelisahan. “Keluar semuaaaaa! Ujian diundur, atas permintaan mahasiswa (HMS?). Silahkan bergabung dengan kawan-kawan kita di sana! (more…)

Tagged with: ,

ITB Panggung Punggung Kita

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 18, 2014


(Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo) meresmiskan kampus ITB 1959- sumber: kaskus.co.id)

Menarik mencermati penolakan mahasiswa ITB baru-baru ini atas kedatangan capres PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Capres yang terkenal dengan panggilan Jokowi ini datang atas undangan Rektor ITB Ahmaloka untuk peresmian kerjasama ITB-DKI sekaligus diharapkan memberikan kuliah Umum. Namun, pihak mahasiswa ITB kemudian melakan demonstrasi menolak kehadiran Jokowi dengan alasan menjaga netralitas kampus atas symbol-symbol politik.

Di social media, berseliweran ragam pendapat alumni ITB dan lainnya mengenai aksi penolakan mahasiwa ITB ini. Ada yang mendukung, banyak pula yang menyayangkan. Tapi apapun itu, kita menghargai sikap mahasiswa ITB. Berbeda pendapat adalah lumrah, namun juga tak perlu berlebihan menunjukkan ketidakberpihakan atau keberpihakan. Masyarakat akan menilai, apakah kita menjaga panggung sakral kampus ITB yang terkenal anti otoritarianisme pejabat atau menunjukkan punggung buruk karena kebablasan menolak apapun yang berbau politik atawa apolitis.

==

Saya ingat ketika masih berstatus mahasiswa ITB, saat Indonesia sedang mengalami turbulensi politik jelang reformasi, kampus banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik. Sebahagian besar juga merupakan alumni ITB. Mereka datang ke kampus atas undangan teman-tema aktifis kampus, demi untuk sekadar bertukar pikiran atau lebih tepatnya menyerap pengalaman dan mengais informasi-informasi sensitive yang tak sempat diberitakan media. Koran-koran clandestine macam “ApaKabar” dan “Independen” menyebar dalam bentuk fotokopian. Juga Koran Kampus “Ganesha10” yang dikelola aktifis kampus jadi rebutan bacaan saat itu. Di kampus sejuk itu, kami mahasiswa di akhir 90-an ikut merasakan atmosfir politik Indonesia yang makin memanas.

Meski kampus ITB dibersihkan dari segala persentuhannya dengan politik, melalui kebijakan represif Orde Baru yang memberlakukan NKK/BKK sejak awal 1980-an, mahasiswa ITB tidak benar-benar absen dari diskusi atau kegiatan politik skala kecil. Demo-demo kecil menyikapi beberapa peristiwa politik seperti kasus Marsinah, KedungOmbo, dan sebagainya secara sporadis masih berlangsung. Meski tak benar-benar massif karena saat itu gerakan mahasiswa kampus terserak menjadi sebatas unit-unit kegiatan berskala jurusan atau seni-budaya. Organisasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang sejak awal 1980an diajukan pemerintah sebagai pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) tak pernah diterima oleh mahasiswa ITB. Mereka mencurigai independensi organisasi itu karena dalam aturannya, pihak rektorat punya kewenangan tertentu yang dianggap merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Akhirnya para mahasiswa bersepakat untuk “kembali” ke himpunan, tanpa perlu membentuk organisasi besar semacam Dema, meski sesekali para ketuanya berkoordinasi dalam FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Dalam setiap diskusi kemahasiswaan yang digelar teman-teman aktifis itu, saya hanya selalu berada di lingkar terluar, sebagai penggembira dan juga pelengkap. Mungkin karena sifat inferior saya sebagai mahasiswa yang tak melek politik tak banyak yang bisa saya sumbangkan saat itu, meski saat itu juga duduk di kepengurusan inti HMS, UKSS (Unit Kesenian Sulsel) dan Persetama (Persatuan Sepak Takraw Mahasiswa). Tapi saya mencatat lekat-lekat dalam ingatan, betapa nama-nama seperti Rene Conrad, Hery Akhmadi, Fadjroel, Ucok, Jumhur, Syahganda dan lain-lainnya menjadi rujukan pergerakan disamping nama-nama lainnya. Koleksi memorabilia kami adalah kertas-kertas fotokopian yang mencoba merawat ingatan kami bahwa ITB punya sejarah panjang melawan kezaliman penguasa. Sempat kami dijejali mitos bahwa di Indonesia hanya ada 3 gerakan kaderisasi yang paling berhasil “ABRI, PKI dan ITB”. Tak sekadar itu, kami juga riuh ketika membaca bajakan atau selundupan Buku Tetralogi Pram yang tetiba menjadi bacaan romantis kala itu.

Saat memuncaknya gerakan reformasi tahun 1998, ITB juga ikut meneriakan agenda reformasi. Saya ingat bagaimana symbol telapak tangan berwarna merah di atas latar putih diproduksi massif di ITB. Sepertinya “logo” reformasi itu memang produk anak-anak ITB, yang kemudian dikibarkan di setiap demonstrasi, termasuk saat pendudukan gedung parlemen di Senayan.
ITB, kampus tercinta saya itu sepertinya tak benar-benar bersih dalam arus lini masa sejarah politik Indonesia. Kalaupun ada yang berusaha netral dan tak mau membawa symbol politik ke kampus, mungkin maksudnya adalah menjaga ketidakberpihakan terhadap salah satu instrument politik yang sedag bertarung saat ini. Tapi bukan berarti bahwa kampus ITB dan mahasiswanya menjadi apolitis dan tak berpihak kepada, kepentingan masyarakat umum.

