…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Tips Menulis: Riset Sebelum Menulis, Pentingkah?

Posted in Blogging, My Self-writing by daengrusle on December 8, 2015

Menulis memang kegiatan yang mengasyikkan, selain membaca. Dengan menulis, kita berusaha menyampaikan isi pikiran kita tentang sesuatu hal ke dalam media yang bisa dicerna oleh pikiran pembaca. Pembaca bisa meraup informasi dari tulisan kita sehingga memberikan manfaat buat mereka. Namun apa jadinya kalau tulisan kita malah mengundang malu karena apa yang disampaikan ternyata keliru?

 

Yang Umum Belum Tentu Benar

Seorang blogger yang menggemari sejarah lokal menulis di blognya: “Kerajaan Makassar merupakan kerajaan pertama dan terbesar di Sulawesi Selatan. Sejak awal, kerajaan ini turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan mengusir penjajah Belanda dari bumi Angin Mamiri

 

Sepintas, tulisan singkat itu tak ada salahnya. Pemahaman sejarah masyarakat kita memang demikian umumnya tentang Makassar. Namun, bagi mereka yang bergelut dengan bacaan sejarah, alinea singkat itu mengandung beberapa kesalahan mendasar sebagai berikut;

1-     Kerajaan Makassar tidak pernah ada dalam lintas sejarah. Makassar hanyalah sebutan untuk sebuah kota pelabuhan di lingkup kerajaan kembar bernama Gowa dan Tallo.

2-     Kerajaan itu pun – kalau yang dimaksud adalah Gowa-Tallo, bukanlah yang pertama di Sulawesi Selatan. Masih ada beberapa kerajaan yang mendahuluinya, misalnya Kerajaan Siang di Pangkep. Juga ada kerajaan Luwu dan Bantayan yang dicatat dengan rapi dalam epos La Galigo.

3-     Kerajaan ini pernah terlibat perang dengan VOC pada pertengahan abad 17. VOC adalah perusahaan swasta dan bukan representasi resmi kerajaan Belanda. Karenanya agak keliru menyatakan bahwa Gowa-Tallo mengusir Belanda. Apalagi, dalam peristiwa yang terkenal dengan nama “Perang Makassar”, VOC keluar sebagai pemenang.

4-     Kerajaan ini mengalami puncak keemasannya di abad 16&17, saat negara Indonesia belum lahir. Karenanya tak tepat menyatakan bahwa ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebelum ide tentang negara kesatuan Indonesia hadir, kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara berjuang menegakkan kedaulatannya masing-masing.

5-     Penyebutan Angin Mamiri juga kurang tepat, karena penulisan yang benar dan disesuaikan dengan lidah pengguna Bahasa Makassar adalah Anging Mammiri.

Anda bisa menambahkan lagi daftar panjang kekeliruan dalam satu alinea itu. Tentu masih ada saja ide yang bisa diperdebatkan, misalnya apakah betul Makassar (atau Gowa-Tallo) itu merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Sulawesi Selatan, dan sebagainya. Dari situ kita bisa melihat, betapa banyak kekeliruan yang bisa dijejak hanya dari dua kalimat itu. Semangat menuliskan isi pikiran memang perlu, namun hal penting lainnya adalah menulis dengan seksama.

Ada baiknya menanamkan dalam pikiran kita bahwa apa yang dipahami secara umum belum tentu selalu benar. Diperlukan bukti atau fakta atau rujukan pendukung untuk mengklarifikasi pemahaman kita. Apalagi di era internet dan social media yang menyediakan informasi demikian cepat dan melimpah. Orang bisa dengan mudahnya terlibat dalam penyampaian informasi yang keliru, hoax, dangkal dan memalukan. Diperlukan kehati-hatian dalam menyaring informasi, apalagi kalau kemudian menuliskan dan menyebarkannya.

Riset Itu Sederhana Tapi Penting

Kekeliruan dalam menulis dapat dihindari dengan melakukan riset dengan mengumpulkan ragam informasi tentang hal yang hendak kita tulis. Riset juga tak mesti lama atau ribet dengan membaca banyak buku referensi atau mewawancarai beragam sumber. Untuk tulisan yang bersifat personal atau ringan, cukup riset singkat saja dengan membaca informasi di internet atau bertanya ke mereka yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang hal itu. (more…)

Advertisements

Nalar Yang Membusuk Di Dunia Maya

Posted in Abu Dhabi, agama, My Self-writing by daengrusle on May 30, 2015

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra.

Kalau anda banyak menghabiskan waktu di dunia maya, anda mesti sudah terbiasa disuguhi banyak berita online yang disebarkan atau ditulis tentang segala hal. Sebagaimana halnya di pasar, seringkali informasi yang ditawarkan tak begitu berguna untuk kita, bahkan lebih banyak informasi yang menyesatkan. Terkadang ada berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat. Misalnya kelompok tertentu menghalalkan untuk memakan kotoran manusia, pengikut agama tertentu menyembah imamnya, dan lain sebagainya. Nalar yang dangkal terkadang mudah begitu saja menerima informasi yang menyesatkan itu. Apa guna informasi menyesatkan disebar2? Saya juga sama bingungnya, tapi dugaan awal saya bahwa pihak penyebar itu berkepentingan untuk membentuk opini tertentu agar menguntungkan kelompoknya. Tak ada yang berdagang tanpa mengharapkan keuntungan.

Presiden negeri tertentu berkunjung ke kampung pengungsi dan memeluk mereka, tanpa ketahuan birokrasi negeri ini, Pemimpin agama yang menghalalkan kotorannya untuk disantap pengikutinya, partai politik tertentu dikabarkan punya kepentingan untuk menjual kekayaan negeri ke pihak asing, negeri tertentu mengirim aqidah sesat ke negeri kita untuk mengganti keyakinan seluruh penduduk negeri dan sebagainya. Untuk memperkuat perkabaran itu, penyebar berita busuk itu menampilkan gambar-gambar yang seakan-akan itulah obyek berita, tak lupa pula terkadang melampirkan link berita dari sumbernya yang tak lain hanya tautan ke blog atau media yang tak bisa diverifikasi kemampuannya mengolah produk jurnalistik. Apa yang terjadi, para pengguna dunia maya yang bersemangat segera menyebarkan berita itu.

Menyebarkan berita pada intinya setuju dengan isi berita, kecuali memberi pengantar negatif bagaimana sikapnya terhadap itu. Menyebarkan berita di dunia maya memang murah meriah, karena hanya bermodalkan jempol dan jaringan sekadarnya. Orang yang punya pemikiran sama dangkalnya, segera memberikan pujian dan dukungan dan tak lupa ikut menyebarkan. Maka tersebarlah kebodohan. Tadinya hanya berseliweran di dunia maya, kemudian membentuk pola pikir serupa di dunia nyata. Walhasil, sekelompok manusia dengan pemikiran yang sederhana teracuni dan mungkin saja melakukan kerusakan yang tak kalah rusuhnya di dunia nyata. Meski belum begitu masif terjadi, namun beberapa demonstrasi dan diskusi di masyarakat kadang terpicu oleh issue yang tak jelas di dunia maya.

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra. Apalagi yang menceritakan tentang orang, kelompok atau keyakinan tertentu, mesti juga menyertakan keterangan dan penjelasan dari mereka yang dijadikan obyek berita. Perbedaan pandangan politik, aliran keagamaan, dan segalanya meniscayakan adanya gesekan yang bisa saja menimbulkan kebencian. Kebencian, apalagi didasarkan “hanya” pada informasi yang berseliweran di dunia maya tentu terlalu murah untuk ditanamkan ke kepala kita, membentuk waham yang sayangnya dikemudian hari sulit untuk dikoreksi.

Mulai kini, mari mempersenjatai nalar kita dengan riset. Ada baiknya menanamkan sikap skeptis, atau kurang percaya kepada sebuah berita, terutama berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat, sebelum melakukan klarifikasi. Kadang-kadang sikap bersabar menunggu perkembangan beirta sampai 3-5 hari kemudian juga diperlukan. Karena dalam rentang waktu itu, ketika issue sudah menjadi umum dan dibicarakan banyak orang, obyek berita terkadang sudah muncul menyampaikan klarifikasi. Nalar yang membusuk, kadang mengabaikan klarifikasi. Untuk yang nalarnya membusuk itu, tak ada cara bijak lain selain kita “remove” atau “delete” dari dunia maya kita.

Menakar Kebencian Di Sekitar Kita

Posted in feature, My Self-writing by daengrusle on January 10, 2015

Opini di Harian Tribun Timur edisi 10 Januari 2015

Tiba-tiba orang terpana ketika peristiwa Charlie Hebdo (9/1/2015) merengsek masuk ke ruang baca kita semua. Kita menyaksikan bagaimana lelucon satir memantik kekerasan, membunuh belasan orang. Dunia mengecam pembantaian di kantor majalah karikaturis itu, namun juga tak mengerti bagaimana ada sekelompok orang kreatif getol merawat pelecehan terhadap berbagai keyakinan itu. Kebencian, bisa muncul di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja, namun memperlihatkan kepada khalayak, terlebih memunculkan kekerasan atas nama kebencian itu sungguh mengerikan.

Kisah kebencian di zaman dahulu pernah pula memunculkan ironi, tentang seorang anakarung Bone bernama Arung Bakke. Ia yang bergelar Todani Datu Citta (wafat 1681) mungkin tak pernah menduga nasibnya akan berakhir di ujung badik orang suruhan Arung Palakka. Dua bangsawan Bone yang dulunya bahu membahu memimpin pasukan Toangke dan terlibat memenangkan perang Makassar (1666-1669) itu akhirnya terseret dalam perseteruan berdarah. Status kekerabatan sebagai saudara ipar, Bakke menikahi adik Palakka, tak mampu mengekalkan ikatan emosional yang karib antar dua sahabat lama ini.

Pasal perselisihan keduanya mungkin bisa sedemikian rumit, menyangkut intrik politik dan semacamnya. Namun yang tertinggal di benak generasi setelahnya hanyalah soal riwayat kekerasan yang menyedihkan. Kisah perseteruan ini sejatinya berusaha dikubur di kubangan sejarah, sampai kemudian catatan buram ini digali kembali oleh sejarawan Leonard Andaya dalam bukunya Warisan Arung Palakka (Ininnawa, 2004).

Orang awam mungkin akan mempertanyakan bagaimana bisa seseorang membenci sesamanya sedemikian, bahkan terhadap mereka yang dulunya berkarib dan berkerabat sebagaimana perseteruan dua anakarung Bone abad 17 itu. Kalau hanya soal perbedaan, bukankah perbedaan itu sejatinya adalah keniscayaan. Penciptaan semesta ini hadir dengan segala keunikannya. Keadaan berbeda memang bisa menimbulkan kesenjangan dan meletupkan kecemburuan. Namun, itu hanya bisa terjadi sekira perbedaan tidak dipahami dengan arif dan melihatnya sebagai sebuah ancaman. Ini yang mungkin terjadi pada Arung Bakke, yang pada beberapa bagian dalam buku Andaya tersebut dianggap menggerogoti kewibawaan Arung Palakka. (more…)

UNREG [spasi] MAMA: Dari Ketiadaan Menuju Ketiadaan

Posted in agama, My Self-writing, Nasional, percikrenungan by daengrusle on May 18, 2010

Perencana atau istilah kerennya planner adalah profesi turunan dari peramal juga. Seorang perencana adalah perancang peta masa depan, dengan berbekal informasi-informasi pendukung baik yang sudah ada maupun yang dirancang sedemikian rupa untuk diadakan, untuk merekayasa masa depan agar sesuai dengan target capaian yang diinginkan.

Peramal juga berusaha memetakan masa depan, dengan ‘membaca’ penanda-penanda alam yang bermunculan di masa kini atau masa sebelumnya. Sebenarnya peramal hanya mencoba memformulasikan pengetahuan yang lazim dipakai binatang atau manusia ketika membaca alam. Bagi yang bisa membaca bagaimana reaksi hewan-hewan hutan yang lain dari biasanya, maka bisa diramalkan akan terjadi gempa atau bencana alam di kawasan yang berdekatan dengan hutan tersebut. Hal paling mudah adalah dengan melihat awan gelap berarak-arak yang disertai guntur menggedor angkasa berbarengan dengan kilat menyambar-nyambar, maka suatu kelaziman bahwa akan turun hujan yang bisa saja membawa bencana lain; angin ribut, banjir, atau longsor.

Tanda-tanda alam itu lebih banyak yang tersirat dibanding tersurat, lebih sering tersembunyi daripada kasat mata. Karenanya banyak orang gagal mengantisipasi musibah, bahkan ketika teknologi sedemikian canggihnya saat ini. Kemampuan membaca tanda-tanda yang tersembunyi itu konon tidak dimiliki oleh semua orang. Disamping memang karena bakat yang dibawa lahir, juga diperlukan latihan dan disiplin yang intens. Mama Lauren dan para ahli nujum ‘mungkin’ menjalani ritual yang ketat dalam mencapai pengetahuan membaca tanda-tanda alam ini.

Namun ada anomali yang membuat kita kadang meluruhkan rasa percaya pada ahli nujum ini, mereka terkadang tak mampu meramal nasib sendiri. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap premis kemampuan ahli nujum untuk memetakan masa depan. Mama Lauren, ahli nujum kesohor itu pernah terjebak banjir di rumahnya di bulan Januari 2009. Sementara tetangga-tetangganya yang bergerak cepat dgn mengungsi ke daerah aman bisa ‘membaca’ tanda-tanda banjir itu beberapa jam sebelumnya. Ki Joko Bodo mesti menjomblo terus meski sudah berupaya berpartisipasi dalam acara Takes Celebrity Out yang digeber salah satu stasiun televisi. Sementara banyak ‘pasien’nya mudah saja mendapat jodoh. Ki Gendeng Pamungkas pun demikian, alih-alih memenangkan masa depan, dia takluk dalam pilkada Bogor beberapa waktu lalu. Ustad Quraish Shihab mengajukan proposisi yang cukup telak untuk memvonis semua ahli nujum: peramal berbohong, walau kebetulan benar. Itu karena tidak semua masa depan yang dipetakannya terjadi. Bahkan lebih banyak salahnya, mungkin. (more…)

Tagged with: ,

Puntondo's Special Session

Posted in My Self-writing by daengrusle on July 9, 2007

forum

Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga keinginan kopi darat dengan rekan-rekan Cit-rep panyingkul. Terlebih karena kehadiran K’Ly dan Faried, Om Sammy, Bang Halim, Kak Luna, Jimpe, Armiyn, Nilam, Piyo, Nyomnyom, Weda, Ammang, Erwin, In-art, Ochank, dan Ince meramaikan suasana.

Forum Citrep ini diadakan di PPLH Puntondo, Takalar, melewati Topejawa, Cikoang, Lakiung, tgl 8-9 Juli 2007.  PUntondo adalah kampung nelayan di pesisir Takalar, mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya dari melaut; membudidayakan rumput laut, dan ber-bagang. Bagang, sebuah bangunan menyerupai pondok sederhana dari bambu yang dibawahnya dipasang jala untuk memerangkap ikan yang lewat di bawahnya. Untuk menarik ikan-ikan itu menghampiri bagang, para nelayan memasang lampu petromaks tepat di bawah bagang. Kami sempat berdayung ke bagang itu dan menikmati ikan, udang, kepiting, yg dibakar. JUga ada ikan buntal yg berhasil terperangkap, sayang sekali kami gak minat makan ikan beracun itu, dan beruntung buat dia, kami melepasnya dengan sukarela. He2…

Walau hanya semalam sahaja, tapi sure, moment ini ndak bakalan dilupakan deh. Sebahagian foto-foto nya saya tampilkan disini. (more…)

Pe'remaja'an RT39 Balikpapan

Posted in My Self-writing by daengrusle on June 9, 2007

rt39rt39langgar

Sepulang dari kantor di Jumat petang (8 Juni 2007), saya mendapat undangan rapat dari ketua RT39, Kelurahan Gn Samarinda Kota Balikpapan ber-subyek “Peremajaan RT39”. Dalam hati saya berpikir bahwa tentunya acara ini berkaitan dengan persiapan peringatan 17 Agustus yang akan berlangsung dua bulan lagi, dan biasanya masing-masing lingkungan RT berbenah dengan pembersihan dan pengecatan sehingga lingkungan sekitar bisa me’remaja’ lagi, enak dipandang. Acaranya sendiri diagendakan dilaksanakan setelah sholat Isya di Langgar al-Mushawwir. Langgar adalah sebutan lain buat Mushalla, atau Surau. Yang membedakannya dengan Masjid umumnya adalah bahwa Langgar/Mushalla/Surau ini bangunannya lebih kecil dengan jumlah shaf/barisan sholat tidak lebih dari lima shaf saja dan orang-orang tidak melaksanakan sholat Jum’at atau sholat Hari Raya di tempat itu, hanya sholat lima waktu saja. Sengaja beberapa acara pertemuan tingkat RT ini dilaksanakan di Langgar mungkin karena lokasinya yang cukup dikenal, mudah terjangkau dan daya tampung yang cukup besar.

(more…)

masih ada pabbalu lipa'…

Posted in My Self-writing by daengrusle on March 9, 2007

Masih ada Pabbalu lipa’ di jaman ini…..

Sewaktu masih kanak-kanak di Pannampu, rumah saya sering menjadi tempat persinggahan (transit) para pabbalu lipa’ ini, karena kebetulan Makassar merupakan juga pelabuhan penyebeerangan ke pulau-pulau lainnya di seluruh Indonesia. Tujuan utama mereka Kalimantan, Papua, atau Sumatera. Setiap mereka datang, aroma khas lipa’ sabbe (sarung sutera) dan lipa’ cello (sarung berbenang non sutra) selalu menjadi kenangan tersendiri, selain tentu saja kelakar para pabbalu lipa’ yang terkenal pandai bercerita sambil berguyon. Lipa’-lipa’ tak ber merk (no brand) ini dibungkus dalam kain sarung besar, pernah sewaktu kanak-kanak itu saya mencoba mengangkat gulungan yang mungkin mencapai 400 sarung, namun tak pernah berhasil.

 pabbalu lipa’Beberapa malam yang lalu saya kedatangan tamu, La Nuhong, paman saya yang tinggal di Ujung Baru, Sempangnge, Wajo, bersama 3 orang rekan nya dari Sempangng. Mereka adalah pabbalu lipa’ yang sedang berjualan di sekitar Balikpapan. Awalnya saya kaget mereka datang, dengan mengendarai 2 sepeda motor ber-plat DD (plat nomor Sulawesi Selatan), mengunjungi rumah saya di Balikpapan. Kekagetan saya dikarenakan kenyataan bahwa masih ada pabablu lipa’ di zaman serba praktis ini. Sepengetahuan saya, Sarung sutra asal Sengkang sudah banyak dijual di mall-mall di seluruh Indonesia, bahkan saya pernah menemukan seorang Batak berjualan Sarung Sutra asal Sengkang di atas jembatan penyeberangan UKI, Jakarta Timur. Jadi kita hanya perlu ke pasar/mall untuk mencari sarung sengkang, tak perlu menunggu kiriman saudara di kampung, apalagi menunggu pabbalu lipa’ datang berkunjung ke rumah. (more…)

Dari Pa'balu' Lipa' Sabbe ke Pangempang Muara, dari SempangngE ke Mangkupalas

Posted in My Self-writing by daengrusle on August 22, 2006

Potret Transformasi geografis dan sosiologis lelaki bugis

Oleh: Wijanna LaNori

Orang sekitar akrab memanggilnya La Caba’, lelaki 35 tahun asal SempangngE, Wajo. Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng, beristrikan Nurdiana, wanita Bugis kelahiran Samarinda dan memiliki anak angkat/keponakan bernama Wahyu, 6tahun. Di usianya yang tergolong muda itu, orang awam akan menaksir usianya 10tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambut gondrong jauh dari kesan rapi, berkulit gelap mengkilap seakan terbakar, buah dari hasil mangempangnya di Muara Badak selama lebih kurang 5 tahun. La Caba’ tergolong gesit dan tangkas, murah senyum dan senang bercanda dengan orang lain. Dulunya dia adalah seorang pabbalu lipa’ yang merantau dari kampung ke kampung di luar pulau Sulawesi. Sempat menginjak tanah Sumatera, Kalimantan bahkan Kupang untuk berjualan lipa sabbe hasil tenunan Sengkang, tepatnya daerah SempangngE, tempatnya dilahirkan. Namun kini, dia adalah petani petambak, atau dalam bahasa lokalnya, pangempang. Dari hasil mangempangnya yang seluas 7hektar itu, dia dapat membeli sebidang tanah rawa di Mangkupalas, Samarinda Seberang dan membangun sendiri, sebuah rumah kayu panggung diatasnya.

Di penghujung tahun 1980an, selepas SMA di SempangngE, La Caba’ turut beserta pemuda-pemuda sekampungnya massompe (merantau) ke luar Sulawesi, dengan menjadi pabbalu lipa’ sabbe, pedagang sarung Sutera (lipa sabbe’) berkeliling Indonesia. Umumnya, daerah yang dituju adalah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua. Namun ada juga yang berjualan lipa sabbe di pulau Sulawesi juga, dari Makassar, Takalar, sinjai, luwu, Palu, Banggai, sampai ke Gorontalo. Beberapa dari mereka sempat juga menjejakkan kakinya di daratan Jawa, namun tidak banyak, mungkin dikarenakan keberadaan Sarung Pekalongan atau kain batik yang juga mendominasi waktu itu. Disetiap kota, biasanya para pabbalu lipa’ ini menyewa sepeda motor utnuk membantu mobilitas mereka untuk menjajakan lipa sabbe nya dari kampung ke kampung. Di dekade sebelumnya, para pabbalu lipa ini hanya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kadang pekerjaan ini mengundang resiko tinggi, bahkan nyawa mereka. La Caba’ bertutur, dulu di tahun 1960-an, La Tellong bin Ompeng – kakak lelakinya lain ibu, dirampok dan dibunuh bersama rombongannya ketika mabbalu lipa’ di pedalaman Barru atau Sinjai, kuburannya tidak diketahui sampai sekarang.

Motivasi para pemuda SempangngE massompe umumnya selain karena alasan ekonomi, juga didorong oleh semcam budaya atau persepsi yang turun temunrun bahwa lelaki bugis dikatakan sukses apabila sudah pernah massompe, mengadu nasib di negeri orang. Banyak cerita sukses dibalik budaya massompe’ ini, namun tidak sedikit juga yang kembali dengan tidak membanggakan, bahkan tidak jarang hanya nama saja yang kembali alias meninggal di tanah sompe’ (tanah rantau). Beberapa diantara mereka pulang setelah 1-3 tahun, namun ada juga yang memilih untuk tidak kembali, terlebih karena penghidupan di sompe’, negeri orang, lebih baik ketimbang kembali ke negeri sendiri. Seorang sepupu Caba’, La Taming, memilih bermukim di Malaysia sejak 30 tahun lalu, dan sampai hari ini juga tak pernah mengirim berita. Para pabbalu lipa’ umumnya lebih sering kembali ke kampung, terlebih setelah dagangan lipa sabbe’nya habis setelah beberapa bulan, untuk kemudian berangkat lagi dengan membawa lipa’ sabbe baru. Profit margin dari berjualan lipa sabbe ini umumnya cukup tinggi, bisa sampai 10kali lipat harga pokok lipa sabbe’. Lipa sabbe ini dibungkus dalam beberapa bungkus kain lipa juga, tiap bungkusnya berjumlah paling sedikit 10 kodi (1kodi=20sarung), beratnya bisa mencapai ratusan kilo. Bisanya lipa sabbe ini diambil dari seorang ’boss’ yang bertindak menjadi ’sponsor’ dan distributor. Setiap pabbalu lipa mengantongi sejumlah uang dari sang Boss untuk biaya perjalanan dan akomodasi selama mabbalu’ lipa’. Namun, ada juga pabbalu lipa yang berangkat dengan swadaya dari hasil tenunan istri atau perempuan keluarga di rumah. Wanita bugis, sejak berusia baligh, umumnya sudah mahir memainkan alat tenun yang biasa di tempatkan di bawah rumah panggungnya. Satu lipa sabbe nya bisa diselesaikan dalam 3hari sampai 1 minggu, tegantung tingkat kesulitan corak dan bahannya. Mereka kadang meracik sendiri cello’nya (warna), sehingga awam didapati jemari tangan wanita Bugis ini berwarna merah kebiruan hasil meracik wennang cello (warna benang)tenunannya.

Kembali ke cerita La Caba’, setelah berdagang lipa sabbe bersama kakak lelakinya La Sawang selama lebih kurang 10 tahun, akhirnya di awal tahun 2000an, dia singgah di Samarinda Seberang, di area Mangkupalas, daerah yang dia sebut sebagai ”ogi Mammesseng’ atau bugis semua, berkenalan dengan beberapa orang Bugis disana, kemudian memperistri salah seorang putri juragan Empang setempat, Haji Haddise. Kemudian dimulailah transformasi kehidupannya, berbekal tabungan hasil mabbalu lipa sabbe urunan bersama kakaknya La Sawang, dia membeli empang seluas 7 hektar milik mertuanya di kawasan Muara Badak, atau lebih sering disebut Muara saja. Kakaknya sendiri, La Sawang, karena keterbatasan fisik, lebih memilih menjadi seorang penarik Ojek Motor di daerah Loa Janan, Samarinda Seberang juga, sekitar 5km dari Mangkupalas.

Ditemani oleh adik lelakinya, La Saha yang dibawanya dari kampung SempangngE, dia menggarap dan mengolah empang ini untuk menghasilkan udang windu dan kepiting untuk kemudian dijual ke tengkulak setempat. Tengkulak, atau dia lebih senang memanggilnya sebagai ’Boss’, umumnya lebih berfungsi sebagai Godfather bagi para pangempang asuhannya, mulai dari membantu biaya ’pengolahan’ empang dari berwujud rawa menjadi empang yang produktif, sampai ke bantuan biaya mendirikan rumah para pangempang. Namun, sesuai perjanjian awal diantara keduanya, hasil empang ini berupa udang atau kepiting harus dijual ke ’Boss’ ini. Harga yang dipatok lumayan tinggi, untuk Udang Windu kualitas ekspor yang rata-rata sebesar telapak tangan laki-laki dewasa, dihargai Rp 150,000/kilogram. ”Tapi, kalo udangnya ada cacatnya, misalnya sisiknya kurang bagus, maka tidak akan diterima oleh Boss, karena tidak bisa diekspor”, katanya, ”harga udang yang ’cacat’ akan jatuh ke kisaran Rp 15,000/kg saja, nah ini yang biasanya dijual di pasar lokal saja”. Para pangempang ini hanya memproduksi udang dan kepiting, karena nilai jualnya yang tinggi karena berorientasi ekspor. Untuk jenis ikan bolu/bandeng atau ikan lainnya, mereka tidak begitu bersemangat, karena umumnya hanya untuk konsumsi lokal dengan harga maksimal Rp 15,000/kg.

Untuk perjalanan ke Muara, La Caba menggunakan speed boat dari kayu yang juga dibelinya atas jasa baik “Boss’nya. Perjalanan ke Muara ini ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menyusuri sungai Mahakam. Jadwal mangempang di Muara ini biasanya selang seminggu-seminggu, artinya seminggu di Muara, seminggu balik ke Mangkupalas. Kadang-kadang kalau musim panen udang, dia bisa tahan sampai 2 minggu di Muara. Dalam setahun, La Caba bisa panen 3kali, setiap panen bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 30juta. Duit inilah yang ipakainya untuk membeli investasi tanah dan membangun rumahnya di Mangkupalas. Juga, sekiranya perlu, dia mengirimkan duit hasil empang ini ke kakak-kakaknya yang masih bermukim di SempangngE.

Bulan mei kemaren, La Saha, adiknya menikah dengan gadis bugis setempat, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Sempangnge beserta istrinya, tidak menjadi pangempang mengikuti kakaknya. Kini, La Caba, ditemani istri tercintanya mengurus empang berdua. Kelihatannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi pangempang di Muara, tidak berniat kembali lagi ke SempangngE, Wajo.

..dari rusman ttg 'sesatkah mereka'

Posted in My Self-writing by daengrusle on April 26, 2006

karena postingnya kepanjangan untuk ditampilkan di comment…dan berhubung artikel ini cukup menarik, maka saya sengaja menampilkan nya di posting depan..

Go to fullsize imageBeberapa orang Muslim yang ingin menyendiri dalam kehidupan dan tidak mau bergaul dengan masyarakat ramai mempunyai alasan yang kurang tepat. Beberapa sikap dan pemikiran yang kurang tepat adalah:

1. Belum berda’wah tetapi sudah memvonis

Islam tidak mangajarkan kepada ummatnya untuk menjadi tukang vonis, tetapi Islam mengajak ummatnya untuk menjadi seorang da’i. Allah Ta’ala berfirman:”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (Al Ghaasyiyah [88]: 21-22).

Seringkali kita memvonis masyarakat dengan vonis yang menyakitkan, seperti: sesat, kafir, murtad, ahli neraka dan lain-lain. Sementara kita sama sekali belum berd’awah kepada mereka dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Sikap seperti ini meneybabkan terjadi rentangan jarak yang jauh antara kita dengan masyarakat. Atau, menyebabkan kita lebih suka menyendiri daripada bergaul untuk berda’wah.

Tentu saja sikap seperti ini tidak tepat, karena berda’wah itu adalah langkah pertama yang harus dilakukan dalam berhubungan dengan manusia. Dan dengan da’wah pulalah kita bergaul dengan masyarakat ramai. Sedangkan sikap suka menjatuhkan vonis kepada msyarakat bukanlah ajaran Islam, karena Rasulullah SAW bersabda:”Saya tidak diutus untuk menjadi tukang cela, tetapi untuk menjadi pemberi rahmat” (Tafsir Ibnu Katsir).

2. Semua jama’ah dan organisasi Islam sesat dan firqah

Allah Ta’ala berfirman:”Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Ar Ruum [30]: 32).

Rasulullah SAW bersabda:”Ummatku terpecah menjadi tujuhpuluhtiga firqah, tujuhpuluh dua masuk nerakadan satu yang masuk surga; itulah jama’ah” (HR. Ahmad).

Dalil-dalil di atas atau yang serupa dengannya, seringkali disikapi keliru oleh beberapa gelintir Kaum Muslimin. Sikap yang keliru tersebut adalah:

a. Menganggap seluruh jama’ah Kaum Muslimin adalah sesat dan firqah

b. Menganggap hanya jama’ahnya yang memenuhi kriteria di atas, sehingga hanya jama’ahnya yang berhak masuk surga. Sedangkan jama’ah lain akan masuk neraka.

Kedua sikap ekstrem tersebut tentu saja sikap yang tidak tepat. Karena ayat beserta hadits di atas, atau yang sejenis dengannya, hanya menunjukkan sifat-sifat golongan yang benar atau kelompok yang sesat. Dalil-dalil seperti itu sama sekali tidak menunjukkan suatu nama tertentu. Sehingga setiap kelompok, golongan atau jama’ah yang memenuhi sifat-sifat kebenaran seperti itu masuk dalam golongan yang selamat; apapun namanya. Demikian pula sebaliknya, jika ada kelompok, golongan atau jama’ah yang memenuhi sifat-sifat kesesatan, maka dia akan masuk dalam golongan yang celaka; apapun namanya.

Sehingga, tidak ada organisasi yang benar sendiri tidak pula seluruh organisasi sesat. Kita lihat dulu sifat-sifat organisasi tersebut secara obyektif. Sudut pandang inilah yang Islami dan menghindarkan diri kita dari keengganan untuk bergaul dengan mesyarakat ramai yang mengikuti berbagai macam organisasi.

3. Berinteraksi dengan pelaku maksiat dilarang dalam Islam

Rasulullah SAW pernah bersabda:”Seseorang itu bersama agama temannya. Maka perhatikanlah dengan siapa seseorang itu berteman” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Dengan sabda Rasulullah Saw ini ada beberapa Kaum Muslimin yang beranggapan bahwa berinteraksi dengan pelaku maksiat itu dilarang.

Tentu saja pemahaman ini tidak seratus persen benar dan juga tidak seratus persen salah. Yang diingatkan Rasulullah SAW adalah pertemanan bukan interaksi. Yang diamksud dengan pertemanan adalah tempat seseorang meletakkan rasa solidaritas, menumpahkan perasaan dan tempat memberikan loyalitas. Pertemana seperti inilah yang harus dijaga tetap dengan orang-orang yang shalih, bukan dengan para pelaku maksiat.

Sedangkan interaksi itu dapat bermakna sangat luas. Karena da’wah itu sendiri adalah sebuah bentuk interaksi terus-menerus antara seorang juru da’wah dengan obyek da’wahnya. Di antara obyek da’wah adalah para pelaku maksiat. Tentu saja, interaksi da’wah dengan para pelaku maksiat bukan dalam rangka pertemanan, yaitu bukan dalam rangka memberikan rasa solidaritas, menumpahkan perasaan serta tempet memberikan loyalitas. Tetapi dalam rangka mengarahkan, meluruskan serta mengurangi intensitas kemaksiatannya.

Seseorang yang menganggap interaksi dengan pelaku maksiat dilarang menyebabkan dia mengambil sikap menyendiri dan menyepi serta mengindarkan diri dari bergaul dengan sesama manusia. Sikap inilah yang tidak tepat.

4. Sekarang ini adalah masa kerusakan

Rasulullah SAW bersabda:”Akan datang suatu masa yang menimpa manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk serta ulama’nya adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit …” (HR. Al Baihaqi).

Hadits di atas serta hadits-hadits yang sejenis dijadikan sebagai alasan oleh beberapa Kaum Muslimin untuk menggambarkan kondisi zaman sekarang ini. Sebagian berpendapat sangat ekstrem , yaitu sekarang adalah zaman paling rusak dan sudah tidak mungkin lagi untuk diperbaiki kembali. Sehingga mereka memilih mundur dan menyepi dari keramaian manusia; dengan anggapan supaya selamat dunia akhirat.

Anggapan seperti ini tentu saja tidak dapat dikatakan benar seratus persen. Karena masih banyak hadits lain yang menunjukkan bahwa akhir zaman ditandai dengan kehadiran Dajjal, Nabi Isa, Imam Mahdi, Ya’juj dan Ma’juj dan lain-lain. Semuanya itu belum terjadi. Belum lagi Rasulullah SAW pernah bersabda:”… Kemudian akan datang lagi masa kekhilafahan yang ditegakkan atas dasar-dasar kenabian ketika Allah berkehendak untuk mendatangkannya …” (HR. Ahmad). Dan masa kekhilafahan kedua ini juga belum terwujud. Bagaimana bisa bahwa zaman sekarang ini adalah rusak-rusaknya zaman, sementara ciri-ciri akhir zaman belum terwujud?

Anggapan yang keliru seperti ini menyebabkan manusia mengambil sikap yang tidak tepat pula; di antaranya adalah dengan mengasingkan diri dari masyarakat ramai dan hanya asyik dengan dirinya-sendiri.