…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

Seratus Tahun Kegelapan: Kisah Terjemahan Alquran Dalam Bahasa Inggris

Posted in Abu Dhabi, agama by daengrusle on November 1, 2016

Ada masa nyaris seratus tahun bahkan lebih, Islam digambarkan oleh Eropa sebagai agama orang Turki dengan ajaran yang menyimpang. Alexander Ross (wafat 1654), seorang pendeta yang juga berprofesi sebagai penulis dan penerjemah berkebangsaan Skotlandia, menerbitkan sebuah terjemahan AlQuran yang diberi judul “The Alcoran of Mahomet” (circa 1649). Ross yang tak punya keterampilan berbahasa Arab secuil pun, nekad merampungkan utuh Alquran berbahasa Inggris yang rupanya dia sadur dari buku terjemahan berbahasa Perancis. Para kritikus di masa belakangan menyebutkan bahwa hasil terjemahan Ross teramat buruk, bahkan dianggap telah menyalahartikan bukan saja makna ayat-ayat suci dalam Alquran, tetapi juga rancu memahami bahasa Perancis yang diterjemahkannya.

Meskipun demikian, hingga tahun 1734, kitab terjemahan Ross yang buruk ini dijadikan referensi utama bagi para pembelajar Islam dan Alquran di Inggris. Maka awan kegelapan menaungi para intelektual selama itu. Kitab terjemahan Ross ini bahkan dicetak ulang berkali-kali dan disebarkan hingga ke Amerika Serikat sampai tahun 1948 ketika buku itu berhenti diterbitkan lagi. Dari Ross inilah, kemungkinan para orientalis mendulang ilmu tentang Islam yang kemudian ternyata sangat bias dan tak tepat duga. Islam digambarkan sebagai sekte sesat yang menyimpang dari ajaran Kristen, demikian anggapan umumnya.

Hingga kemudian muncullah George Sale, anak seorang pedagang yang menjadi sarjana dalam bahasa Arab, melakukan koreksi atas kitab terjemahan Ross dengan menerbitkan buku terjemahan berjudul “The Koran” (circa 1734). Meski tak juga lepas dari kesalahan mendasar, misalnya menterjemahkan ayat “Hai Umat Manusia” dengan menyempitkan bahasanya menjadi hanya “Hai Penduduk Kota Mekah”, atau kata ganti “Muslim” diturunkan menjadi “Penduduk Arab atau Mekkah” saja. Namun, setidaknya kekeliruan mendasar dari terjemahan Ross bisa diperbaiki meskipun Sale sendiri memasukkan unsur-unsur subyektif dalam terjemahannya.

Arthur Arberry kemudian melakukan penyempurnaan terjemahan AlQuran secara lebih baik di tahun 1955, dengan bukunya “The Koran Interpreted”. Dengan pemahamannya yang cukup lengkap tentang bahasa dan kebudayaan Arab, juga Islam sebagai ajaran teologi, dan pergaulannya yang intens dengan penduduk Mesir saat tinggal di sana, Arberry cukup radikal melakukan koreksi atas kesalahan penerjemahan Alquran yang dilakukan oleh Ross dan Sale sebelumnya.

Kemungkinan besar bahwa penerjemahan, atau penafsiran keliru Alquran dan juga ajaran Islam serta sejarah Nabi Muhammad ke dalam buku-buku literatur berbahasa Eropa sangat dipengaruhi oleh isu politik panas saat itu antara Kesultanan Ottoman dengan Kerajaan Inggris Raya atau Eropa lainnya. Namun untunglah bahwa peradaban modern, dengan jargon paling khasnya “metoda ilmiah” selalu melahirkan koreksi-koreksi yang berasal dari klarifikasi atau tabayyun terhadap sumber primer-nya. Hingga kini, para pembelajar kemudian masuk lebih dalam lagi, berusaha memahami teks suci agama-agama, termasuk Islam, dari perspektif penganutnya sendiri. “Islam berbicara dengan perspektif Islam, bukan dari kacamata yang lain”.

Kitab suci dan teks-teks transenden memang kerap diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Namun patut diingat bahwa terjemahan tidaklah mampu membawa makna sejatinya sesempurna bahasa aslinya. Jangan latah menganggap terjemahan adalah teks suci itu sendiri. Ada banyak kemungkinan distorsi kalau sudah dialihbahasakan lepas dari bahasa aslinya. Pesan pendek saja kalau disampaikan sambung menyambung dari satu orang ke orang lain bisa mengalami reduksi kata, apalagi kalau disadur menjadi bahasa yang asing. Seperti kisah penerjemahan Alquran di Eropa di atas. Nah, dalam konteks kekinian mengelola infomasi, kita sekarang yang berada di abad modern, apakah masih enggan mencari tahu informasi langsung ke sumbernya? Dan hanya mengandalkan copy paste atau forward dari pribadi-pribadi yang setiap ditanya asal berita hanya santai berujar “Saya hanya forward aja, silahkan telusuri sendiri kebenarannya”?

