…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Lebaran Tak Berlebaran

Posted in Abu Dhabi, agama, Renungan, Uncategorized by daengrusle on June 26, 2017

11796213_10153430497541327_7660910469704979051_n.jpg

Ini tentang Lebaran yang tak lebaran. Tentang mesjid di dekat rumah saya.

Salah satu yang membuat saya selalu berusaha menyempatkan sholat berjamaah di masjid itu karena soal ringan: salaman dan jabat tangan. Di masjid-mesjid lain di negeri gurun ini, saya agak kesulitan menemukan “ritual” salam-salaman ini seperti yang saya alami waktu kanak-kanak. Mungkin karena ada fatwa sekelompok ulama yang menganggap salaman sehabis sholat itu bid’ah dan tidak ada dalil nya menurut mereka, selain juga berdoa sehabis sholat yang tak dilakukan berjamaah. Di masjid ini, bahkan kita bisa bersama-sama melantunkan doa dan munajat dengan suara nyaring pada bagian-bagian tertentu. Pada akhir doa, kita bersama mengakhirkan dengan bacaan sholawat dan alfatihah, kemudian menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan jamaah yang ada di sebelah kiri, kanan, depan dan belakang. Persis di Indonesia.

Rasa bahagia berjamaah di masjid itu semakin membuncah ketika sholat jumatan. Pasalnya, sehabis ritual doa dan salam-salaman, akan ada sesi khusus untuk bersalaman dengan khatib yang juga merangkap sebagai imam sholat jumat. Para jamaah akan membentuk barisan antrian panjang seperti di pesantren. Yang menarik bahwa kita tak hanya bersalaman, tapi juga berkesempatan mencium kening, atau sekira memungkinkan bersentuhan pipi kanan dan kiri dengan sang Imam. Betapa bahagianya! Saya kadang menambahi dengan merapatkan wajah dan hidung saya ke jubah sang Imam tepat di dada kanannya. Wangi harum jubah dan rasa takzim bercampur baur setelahnya.

Saat akhir Ramadan kemaren, masjid ini menyatakan bahwa bulan puasa genap 30 hari. Hal ini menjadikan penentuan 1 Syawal berbeda dengan pemerintah setempat yang diumumkan sehari sebelumnya. Ketika saya menemui Ejaz, salah satu petugas di Mesjid itu, dengan wajah tersenyum dia berkata singkat, “Iya, hari Eid kita jatuh di hari Senin, bukan Ahad seperti yang lain. Tapi kita tak menyelenggarakan sholat Eid tahun ini”.

Saya tak perlu menanyakan musababnya. Dalam hati saya mencoba mencari pembenaran. Mungkin mereka hendak menjaga situasi yang nyaman untuk semuanya. Perbedaan tak melulu mesti ditunjukkan ke semua orang, terkadang keharmonisan bermasyarakat menjadi hal yang jauh lebih penting. Di tengah keriuhan dunia yang rawan oleh konflik sektarian, bersabar dan mendiamkan diri tentu lebih baik. Dan kegiatan di masjid itu kembali berjalan normal tanpa berubah sedikitpun, meski tanpa Sholat Eid.

Oh iya, Masjid itu bernama Al Rasool Al A’adham Mosque, atau Mesjid Rasul (Muhammad) Yang Agung. Di dinding depannya, terpampang lima nama sosok suci keluarga Rasul; Muhammad, Ali, Fatima, Hasan dan Husein. Mesjid ini menjadi tempat peribadatan muslim bermazhab Jakfari yang bermukim di kota ini. Tahun ini, mereka berketetapan untuk tak menyelenggarakan sholat Eid di masjid itu karena jatuhnya berbeda dengan masyarakat setempat. Mereka ber-lebaran di hati.

