…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Advertisements

Beroanging

Posted in Kenangan by daengrusle on January 31, 2016

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari jejeran tiga Sekolah Dasar di seberang pompa bensin itu, dua di antaranya diberi nama Beroanging; SDN Beroanging dan SDN Bertingkat Beroanging, merujuk ke bentuk gedung sekolahnya. Dua Beroanging ini cukup populer, karena punya taman bermain yang bersih dan luas. Selain itu, di belakangnya ada kompleks perumahan TNI AL yang memiliki danau buatan yang luas hingga ke jalan Kandea. Di salah satu sudut danau itu, berdiri sebuah menara pengintai dengan tiga lantai menjulang ke atas. Di dasar menara itu,  ada satu ruangan gelap yang bisa diintip dari lubang di atasnya. Konon menurut teman-teman yang sering berenang di danau itu, ruangan gelap itu sesungguhnya adalah terowongan yang dibuat penjajah Jepang di zaman dulu. Terowongan itu konon tembus hingga ke pangkalan Angkatan Laut di Satando yang berjarak kira-kira 5 kilometer dari tempat itu, dan menjadi jalur pelarian tentara Jepang saat kalah perang.  Cerita itu selalu diulang-ulang dan dipercaya sebagai kebenaran, meski tak ada yang berani membuktikan adanya terowongan rahasia itu. Mungkin karena cerita itu ditambahi lagi bahwa di dalam terowongan hidup banyak ular yang siap mematok kepala kecil kami.

 

Orangtua saya memasukkan saya ke sekolah yang bukan Beroanging, SD Negeri Pannampu. Tidak ada alasan pasti, namun hampir semua anak-anak tetangga saya juga disekolahkan di SD itu. Jadilah SD Pannampu menambah identitas baru di perumahan pasar tempat saya tinggal; bukan anak pasar kalau tak bersekolah di Pannampu juga. Jadi kalau anak-anak di kampung tetangga menyebut “anak Pannampu”, itu bisa berarti dua hal; anak-anak yang tinggal di pasar Pannampu dan juga bersekolah di SD Pannampu. Hingga bertahun-tahun lamanya, anak-anak Pannampu sering menjadi korban kekerasan dari anak-anak kampung sekitar. Alasannya bukan karena kami yang beramai-ramai sekolah di Pannampu juga, tetapi karena entitas tambahan kami sebagai perkampungan anak-anak suku bugis.

 

Di Makassar, meski merupakan kota yang majemuk dengan latar belakang sukunya, namun yang dianggap sebagai penduduk lokal tentu yang bersuku Makassar. Kami anak-anak Pannampu saat itu masih fasih bertutur dalam bahasa Bugis, meski untuk pergaulan sehari-hari sudah menggunakan bahasa Indonesia logat Makassar. Anak-anak kampung sekitar yang bersuku Makassar dan lebih banyak bercakap dalam Bahasa Makassar itu sungguh menjadikan kami, anak-anak Pannampu sebagai jajahan yang empuk. Beberapa saat kami tak pernah melawan, meski kami sepantaran saja tingginya. Yang membuat kami kadang bergidik adalah anak-anak Makassar itu sering membawa badik, atau menunjuk-nunjukkan bagian baju di batas perut dan celananya sebagai isyarat bahwa mereka membawa senjata tajam kecil itu. Kami tentu saja mudah percaya, di bawah bayang-bayang ketakutan terutama karena cerita-cerita penikaman yang masih lazim terjadi saat itu. Badik seumpama hantu yang sangat menakutkan.

 

Di masa itu, kami memang jarang melihat badik. Orang tua kami yang hanya pedagang bersuku Bugis umumnya tak pernah punya cerita kekerasan. Mereka lebih suka membicarakan soal dagang dan perempuan. Ya, selain pandai berdagang, mereka juga punya pandai dalam urusan memperbanyak isteri. Apalagi jangkauan wilayah dagang mereka bisa melewati batas kota dan propinsi, dan bisa berlama-lama tinggal di sana. Rumor bahwa para pedagang itu memiliki anak dan istri banyak kadang di kemudian hari menjadi cerita yang bukan isapan jempol belaka. Kami kadang-kadang tak lagi pusing mencari tahu apakah itu benar atau tidak, dan menunggu saja saat semuanya terungkap beberapa tahun kemudian. Itu juga ketakutan yang menyusup masuk ke keluarga kami, terutama bagi para ibu atau anak-anak perempuan yang umumnya tak begitu rela sekira itu benar terjadi.