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Nalar Yang Membusuk Di Dunia Maya

Posted in Abu Dhabi, agama, My Self-writing by daengrusle on May 30, 2015

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra.

Kalau anda banyak menghabiskan waktu di dunia maya, anda mesti sudah terbiasa disuguhi banyak berita online yang disebarkan atau ditulis tentang segala hal. Sebagaimana halnya di pasar, seringkali informasi yang ditawarkan tak begitu berguna untuk kita, bahkan lebih banyak informasi yang menyesatkan. Terkadang ada berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat. Misalnya kelompok tertentu menghalalkan untuk memakan kotoran manusia, pengikut agama tertentu menyembah imamnya, dan lain sebagainya. Nalar yang dangkal terkadang mudah begitu saja menerima informasi yang menyesatkan itu. Apa guna informasi menyesatkan disebar2? Saya juga sama bingungnya, tapi dugaan awal saya bahwa pihak penyebar itu berkepentingan untuk membentuk opini tertentu agar menguntungkan kelompoknya. Tak ada yang berdagang tanpa mengharapkan keuntungan.

Presiden negeri tertentu berkunjung ke kampung pengungsi dan memeluk mereka, tanpa ketahuan birokrasi negeri ini, Pemimpin agama yang menghalalkan kotorannya untuk disantap pengikutinya, partai politik tertentu dikabarkan punya kepentingan untuk menjual kekayaan negeri ke pihak asing, negeri tertentu mengirim aqidah sesat ke negeri kita untuk mengganti keyakinan seluruh penduduk negeri dan sebagainya. Untuk memperkuat perkabaran itu, penyebar berita busuk itu menampilkan gambar-gambar yang seakan-akan itulah obyek berita, tak lupa pula terkadang melampirkan link berita dari sumbernya yang tak lain hanya tautan ke blog atau media yang tak bisa diverifikasi kemampuannya mengolah produk jurnalistik. Apa yang terjadi, para pengguna dunia maya yang bersemangat segera menyebarkan berita itu.

Menyebarkan berita pada intinya setuju dengan isi berita, kecuali memberi pengantar negatif bagaimana sikapnya terhadap itu. Menyebarkan berita di dunia maya memang murah meriah, karena hanya bermodalkan jempol dan jaringan sekadarnya. Orang yang punya pemikiran sama dangkalnya, segera memberikan pujian dan dukungan dan tak lupa ikut menyebarkan. Maka tersebarlah kebodohan. Tadinya hanya berseliweran di dunia maya, kemudian membentuk pola pikir serupa di dunia nyata. Walhasil, sekelompok manusia dengan pemikiran yang sederhana teracuni dan mungkin saja melakukan kerusakan yang tak kalah rusuhnya di dunia nyata. Meski belum begitu masif terjadi, namun beberapa demonstrasi dan diskusi di masyarakat kadang terpicu oleh issue yang tak jelas di dunia maya.

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra. Apalagi yang menceritakan tentang orang, kelompok atau keyakinan tertentu, mesti juga menyertakan keterangan dan penjelasan dari mereka yang dijadikan obyek berita. Perbedaan pandangan politik, aliran keagamaan, dan segalanya meniscayakan adanya gesekan yang bisa saja menimbulkan kebencian. Kebencian, apalagi didasarkan “hanya” pada informasi yang berseliweran di dunia maya tentu terlalu murah untuk ditanamkan ke kepala kita, membentuk waham yang sayangnya dikemudian hari sulit untuk dikoreksi.

Mulai kini, mari mempersenjatai nalar kita dengan riset. Ada baiknya menanamkan sikap skeptis, atau kurang percaya kepada sebuah berita, terutama berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat, sebelum melakukan klarifikasi. Kadang-kadang sikap bersabar menunggu perkembangan beirta sampai 3-5 hari kemudian juga diperlukan. Karena dalam rentang waktu itu, ketika issue sudah menjadi umum dan dibicarakan banyak orang, obyek berita terkadang sudah muncul menyampaikan klarifikasi. Nalar yang membusuk, kadang mengabaikan klarifikasi. Untuk yang nalarnya membusuk itu, tak ada cara bijak lain selain kita “remove” atau “delete” dari dunia maya kita.

NEGERI HALIMUN, HARI LAHIR NABI

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 3, 2015

Abu Dhabi, pagi 3 Januari 2014 pukul 07.00

Ini belumlah puncak musim dingin, tapi pagi pukul 07.00 seperti mengubah negeri ini serupa negeri atas awan. Sekeliling hanya ada halimun, mengaburkan pandangan dan dinginnya menggigit hingga ke tulang.

Tak terbayangkan dulu seorang manusia mulia yang terbangun di subuh hari menembus kabut yang pekat, menyahuti seruan Tuhan, mengajak menyusuri jalan kebenaran. Tanpa selimut tebal, tanpa dinding tebal, tanpa pemanas penghangat tubuh. Subhanallah. Salam atasmu wahai Nabi mulia, yang menggenggam halimun dan membakar jiwa dgn kerinduan padaNya. Selamat ulangtahun Rasul agung yg selalu kami rindui di segala musim.