Advertisements
Tagged with: ,

Khamim Pejalan Kaki Ke Baitullah

Posted in Abu Dhabi, agama, cerita, Uncategorized by daengrusle on June 3, 2017

kamim2-e1496491833416.jpg

“Iya nih, saya mesti menghapus beberapa akun dulu baru bisa menambah pertemanan,” ujarnya tersenyum ketika saya menanyakan jatah pertemanan di akun Facebook nya yang sudah penuh. Mohammad Setiawan, 29 tahun – pemuda pejalan asal Pekalongan itu kami undang untuk berbagi cerita pengalaman perjalanannya sore itu, Kamis 1 Juni 2017 ke acara buka puasa bersama IA-ITB dan IATMI UAE di Abu Dhabi, UAE.

Ia memang semakin disibukkan oleh banyaknya permintaan pertemanan di akun Facebook-nya sejak namanya menjadi viral di beberapa media massa nasional lantaran memuat kisah gila petualangannya berjalan kaki untuk berhaji dari tanah air. Media sosial Facebook dan WhatsApp dia gunakan untuk berkomunikasi dan berkirim kabar dengan teman-temannya, juga keluarganya. Di akun Facebooknya, ia banyak meng-upload foto-fotonya di perjalanan, termasuk beberapa video seputar kesehariannya dalam perjalanan.

“Awalnya saya menolak untuk diwawancarai wartawan. Saya tidak ingin perjalanan ini dimuat media,” ujarnya tersenyum ketika disinggung tentang kisahnya yang sudah terlanjur viral.

Padahal, menurutnya perjalanan spiritual yang dia lakukan ini bukan sekadar aksi gagah-gagahan. Tapi merupakan panggilan Tuhan yang harus dipenuhi. Sekitar empat tahun silam, Khamim merasa mendapatkan muhadatsah, sebuah komunikasi spiritual yang menuntunnya untuk melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki menuju .

(more…)

Tagged with: , ,

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

Seratus Tahun Kegelapan: Kisah Terjemahan Alquran Dalam Bahasa Inggris

Posted in Abu Dhabi, agama by daengrusle on November 1, 2016

Ada masa nyaris seratus tahun bahkan lebih, Islam digambarkan oleh Eropa sebagai agama orang Turki dengan ajaran yang menyimpang. Alexander Ross (wafat 1654), seorang pendeta yang juga berprofesi sebagai penulis dan penerjemah berkebangsaan Skotlandia, menerbitkan sebuah terjemahan AlQuran yang diberi judul “The Alcoran of Mahomet” (circa 1649). Ross yang tak punya keterampilan berbahasa Arab secuil pun, nekad merampungkan utuh Alquran berbahasa Inggris yang rupanya dia sadur dari buku terjemahan berbahasa Perancis. Para kritikus di masa belakangan menyebutkan bahwa hasil terjemahan Ross teramat buruk, bahkan dianggap telah menyalahartikan bukan saja makna ayat-ayat suci dalam Alquran, tetapi juga rancu memahami bahasa Perancis yang diterjemahkannya.

Meskipun demikian, hingga tahun 1734, kitab terjemahan Ross yang buruk ini dijadikan referensi utama bagi para pembelajar Islam dan Alquran di Inggris. Maka awan kegelapan menaungi para intelektual selama itu. Kitab terjemahan Ross ini bahkan dicetak ulang berkali-kali dan disebarkan hingga ke Amerika Serikat sampai tahun 1948 ketika buku itu berhenti diterbitkan lagi. Dari Ross inilah, kemungkinan para orientalis mendulang ilmu tentang Islam yang kemudian ternyata sangat bias dan tak tepat duga. Islam digambarkan sebagai sekte sesat yang menyimpang dari ajaran Kristen, demikian anggapan umumnya.

Hingga kemudian muncullah George Sale, anak seorang pedagang yang menjadi sarjana dalam bahasa Arab, melakukan koreksi atas kitab terjemahan Ross dengan menerbitkan buku terjemahan berjudul “The Koran” (circa 1734). Meski tak juga lepas dari kesalahan mendasar, misalnya menterjemahkan ayat “Hai Umat Manusia” dengan menyempitkan bahasanya menjadi hanya “Hai Penduduk Kota Mekah”, atau kata ganti “Muslim” diturunkan menjadi “Penduduk Arab atau Mekkah” saja. Namun, setidaknya kekeliruan mendasar dari terjemahan Ross bisa diperbaiki meskipun Sale sendiri memasukkan unsur-unsur subyektif dalam terjemahannya.