 

Namun ada satu hal lain yang sering menjilati rasa ketakutan kami ketika tinggal di Pannampu itu. Di belakang kompleks perumahan kami itu, ada terbentang luas kawasan pekuburan Beroanging. Kami jarang bermain di sana, terutama karena sudah dihinggapi rasa takut duluan tentang mitos-mitos kuburan Beroanging. Konon pada malam-malam tertentu para penghuni kuburan Beroanging ini bisa bangkit dan menakut-nakuti anak-anak. Terutama bagi yang suka mengarahkan jari telunjuknya ke kawasan itu. Selain akan dihinggapi mimpi buruk, jari telunjuk kami akan tertekuk selamanya. Semacam orang yang dijangkiti penyakit kulit yang jemarinya tak lagi bisa lurus. Itulah sebab kami tak banyak menyentuh wilayah horror itu, belum lagi begitu banyak aturan tak tertulis yang harus kami patuhi saat melintasi pekuburan itu. Semisal mesti membawa sesuatu, terkadang batu atau sampah plastic yang kami temui di bibir pekuburan, untuk digenggam selama melintas. Batu atau apapun dalam genggaman itu baru bisa dibuang kembali sekira kita berada di sisi luar pekuburan itu kembali. Entah apa maknanya, yang jelas kami dibayangi tulah yang buruk kalau melanggar pantangan itu. Di pekuburan itu, kami juga sering diceritai, terbaring jenasah korban tenggelamnya kapal Tampomas di tahun 1980an. Kami pernah melihat ada deretan kuburan yang berada dalam satu bidang yang sama. Kata teman-teman, mereka adalah satu keluarga yang naas menjadi korban saat peristiwa itu terjadi. Cerita lainnya tentu tentang Setan Sumiati, yang baru-baru ini filemnya dirilis di Makassar. Satu cerita hingga di benak kecil kami saat itu, bahwa salah satu kuburan di Beroanging adalah milik Sumiati, setan yang paling populer di Makassar. Meski kami juga sering mendengar bahwa Sumiati berkubur di salah satu sudut Karebosi, namun buat kami setan bisa berkubur di banyak tempat, termasuk juga Beroanging. Toh, kami pikir wajar-wajar saja Setan yang suka menghantui anak-anak itu punya kuburan di mana saja. Namanya juga Setan.

 

Abu Dhabi, 31 Januari 2016.

Tagged with: , ,

hijrah

Posted in Kenangan, puisi by daengrusle on June 4, 2014

setiap detik adalah jejak, seumpama titik di bentang garis
dalam rentang ribuan detik yang panjang, jejakmu akan membeku terkenang-kenang
lihatlah, lima tahun sudah kau mengukir kesan
dan siapa yang sudi menghapus jejak panjang itu?

orang menyebut horizon, ketika mata melukis garis yang panjang
seperti itu mungkin, panjang jejakmu yang tak ada akhir
kita boleh menapak di benua berbeda, dengan bahasa yang asing dan wajah-wajah aneh
tapi siapa yang mampu memutuskan ikatan hati?

hijrah, kata seseorang, selalu menjadi jalan yang lengang
tapi juga indah, kalau kau mencari yang baik, yang beda, dan yang baru
masa depan, mungkin akan menemukan jawaban terbaik
di jejak yang lengang itu.

[abu dhabi, 4 juni 2014]

Keluarga Dekat Kami

Posted in Kenangan by daengrusle on October 29, 2013
Ilustrasi, diambil dari web merdeka.com

Ilustrasi, diambil dari web merdeka.com

Keluarga Dekat Kami

Sepertinya baru kemaren saja kami bercengkerama di rumah itu. Padahal kejadian itu sudah berbilang dua puluh tahun sejak tahun 1993-1994. Dulu sepulang sekolah, kadang kala masih berseragam putih abu-abu SMAN 1 Makassar, kami sering berkumpul entah untuk kegiatan apa saja. Kadang cuman datang untuk main domino, atau yang lebih serius; belajar bersama dan mengerjakan soal2 latihan menjelang ujian. Tapi lebih sering kami datang hanya untuk mencicipi masakan Mammi, panggilan akrab kami untuk ibu Haji Ramlah, ibu dari sahabat kami si kembar emas Yayu dan Dedy, Budi dan Sari. Kami juga sesekali mencandai Pappi, H Syahabuddin, yang kala itu masih aktif sebagai syahbandar pelabuhan Makassar.

Keluarga itu, selama 20 tahun hingga kini ‘menjadi’ keluarga dekat kami, seperti keluarga sendiri. Sesekali ketika Bhabe mengenalkan kami ke kerabatnya yang lain, selalu berucap ”kenalkanki, ini saudara-saudarakuji semua”. Kami, sekelompok anak2 (alumni) SMAN 1 Makassar yang jumlahnya hampir 20-an itu; S-15, Jas Five, anak-anak Maksi, punya banyak kenangan yang membekas sangat di rumah keluarga itu; rumah bercat hijau di jalan Tinumbu Makassar.

Hingga kemudian Dedy, Yayu dan Budi pindah dan melanjutkan kehidupan di Jakarta, Pappi dan Mammi juga memasuki masa pensiun dan sesekali berkunjung ke sana. Yayu menikah dengan Irzal, teman main kami juga, yang juga meniti karir di ibu kota. Sari masih tinggal di Tinumbu, melanjutkan kuliah dan bekerja di Makassar. Tempat ngumpul kami kemudian berpindah juga ke di ibu kota itu, terlebih karena memang sebagian besar teman-teman sepermainan juga ikut hijrah selepas kuliah. Tak putus karena “ikatan kekeluargaan” sudah kami rentang secara emosional, ketika jauh kami saling mencari, pun ketika dekat kami lebih sering merapat. Apalagi memang keluarga ini sangat terbuka, seperti sebuah cawan kebaikan yang bisa menampung seluruhnya.

Di Jakarta, terutama ketika saya masih kuliah sambil menunggu bekerja, rumah Dedy dan Yayu di Pisangan Jakarta Timur sering menjadi tempat menginap saya bersama yang lain, kawan-kawan yang jumlahnya tak terhitung banyaknya. Menikmati masakan Tante Siah, tante yang setia menemani keluarga ini, merupakan magnet tambahan yang membuat saya dan teman-teman betah berlama-lama berdiam di rumah mereka.

Hari berbilang, bulan berjarak dan tahun-tahun pergi sekelebat angin. 20 tahun rasanya seperti baru kemarin saja. Kami, kawan-kawan yang menyaru sebagai saudara dan keluarga dekat mereka terserak dan berdiam dengan kehidupan sendiri. Tapi komunikasi kami dengan keluarga mereka masih kami rawat sehangat mungkin, baik melalui pesan singkat, telepon atau lewat BBM Group. Sekali waktu kami punya kesempatan berjumpa di kota yang sama, Jakarta atau Makassar, atau di mana saja, maka kami akan meluangkan waktu untuk bersua; menarik kembali kehangatan yang dulu kami rasakan bersama. Mereka, keluarga dekat kami. Karena jejak hati tak punya jarak.

***

Dua kali terakhir saya datang kembali ke rumah Tinumbu itu, dua kali pula saya dijejali perasaan pilu yang berlipat-lipat. Tahun 2008 dan 2013.

Tahun 2008, Mammi Haji Ramlah wafat karena sakit jantung. Saya sempat membezuk beliau di RS Akademis sebelum wafatnya, juga ikut mengantarkan jenazahnya dimakamkan di pekuburan Beroanging, dekat rumah saya. Bulan Agustus tahun 2013 baru-baru ini, saya menghadiri takziah berpulangnya sahabat dan saudara saya Dedy “Bhabe” Wahyudi yang berpulang karena penyakit menahun yang dideritanya. Kotak kenangan tentang keluarga dekat itu kemudian seperti membuncah mengalirkan beragam perasaan yang menahan laju air mata. Ketika itu kami menyempatkan juga membezuk Pappi yang terbaring lemah karena stroke. Masih sempat kami cium tangan beliau, persis seperti ketika beliau masih sehat dan mengajak kami bercanda.

Beberapa hari yang lalu, kabar duka kembali tiba melalui BBM; Pappi wafat. Telaga air mata seakan tumpah ruah kembali. Entah bagaimana tembok ketabahan yang harus dibangun oleh Yayu, Budi dan Sari. Kepergian Pappi yang hanya berselang dua bulan kurang lebih dari Dedy Bhabe seperti rentetan kepiluan berganda. Hanya doa dan rasa simpati yang setulus mungkin yang bisa kami sampaikan untuk keluarga dekat kami itu. Saya yang tak bisa menjangkau pemakaman Pappi hanya bisa merapal doa dan menitip pesan untuk saudara-saudara kami itu.

Kini Mammi, Pappi dan Dedy Bhabe sudah di alam sana, mendahului kami yang masih perlu menuntaskan tugas kehidupan sebelum sang Maha Pemilik Jiwa memanggil kami juga. Yang kami harapkan, semoga perjumpaan yang indah kelak dapat kami rasakan kembali di alam sana, alam yang kekal dengan segala macam kebaikan di sana. Amin ya rabbal alamin. Selamat jalan Pappi, sampaikan salam cinta kami untuk Mammi dan Dedy Bhabe di sana. Sampai jumpa nanti.

Abu Dhabi, 29 Oktober 2013.

Goliath dan Gaza

Posted in Kenangan by daengrusle on December 15, 2012

David and Goliath (Source: Wikipedia)

Goliath dan Gaza

Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath. Merujuk pada kitab Bibel, saat perang melawan bangsa Yahudi di Socoh Judah, dikisahkan Goliath yang perkasa setiap dua hari sekali dalam masa empat puluh hari berkoar-koar sesumbar tanpa henti. Ia menantang segenap bangsa Yahudi itu untuk bertarung duel satu lawan satu. Saul, pemimpin Yahudi saat itu sungguh tak mampu menghadapi tantangan Goliath hingga kemudian Daud remaja datang menawarkan diri. Di hadapan Daud, Goliath perkasa itu mampus seketika hanya dengan sebuah lemparan batu kecil tepat di kepala besarnya.

Namun kini ketika ribuan tahun berbilang, keadaannya kini sungguh berbalik. Palestina kini adalah Goliath yang kerempeng, pias dan mengiba. Keperkasaannya terserak bersama puing bangunan yang luluh lantak diterkam buldozer kebiadaban sebuah rezim Setan Kecil. Suara raksasa yang dulu lantang menantang Daud kini tenggelam oleh desing peluru atau hentakan mortir mengarah kepada penduduk Gaza yang seperti sibuk berhitung waktu menunggu ajal menjemput, tak peduli usia, jenis kelamin, bahkan agamanya. Goliath, petarung legendaris Palestina itu kini seperti berada di ujung ring, terdesak dan hanya berusaha bertahan agar tak jatuh. Jatuh, juga mungkin akan berarti punah. Sebuah nasib yang terbilang, dan karenanya kini dipertaruhkan. (more…)

Pseudo-Sejarah; Mitos dan Kepura-puraan di Sekitar Kita

Posted in Indonesia, Kenangan, Renungan by daengrusle on May 15, 2012

Istana Pagaruyung Terbakar. Replika Yang Terbakar, terbangun diatas puing mitos?

Ini sharing saya tentang apa yang saya namakan pseudo-sejarah atau sejarah yang penuh kepura-puraan. Tapi sebelumnya saya buat dulu disclaimer, bahwa saya bukan sejarahwan, bukan pula orang yg pernah mendalami ilmu sejarah secara akademik. Hanya blogger yang punya antusiasme secuil untuk menggali sejarah sendiri, demi mencerap budaya dan kearifan lokal nya.

Jadi begini, banyak orang menceritakan mitos di masyarakat. Terutama berbentuk folklore atau cerita rahayat yang berbasis lisan. Cerita lisan ini kemudian turun temurun dikisahkan dari mulut satu generasi ke generasi lainnya. Terbentuklah waham, atawa keyakinan bahwa mitos itu pernah terjadi dalam linimasa sejarah. Padahal yang dimaksud dengan sejarah, menurut buku pelajaran, adalah kisah atau kejadian yang tercatat dalam bentuk tertulis. Sedang kisah atau kejadian yang bermula dari cerita lisan yang tersebar di masyarakat tentu di luar dari lingkup sejarah. Kita memang lebih sering menyebutnya mitos, atau dongeng yang tingkat kebenarannya perlu dibuktikan lebih lanjut. (more…)

Wisata “Kembali” Ke Kampung Bugis

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 6, 2012

WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang

Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)

Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.

Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.

Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.

Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka. (more…)

Terlarangkah Telaah Kritis Terhadap Sejarah Sahabat Nabi?

Posted in Kenangan by daengrusle on December 20, 2011

berlatar belakang bukit Uhud

Sejarah adalah memori kolektif umat. Memori kolektif ini kemudian membentuk kepribadian, dan mengejawantah menjadi aqidah yang menyatu dalam praktik kerberagamaan umat itu sendiri.

Saya pribadi memandang bahwa telaah kritis terhadap sejarah Islam sangat penting untuk membentuk pemahaman keIslaman kita. Sunnah nabiullah SAWW yang selalu kita coba untuk ikuti dengan sempurna tidak bisa lepas dari telaah sejarah yang ada, terkhusus sejarah sahabat yang merupakan sumber sekunder yang melaluinya kita bisa menerima pemahaman mengenai sunnah Nabi. Sebab lain adalah bahwa dari sahabat pula kita bisa mengambil ibrah atau teladan seperti apa seharusnya kita menafsirkan sunnah Nabi tersebut. Melalui riwayat yang disampaikan dan juga perilaku sahabat itu lah kita mencoba mendalami Sunnah. Apalagi, saudara-saudara seiman yang bermazhab wahabi dan salafi mengikutikan tambahan penafsiran lain mengenai sunnah, bukan saja sunnah nabi, tapi juga sunnah sahabat, tabi’in, tabi’-tabi’in dan ulama salaf. Jadi, pembahasan mengenai perilaku sahabat menjadi sangat krusial dalam mempelajari agama. (more…)

Dua Wajah Asyura

Posted in Kenangan by daengrusle on December 5, 2011

Perayaan Asyura di Bahrain

 

Sejarah selalu punya sisi ironi. Entah  siapa yang memulai, ada semacam ‘kearifan’ untuk menyikapi sejarah dengan santun; mengingat yang baik-baik saja dan berusaha mengubur dalam-dalam kisah yang mencederai ‘kebaikan’nya.

Tapi sejarah tidak selalu menyajikan kronik yang berakhir indah, terutama bagi pihak yang konon terkalahkan. Jauh di dalam ingatan penerusnya, mereka merawat kenangan berbeda dari yang disajikan sejarah. Sejarah memang selalu punya sisi ironi. Dan tragisnya, keyakinan hidup kita banyak terbentuk karena pergumulan kita dengan bacaan sejarah itu!

Asyura, salah satu hari ‘suci’ bersejarah dalam agama Islam, juga agama-langit lainnya, tak lepas dari konteks yang melahirkan dua wajah berbeda. Penamaan ‘asyura’ sendiri merujuk ke bahasa arab, asyarah yang berarti sepuluh. Namun secara terminologis dikatikan khusus kepada 10 Muharram. (more…)

Ultah ke-5 AngingMammiri: Kesunyian Tak Punya Tempat di Sana!

Posted in Kenangan by daengrusle on November 25, 2011

logo ultah Angingmammiri ke-5

Hidup memiliki kesunyiannya masing-masing. Tapi di komunitas blogger Makassar Angingmammiri, kesunyian tak memiliki tempat. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak mula bergabung di sekitar Juni 2006. Berawal ketika mengikat diri pada salah satu group discussion yang lagi heboh: Blogfam. Pada salah satu room nya, saya mengenal beberapa nama blogger asal makassar seperti rara, teeza, ntan, ndy dan lain-lain, yang kemudian mengajak saya untuk ikut mailing list komunitas blogger makassar yang kebetulan sedang ‘dipersiapkan’ kelahirannya.

Keanggotaan saya dalam komunitas ini bukan karena saya menetap di Makassar, epicentrum lahiriah komunitas ini. Selama lima tahun menjadi anggota komunitas Angingmammiri ini, saya tak pernah menetap di Makassar. Sejak 2006 hingga 2008, saya bekerja di Balikpapan dan kemudian didaulat menjadi koordinator Angingmammiri di sana, istilahnya menjadi “preman” di Balikpapan. Tahun 2008 hingga 2010, saya pindah ke ibukota Jakarta. Kemudian di awal 2011 saya loncat lebih jauh lagi lintas negara, ke Abu Dhabi, Uni Emirate Arab. (more…)