Tagged with: ,

Lima Kali Januari Di Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 2, 2015

Bersama Team Sepakbola Martabak Saat Acara Lomba 17an Yang Diselenggarakan KBRI Abu Dhabi

Kembali lagi Januari, bulan yang dingin dengan pagi yang selalu pekat. Di bulan ini, di sini, hari masih buram meski jam menunjuk angka tujuh. Dan ini membuat orang malas melepas selimut, terutama anak-anak. Pun mandi di bawah suhu 12-15 derajat tentu bukan mandi yang riang. Meski dengan kran pemanas, tak ada yang bahagia diguyur air di pagi yang menggigil.

Tapi inilah Januari bulan yang dulu membuat saya terlontar jauh dari kampung halaman. Awal Januari 2011 lalu, bersama seorang kawan, saya menjejak di dinginnya tanah yang asing, Abu Dhabi. Kota yang kalau diterjemahkan menjadi “Bapak si Menjangan” ini ternyata tak sedingin Januari. Setiap bersua orang, anda akan selalu disapa dengan panggilan “my friend” “shadiqi” “habibi” dan segala panggilan hangat lainnya. Acap pula karena dianggap berwajah identik, orang-orang memanggil saya dengan “Kabayan”, “Phok” atau “Pare”. Ketiganya adalah idiom Tagalog untuk memanggil mereka yang berasal dari Philipina. Di awal saya masih sering berusaha meluruskan dengan menyanggah “My friend, I am Indonesian, not Pinoy”. Tapi rupanya itu tak menghentikan anggapan umum. Jadilah saya kemudian merasa larut menjadi orang Pinoy, dengan segala konsekuensinya: merasa orang Philipina adalah sebangsa saya, bersimpati dan meraih simpati dari mereka dan sesekali mendapat privelege dari petugas atau pelayan Pinoy di tempat tertentu. Selain juga diserang oleh pandangan sukacita sekeliling kalau melihat wajah pinoy seperti saya masuk ke mesjid.

Kini, sudah lima kali Januari menyapa saya di Abu Dhabi. Tak pernah merasa menyesal menjadi penghuni kota yang penuh kotak-kotak ini. Kota yang dengan tingkat kemacetan sangat rendah dan kriminalitas nyaris nihil ini adalah kota yg ramah buat siapa saja. Kulinernya pun sungguh bersahabat di lidah orang Indonesia, sambil sesekali mengecap masakan Asia lainnya; Biryani, Nasi Mandi, Menu Philipina, Thailand, Vietnam, dan negeri serumpun Malaysia.

Tuhan terlalu baik menyelamatkan saya dan keluarga dari segala keluh para kaum urban. Tapi Tuhan juga terlalu bijak membuat saya mencintai Indonesia melebihi kadar ketika saya masih berada di dalamnya secara fisik. Di negeri yang tanahnya berbagi benua dengan makam para Rasul dan Imam agung ini, menjadikan kita memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, membaca dan menulis (juga bermain). Teman-teman baru serupa keluarga jauh yang karib sepenanggungan. Alhamdulillah. Lima kali memeluk Januari di Abu Dhabi adalah nikmat yang teramat layak disyukuri.

Tagged with: ,

Hendak Masuk Surga, Seringlah Memandikan Anak

Posted in Abu Dhabi, Blogging, keluarga by daengrusle on October 15, 2014

dikecup anak

Saya sering berpikir bahwa anak-anak seumpama malaikat yang dititipkan Tuhan di rumah kita. Tingkah polos mereka seperti riak-riak kasih sayang yang ditebarkan dari sayap-sayap yang tak hentinya membuat kita terkagum-kagum. Bagaimana Tuhan bisa menghadirkan kenikmatan wangi surga seperti ini. Tugas kita adalah mengekalkan wangi surga itu di kenang kita, kenang mereka.

Waktu luang yang berlimpah. Itulah mungkin salah satu kemewahan yang saya dapatkan menetap di kota yang tingkat kemacetannya rendah (dan juga beban kerja yang sama rendahnya). Ketika masih bekerja di Jakarta, waktu luang menjadi barang langka. Itu karena saya masih berada di kuadran “kuli”, yang mesti mengikuti ritme jam kantoran. Meski jam kantor sama 8-jam, tapi waktu tempuh dari rumah ke kantor dan balik lagi ke rumah menghabiskan total lebih dari setengah hari. HIngga ada pemeo bahwa kerja di Jakarta itu mengikuti adagium ini “berangkat kantor ketika anak-anak masih tidur, dan pulang kantor ketika anak-anak sudah tidur”.