Arthur Arberry kemudian melakukan penyempurnaan terjemahan AlQuran secara lebih baik di tahun 1955, dengan bukunya “The Koran Interpreted”. Dengan pemahamannya yang cukup lengkap tentang bahasa dan kebudayaan Arab, juga Islam sebagai ajaran teologi, dan pergaulannya yang intens dengan penduduk Mesir saat tinggal di sana, Arberry cukup radikal melakukan koreksi atas kesalahan penerjemahan Alquran yang dilakukan oleh Ross dan Sale sebelumnya.

Kemungkinan besar bahwa penerjemahan, atau penafsiran keliru Alquran dan juga ajaran Islam serta sejarah Nabi Muhammad ke dalam buku-buku literatur berbahasa Eropa sangat dipengaruhi oleh isu politik panas saat itu antara Kesultanan Ottoman dengan Kerajaan Inggris Raya atau Eropa lainnya. Namun untunglah bahwa peradaban modern, dengan jargon paling khasnya “metoda ilmiah” selalu melahirkan koreksi-koreksi yang berasal dari klarifikasi atau tabayyun terhadap sumber primer-nya. Hingga kini, para pembelajar kemudian masuk lebih dalam lagi, berusaha memahami teks suci agama-agama, termasuk Islam, dari perspektif penganutnya sendiri. “Islam berbicara dengan perspektif Islam, bukan dari kacamata yang lain”.

Kitab suci dan teks-teks transenden memang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Namun patut diingat bahwa terjemahan tidaklah mampu membawa makna sejatinya sesempurna bahasa aslinya. Jangan latah menganggap terjemahan adalah teks suci itu sendiri. Ada banyak kemungkinan distorsi kalau sudah dialihbahasakan lepas dari bahasa aslinya. Pesan pendek saja kalau disampaikan sambung menyambung dari satu orang ke orang lain bisa mengalami reduksi kata, apalagi kalau disadur menjadi bahasa yang asing. Seperti kisah penerjemahan Alquran di Eropa di atas. Nah, dalam konteks kekinian mengelola infomasi, kita sekarang yang berada di abad modern, apakah masih enggan mencari tahu informasi langsung ke sumbernya? Dan hanya mengandalkan copy paste atau forward dari pribadi-pribadi yang setiap ditanya asal berita hanya santai berujar “Saya hanya forward aja, silahkan telusuri sendiri kebenarannya”?

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Nalar Yang Membusuk Di Dunia Maya

Posted in Abu Dhabi, agama, My Self-writing by daengrusle on May 30, 2015

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra.

Kalau anda banyak menghabiskan waktu di dunia maya, anda mesti sudah terbiasa disuguhi banyak berita online yang disebarkan atau ditulis tentang segala hal. Sebagaimana halnya di pasar, seringkali informasi yang ditawarkan tak begitu berguna untuk kita, bahkan lebih banyak informasi yang menyesatkan. Terkadang ada berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat. Misalnya kelompok tertentu menghalalkan untuk memakan kotoran manusia, pengikut agama tertentu menyembah imamnya, dan lain sebagainya. Nalar yang dangkal terkadang mudah begitu saja menerima informasi yang menyesatkan itu. Apa guna informasi menyesatkan disebar2? Saya juga sama bingungnya, tapi dugaan awal saya bahwa pihak penyebar itu berkepentingan untuk membentuk opini tertentu agar menguntungkan kelompoknya. Tak ada yang berdagang tanpa mengharapkan keuntungan.