ITB adalah panggung kita, bahkan hingga kemudian menjadi sekadar panggung nostalgia yang bagi kami, alumni ITB, tempat kami mengumpul ingatan dan mengenang romantisnya menjadi anak muda yang anti-kepentingan politik. Tapi jangan sampai masyarakat kemudian melihat ITB seagai punggung yang tak penting, tak dikenali dan sehingga, tak bisa diharapkan kontribusinya kepada kepentingan mereka. Ingatlah 1978, 1989 dan 1998. Itulah panggung kita, bukan punggung kita.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Muhammad Ruslailang Noertika, SI-95 (Ketua Ikatan Alumni ITB Komisariat UAE)

(more…)

Tagged with:

Malari 1974 dan Embrio Reformasi 1998

Posted in Indonesia, Renungan by daengrusle on January 15, 2014

 

Foto Peristiwa Malari 1974 (sumber: Majalah Tempo)

Foto Peristiwa Malari 1974 (sumber: Majalah Tempo)

Generasi muda Indonesia yang lahir paska 1980-an mungkin agak sulit menyusun imajinasi tentang peristiwa Malari yang terjadi 40 tahun silam. Juga tak banyak cerita tentang peristiwa ini didapatkan di buku-buku sejarah resmi yang dipakai di sekolah-sekolah. Padahal, peristiwa Malari ini sejatinya adalah gerakan koreksi pertama yang dilancarkan golongan menengah Indonesia (baca: mahasiswa) terhadap pemerintahan Orde Baru yang saat itu sudah berkuasa sejak 1967.

Nama Malari sendiri merupakan singkatan dari tanggal peristiwa itu: Malapetaka Lima Belas Januari 1974. Peristiwa yang lebih sering digambarkan sebagai kerusuhan sosial yang dipicu oleh demonstrasi mahasiswa Jakarta itu sendiri tumpas hanya dalam sehari oleh presiden Soeharto dan ABRI-nya. Tokoh-tokohnya baik yang terlibat secara langsung ataupun yang sekadar menginspirasi, ikut ditangkap atau jabatannya dicopot, termasuk Pangkopkamtib, Kabakin hingga Rektor UI saat itu. Namun riwayat Malari rupanya tak berhenti karena diberangus oleh rezim Orde Baru, ia menjelma menjadi bara yang setiap saat memantik pergerakan mahasiswa di tahun 1980an hingga kemudian puncaknya menghasilkan gerakan reformasi tahun 1998.

Malari dan Kapitalisasi Asing

Ada banyak peristiwa yang mendahului Malari. Deklarasi Golput tahun 1972 sebagai protes atas dominannya kekuasaan politik, protes pembangunan TMII 1972, kerusuhan rasialis di Bandung bulan Agustus 1973 hingga kedatangan ketua IGGI JP Pronk bulan November 1973 adalah diantaranya. Puncak peristiwa Malari sendiri terjadi saat PM Jepang Tanaka Kakuei melawat ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa UI yang dipimpin Hariman Siregar, Syahrir dan lain-lain yang sejak lama menentang lubernya modal asing menggunakan momen itu untuk menggerakkan demonstrasi menentang modal asing, yang saat itu direpresentasikan oleh Jepang. Berawal dari long march mahasiswa dari Kampus Universitas Indonesia (UI) di Salemba menuju Kampus Universitas Trisakti di Grogol. Mahasiswa kemudian memaklumatkan Tritura 1974, yang meminta pemerintah menurunkan harga-harga, membubarkan aspri (asisten presiden), dan menggantung koruptor-koruptor. Mahasiswa kemudian membakar patung PM Jepang Kakuei Tanaka sebagai bentuk protes atas modal asing.

Demonstrasi itu kemudian berangsur ricuh dan memicu kerusuhan sosial di seluruh Jakarta. Mobil-mobil Jepang dirusak dan dibakar oleh massa, berikut perusakan dan penjarahan toko-toko yang dianggap representasi asing di Jakarta. (more…)

Ceramah DR Alwi Shihab di Abu Dhabi: Hindari Sikap Mengkafirkan Sesama Muslim

Posted in Indonesia, Random by daengrusle on December 24, 2013
Dr Alwi Shihab saat di pengajian KMMI Abu Dhabi (Foto: Sukirno Maskur)

Dr Alwi Shihab saat di pengajian KMMI Abu Dhabi (Foto: Sukirno Maskur)

Di sela-sela lawatannya ke Timur Tengah, Dr Alwi Shihab, sosok yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri (Kabinet Abdurrahman Wahid) dan Menko Kesra (Kabinet SBY) dan juga pernah ditugaskan sebagai Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk wilayah Timur Tengah, memanfaatkan waktunya yang singkat dengan memberikan ceramah dalam pengajian bulanan KMMI (Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia) di Abu Dhabi pada tanggal 21-Desember 2013.

Bertempat di Aula Ahmad Soebardjo Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi, sejumlah lebih kurang 80 orang masyarakat Indonesia beserta keluarga antusias mendengarkan petuah dari tokoh senior Indonesia yang juga seorang politisi, agamawan, dan penulis buku terkenal “Islam Inklusif” ini. Berikut ini adalah uraian singkat ceramah beliau.

 

Hindari Sikap Mengkafirkan Sesama Muslim

Dr Alwi Shihab memulai ceramahnya dengan mengungkapkan bahwa baru-baru ini, sambil mengutip berita yang dilansir koran terkenal, bahwa NU dan Muhammadiyah telah menyerukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berhati-hati mengeluarkan fatwa yang menyatakan sesat kepada mazhab tertentu, dalam hal ini mazhab Syiah. Kehati-hatian ini diperlukan untuk menghindari konflik horizontal yang saat ini sering terjadi, termasuk kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda keyakinan. Kejadian yang menimpa komunitas muslim Syiah di Sampang Madura dan beberapa pengikut tarekat di Jawa contohnya adalah imbas dari perilaku yang merasa benar sendiri dan menghakimi umat lain sebagai sesat.

 

Beliau juga mencontohkan bahwa saat ini banyak media internet, juga media radio yang gemar mengabarkan perbedaan dan mengobarkan perpecahan di kalangan umat Islam. Padahal perbedaan yang ada hanyalah sedikit, hanya terpaut di masalah-masalah yang kecil, tidak sampai menyangkut hal-hal besar. Seperti Syiah dan Sunni, keduanya diakui sebagai mazhab dalam Islam. Dr Alwi Shihab menceritakan bahwa ketika beliau bersama Prof Quiraish Shihab menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, di sana mereka juga mempelajari mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab Islam. Kalau bukan mazhab yang diakui dalam Islam, tidak mungkin mereka diberi pelajaran mengenai mazhab tersebut. Karenanya, adalah hal yang kurang bijak sekiranya ada sekelompok orang yang kemudian memperkeruh persatuan Islam dengan menyebarkan issue-issue tentang sesatnya Syiah.

 

Islam mazhab Syiah tak jauh berbeda dengan islam mazhab Sunni. Mereka bersyahadat, zakat, sholat menghadap kiblat, berhaji di Mekka dan hal-hal lain dikerjakan sebagaimana halnya umat islam yang bermazhab Ahlus Sunnah. Adapun perbedaan-perbedaan yang ada, tidak usah diperuncing karena tak begitu signifikan. Debat antara ulama Sunni dan Syiah sudah berlangsung ribuan tahun, dan banyak yang dilaksanakan dengan cara yang santun sesuai akhlakul karimah. Para ulama yang berdebat itu tak pernah saling mengkafirkan apalagi menyebarkan dakwah yang menyatakan sesatnya mazhab yang lain. Karenanya kita, sebagai ummatnya tak boleh ikut-ikutan mengkafirkan sesama Muslim.

 

Konflik Sunni-Syiah Berlatar Politik

Ditengarai oleh beliau, bahwa meruncingnya eskalasi konflik horizontal antara Sunni dan Syiah yang terjadi dewasa ini di Indonesia dan beberapa tempat lain di dunia lebih dilatar belakangi oleh kepentingan politis. Dr Alwi Sihab, yang kini menjadi salah satu tim ahli dalam Fetzer Insitut (www.fetzer.org) – lembaga nirlaba yang berdiri di Michigan Amerika Serikat yang mengkampanyekan toleransi damai dan indah dengan slogannya “Love and Forgive”, mencontohkan bagaimana konstelasi hubungan Amerika Serikat dengan Saudi Arabia dan Iran. Menurut beliau, sebelum terjadinya revolusi Islam Iran oleh Ayatulah Khomeini tahun 1979, pemerintahan Iran yang dipimpin oleh Syah Reza Pahlevi dikenal berkarib dengan Amerika Serikat. Demikian juga dengan Kerajaan Saudi Arabia saat itu. Ketika kedua negara yang berbeda mazhab itu sama-sama menjadi negara sahabat Amerika Serikat, keduanya ikut bersahabat. Saudi Arabia yang wahabi bersahabat dengan Iran yang Syiah. Namun, sejak tahun 1979, keadaan berubah. Iran yang dipimpin Imam Khomeini menjadi musuh Amerika Serikat, sedangkan Saudi Arabia tetap menjalin persahabatan dengan Amerika Serikat. Sejak itu, juga hubungan kedua negara itu memanas. Kerajaan Saudi Arabia kemudian dikenal berkonfrontasi dengan pemerintah Iran. Jadi konflik yang ada kini disebabkan oleh politik.

 

Konflik politis antara Saudi dan Iran kemudian merembes ke persoalan mazhab. Kedua negara itu berupaya juga ikut memengaruhi negeri lain. Dalam satu kesempatan, Dr Alwi Shihab bercerita, ketika bertemu dengan wakil pemerintah Iran, ia menyatakan bahwa Iran sangat ingin menjalin persahabatan yang lebih erat dengan Indonesia. Demikian juga pemerintah Saudi Arabia. Masing-masing ingin agar Indonesia dekat dengan mereka karena keduanya memandang betapa pentingnya Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun, menurut Dr Alwi Shihab, Indonesia yang dikenal dunia sebagai Negara dengan penduduk  mayoritas islam yang moderate selayaknya memang bersahabat dengan semua negara Islam, tapi jangan sampai konflik politis yang terjadi di antara mereka juga ikut tertular ke negeri kita. Biarlah Indonesia menjadi negeri muslim yang damai, toleran sesuai dengan pedoman bernegara, Pancasila. Apa yang terjadi di Mesir, Pakistan dan negara lain yang terus menerus dirundung konflik, adalah karena ketiadaan pedoman yang diakui bersama. Kedua Negara itu tidak mempunyai alat pemersatu, Pakistan yang dahulu dikenal sebagai negara islam moderate kini tidak bisa lagi disebut moderate karena konflik horizontal yang dipicu oleh perseteruan politik dengan mengendarai issue antar mazhab. Demikian juga dengan Mesir yang kini mempunyai masalah dimana masyarakatnya terpecah menjadi dua antara yang sekuler dengan yang islamis karena Mesir tidak mempunyai alat pemersatu seperti  Indonesia memiliki Pancasila, yang diakui oleh baik kaum agamawan maupun kelompok liberal sebagai dasar negara. Pancasila mempersatukan kita semua, karenanya kita harus merawat bersama-sama kondisi ini.

 

Ditambahkan oleh beliau, pemerintah Saudi Arabia juga sebenarnya tak bisa menganggap Syiah itu keluar dari Islam. Karena mayoritas penduduknya yang tinggal di kawasan timur seperti Dhahran, Dammam dihuni oleh muslim bermazhab Syiah sejak seribu atau ratusan tahun lalu. Kalau sekiranya pemerintah Saudi Arabia menganggap Syiah itu diluar Islam, maka itu bisa menimbulkan pemberontakan dari warganya itu. Juga ditambahkan, bahwa Organisasi Konferensi Islam (OKI http://www.oic-oci.org ) yang merupakan organisasi kerja sama negara-negara berpenduduk muslim di seluruh dunia, mengakui mazhab Syiah sebagai salah satu mazhab yang sah dalam Islam (catatan: Iran, sebagai negara dengan pemeluk islam syiah terbesar menjadi anggota OKI sejak didirikan tahun 1969).  Karenanya, Muslim Syiah dibolehkan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci.

 

Bangun Toleransi Melalui Pendidikan

Dr Alwi Shihab memberikan pandangannya, bahwa salah satu cara untuk meredam gejolak pengkafiran dari sebagian muslim kepada sesamanya adalah dengan melalui pendidikan. Dengan memberikan pemahaman yang baik dalam proses pendidikan tersebut, umat islam akan lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan. Meskipun diakui bahwa saat ini, kelompok-kelompok yang mudah mengkafirkan sesama muslim itu juga bercokol di institusi pendidikan, namun upaya terus menerus untuk menggerus sikap keliru dalam mengkafirkan orang lain itu bisa dimaksimalkan melalui pendidikan.

 

Dengan pendidikan, umat Islam akan diberikan wawasan yang luas dan bijak mengenai betapa indahnya Islam dalam keberagamannya, sehingga mereka akan saling menghormati dan menghargai seluruh mazhab yang diakui dalam Islam. Juga, dalam sesi tanya jawab dengan peserta, beliau mengakui bahwa pemerintah Indonesia juga perlu mengambil tindakan tegas untuk mencegah tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mudah mengkafirkan sesamanya. Hal ini diperlukan agar sikap intoleran tersebut dapat diredam secara cepat tanpa menyebar ke masyarakat lainnya. Mereka yang suka bertindak intoleran itu umumnya sedikit dibanding yang lain yang  menjadi “silent majority”. Semoga dengan metode pendidikan yang mengedepankan akhlakul kharimah, umat yang “silent majority” menjadi tergugah untuk menyatakan sikapnya yang lebih bijak dan dewasa memandang perbedaan antar sesama umat Islam.

 

 

Abu Dhabi, 24 Desember 2013.

Menakar Ulang Jumlah Korban Westerling

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 12, 2013

Tulisan ini dimuat di Koran Tribur Timur Makassar edisi 12 Desember 2013 dengan beberapa penyesuaian/edit dari Redaksi Tribun Timur. Versi lengkapnya adalah berikut ini.

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

 

 

 

Kata maaf dan uang sama sekali tak setara dengan nyawa. Meski tak bisa membayar lunas, tapi setidaknya permohonan maaf dan pemberian kompensasi bisa menjadi penawar kesedihan yang dinanti sejak lama oleh keluarga korban jagal Westerling di masa aksi militernya di Sulawesi Selatan dalam kurun 1946-1947. Aksi militer pada masa awal kemerdekaan ini konon menelan 40ribu korban jiwa rakyat Sulawesi Selatan kala itu. Namun, benarkah jumlah 40ribu  yang kadung dipercaya sebagai angka bersejarah itu?

Penantian panjang itu tiba tanggal 12 September 2013. Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili Duta Besar-nya di Indonesia, Tjeerd de Zwaan, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada ahli waris para korban yang tewas saat aksi militer Letnan Raymond Westerling beserta pasukan khususnya, Depot Speciale Troepen KNIL – DST (Depot Pasukan Khusus). Mewakili pemerintah Belanda, de Zwaan memintakan maaf atas peristiwa muram yang tercatat dalam lembar sejarah itu, terkhusus kepada para janda korban yang tersebar di Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar dan Parepare.

Zwaan menambahkan, selama beberapa tahun terakhir, perwakilan ahli waris dari Sulawesi Selatan, yang keluarganya tewas akibat eksekusi besar-besaran Westerling telah mendatangi pengadilan di negeri Belanda untuk meminta ganti rugi. Menurutnya, Pemerintah Belanda telah membuat kesepakatan dengan para ahli waris tersebut untuk memberikan kompensasi senilai 20 ribu Euro atau Rp301 juta bagi setiap korban.

Berpuluh tahun sebelumnya, pemerintah Belanda menolak meminta maaf. Alasan resminya adalah bahwa aksi militer yang membuat ribuan nyawa meregang di Sulawesi-Selatan, digencarkan dalam masa darurat perang. Dalam keadaan darurat, aksi militer bagaimanapun konon bisa dibenarkan, terutama untuk mengamankan kepentingan pihak yang berperang.