Tapi untunglah, bekerja di negeri gurun ini memberikan saya waktu yang lebih banyak bersama keluarga. Di Abu Dhabi, jam kantor saya mulai dari jam 08.00 hingga jam 16.00 petang. Tak ada jeda istirahat, tak ada lembur. Jarak apartemen dari kantor saya hanya sekitar 5-6 blok, dengan waktu tempuh maksimal 10 menit dengan kendaraan pribadi. Dengan begitu, waktu “berpisah” dengan keluarga memang hanya 8jam kurang lebih, selebihnya adalah waktu-waktu emas bersama mereka. Emas dan Surga.

Nah, sebelum berangkat ke kantor, saya masih menyempatkan diri untuk melakukan rutinitas yang membuat saya seakan-akan mencium wangi surga. Surga ini mungkin tentu saja bukan yang sering dikhotbahkan di mimbar-mimbar para agamawan. Surga yang saya ciptakan sendiri, saya nikmati dan rasakan di sisi saya setiap hari. Surga bernama “kebersamaan” dengan anak-anak. Sebelum mereka nanti beranjak remaja, dewasa dan kemudian menempuh hidupnya masing-masing. Selepas itu, tentu saya perlu menciptakan surga yang lain lagi, semisal meluangkan waktu beberapa saat untuk sekadar berkomunikasi dengan anak-anak, nanti. (more…)

ITB Panggung Punggung Kita

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 18, 2014


(Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo) meresmiskan kampus ITB 1959- sumber: kaskus.co.id)

Menarik mencermati penolakan mahasiswa ITB baru-baru ini atas kedatangan capres PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Capres yang terkenal dengan panggilan Jokowi ini datang atas undangan Rektor ITB Ahmaloka untuk peresmian kerjasama ITB-DKI sekaligus diharapkan memberikan kuliah Umum. Namun, pihak mahasiswa ITB kemudian melakan demonstrasi menolak kehadiran Jokowi dengan alasan menjaga netralitas kampus atas symbol-symbol politik.

Di social media, berseliweran ragam pendapat alumni ITB dan lainnya mengenai aksi penolakan mahasiwa ITB ini. Ada yang mendukung, banyak pula yang menyayangkan. Tapi apapun itu, kita menghargai sikap mahasiswa ITB. Berbeda pendapat adalah lumrah, namun juga tak perlu berlebihan menunjukkan ketidakberpihakan atau keberpihakan. Masyarakat akan menilai, apakah kita menjaga panggung sakral kampus ITB yang terkenal anti otoritarianisme pejabat atau menunjukkan punggung buruk karena kebablasan menolak apapun yang berbau politik atawa apolitis.

==

Saya ingat ketika masih berstatus mahasiswa ITB, saat Indonesia sedang mengalami turbulensi politik jelang reformasi, kampus banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik. Sebahagian besar juga merupakan alumni ITB. Mereka datang ke kampus atas undangan teman-tema aktifis kampus, demi untuk sekadar bertukar pikiran atau lebih tepatnya menyerap pengalaman dan mengais informasi-informasi sensitive yang tak sempat diberitakan media. Koran-koran clandestine macam “ApaKabar” dan “Independen” menyebar dalam bentuk fotokopian. Juga Koran Kampus “Ganesha10” yang dikelola aktifis kampus jadi rebutan bacaan saat itu. Di kampus sejuk itu, kami mahasiswa di akhir 90-an ikut merasakan atmosfir politik Indonesia yang makin memanas.

Meski kampus ITB dibersihkan dari segala persentuhannya dengan politik, melalui kebijakan represif Orde Baru yang memberlakukan NKK/BKK sejak awal 1980-an, mahasiswa ITB tidak benar-benar absen dari diskusi atau kegiatan politik skala kecil. Demo-demo kecil menyikapi beberapa peristiwa politik seperti kasus Marsinah, KedungOmbo, dan sebagainya secara sporadis masih berlangsung. Meski tak benar-benar massif karena saat itu gerakan mahasiswa kampus terserak menjadi sebatas unit-unit kegiatan berskala jurusan atau seni-budaya. Organisasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang sejak awal 1980an diajukan pemerintah sebagai pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) tak pernah diterima oleh mahasiswa ITB. Mereka mencurigai independensi organisasi itu karena dalam aturannya, pihak rektorat punya kewenangan tertentu yang dianggap merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Akhirnya para mahasiswa bersepakat untuk “kembali” ke himpunan, tanpa perlu membentuk organisasi besar semacam Dema, meski sesekali para ketuanya berkoordinasi dalam FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Dalam setiap diskusi kemahasiswaan yang digelar teman-teman aktifis itu, saya hanya selalu berada di lingkar terluar, sebagai penggembira dan juga pelengkap. Mungkin karena sifat inferior saya sebagai mahasiswa yang tak melek politik tak banyak yang bisa saya sumbangkan saat itu, meski saat itu juga duduk di kepengurusan inti HMS, UKSS (Unit Kesenian Sulsel) dan Persetama (Persatuan Sepak Takraw Mahasiswa). Tapi saya mencatat lekat-lekat dalam ingatan, betapa nama-nama seperti Rene Conrad, Hery Akhmadi, Fadjroel, Ucok, Jumhur, Syahganda dan lain-lainnya menjadi rujukan pergerakan disamping nama-nama lainnya. Koleksi memorabilia kami adalah kertas-kertas fotokopian yang mencoba merawat ingatan kami bahwa ITB punya sejarah panjang melawan kezaliman penguasa. Sempat kami dijejali mitos bahwa di Indonesia hanya ada 3 gerakan kaderisasi yang paling berhasil “ABRI, PKI dan ITB”. Tak sekadar itu, kami juga riuh ketika membaca bajakan atau selundupan Buku Tetralogi Pram yang tetiba menjadi bacaan romantis kala itu.