Presiden negeri tertentu berkunjung ke kampung pengungsi dan memeluk mereka, tanpa ketahuan birokrasi negeri ini, Pemimpin agama yang menghalalkan kotorannya untuk disantap pengikutinya, partai politik tertentu dikabarkan punya kepentingan untuk menjual kekayaan negeri ke pihak asing, negeri tertentu mengirim aqidah sesat ke negeri kita untuk mengganti keyakinan seluruh penduduk negeri dan sebagainya. Untuk memperkuat perkabaran itu, penyebar berita busuk itu menampilkan gambar-gambar yang seakan-akan itulah obyek berita, tak lupa pula terkadang melampirkan link berita dari sumbernya yang tak lain hanya tautan ke blog atau media yang tak bisa diverifikasi kemampuannya mengolah produk jurnalistik. Apa yang terjadi, para pengguna dunia maya yang bersemangat segera menyebarkan berita itu.

Menyebarkan berita pada intinya setuju dengan isi berita, kecuali memberi pengantar negatif bagaimana sikapnya terhadap itu. Menyebarkan berita di dunia maya memang murah meriah, karena hanya bermodalkan jempol dan jaringan sekadarnya. Orang yang punya pemikiran sama dangkalnya, segera memberikan pujian dan dukungan dan tak lupa ikut menyebarkan. Maka tersebarlah kebodohan. Tadinya hanya berseliweran di dunia maya, kemudian membentuk pola pikir serupa di dunia nyata. Walhasil, sekelompok manusia dengan pemikiran yang sederhana teracuni dan mungkin saja melakukan kerusakan yang tak kalah rusuhnya di dunia nyata. Meski belum begitu masif terjadi, namun beberapa demonstrasi dan diskusi di masyarakat kadang terpicu oleh issue yang tak jelas di dunia maya.

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra. Apalagi yang menceritakan tentang orang, kelompok atau keyakinan tertentu, mesti juga menyertakan keterangan dan penjelasan dari mereka yang dijadikan obyek berita. Perbedaan pandangan politik, aliran keagamaan, dan segalanya meniscayakan adanya gesekan yang bisa saja menimbulkan kebencian. Kebencian, apalagi didasarkan “hanya” pada informasi yang berseliweran di dunia maya tentu terlalu murah untuk ditanamkan ke kepala kita, membentuk waham yang sayangnya dikemudian hari sulit untuk dikoreksi.

Mulai kini, mari mempersenjatai nalar kita dengan riset. Ada baiknya menanamkan sikap skeptis, atau kurang percaya kepada sebuah berita, terutama berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat, sebelum melakukan klarifikasi. Kadang-kadang sikap bersabar menunggu perkembangan beirta sampai 3-5 hari kemudian juga diperlukan. Karena dalam rentang waktu itu, ketika issue sudah menjadi umum dan dibicarakan banyak orang, obyek berita terkadang sudah muncul menyampaikan klarifikasi. Nalar yang membusuk, kadang mengabaikan klarifikasi. Untuk yang nalarnya membusuk itu, tak ada cara bijak lain selain kita “remove” atau “delete” dari dunia maya kita.

NEGERI HALIMUN, HARI LAHIR NABI

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 3, 2015

Abu Dhabi, pagi 3 Januari 2014 pukul 07.00

Ini belumlah puncak musim dingin, tapi pagi pukul 07.00 seperti mengubah negeri ini serupa negeri atas awan. Sekeliling hanya ada halimun, mengaburkan pandangan dan dinginnya menggigit hingga ke tulang.

Tak terbayangkan dulu seorang manusia mulia yang terbangun di subuh hari menembus kabut yang pekat, menyahuti seruan Tuhan, mengajak menyusuri jalan kebenaran. Tanpa selimut tebal, tanpa dinding tebal, tanpa pemanas penghangat tubuh. Subhanallah. Salam atasmu wahai Nabi mulia, yang menggenggam halimun dan membakar jiwa dgn kerinduan padaNya. Selamat ulangtahun Rasul agung yg selalu kami rindui di segala musim.