Sejarah Indonesia menuliskan, Raymond Westerling, perwira Belanda kelahiran Turki itu bersama pasukan DST-nya pernah menerapkan metode pembersihan musuh yang membabi-buta di Sulsel yang kemudian terkenal dengan peristiwa “Korban 40ribu Jiwa”. Metode pembantaian ini konon mencontoh kisah sukses Gestapo, polisi rahasia NAZI yang dibesut Hitler di era Perang Dunia II. Meski kejam, tapi pemerintah Belanda kala itu menghargai ‘upaya’ sang Jagal berjuluk “The Turk” itu sebagai metoda efektif untuk meredam perlawanan gerilyawan Indonesia kala itu. Selepas aksi militer itu, mingguan militer Belanda Het Militair Weekblad mengabadikannya dengan headline yang memukau: “Pasukan si Turki kembali”. Meski sempat diperiksa oleh mahkamah Belanda tahun 1954 atas tuduhan kejahatan perang, namun ia dibebaskan dari segala tuduhan tanpa pernah dipenjara. Hingga akhir hayatnya, Westerling sempat membukukan kisah hidupnya dalam “Memoires” (1952) dan “De Eenling” (1982).

Mitos angka 40ribu

Konon penulisan sejarah juga punya sisi hiperbolik, demi untuk menarik simpati generasi setelahnya atau melanggengkan tujuan tersirat lainnya, penguasa acap menjabarkan ragam peristiwa sejarah dengan amat berlebihan. Penulisan sejarah yang lebih didominasi oleh penguasa terkadang seenaknya menciptakan stigma atau mengarang kejadian yang tak semestinya. Padahal, sejarah tidak bisa ditafsirkan tunggal. Ia bisa saja muncul dalam berbagai ragam versi tafsiran, termasuk dari sisi pihak yang berseberangan.

Masih ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang saban tahun pernah dipertontonkan pemerintah OrdeBaru setiap tanggal 30 September? Di film itu betapa kekejaman PKI termasuk underbownya Gerwani digambarkan secara dramatis, sampai melakukan ”rekonstruksi” adegan kekerasan dengan menyilet dan memotong kemaluan para jendral. Kesaksian beberapa dokter forensik, di pengadilan terhadap para pelaku G30 S/PKI, rupanya tidak mengkonfirmasi adanya penyiksaan fisik itu. Jadi ada beberapa versi adegan film garapan Arifin C Noer yang dibuat tahun 1984 itu ternyata berbeda dengan fakta sebenarnya. Tapi demi kepentingan propaganda penguasa, adegan-adegan mengerikan itu dibuat sedemikian rupa untuk menggugah emosi pemirsa dan merawat stigma komunis sebagai bahaya laten yang teramat jahat.

Bagaimana dengan korban aksi militer Westerling yang menyebutkan angka 40,000 jiwa? Dalam buku pelajaran sejarah, ritual perayaan, dan segala monumen yang dimaksudkan untuk merawat ingatan muram atas peristiwa kelam ini, pemerintah sudah kadung menyebut angka bersejarah “40ribu jiwa”. Hari peringatannya, nama jalan di utara Makassar lengkap dengan monumen khusus, menyebut dengan yakin angka 40ribu ini. Setiap ada yang menyebut angka 40ribu jiwa, maka ingatan masyarakat akan merujuk ke peristiwa itu. Sedari awal pelajaran Sejarah diajarkan, anak-anak sudah merekam angka ini dengan telaten.

Sesungguhnya banyak yang meragukan jumlah korban Westerling itu benar mencapai angka 40 ribu jiwa. Profesor Andi Ima Kesuma, guru besar ilmu sejarah di Universitas Negeri Makassar, ikut meragukan angka itu. Menurutnya, angka 40ribu juwa bukanlah angka yang pasti. Jumlah itu hanya digunakan untuk membahasakan begitu banyaknya korban yang tewas dalam peristiwa itu (Tempo, 2011).

Angka 40ribu ini juga tak diakui oleh pemerintah Belanda. Dalam suatu penyelidikan yang dipimpin oleh Sejarahwan Belanda Cees Fasseur tahun 1969, pemerintah Belanda menyampaikan angka sekitar 3000 korban jiwa yang konon dibantai oleh pasukan Westerling dalam aksi yang disebut sebagai Counter Insurgency (Aksi balasan melawan pemberontak). Westerling sendiri dalam memoirnya hanya menyebutkan jumlah korban sekitar 400-600 jiwa. Seorang sejarawan muda Indonesia, Petrik Matanasi, penulis buku “Westerling, Kudeta yang Gagal” (2007) dan “KNIL: Bom Waktu Tinggalan Belanda (2008) juga meragukan angka itu. Ia menyatakan bahwa korban Westerling hanya berkisar pada angka ribuan, tidak sampai puluhan ribu. Bahkan menurutnya, TNI AD juga pernah melakukan penyelidikan dan menyatakan jumlah korban Westerling sekitar 1.700 jiwa. Meski tak sampai puluhan ribu, namun tetap saja jumlah korban sipil itu sangat memilukan.

Prof A Rasyid Asba dan Edward Poelinggomang, sejarawan Unhas pernah memaparkan bagaimana sejarah munculnya angka 40ribu jiwa itu. Adalah Kahar Muzakkar, saat masih menjadi ajudan Bung Karno tahun 1947, mencetuskan angka tersebut. Saat Bung Karno mengajak bangsa Indonesia bersimpati atas tewasnya 40 penumpang kereta akibat tindakan sabotase Belanda, Kahar Muzakkar memberikan komentar bahwa tak begitu lama dari persitiwa kecelakaan kereta api itu, di Sulsel juga terjadi pembantaian oleh Westerling dengan angka korban mencapai 40 ribu jiwa. Saat itu Kahar Muzakkar protes karena peristiwa memilukan ini tidak mendapat perhatian pemerintah pusat dan tidak dijadikan hari berkabung nasional.

Prof Salim Said, seorang analis militer, ketika mewancarai Kapten Westerling pada tahun 1969, menyebut angka 40 ribu jiwa itu sebagai “klaim politik” Kahar Muzakkar. Salim Said menyamakan klaim itu mitos yang tak sesuai kenyataan, sembari menyamakan dengan mitos 350 tahun Indonesia dijajah Belanda. Westerling sendiri, dalam pengakuannya kepada Salim Said, mengaku jumlah korban hanya 463 orang.

Meski demikian pada tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB mengenai kebrutalan Belanda dalam agresi Militernya. Dalam nota protes itu, disebutkan jumlah korban pembantaian rakyat sipil di Sulsel mencapai 40.000 jiwa. Tak urung hal ini menimbulkan kegaduhan internasional dan memalukan pemerintah Belanda. Selepas laporan itu, keberadaan pasukan DST  dan beberapa pos jabatan militer Belanda mengalami restrukturisasi.

 

Kronologi Singkat Pembantaian

Bagaimana kronologi “pembantaian” Westerling dan pasukannya? Sebanyak 123 prajurit pasukan komando DST yang sebagian dicomot dari pasukan KNIL pimpinan Letnan Westerling tiba di Makassar tanggal 5 Desember 1946. Enam hari kemudian, prosesi pembantaian itu dimulai di Batua Makassar. Sekitar 3000 rakyat dikumpulkan di lapangan terbuka di Batua; ada 44 lelaki yang dianggap “teroris” kemudian dieksekusi di tempat, termasuk 9 pemuda yang coba melarikan diri. Dua hari kemudian, 12-13 desember 1946 korban Westerling bertambah 81 orang, dengan menembaki membakar hangus desa-desa di Tanjung Bunga dan sekitarnya. Tanggal 14-15 desember 1946, ada 23 orang dibunuh oleh tentara Westerling, kemudian tanggal 16-17 desember 1946 ada 33 penduduk yang dianggap gerilyawan dibunuh . Yang paling parah adalah periode dari tanggal 26 Desember 1946 hingga 3 Januari 1947, ada 257 orang yang dibunuh pasukan DST pimpinan Westerling di daerah Gowa.

Aksi pasukan Westerling terbilang liar dan tak terkendali. Sebahagian besar pasukannya sudah terlibat banyak pertempuran dengan pejuang Indonesia sejak di Jawa. Mereka sama sekali tidak peduli status sosial calon korbannya, tercatat seorang Datu Suppa dan beberapa pimpinan daerah masuk dalam daftar korbannya. Bahkan VTPL —pedoman standar serdadu Belanda dalam aksi polisional— tak dipatuhinya. Mereka merasa mereka hanya membunuh para gerilyawan saja dan merasa tidak peduli dengan hukum perang dan kemanusian.

Aksi Westerling baru berakhir di 16-17 Februari 1947 di Mandar dengan korban 364 jiwa, dan benar-benar berhenti tanggal 21 Februari 1947 dimana Belanda kemudian menarik penuh pasukan DST dari Sulawesi Selatan, dikarenakan berita kebrutalan pasukan ini sudah menyebar luas ke luar negeri. Kalau dihitung rata-rata korban perhari yang dibunuh Westerling, tarohlah sekitar 40-100 orang perhari, maka dari tanggal 11-Desember 1946 hingga 17 Februari 1947 yang memiliki rentang 68 hari sekira tanpa jeda, Westerling telah membunuh rakyat Sulawesi Selatan sekitar 2700 – 6800 jiwa. Angka ini jauh dari anggapan yang diyakini masyarakat saat ini dan kemudian dicetak resmi dalam buku-buku sejarah: 40,000 jiwa.

Menurut Petrik Matanasi, metode Westerling dalam mendapatkan nama-nama korbannya melibatkan juga penduduk setempat. Dia memaksa salah seorang penduduk, di bawah todongan senjata, untuk menunjukan siapa gerilyawan maupun orang-orang yang terlibat dalam perjuangan. Tentu saja orang itu dibawah todongan senjata api. Konon, orang yang malang dan terancam itu, terpaksa menunjuk sembarangan agar terbebas dari peluru tentara Belanda. Bukan tidak mungkin si orang tersebut menunjuk mereka yang tidak disukainya di kampung. Jadilah korban sipil jatuh tak terhitung.

Para pejuang Indonesia kala itu sepertinya tak mampu menghentikan laju pembantaian. Korban sipil bergelimpangan tanpa perlawanan berarti. Buku Sejarah kemudian menuliskan angka 40ribu jiwa, yang kemudian diragukan. Oleh generasi muda kini, angka 40ribu itu seperti angka mitos. Selain menunjukkan lemahnya perlawanan, juga cacat dari sisi statistik. Berapa banyak jumlah penduduk daerah-daerah yang dilalui Westerling saat itu, apakah bahkan mencapai angka 40ribu jiwa?

Westerling sendiri di masa akhir hidupnya bekerja sebagai penjaga pantai di Amsterdam, setelah sempat meniti karir sebagai penyanyi tenor namun gagal tahun 1958 di Breda namun gagal. Westerling, sang jagal yang dikenal tak punya rasa takut itu akhirnya mati terbunuh oleh jantungnya sendiri di tahun 1987, dalam usia 68-tahun. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mau mengakui kejahatan perang yang dilakukannya, ia berkilah bahwa metode pembersihan itu wajar dalam masa perang. Melakukan terror untuk menghentikan terror dianggapnya efektif meredam perlawanan rakyat. Hal yang sama mungkin di-amini oleh pembesar-pembesar militer NICA/KNIL kala itu, tapi bagaimana dengan nasib korban penduduk sipil yang tak bersalah? 40ribu, 3000, 400 jiwa atau berapapun jumlahnya, tetaplah peristiwa ini sebagai catatan muram sejarah bangsa yang layak dikenang. Tentu pengorbanan mereka perlu dibayar dengan layak, misalnya dengan membangun Sulawesi Selatan yang bersih tanpa korupsi.

Sejarah Syiah Nusantara – Prof DR Abubakar Aceh

Posted in Indonesia, Sejarah by daengrusle on November 19, 2013

Dikutip dari buku “Aliran Syiah di Nusantara” karangan Prof Dr Aboebakar Atjeh* terbitan Islamic Research Institute, Jakarta, 1977.

==

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Beberapa pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, menyatakan bahwa di kalangan Mubaligh-mubaligh yang menyebarkan Islam di nusantara terdapat Ahlil Bait atau orang Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said.

Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam dizaman purbakala itu, yang terdiri dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu.

Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain,
2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,
3. Diantara mazhab pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,
4. Pemeriksaan yang teliti dan jujut akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.

Sebagai keterangan ad 1. ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman, seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orang-orang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah”(“Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.) (Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapal-kapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampung yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa. (more…)

Riwayat Sebuah Buku Tua Tentang Makassar

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
buku Gervaise ttg Makassar

buku Gervaise ttg Makassar

Buku kecil bersampul coklat itu dicetak dalam bahasa Perancis dengan judul “Description Historique du Royaume de Macaçar” (Deskripsi Sejarah Kerajaan Makassar). Penulisnya disebutkan bernama Nicolas Gervaise, seorang pendeta Jesuit berkebangsaan Prancis. Buku yang terdiri dari tiga bagian itu khusus mengulas tentang Kerajaan Makassar bertarikh tahun 1700.

Di laman website forumrarebooks – forum kolektor kitab kuno berbasis di Belanda, buku kecil berukuran setengah halaman folio itu tak tanggung-tanggung dilelang dengan banderol € 4,950 atau setara dengan Rp 75juta. Dalam katalognya bertema khusus Indonesia, buku ini termasuk yang paling mahal. Buku antik itu senilai dengan puluhan jilid ensiklopedia keluaran terbaru atau bahkan bisa membeli satu unit mobil murah asal pabrikan Jepang saat ini. Padahal, bagi pembaca di zaman sekarang tak ada yang begitu istimewa dari isi buku yang tebalnya 280 halaman itu, apalagi yang dipaparkannya tergolong informasi yang umum bahkan beberapa bagian malah sudah tak akurat lagi.

Usianya yang lebih dari 310tahun-lah yang mungkin menjadikannya teramat mahal dihargai oleh pengelola situs kurator kitab kuno itu. Diterbitkan lebih dari tiga abad silam, bisa menjadikannya sebagai buku resmi pertama yang diterbitkan oleh Eropa tentang Sulawesi Selatan. Bahkan mungkin termasuk buku terbitan Eropa paling awal yang mengulas Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Sebenarnya buku yang dilelang ini hanyalah edisi kedua dari buku yang edisi pertamanya diterbitkan di Paris 12 tahun sebelumnya, 1688.

Meski dipercaya bahwa Sumatera, Jawa dan kepulauan Maluku sudah terkenal sebagai penghasil emas, padi dan rempah jauh sejak sebelum permulaan abad masehi, namun belum ada buku khusus yang diterbitkan mengenai Indonesia hingga tahun 1688 ketika buku edisi pertama “Description Historique du Royaume de Macaçar” diterbitkan. Buku “History of Java” karangan Sir Stamford Raffless yang terkenal itu, baru diterbitkan di tahun 1817, demikian juga buku Adolf Bastian yang mula memperkenalkan nama Indonesia “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” baru diterbitkan tahun 1884.

Menarik bahwa dari penelusuran riwayat hidupnya, penulis buku ini diyakini tak pernah menginjakkan kakinya di Makassar, sehingga patut dipertanyakan dari sumber mana Gervaise menuliskan buku deskriptif dengan tebal 280 halaman ini. Dengan memberikan informasi detail tentang sejarah, tetumbuhan, adat kebiasaan, hingga makanan orang Makassar, ditengarai bahwa sang penulis memperoleh asupan informasi dari orang asli Makassar yang saat itu bermukim di Prancis. Apa yang dilakukan oleh orang Makassar di negeri yang jauhnya hampir separuh bola bumi di masa itu? Juga, mengapa yang disebutkan adalah kerajaan Makassar, bukan Gowa-Tallo sebagaimana yang umumnya dikenal. Makassar memang cukup dikenal oleh VOC dan para pedagang asing sebagai kota pelabuhan atau nama suku tetapi ia bukanlah nama resmi kerajaan maritim yang pernah sangat berkuasa di kepulauan timur nusantara abad 16-17M itu. Saat buku itu diterbitkan, Kerajaan kembar Gowa-Tallo baru saja ditaklukkan oleh persekutuan VOC – Bone yang dipimpin CJ Speelman – Arung Palakka dalam perang Makassar 1667-1669.

Riwayat buku tua tentang Makassar ini melebar jauh. Keberadaannya meninggalkan jejak sejarah; migrasi awal orang Makassar ke Eropa pada akhir abad 17 saat buku tersebut diterbitkan. Konon, itulah jejak diaspora orang Makassar pertama ke daratan Eropa yang dapat dilacak. Dua Indonesianis asal Prancis; Denys Lombard dan Christian Pelras memerlukan melakukan riset mendalam mengenai buku kecil ini. Hasil riset mereka kemudian diterbitkan dalm Jurnal Archipel terbitan Paris, Prancis edisi tahun 1971 (Lombard) dan 1997 (Pelras).

Tagged with: , ,

Makassar Dalam Ensiklopedia Inggris Bertarikh 1836

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Bukan Gowa-Tallo yang dikenal oleh bangsa Eropa hingga abad 19, tapi Makassar. Dalam banyak literatur Eropa masa itu, memang banyak ditemukan kekeliruan dalam mengidentifikasi kerajaan kembar di selatan Sulawesi itu dengan menyebutnya sebagai Makassar saja. Mungkin karena kota pelabuhan itu yang lebih dikenal oleh para pedagang, atau bisa jadi untuk menghindarkan kesalahan identifikasi karena di saat yang sama Goa juga menjadi nama sebuah daerah terkenal di India Selatan. Sejarawan Edward Polinggomang (2002) yang meneliti kegiatan niaga Makassar abad 19 juga mengindikasikan lumrahnya kesalahan ini ditemukan dalam banyak penelitian.

Makassar sendiri sudah kadung dikenal sebagai pelabuhan internasional semenjak jatuhnya Malaka oleh serangan Portugis tahun 1511. Sejak Portugis memonopoli jalur laut di Selat Malaka, para pedagang saat itu kemudian memindahkan kegiatannya ke kerajaan Siang, kemudian ke Makassar. Kerajaan Siang adalah satu kerajaan pra-islam yang pernah berdiri di sekitar Pangkep sebelum kemudian ditaklukkan oleh Gowa-Tallo.

Perihal Makassar, raja Gowa-Tallo saati itu Sultan Malikussaid bersama Karaeng Pattingalloang (1639-1653) memang mencanangkannyasebagai pelabuhan niaga internasional yang disesuaikan dengan azas Mare Liberum (Laut milik bersama). Sejak itu, Makassar menjadi kota dunia dan menjadi pusat transaksi niaga dan lalu lalang rempah, teripang, keramik dan sebagainya. Tercatat beberapa negara Eropa semisal Inggris, Portugis, Belanda, Denmark membangun pos dagangnya di Makassar, selain pos dagang Cina, Arab dan Melayu. Konon, penduduknya mencapai jumlah seratus ribu jiwa pada tahun 1615. Sayangnya popularitas nama Makassar justru membuat nama Gowa-Tallo menjadi terpendam. Gowa-Tallo sendiri lebih memusatkan pemerintahannya di Somba Opu, juga Galesong yang letaknya cukup jauh dari Makassar.

Sebuah ensiklopedia lawas bertajuk “British Cyclopedia” terbitan Orr and Smith London tahun 1836 juga memuat kekeliruan ini. Ensiklopedia tersebut hanya menyebut nama “kerajaan” Makassar sebagai representasi kerajaan yang sebenarnya, Gowa-Tallo. Meski ada juga kata Goa dalam buku itu, tapi merujuk ke nama daerah di India yang saat itu dikuasai Portugis. Nama Gowa ataupun Tallo tak disebutkan sama sekali. Di halaman 764 dari volume-2 ensiklopedia itu, sang penulis Prof Charles Partington membuka pemaparan tentang kota ini dengan cukup dramatis;

Makassar, dahulunya merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda, terletak di barat daya pulau Celebes, kekuasaannya pernah membentang dari teluk Bone hingga Tanete. Puncak kejayaanya terjadi pada masa pertengahan abad ke-17, dengan tak hanya menguasai sebahagian besar pulau Celebes, tapi juga menjangkau Loma, Mandelly (Mandar?), Bima, Tambora, Dompo and Sangar (Sangir?). Pemerintahannya juga berhasil menaklukkan Buton, Bungay, Gapi, Xulla Island (Sulu?) dan Sumbhawa. Mereka juga menguasai Salayr (Selayar?) yang merupakan wilayah pemberian Baabullah (Sultan Ternate yang berkuasa kurun 1528-1583, pen)

Ensiklopedia ini juga mengulas bangsa asing yang mula menginjakkan kaki di kerajaan ini. Disebutkan bahwa orang Portugis menjejak sejak tahun 1512, juga orang-orang Melayu mulai berdatangan pada periode setelahnya. Orang Melayu bahkan diperbolehkan mendirikan masjid di perkampungannya. Agama Islam (disebutkan sebagai Mohammedan religion) disebutkan belum dianut oleh orang-orang Makassar saat kedatangan Portugis, meski juga tak bisa ditelusuri agama apa yang diyakini oleh orang2 Makassar saat itu, walaupun diakui bahwa mereka sudah punya peradaban tinggi. Baru pada tahun 1603, keseluruhan Makassar beralih menjadi penganut Islam dengan masuknya Raja Tallo berikut bangsawan Gowa-Tallo.

Tagged with: ,