Saat memuncaknya gerakan reformasi tahun 1998, ITB juga ikut meneriakan agenda reformasi. Saya ingat bagaimana symbol telapak tangan berwarna merah di atas latar putih diproduksi massif di ITB. Sepertinya “logo” reformasi itu memang produk anak-anak ITB, yang kemudian dikibarkan di setiap demonstrasi, termasuk saat pendudukan gedung parlemen di Senayan.
ITB, kampus tercinta saya itu sepertinya tak benar-benar bersih dalam arus lini masa sejarah politik Indonesia. Kalaupun ada yang berusaha netral dan tak mau membawa symbol politik ke kampus, mungkin maksudnya adalah menjaga ketidakberpihakan terhadap salah satu instrument politik yang sedag bertarung saat ini. Tapi bukan berarti bahwa kampus ITB dan mahasiswanya menjadi apolitis dan tak berpihak kepada, kepentingan masyarakat umum.

ITB adalah panggung kita, bahkan hingga kemudian menjadi sekadar panggung nostalgia yang bagi kami, alumni ITB, tempat kami mengumpul ingatan dan mengenang romantisnya menjadi anak muda yang anti-kepentingan politik. Tapi jangan sampai masyarakat kemudian melihat ITB seagai punggung yang tak penting, tak dikenali dan sehingga, tak bisa diharapkan kontribusinya kepada kepentingan mereka. Ingatlah 1978, 1989 dan 1998. Itulah panggung kita, bukan punggung kita.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Muhammad Ruslailang Noertika, SI-95 (Ketua Ikatan Alumni ITB Komisariat UAE)

(more…)

Tagged with:

Menakar Ulang Jumlah Korban Westerling

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 12, 2013

Tulisan ini dimuat di Koran Tribur Timur Makassar edisi 12 Desember 2013 dengan beberapa penyesuaian/edit dari Redaksi Tribun Timur. Versi lengkapnya adalah berikut ini.

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

 

 

 

Kata maaf dan uang sama sekali tak setara dengan nyawa. Meski tak bisa membayar lunas, tapi setidaknya permohonan maaf dan pemberian kompensasi bisa menjadi penawar kesedihan yang dinanti sejak lama oleh keluarga korban jagal Westerling di masa aksi militernya di Sulawesi Selatan dalam kurun 1946-1947. Aksi militer pada masa awal kemerdekaan ini konon menelan 40ribu korban jiwa rakyat Sulawesi Selatan kala itu. Namun, benarkah jumlah 40ribu  yang kadung dipercaya sebagai angka bersejarah itu?

Penantian panjang itu tiba tanggal 12 September 2013. Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili Duta Besar-nya di Indonesia, Tjeerd de Zwaan, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada ahli waris para korban yang tewas saat aksi militer Letnan Raymond Westerling beserta pasukan khususnya, Depot Speciale Troepen KNIL – DST (Depot Pasukan Khusus). Mewakili pemerintah Belanda, de Zwaan memintakan maaf atas peristiwa muram yang tercatat dalam lembar sejarah itu, terkhusus kepada para janda korban yang tersebar di Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar dan Parepare.

Zwaan menambahkan, selama beberapa tahun terakhir, perwakilan ahli waris dari Sulawesi Selatan, yang keluarganya tewas akibat eksekusi besar-besaran Westerling telah mendatangi pengadilan di negeri Belanda untuk meminta ganti rugi. Menurutnya, Pemerintah Belanda telah membuat kesepakatan dengan para ahli waris tersebut untuk memberikan kompensasi senilai 20 ribu Euro atau Rp301 juta bagi setiap korban.

Berpuluh tahun sebelumnya, pemerintah Belanda menolak meminta maaf. Alasan resminya adalah bahwa aksi militer yang membuat ribuan nyawa meregang di Sulawesi-Selatan, digencarkan dalam masa darurat perang. Dalam keadaan darurat, aksi militer bagaimanapun konon bisa dibenarkan, terutama untuk mengamankan kepentingan pihak yang berperang.

Sejarah Indonesia menuliskan, Raymond Westerling, perwira Belanda kelahiran Turki itu bersama pasukan DST-nya pernah menerapkan metode pembersihan musuh yang membabi-buta di Sulsel yang kemudian terkenal dengan peristiwa “Korban 40ribu Jiwa”. Metode pembantaian ini konon mencontoh kisah sukses Gestapo, polisi rahasia NAZI yang dibesut Hitler di era Perang Dunia II. Meski kejam, tapi pemerintah Belanda kala itu menghargai ‘upaya’ sang Jagal berjuluk “The Turk” itu sebagai metoda efektif untuk meredam perlawanan gerilyawan Indonesia kala itu. Selepas aksi militer itu, mingguan militer Belanda Het Militair Weekblad mengabadikannya dengan headline yang memukau: “Pasukan si Turki kembali”. Meski sempat diperiksa oleh mahkamah Belanda tahun 1954 atas tuduhan kejahatan perang, namun ia dibebaskan dari segala tuduhan tanpa pernah dipenjara. Hingga akhir hayatnya, Westerling sempat membukukan kisah hidupnya dalam “Memoires” (1952) dan “De Eenling” (1982).

Mitos angka 40ribu

Konon penulisan sejarah juga punya sisi hiperbolik, demi untuk menarik simpati generasi setelahnya atau melanggengkan tujuan tersirat lainnya, penguasa acap menjabarkan ragam peristiwa sejarah dengan amat berlebihan. Penulisan sejarah yang lebih didominasi oleh penguasa terkadang seenaknya menciptakan stigma atau mengarang kejadian yang tak semestinya. Padahal, sejarah tidak bisa ditafsirkan tunggal. Ia bisa saja muncul dalam berbagai ragam versi tafsiran, termasuk dari sisi pihak yang berseberangan.

Masih ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang saban tahun pernah dipertontonkan pemerintah OrdeBaru setiap tanggal 30 September? Di film itu betapa kekejaman PKI termasuk underbownya Gerwani digambarkan secara dramatis, sampai melakukan ”rekonstruksi” adegan kekerasan dengan menyilet dan memotong kemaluan para jendral. Kesaksian beberapa dokter forensik, di pengadilan terhadap para pelaku G30 S/PKI, rupanya tidak mengkonfirmasi adanya penyiksaan fisik itu. Jadi ada beberapa versi adegan film garapan Arifin C Noer yang dibuat tahun 1984 itu ternyata berbeda dengan fakta sebenarnya. Tapi demi kepentingan propaganda penguasa, adegan-adegan mengerikan itu dibuat sedemikian rupa untuk menggugah emosi pemirsa dan merawat stigma komunis sebagai bahaya laten yang teramat jahat.

Bagaimana dengan korban aksi militer Westerling yang menyebutkan angka 40,000 jiwa? Dalam buku pelajaran sejarah, ritual perayaan, dan segala monumen yang dimaksudkan untuk merawat ingatan muram atas peristiwa kelam ini, pemerintah sudah kadung menyebut angka bersejarah “40ribu jiwa”. Hari peringatannya, nama jalan di utara Makassar lengkap dengan monumen khusus, menyebut dengan yakin angka 40ribu ini. Setiap ada yang menyebut angka 40ribu jiwa, maka ingatan masyarakat akan merujuk ke peristiwa itu. Sedari awal pelajaran Sejarah diajarkan, anak-anak sudah merekam angka ini dengan telaten.

Sesungguhnya banyak yang meragukan jumlah korban Westerling itu benar mencapai angka 40 ribu jiwa. Profesor Andi Ima Kesuma, guru besar ilmu sejarah di Universitas Negeri Makassar, ikut meragukan angka itu. Menurutnya, angka 40ribu juwa bukanlah angka yang pasti. Jumlah itu hanya digunakan untuk membahasakan begitu banyaknya korban yang tewas dalam peristiwa itu (Tempo, 2011).

Angka 40ribu ini juga tak diakui oleh pemerintah Belanda. Dalam suatu penyelidikan yang dipimpin oleh Sejarahwan Belanda Cees Fasseur tahun 1969, pemerintah Belanda menyampaikan angka sekitar 3000 korban jiwa yang konon dibantai oleh pasukan Westerling dalam aksi yang disebut sebagai Counter Insurgency (Aksi balasan melawan pemberontak). Westerling sendiri dalam memoirnya hanya menyebutkan jumlah korban sekitar 400-600 jiwa. Seorang sejarawan muda Indonesia, Petrik Matanasi, penulis buku “Westerling, Kudeta yang Gagal” (2007) dan “KNIL: Bom Waktu Tinggalan Belanda (2008) juga meragukan angka itu. Ia menyatakan bahwa korban Westerling hanya berkisar pada angka ribuan, tidak sampai puluhan ribu. Bahkan menurutnya, TNI AD juga pernah melakukan penyelidikan dan menyatakan jumlah korban Westerling sekitar 1.700 jiwa. Meski tak sampai puluhan ribu, namun tetap saja jumlah korban sipil itu sangat memilukan.

Prof A Rasyid Asba dan Edward Poelinggomang, sejarawan Unhas pernah memaparkan bagaimana sejarah munculnya angka 40ribu jiwa itu. Adalah Kahar Muzakkar, saat masih menjadi ajudan Bung Karno tahun 1947, mencetuskan angka tersebut. Saat Bung Karno mengajak bangsa Indonesia bersimpati atas tewasnya 40 penumpang kereta akibat tindakan sabotase Belanda, Kahar Muzakkar memberikan komentar bahwa tak begitu lama dari persitiwa kecelakaan kereta api itu, di Sulsel juga terjadi pembantaian oleh Westerling dengan angka korban mencapai 40 ribu jiwa. Saat itu Kahar Muzakkar protes karena peristiwa memilukan ini tidak mendapat perhatian pemerintah pusat dan tidak dijadikan hari berkabung nasional.

Prof Salim Said, seorang analis militer, ketika mewancarai Kapten Westerling pada tahun 1969, menyebut angka 40 ribu jiwa itu sebagai “klaim politik” Kahar Muzakkar. Salim Said menyamakan klaim itu mitos yang tak sesuai kenyataan, sembari menyamakan dengan mitos 350 tahun Indonesia dijajah Belanda. Westerling sendiri, dalam pengakuannya kepada Salim Said, mengaku jumlah korban hanya 463 orang.

Meski demikian pada tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB mengenai kebrutalan Belanda dalam agresi Militernya. Dalam nota protes itu, disebutkan jumlah korban pembantaian rakyat sipil di Sulsel mencapai 40.000 jiwa. Tak urung hal ini menimbulkan kegaduhan internasional dan memalukan pemerintah Belanda. Selepas laporan itu, keberadaan pasukan DST  dan beberapa pos jabatan militer Belanda mengalami restrukturisasi.

 

Kronologi Singkat Pembantaian

Bagaimana kronologi “pembantaian” Westerling dan pasukannya? Sebanyak 123 prajurit pasukan komando DST yang sebagian dicomot dari pasukan KNIL pimpinan Letnan Westerling tiba di Makassar tanggal 5 Desember 1946. Enam hari kemudian, prosesi pembantaian itu dimulai di Batua Makassar. Sekitar 3000 rakyat dikumpulkan di lapangan terbuka di Batua; ada 44 lelaki yang dianggap “teroris” kemudian dieksekusi di tempat, termasuk 9 pemuda yang coba melarikan diri. Dua hari kemudian, 12-13 desember 1946 korban Westerling bertambah 81 orang, dengan menembaki membakar hangus desa-desa di Tanjung Bunga dan sekitarnya. Tanggal 14-15 desember 1946, ada 23 orang dibunuh oleh tentara Westerling, kemudian tanggal 16-17 desember 1946 ada 33 penduduk yang dianggap gerilyawan dibunuh . Yang paling parah adalah periode dari tanggal 26 Desember 1946 hingga 3 Januari 1947, ada 257 orang yang dibunuh pasukan DST pimpinan Westerling di daerah Gowa.

Aksi pasukan Westerling terbilang liar dan tak terkendali. Sebahagian besar pasukannya sudah terlibat banyak pertempuran dengan pejuang Indonesia sejak di Jawa. Mereka sama sekali tidak peduli status sosial calon korbannya, tercatat seorang Datu Suppa dan beberapa pimpinan daerah masuk dalam daftar korbannya. Bahkan VTPL —pedoman standar serdadu Belanda dalam aksi polisional— tak dipatuhinya. Mereka merasa mereka hanya membunuh para gerilyawan saja dan merasa tidak peduli dengan hukum perang dan kemanusian.

Aksi Westerling baru berakhir di 16-17 Februari 1947 di Mandar dengan korban 364 jiwa, dan benar-benar berhenti tanggal 21 Februari 1947 dimana Belanda kemudian menarik penuh pasukan DST dari Sulawesi Selatan, dikarenakan berita kebrutalan pasukan ini sudah menyebar luas ke luar negeri. Kalau dihitung rata-rata korban perhari yang dibunuh Westerling, tarohlah sekitar 40-100 orang perhari, maka dari tanggal 11-Desember 1946 hingga 17 Februari 1947 yang memiliki rentang 68 hari sekira tanpa jeda, Westerling telah membunuh rakyat Sulawesi Selatan sekitar 2700 – 6800 jiwa. Angka ini jauh dari anggapan yang diyakini masyarakat saat ini dan kemudian dicetak resmi dalam buku-buku sejarah: 40,000 jiwa.

Menurut Petrik Matanasi, metode Westerling dalam mendapatkan nama-nama korbannya melibatkan juga penduduk setempat. Dia memaksa salah seorang penduduk, di bawah todongan senjata, untuk menunjukan siapa gerilyawan maupun orang-orang yang terlibat dalam perjuangan. Tentu saja orang itu dibawah todongan senjata api. Konon, orang yang malang dan terancam itu, terpaksa menunjuk sembarangan agar terbebas dari peluru tentara Belanda. Bukan tidak mungkin si orang tersebut menunjuk mereka yang tidak disukainya di kampung. Jadilah korban sipil jatuh tak terhitung.

Para pejuang Indonesia kala itu sepertinya tak mampu menghentikan laju pembantaian. Korban sipil bergelimpangan tanpa perlawanan berarti. Buku Sejarah kemudian menuliskan angka 40ribu jiwa, yang kemudian diragukan. Oleh generasi muda kini, angka 40ribu itu seperti angka mitos. Selain menunjukkan lemahnya perlawanan, juga cacat dari sisi statistik. Berapa banyak jumlah penduduk daerah-daerah yang dilalui Westerling saat itu, apakah bahkan mencapai angka 40ribu jiwa?

Westerling sendiri di masa akhir hidupnya bekerja sebagai penjaga pantai di Amsterdam, setelah sempat meniti karir sebagai penyanyi tenor namun gagal tahun 1958 di Breda namun gagal. Westerling, sang jagal yang dikenal tak punya rasa takut itu akhirnya mati terbunuh oleh jantungnya sendiri di tahun 1987, dalam usia 68-tahun. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mau mengakui kejahatan perang yang dilakukannya, ia berkilah bahwa metode pembersihan itu wajar dalam masa perang. Melakukan terror untuk menghentikan terror dianggapnya efektif meredam perlawanan rakyat. Hal yang sama mungkin di-amini oleh pembesar-pembesar militer NICA/KNIL kala itu, tapi bagaimana dengan nasib korban penduduk sipil yang tak bersalah? 40ribu, 3000, 400 jiwa atau berapapun jumlahnya, tetaplah peristiwa ini sebagai catatan muram sejarah bangsa yang layak dikenang. Tentu pengorbanan mereka perlu dibayar dengan layak, misalnya dengan membangun Sulawesi Selatan yang bersih tanpa korupsi.

Refuseniks

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Renungan by daengrusle on November 27, 2012
Refuseniks

Massacre in Gaza, pembantaian di Gaza baru-baru ini selama 8 hari – meninggalkan ribuan korban baik di pihak Palestina maupun Israel, mengingatkan kita peristiwa yang sama pada 27 Desember 2009 dan telah membunuh 1000 jiwa- setengah diantaranya wanita dan anak-anak, tidak saja dibanjiri kecaman dari warga Muslim dan kelompok humanitarian di seluruh dunia, tapi juga merembet ke lingkar dalam serdadu Israel. Sebanyak 286 tentara Israel Defence Force(IDF) yang tergabung dalam berbagai kesatuan sudah menyatakan penolakannya bertugas di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak tahun 2002 dan berlanjut hingga saat ini. Apakah ini pertanda hegemoni ideologi zionist yang menghalalkan pendudukan sudah mulai melemah? Semoga!

Mereka (Juga) Menolak
Namanya Kim Yuval. Pemuda yahudi ini berpangkat sersan di kesatuan artileri Israel Defence Force (IDF) – kesatuan militer Israel. Wajah gantengnya yang sekilas mirip Brad Pitt menghiasi halaman depan situs Ometz LeSarev (http://www.seruv. org.il) dibawah kolom ber-tajuk “Refusenik’s File”. Ometz LeSarev, yang dalam bahasa Ibrani berarti berani menolak, adalah organisasi yang dibentuk oleh para tentara kombatan dan tentara cadangan Israel yang menolak berperang di kawasan ‘jajahan’ Israel yang diduduki setelah perang enam hari 1967. Mereka menyebut diri sebagai Refuseniks – yang artinya kira-kira pembangkang. Tepat di sebelah kanan bawah foto Yuval, ada kolom bertera angka 628, menunjukkan jumlah tentara Israel yang bergabung sebagai Refusenik sampai saat ini. Para serdadu yang umumnya pemuda ini bahkan tidak khawatir memasang foto-foto mereka secara terbuka, mengindikasikan keseriusan dan keberanian untuk menunjukkan sikapnya.

Ometz LeSarev sendiri dicetuskan pada awal tahun 2002 oleh Kapten David Zonshein and Letnan Yaniv Itzkovits, anggota kesatuan elit IDF. Bersama 51 tentara lainnya yang baru kembali dari penugasan di Jalur Gaza, mereka menerbitkan surat terbuka yang mereka namakan Combatan Letter, berisi sembilan pokok pikiran tentang sikap mereka terhadap pendudukan Israel. We, who know that the Territories are not Israel, and that all settlements are bound to be evacuated in the end. Mereka menentang tegas pendudukan Israel atas wilayah yang direbut setelah tahun 1967, dan karenanya menolak keras untuk mengambil bagian dalam semua aksi militer untuk bertempur di wilayah pendudukan; we shall take no part in them!demikian pernyataan tegas para Refusenik di bagian akhir Combatan Letter itu. Untuk menegaskan keseriusan sikap mereka, para Refusenik menayangkan Combatan Letter itu di harian berpengaruh Israel; The Haaretz pada Januari 2002. (more…)