Tagged with: ,

Lima Kali Januari Di Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 2, 2015

Bersama Team Sepakbola Martabak Saat Acara Lomba 17an Yang Diselenggarakan KBRI Abu Dhabi

Kembali lagi Januari, bulan yang dingin dengan pagi yang selalu pekat. Di bulan ini, di sini, hari masih buram meski jam menunjuk angka tujuh. Dan ini membuat orang malas melepas selimut, terutama anak-anak. Pun mandi di bawah suhu 12-15 derajat tentu bukan mandi yang riang. Meski dengan kran pemanas, tak ada yang bahagia diguyur air di pagi yang menggigil.

Tapi inilah Januari bulan yang dulu membuat saya terlontar jauh dari kampung halaman. Awal Januari 2011 lalu, bersama seorang kawan, saya menjejak di dinginnya tanah yang asing, Abu Dhabi. Kota yang kalau diterjemahkan menjadi “Bapak si Menjangan” ini ternyata tak sedingin Januari. Setiap bersua orang, anda akan selalu disapa dengan panggilan “my friend” “shadiqi” “habibi” dan segala panggilan hangat lainnya. Acap pula karena dianggap berwajah identik, orang-orang memanggil saya dengan “Kabayan”, “Phok” atau “Pare”. Ketiganya adalah idiom Tagalog untuk memanggil mereka yang berasal dari Philipina. Di awal saya masih sering berusaha meluruskan dengan menyanggah “My friend, I am Indonesian, not Pinoy”. Tapi rupanya itu tak menghentikan anggapan umum. Jadilah saya kemudian merasa larut menjadi orang Pinoy, dengan segala konsekuensinya: merasa orang Philipina adalah sebangsa saya, bersimpati dan meraih simpati dari mereka dan sesekali mendapat privelege dari petugas atau pelayan Pinoy di tempat tertentu. Selain juga diserang oleh pandangan sukacita sekeliling kalau melihat wajah pinoy seperti saya masuk ke mesjid.

Kini, sudah lima kali Januari menyapa saya di Abu Dhabi. Tak pernah merasa menyesal menjadi penghuni kota yang penuh kotak-kotak ini. Kota yang dengan tingkat kemacetan sangat rendah dan kriminalitas nyaris nihil ini adalah kota yg ramah buat siapa saja. Kulinernya pun sungguh bersahabat di lidah orang Indonesia, sambil sesekali mengecap masakan Asia lainnya; Biryani, Nasi Mandi, Menu Philipina, Thailand, Vietnam, dan negeri serumpun Malaysia.

Tuhan terlalu baik menyelamatkan saya dan keluarga dari segala keluh para kaum urban. Tapi Tuhan juga terlalu bijak membuat saya mencintai Indonesia melebihi kadar ketika saya masih berada di dalamnya secara fisik. Di negeri yang tanahnya berbagi benua dengan makam para Rasul dan Imam agung ini, menjadikan kita memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, membaca dan menulis (juga bermain). Teman-teman baru serupa keluarga jauh yang karib sepenanggungan. Alhamdulillah. Lima kali memeluk Januari di Abu Dhabi adalah nikmat yang teramat layak disyukuri.

Tagged with: ,

Hendak Masuk Surga, Seringlah Memandikan Anak

Posted in Abu Dhabi, Blogging, keluarga by daengrusle on October 15, 2014

dikecup anak

Saya sering berpikir bahwa anak-anak seumpama malaikat yang dititipkan Tuhan di rumah kita. Tingkah polos mereka seperti riak-riak kasih sayang yang ditebarkan dari sayap-sayap yang tak hentinya membuat kita terkagum-kagum. Bagaimana Tuhan bisa menghadirkan kenikmatan wangi surga seperti ini. Tugas kita adalah mengekalkan wangi surga itu di kenang kita, kenang mereka.

Waktu luang yang berlimpah. Itulah mungkin salah satu kemewahan yang saya dapatkan menetap di kota yang tingkat kemacetannya rendah (dan juga beban kerja yang sama rendahnya). Ketika masih bekerja di Jakarta, waktu luang menjadi barang langka. Itu karena saya masih berada di kuadran “kuli”, yang mesti mengikuti ritme jam kantoran. Meski jam kantor sama 8-jam, tapi waktu tempuh dari rumah ke kantor dan balik lagi ke rumah menghabiskan total lebih dari setengah hari. HIngga ada pemeo bahwa kerja di Jakarta itu mengikuti adagium ini “berangkat kantor ketika anak-anak masih tidur, dan pulang kantor ketika anak-anak sudah tidur”.

Tapi untunglah, bekerja di negeri gurun ini memberikan saya waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Di Abu Dhabi, jam kantor saya mulai dari jam 08.00 hingga jam 16.00 petang. Tak ada jeda istirahat, tak ada lembur. Jarak apartemen dari kantor saya hanya sekitar 5-6 blok, dengan waktu tempuh maksimal 10 menit dengan kendaraan pribadi. Dengan begitu, waktu “berpisah” dengan keluarga memang hanya 8jam kurang lebih, selebihnya adalah waktu-waktu emas bersama mereka. Emas dan Surga.

Nah, sebelum berangkat ke kantor, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan rutinitas yang membuat saya seakan-akan mencium wangi surga. Surga ini mungkin tentu saja bukan yang sering dikhotbahkan di mimbar-mimbar para agamawan. Surga yang saya ciptakan sendiri, saya nikmati dan rasakan di sisi saya setiap hari. Surga bernama “kebersamaan” dengan anak-anak. Sebelum mereka nanti beranjak remaja, dewasa dan kemudian menempuh hidupnya masing-masing. Selepas itu, tentu saya perlu menciptakan surga yang lain lagi, semisal meluangkan waktu beberapa saat untuk sekadar berkomunikasi dengan anak-anak, nanti. (more…)

ITB Panggung Punggung Kita

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 18, 2014


(Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo) meresmiskan kampus ITB 1959- sumber: kaskus.co.id)

Menarik mencermati penolakan mahasiswa ITB baru-baru ini atas kedatangan capres PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Capres yang terkenal dengan panggilan Jokowi ini datang atas undangan Rektor ITB Ahmaloka untuk peresmian kerjasama ITB-DKI sekaligus diharapkan memberikan kuliah Umum. Namun, pihak mahasiswa ITB kemudian melakan demonstrasi menolak kehadiran Jokowi dengan alasan menjaga netralitas kampus atas symbol-symbol politik.

Di social media, berseliweran ragam pendapat alumni ITB dan lainnya mengenai aksi penolakan mahasiwa ITB ini. Ada yang mendukung, banyak pula yang menyayangkan. Tapi apapun itu, kita menghargai sikap mahasiswa ITB. Berbeda pendapat adalah lumrah, namun juga tak perlu berlebihan menunjukkan ketidakberpihakan atau keberpihakan. Masyarakat akan menilai, apakah kita menjaga panggung sakral kampus ITB yang terkenal anti otoritarianisme pejabat atau menunjukkan punggung buruk karena kebablasan menolak apapun yang berbau politik atawa apolitis.

==

Saya ingat ketika masih berstatus mahasiswa ITB, saat Indonesia sedang mengalami turbulensi politik jelang reformasi, kampus banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik. Sebahagian besar juga merupakan alumni ITB. Mereka datang ke kampus atas undangan teman-tema aktifis kampus, demi untuk sekadar bertukar pikiran atau lebih tepatnya menyerap pengalaman dan mengais informasi-informasi sensitive yang tak sempat diberitakan media. Koran-koran clandestine macam “ApaKabar” dan “Independen” menyebar dalam bentuk fotokopian. Juga Koran Kampus “Ganesha10” yang dikelola aktifis kampus jadi rebutan bacaan saat itu. Di kampus sejuk itu, kami mahasiswa di akhir 90-an ikut merasakan atmosfir politik Indonesia yang makin memanas.

Meski kampus ITB dibersihkan dari segala persentuhannya dengan politik, melalui kebijakan represif Orde Baru yang memberlakukan NKK/BKK sejak awal 1980-an, mahasiswa ITB tidak benar-benar absen dari diskusi atau kegiatan politik skala kecil. Demo-demo kecil menyikapi beberapa peristiwa politik seperti kasus Marsinah, KedungOmbo, dan sebagainya secara sporadis masih berlangsung. Meski tak benar-benar massif karena saat itu gerakan mahasiswa kampus terserak menjadi sebatas unit-unit kegiatan berskala jurusan atau seni-budaya. Organisasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang sejak awal 1980an diajukan pemerintah sebagai pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) tak pernah diterima oleh mahasiswa ITB. Mereka mencurigai independensi organisasi itu karena dalam aturannya, pihak rektorat punya kewenangan tertentu yang dianggap merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Akhirnya para mahasiswa bersepakat untuk “kembali” ke himpunan, tanpa perlu membentuk organisasi besar semacam Dema, meski sesekali para ketuanya berkoordinasi dalam FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Dalam setiap diskusi kemahasiswaan yang digelar teman-teman aktifis itu, saya hanya selalu berada di lingkar terluar, sebagai penggembira dan juga pelengkap. Mungkin karena sifat inferior saya sebagai mahasiswa yang tak melek politik tak banyak yang bisa saya sumbangkan saat itu, meski saat itu juga duduk di kepengurusan inti HMS, UKSS (Unit Kesenian Sulsel) dan Persetama (Persatuan Sepak Takraw Mahasiswa). Tapi saya mencatat lekat-lekat dalam ingatan, betapa nama-nama seperti Rene Conrad, Hery Akhmadi, Fadjroel, Ucok, Jumhur, Syahganda dan lain-lainnya menjadi rujukan pergerakan disamping nama-nama lainnya. Koleksi memorabilia kami adalah kertas-kertas fotokopian yang mencoba merawat ingatan kami bahwa ITB punya sejarah panjang melawan kezaliman penguasa. Sempat kami dijejali mitos bahwa di Indonesia hanya ada 3 gerakan kaderisasi yang paling berhasil “ABRI, PKI dan ITB”. Tak sekadar itu, kami juga riuh ketika membaca bajakan atau selundupan Buku Tetralogi Pram yang tetiba menjadi bacaan romantis kala itu.

Saat memuncaknya gerakan reformasi tahun 1998, ITB juga ikut meneriakan agenda reformasi. Saya ingat bagaimana symbol telapak tangan berwarna merah di atas latar putih diproduksi massif di ITB. Sepertinya “logo” reformasi itu memang produk anak-anak ITB, yang kemudian dikibarkan di setiap demonstrasi, termasuk saat pendudukan gedung parlemen di Senayan.
ITB, kampus tercinta saya itu sepertinya tak benar-benar bersih dalam arus lini masa sejarah politik Indonesia. Kalaupun ada yang berusaha netral dan tak mau membawa symbol politik ke kampus, mungkin maksudnya adalah menjaga ketidakberpihakan terhadap salah satu instrument politik yang sedag bertarung saat ini. Tapi bukan berarti bahwa kampus ITB dan mahasiswanya menjadi apolitis dan tak berpihak kepada, kepentingan masyarakat umum.

ITB adalah panggung kita, bahkan hingga kemudian menjadi sekadar panggung nostalgia yang bagi kami, alumni ITB, tempat kami mengumpul ingatan dan mengenang romantisnya menjadi anak muda yang anti-kepentingan politik. Tapi jangan sampai masyarakat kemudian melihat ITB seagai punggung yang tak penting, tak dikenali dan sehingga, tak bisa diharapkan kontribusinya kepada kepentingan mereka. Ingatlah 1978, 1989 dan 1998. Itulah panggung kita, bukan punggung kita.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Muhammad Ruslailang Noertika, SI-95 (Ketua Ikatan Alumni ITB Komisariat UAE)

(more…)

Tagged with: