…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Bugis dan Lima Gender

Posted in Renungan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on February 18, 2016

Kami di suku bugis mengenal lima jenis seksualitas manusia; lelaki, perempuan, bissu, calalai dan calabai. Mereka lahir semua dari rahim budaya setua usia peradaban suku bugis, sejak masa tomanurung – yang dipercaya sebagai manusia pertama yang diturunkan ke bumi. Tapi apakah lantas manusia bugis turut serta melakukan pelecehan terhadap jenis2 yang tak mainstream itu? Tidak. Kami justru menghargai mereka sebagai bagian utuh dari masyarakat bugis. Di setiap perayaan ritual kemasyarakatan tertentu, keterlibatan mereka dihargai dan dipandang sebagai kewajaran.

Apakah ada ketakutan dari masyarakat jenis lelaki atau perempuan bahwa suatu saat akan menjelma seperti mereka yg berbeda itu? Menularkah, dijadikan sampah masyarakatkah? Tidak sama sekali. Berbeda tak mesti kemudian menjadi dilecehkan atau dihina sedemikian rupa. Kemanusiaan mu berpijak pada keadilanmu. Kemuliaanmu bertaut pada perilakumu ke sesama, bukan pada motif seksualitasmu.

Tulisan cerdas dari Andi Saiful Haq ini memberikan pandangan tentang relasi Gender di budaya suku Bugis. Sila disimak. (isi tulisan dicopy dari link di Qureta : Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT)

==

Ibu Haji Usman dan Kenaifan Kita Soal LGBT

Saya lebih dulu menjelaskan identitas saya, bukan karena takut dicap Homophobia atau dicap salah satu dari kelompok LGBT. Saya hanya menjelaskan posisi gender saya dan cara pandang saya, agar tulisan ini bisa sampai pada maksud dan tujuan penulisannya. 

Saya berdarah Bugis, meski bagi saya Andi hanyalah sebuah nama, namun gelar Andi di depan nama saya menunjukkan strata sosial keluarga saya dalam sistem sosial masyarakat Bugis-Makassar. Andi betul adalah gelar yang digunakan Belanda untuk mempermudah sistem administrasi mereka.

Karena kemalasan mereka merinci, kekayaan istilah dan penyebutan dalam sistem sosial, mereka menggunakan Andi sebagai gelar generik dalam sistem administrasi mereka. Orientasi seksual saya Hetero, sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Oke, jelas yah? Oh iya, saya tidak menikah hanya untuk kamuflase murahan, atau hanya sekedar untuk menipu orang tua dan tetangga saya tentang kesejatian menjadi laki-laki dan perempuan. Sekarang, mari kita mengunjungi Ibu Haji Usman.

Ibu Haji Usman di Mata Orang Bugis

Namanya Haji Usman, dia sudah menunaikan ibadah Haji, setiap hari bekerja sebagai Indo’ Botting, profesi yang jika diterjemahkan secara sembarangan adalah Event Organizer atau Sewa Menyewa Pakaian Pengantin.

Namun makna Indo’ Botting jauh lebih dalam dari sekedar itu. Indo’ Botting punya peran sakral dalam pernikahan Orang Bugis. Tidak terlepas orang Bugis tersebut sudah memeluk agama Islam atau agama lain, ada adat yang tidak bisa mereka lepaskan. Boleh Pak Imam menikahkan, boleh juga Catatan Sipil meregistrasi pernikahan, tapi tanpa Indo’ Botting pernikahan pasangan Bugis Makassar tidak akan dianggap sah.

(more…)

Tagged with: , , ,

ITB Panggung Punggung Kita

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 18, 2014


(Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo) meresmiskan kampus ITB 1959- sumber: kaskus.co.id)

Menarik mencermati penolakan mahasiswa ITB baru-baru ini atas kedatangan capres PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Capres yang terkenal dengan panggilan Jokowi ini datang atas undangan Rektor ITB Ahmaloka untuk peresmian kerjasama ITB-DKI sekaligus diharapkan memberikan kuliah Umum. Namun, pihak mahasiswa ITB kemudian melakan demonstrasi menolak kehadiran Jokowi dengan alasan menjaga netralitas kampus atas symbol-symbol politik.

Di social media, berseliweran ragam pendapat alumni ITB dan lainnya mengenai aksi penolakan mahasiwa ITB ini. Ada yang mendukung, banyak pula yang menyayangkan. Tapi apapun itu, kita menghargai sikap mahasiswa ITB. Berbeda pendapat adalah lumrah, namun juga tak perlu berlebihan menunjukkan ketidakberpihakan atau keberpihakan. Masyarakat akan menilai, apakah kita menjaga panggung sakral kampus ITB yang terkenal anti otoritarianisme pejabat atau menunjukkan punggung buruk karena kebablasan menolak apapun yang berbau politik atawa apolitis.

==

Saya ingat ketika masih berstatus mahasiswa ITB, saat Indonesia sedang mengalami turbulensi politik jelang reformasi, kampus banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik. Sebahagian besar juga merupakan alumni ITB. Mereka datang ke kampus atas undangan teman-tema aktifis kampus, demi untuk sekadar bertukar pikiran atau lebih tepatnya menyerap pengalaman dan mengais informasi-informasi sensitive yang tak sempat diberitakan media. Koran-koran clandestine macam “ApaKabar” dan “Independen” menyebar dalam bentuk fotokopian. Juga Koran Kampus “Ganesha10” yang dikelola aktifis kampus jadi rebutan bacaan saat itu. Di kampus sejuk itu, kami mahasiswa di akhir 90-an ikut merasakan atmosfir politik Indonesia yang makin memanas.

Meski kampus ITB dibersihkan dari segala persentuhannya dengan politik, melalui kebijakan represif Orde Baru yang memberlakukan NKK/BKK sejak awal 1980-an, mahasiswa ITB tidak benar-benar absen dari diskusi atau kegiatan politik skala kecil. Demo-demo kecil menyikapi beberapa peristiwa politik seperti kasus Marsinah, KedungOmbo, dan sebagainya secara sporadis masih berlangsung. Meski tak benar-benar massif karena saat itu gerakan mahasiswa kampus terserak menjadi sebatas unit-unit kegiatan berskala jurusan atau seni-budaya. Organisasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang sejak awal 1980an diajukan pemerintah sebagai pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) tak pernah diterima oleh mahasiswa ITB. Mereka mencurigai independensi organisasi itu karena dalam aturannya, pihak rektorat punya kewenangan tertentu yang dianggap merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Akhirnya para mahasiswa bersepakat untuk “kembali” ke himpunan, tanpa perlu membentuk organisasi besar semacam Dema, meski sesekali para ketuanya berkoordinasi dalam FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Dalam setiap diskusi kemahasiswaan yang digelar teman-teman aktifis itu, saya hanya selalu berada di lingkar terluar, sebagai penggembira dan juga pelengkap. Mungkin karena sifat inferior saya sebagai mahasiswa yang tak melek politik tak banyak yang bisa saya sumbangkan saat itu, meski saat itu juga duduk di kepengurusan inti HMS, UKSS (Unit Kesenian Sulsel) dan Persetama (Persatuan Sepak Takraw Mahasiswa). Tapi saya mencatat lekat-lekat dalam ingatan, betapa nama-nama seperti Rene Conrad, Hery Akhmadi, Fadjroel, Ucok, Jumhur, Syahganda dan lain-lainnya menjadi rujukan pergerakan disamping nama-nama lainnya. Koleksi memorabilia kami adalah kertas-kertas fotokopian yang mencoba merawat ingatan kami bahwa ITB punya sejarah panjang melawan kezaliman penguasa. Sempat kami dijejali mitos bahwa di Indonesia hanya ada 3 gerakan kaderisasi yang paling berhasil “ABRI, PKI dan ITB”. Tak sekadar itu, kami juga riuh ketika membaca bajakan atau selundupan Buku Tetralogi Pram yang tetiba menjadi bacaan romantis kala itu.

Saat memuncaknya gerakan reformasi tahun 1998, ITB juga ikut meneriakan agenda reformasi. Saya ingat bagaimana symbol telapak tangan berwarna merah di atas latar putih diproduksi massif di ITB. Sepertinya “logo” reformasi itu memang produk anak-anak ITB, yang kemudian dikibarkan di setiap demonstrasi, termasuk saat pendudukan gedung parlemen di Senayan.
ITB, kampus tercinta saya itu sepertinya tak benar-benar bersih dalam arus lini masa sejarah politik Indonesia. Kalaupun ada yang berusaha netral dan tak mau membawa symbol politik ke kampus, mungkin maksudnya adalah menjaga ketidakberpihakan terhadap salah satu instrument politik yang sedag bertarung saat ini. Tapi bukan berarti bahwa kampus ITB dan mahasiswanya menjadi apolitis dan tak berpihak kepada, kepentingan masyarakat umum.

ITB adalah panggung kita, bahkan hingga kemudian menjadi sekadar panggung nostalgia yang bagi kami, alumni ITB, tempat kami mengumpul ingatan dan mengenang romantisnya menjadi anak muda yang anti-kepentingan politik. Tapi jangan sampai masyarakat kemudian melihat ITB seagai punggung yang tak penting, tak dikenali dan sehingga, tak bisa diharapkan kontribusinya kepada kepentingan mereka. Ingatlah 1978, 1989 dan 1998. Itulah panggung kita, bukan punggung kita.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Muhammad Ruslailang Noertika, SI-95 (Ketua Ikatan Alumni ITB Komisariat UAE)

(more…)

Tagged with:

Menakar Ulang Jumlah Korban Westerling

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 12, 2013

Tulisan ini dimuat di Koran Tribur Timur Makassar edisi 12 Desember 2013 dengan beberapa penyesuaian/edit dari Redaksi Tribun Timur. Versi lengkapnya adalah berikut ini.

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

Capture tulisan ini yang dimuat di Tribun Timur 12 Desember 2013

 

 

 

Kata maaf dan uang sama sekali tak setara dengan nyawa. Meski tak bisa membayar lunas, tapi setidaknya permohonan maaf dan pemberian kompensasi bisa menjadi penawar kesedihan yang dinanti sejak lama oleh keluarga korban jagal Westerling di masa aksi militernya di Sulawesi Selatan dalam kurun 1946-1947. Aksi militer pada masa awal kemerdekaan ini konon menelan 40ribu korban jiwa rakyat Sulawesi Selatan kala itu. Namun, benarkah jumlah 40ribu  yang kadung dipercaya sebagai angka bersejarah itu?

Penantian panjang itu tiba tanggal 12 September 2013. Pemerintah Kerajaan Belanda diwakili Duta Besar-nya di Indonesia, Tjeerd de Zwaan, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada ahli waris para korban yang tewas saat aksi militer Letnan Raymond Westerling beserta pasukan khususnya, Depot Speciale Troepen KNIL – DST (Depot Pasukan Khusus). Mewakili pemerintah Belanda, de Zwaan memintakan maaf atas peristiwa muram yang tercatat dalam lembar sejarah itu, terkhusus kepada para janda korban yang tersebar di Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar dan Parepare.

Zwaan menambahkan, selama beberapa tahun terakhir, perwakilan ahli waris dari Sulawesi Selatan, yang keluarganya tewas akibat eksekusi besar-besaran Westerling telah mendatangi pengadilan di negeri Belanda untuk meminta ganti rugi. Menurutnya, Pemerintah Belanda telah membuat kesepakatan dengan para ahli waris tersebut untuk memberikan kompensasi senilai 20 ribu Euro atau Rp301 juta bagi setiap korban.

Berpuluh tahun sebelumnya, pemerintah Belanda menolak meminta maaf. Alasan resminya adalah bahwa aksi militer yang membuat ribuan nyawa meregang di Sulawesi-Selatan, digencarkan dalam masa darurat perang. Dalam keadaan darurat, aksi militer bagaimanapun konon bisa dibenarkan, terutama untuk mengamankan kepentingan pihak yang berperang.

Sejarah Indonesia menuliskan, Raymond Westerling, perwira Belanda kelahiran Turki itu bersama pasukan DST-nya pernah menerapkan metode pembersihan musuh yang membabi-buta di Sulsel yang kemudian terkenal dengan peristiwa “Korban 40ribu Jiwa”. Metode pembantaian ini konon mencontoh kisah sukses Gestapo, polisi rahasia NAZI yang dibesut Hitler di era Perang Dunia II. Meski kejam, tapi pemerintah Belanda kala itu menghargai ‘upaya’ sang Jagal berjuluk “The Turk” itu sebagai metoda efektif untuk meredam perlawanan gerilyawan Indonesia kala itu. Selepas aksi militer itu, mingguan militer Belanda Het Militair Weekblad mengabadikannya dengan headline yang memukau: “Pasukan si Turki kembali”. Meski sempat diperiksa oleh mahkamah Belanda tahun 1954 atas tuduhan kejahatan perang, namun ia dibebaskan dari segala tuduhan tanpa pernah dipenjara. Hingga akhir hayatnya, Westerling sempat membukukan kisah hidupnya dalam “Memoires” (1952) dan “De Eenling” (1982).

Mitos angka 40ribu

Konon penulisan sejarah juga punya sisi hiperbolik, demi untuk menarik simpati generasi setelahnya atau melanggengkan tujuan tersirat lainnya, penguasa acap menjabarkan ragam peristiwa sejarah dengan amat berlebihan. Penulisan sejarah yang lebih didominasi oleh penguasa terkadang seenaknya menciptakan stigma atau mengarang kejadian yang tak semestinya. Padahal, sejarah tidak bisa ditafsirkan tunggal. Ia bisa saja muncul dalam berbagai ragam versi tafsiran, termasuk dari sisi pihak yang berseberangan.

Masih ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI yang saban tahun pernah dipertontonkan pemerintah OrdeBaru setiap tanggal 30 September? Di film itu betapa kekejaman PKI termasuk underbownya Gerwani digambarkan secara dramatis, sampai melakukan ”rekonstruksi” adegan kekerasan dengan menyilet dan memotong kemaluan para jendral. Kesaksian beberapa dokter forensik, di pengadilan terhadap para pelaku G30 S/PKI, rupanya tidak mengkonfirmasi adanya penyiksaan fisik itu. Jadi ada beberapa versi adegan film garapan Arifin C Noer yang dibuat tahun 1984 itu ternyata berbeda dengan fakta sebenarnya. Tapi demi kepentingan propaganda penguasa, adegan-adegan mengerikan itu dibuat sedemikian rupa untuk menggugah emosi pemirsa dan merawat stigma komunis sebagai bahaya laten yang teramat jahat.

Bagaimana dengan korban aksi militer Westerling yang menyebutkan angka 40,000 jiwa? Dalam buku pelajaran sejarah, ritual perayaan, dan segala monumen yang dimaksudkan untuk merawat ingatan muram atas peristiwa kelam ini, pemerintah sudah kadung menyebut angka bersejarah “40ribu jiwa”. Hari peringatannya, nama jalan di utara Makassar lengkap dengan monumen khusus, menyebut dengan yakin angka 40ribu ini. Setiap ada yang menyebut angka 40ribu jiwa, maka ingatan masyarakat akan merujuk ke peristiwa itu. Sedari awal pelajaran Sejarah diajarkan, anak-anak sudah merekam angka ini dengan telaten.

Sesungguhnya banyak yang meragukan jumlah korban Westerling itu benar mencapai angka 40 ribu jiwa. Profesor Andi Ima Kesuma, guru besar ilmu sejarah di Universitas Negeri Makassar, ikut meragukan angka itu. Menurutnya, angka 40ribu juwa bukanlah angka yang pasti. Jumlah itu hanya digunakan untuk membahasakan begitu banyaknya korban yang tewas dalam peristiwa itu (Tempo, 2011).

Angka 40ribu ini juga tak diakui oleh pemerintah Belanda. Dalam suatu penyelidikan yang dipimpin oleh Sejarahwan Belanda Cees Fasseur tahun 1969, pemerintah Belanda menyampaikan angka sekitar 3000 korban jiwa yang konon dibantai oleh pasukan Westerling dalam aksi yang disebut sebagai Counter Insurgency (Aksi balasan melawan pemberontak). Westerling sendiri dalam memoirnya hanya menyebutkan jumlah korban sekitar 400-600 jiwa. Seorang sejarawan muda Indonesia, Petrik Matanasi, penulis buku “Westerling, Kudeta yang Gagal” (2007) dan “KNIL: Bom Waktu Tinggalan Belanda (2008) juga meragukan angka itu. Ia menyatakan bahwa korban Westerling hanya berkisar pada angka ribuan, tidak sampai puluhan ribu. Bahkan menurutnya, TNI AD juga pernah melakukan penyelidikan dan menyatakan jumlah korban Westerling sekitar 1.700 jiwa. Meski tak sampai puluhan ribu, namun tetap saja jumlah korban sipil itu sangat memilukan.

Prof A Rasyid Asba dan Edward Poelinggomang, sejarawan Unhas pernah memaparkan bagaimana sejarah munculnya angka 40ribu jiwa itu. Adalah Kahar Muzakkar, saat masih menjadi ajudan Bung Karno tahun 1947, mencetuskan angka tersebut. Saat Bung Karno mengajak bangsa Indonesia bersimpati atas tewasnya 40 penumpang kereta akibat tindakan sabotase Belanda, Kahar Muzakkar memberikan komentar bahwa tak begitu lama dari persitiwa kecelakaan kereta api itu, di Sulsel juga terjadi pembantaian oleh Westerling dengan angka korban mencapai 40 ribu jiwa. Saat itu Kahar Muzakkar protes karena peristiwa memilukan ini tidak mendapat perhatian pemerintah pusat dan tidak dijadikan hari berkabung nasional.

Prof Salim Said, seorang analis militer, ketika mewancarai Kapten Westerling pada tahun 1969, menyebut angka 40 ribu jiwa itu sebagai “klaim politik” Kahar Muzakkar. Salim Said menyamakan klaim itu mitos yang tak sesuai kenyataan, sembari menyamakan dengan mitos 350 tahun Indonesia dijajah Belanda. Westerling sendiri, dalam pengakuannya kepada Salim Said, mengaku jumlah korban hanya 463 orang.

Meski demikian pada tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan protes resmi ke Dewan Keamanan PBB mengenai kebrutalan Belanda dalam agresi Militernya. Dalam nota protes itu, disebutkan jumlah korban pembantaian rakyat sipil di Sulsel mencapai 40.000 jiwa. Tak urung hal ini menimbulkan kegaduhan internasional dan memalukan pemerintah Belanda. Selepas laporan itu, keberadaan pasukan DST  dan beberapa pos jabatan militer Belanda mengalami restrukturisasi.

 

Kronologi Singkat Pembantaian

Bagaimana kronologi “pembantaian” Westerling dan pasukannya? Sebanyak 123 prajurit pasukan komando DST yang sebagian dicomot dari pasukan KNIL pimpinan Letnan Westerling tiba di Makassar tanggal 5 Desember 1946. Enam hari kemudian, prosesi pembantaian itu dimulai di Batua Makassar. Sekitar 3000 rakyat dikumpulkan di lapangan terbuka di Batua; ada 44 lelaki yang dianggap “teroris” kemudian dieksekusi di tempat, termasuk 9 pemuda yang coba melarikan diri. Dua hari kemudian, 12-13 desember 1946 korban Westerling bertambah 81 orang, dengan menembaki membakar hangus desa-desa di Tanjung Bunga dan sekitarnya. Tanggal 14-15 desember 1946, ada 23 orang dibunuh oleh tentara Westerling, kemudian tanggal 16-17 desember 1946 ada 33 penduduk yang dianggap gerilyawan dibunuh . Yang paling parah adalah periode dari tanggal 26 Desember 1946 hingga 3 Januari 1947, ada 257 orang yang dibunuh pasukan DST pimpinan Westerling di daerah Gowa.

Aksi pasukan Westerling terbilang liar dan tak terkendali. Sebahagian besar pasukannya sudah terlibat banyak pertempuran dengan pejuang Indonesia sejak di Jawa. Mereka sama sekali tidak peduli status sosial calon korbannya, tercatat seorang Datu Suppa dan beberapa pimpinan daerah masuk dalam daftar korbannya. Bahkan VTPL —pedoman standar serdadu Belanda dalam aksi polisional— tak dipatuhinya. Mereka merasa mereka hanya membunuh para gerilyawan saja dan merasa tidak peduli dengan hukum perang dan kemanusian.

Aksi Westerling baru berakhir di 16-17 Februari 1947 di Mandar dengan korban 364 jiwa, dan benar-benar berhenti tanggal 21 Februari 1947 dimana Belanda kemudian menarik penuh pasukan DST dari Sulawesi Selatan, dikarenakan berita kebrutalan pasukan ini sudah menyebar luas ke luar negeri. Kalau dihitung rata-rata korban perhari yang dibunuh Westerling, tarohlah sekitar 40-100 orang perhari, maka dari tanggal 11-Desember 1946 hingga 17 Februari 1947 yang memiliki rentang 68 hari sekira tanpa jeda, Westerling telah membunuh rakyat Sulawesi Selatan sekitar 2700 – 6800 jiwa. Angka ini jauh dari anggapan yang diyakini masyarakat saat ini dan kemudian dicetak resmi dalam buku-buku sejarah: 40,000 jiwa.

Menurut Petrik Matanasi, metode Westerling dalam mendapatkan nama-nama korbannya melibatkan juga penduduk setempat. Dia memaksa salah seorang penduduk, di bawah todongan senjata, untuk menunjukan siapa gerilyawan maupun orang-orang yang terlibat dalam perjuangan. Tentu saja orang itu dibawah todongan senjata api. Konon, orang yang malang dan terancam itu, terpaksa menunjuk sembarangan agar terbebas dari peluru tentara Belanda. Bukan tidak mungkin si orang tersebut menunjuk mereka yang tidak disukainya di kampung. Jadilah korban sipil jatuh tak terhitung.

Para pejuang Indonesia kala itu sepertinya tak mampu menghentikan laju pembantaian. Korban sipil bergelimpangan tanpa perlawanan berarti. Buku Sejarah kemudian menuliskan angka 40ribu jiwa, yang kemudian diragukan. Oleh generasi muda kini, angka 40ribu itu seperti angka mitos. Selain menunjukkan lemahnya perlawanan, juga cacat dari sisi statistik. Berapa banyak jumlah penduduk daerah-daerah yang dilalui Westerling saat itu, apakah bahkan mencapai angka 40ribu jiwa?

Westerling sendiri di masa akhir hidupnya bekerja sebagai penjaga pantai di Amsterdam, setelah sempat meniti karir sebagai penyanyi tenor namun gagal tahun 1958 di Breda namun gagal. Westerling, sang jagal yang dikenal tak punya rasa takut itu akhirnya mati terbunuh oleh jantungnya sendiri di tahun 1987, dalam usia 68-tahun. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah mau mengakui kejahatan perang yang dilakukannya, ia berkilah bahwa metode pembersihan itu wajar dalam masa perang. Melakukan terror untuk menghentikan terror dianggapnya efektif meredam perlawanan rakyat. Hal yang sama mungkin di-amini oleh pembesar-pembesar militer NICA/KNIL kala itu, tapi bagaimana dengan nasib korban penduduk sipil yang tak bersalah? 40ribu, 3000, 400 jiwa atau berapapun jumlahnya, tetaplah peristiwa ini sebagai catatan muram sejarah bangsa yang layak dikenang. Tentu pengorbanan mereka perlu dibayar dengan layak, misalnya dengan membangun Sulawesi Selatan yang bersih tanpa korupsi.

Sejarah Syiah Nusantara – Prof DR Abubakar Aceh

Posted in Indonesia, Sejarah by daengrusle on November 19, 2013

Dikutip dari buku “Aliran Syiah di Nusantara” karangan Prof Dr Aboebakar Atjeh* terbitan Islamic Research Institute, Jakarta, 1977.

==

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Cover buku Aliran Syiah Nusantara Abubakar Aceh

Beberapa pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, menyatakan bahwa di kalangan Mubaligh-mubaligh yang menyebarkan Islam di nusantara terdapat Ahlil Bait atau orang Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said.

Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam dizaman purbakala itu, yang terdiri dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu.

Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin di daerah lain,
2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,
3. Diantara mazhab pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,
4. Pemeriksaan yang teliti dan jujut akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.

Sebagai keterangan ad 1. ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman, seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orang-orang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah”(“Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.) (Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapal-kapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampung yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa. (more…)

Riwayat Sebuah Buku Tua Tentang Makassar

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
buku Gervaise ttg Makassar

buku Gervaise ttg Makassar

Buku kecil bersampul coklat itu dicetak dalam bahasa Perancis dengan judul “Description Historique du Royaume de Macaçar” (Deskripsi Sejarah Kerajaan Makassar). Penulisnya disebutkan bernama Nicolas Gervaise, seorang pendeta Jesuit berkebangsaan Prancis. Buku yang terdiri dari tiga bagian itu khusus mengulas tentang Kerajaan Makassar bertarikh tahun 1700.

Di laman website forumrarebooks – forum kolektor kitab kuno berbasis di Belanda, buku kecil berukuran setengah halaman folio itu tak tanggung-tanggung dilelang dengan banderol € 4,950 atau setara dengan Rp 75juta. Dalam katalognya bertema khusus Indonesia, buku ini termasuk yang paling mahal. Buku antik itu senilai dengan puluhan jilid ensiklopedia keluaran terbaru atau bahkan bisa membeli satu unit mobil murah asal pabrikan Jepang saat ini. Padahal, bagi pembaca di zaman sekarang tak ada yang begitu istimewa dari isi buku yang tebalnya 280 halaman itu, apalagi yang dipaparkannya tergolong informasi yang umum bahkan beberapa bagian malah sudah tak akurat lagi.

Usianya yang lebih dari 310tahun-lah yang mungkin menjadikannya teramat mahal dihargai oleh pengelola situs kurator kitab kuno itu. Diterbitkan lebih dari tiga abad silam, bisa menjadikannya sebagai buku resmi pertama yang diterbitkan oleh Eropa tentang Sulawesi Selatan. Bahkan mungkin termasuk buku terbitan Eropa paling awal yang mengulas Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Sebenarnya buku yang dilelang ini hanyalah edisi kedua dari buku yang edisi pertamanya diterbitkan di Paris 12 tahun sebelumnya, 1688.

Meski dipercaya bahwa Sumatera, Jawa dan kepulauan Maluku sudah terkenal sebagai penghasil emas, padi dan rempah jauh sejak sebelum permulaan abad masehi, namun belum ada buku khusus yang diterbitkan mengenai Indonesia hingga tahun 1688 ketika buku edisi pertama “Description Historique du Royaume de Macaçar” diterbitkan. Buku “History of Java” karangan Sir Stamford Raffless yang terkenal itu, baru diterbitkan di tahun 1817, demikian juga buku Adolf Bastian yang mula memperkenalkan nama Indonesia “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” baru diterbitkan tahun 1884.

Menarik bahwa dari penelusuran riwayat hidupnya, penulis buku ini diyakini tak pernah menginjakkan kakinya di Makassar, sehingga patut dipertanyakan dari sumber mana Gervaise menuliskan buku deskriptif dengan tebal 280 halaman ini. Dengan memberikan informasi detail tentang sejarah, tetumbuhan, adat kebiasaan, hingga makanan orang Makassar, ditengarai bahwa sang penulis memperoleh asupan informasi dari orang asli Makassar yang saat itu bermukim di Prancis. Apa yang dilakukan oleh orang Makassar di negeri yang jauhnya hampir separuh bola bumi di masa itu? Juga, mengapa yang disebutkan adalah kerajaan Makassar, bukan Gowa-Tallo sebagaimana yang umumnya dikenal. Makassar memang cukup dikenal oleh VOC dan para pedagang asing sebagai kota pelabuhan atau nama suku tetapi ia bukanlah nama resmi kerajaan maritim yang pernah sangat berkuasa di kepulauan timur nusantara abad 16-17M itu. Saat buku itu diterbitkan, Kerajaan kembar Gowa-Tallo baru saja ditaklukkan oleh persekutuan VOC – Bone yang dipimpin CJ Speelman – Arung Palakka dalam perang Makassar 1667-1669.

Riwayat buku tua tentang Makassar ini melebar jauh. Keberadaannya meninggalkan jejak sejarah; migrasi awal orang Makassar ke Eropa pada akhir abad 17 saat buku tersebut diterbitkan. Konon, itulah jejak diaspora orang Makassar pertama ke daratan Eropa yang dapat dilacak. Dua Indonesianis asal Prancis; Denys Lombard dan Christian Pelras memerlukan melakukan riset mendalam mengenai buku kecil ini. Hasil riset mereka kemudian diterbitkan dalm Jurnal Archipel terbitan Paris, Prancis edisi tahun 1971 (Lombard) dan 1997 (Pelras).

Tagged with: , ,

Makassar Dalam Ensiklopedia Inggris Bertarikh 1836

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Sampul buku Britich Cyclopedia 1836

Bukan Gowa-Tallo yang dikenal oleh bangsa Eropa hingga abad 19, tapi Makassar. Dalam banyak literatur Eropa masa itu, memang banyak ditemukan kekeliruan dalam mengidentifikasi kerajaan kembar di selatan Sulawesi itu dengan menyebutnya sebagai Makassar saja. Mungkin karena kota pelabuhan itu yang lebih dikenal oleh para pedagang, atau bisa jadi untuk menghindarkan kesalahan identifikasi karena di saat yang sama Goa juga menjadi nama sebuah daerah terkenal di India Selatan. Sejarawan Edward Polinggomang (2002) yang meneliti kegiatan niaga Makassar abad 19 juga mengindikasikan lumrahnya kesalahan ini ditemukan dalam banyak penelitian.

Makassar sendiri sudah kadung dikenal sebagai pelabuhan internasional semenjak jatuhnya Malaka oleh serangan Portugis tahun 1511. Sejak Portugis memonopoli jalur laut di Selat Malaka, para pedagang saat itu kemudian memindahkan kegiatannya ke kerajaan Siang, kemudian ke Makassar. Kerajaan Siang adalah satu kerajaan pra-islam yang pernah berdiri di sekitar Pangkep sebelum kemudian ditaklukkan oleh Gowa-Tallo.

Perihal Makassar, raja Gowa-Tallo saati itu Sultan Malikussaid bersama Karaeng Pattingalloang (1639-1653) memang mencanangkannyasebagai pelabuhan niaga internasional yang disesuaikan dengan azas Mare Liberum (Laut milik bersama). Sejak itu, Makassar menjadi kota dunia dan menjadi pusat transaksi niaga dan lalu lalang rempah, teripang, keramik dan sebagainya. Tercatat beberapa negara Eropa semisal Inggris, Portugis, Belanda, Denmark membangun pos dagangnya di Makassar, selain pos dagang Cina, Arab dan Melayu. Konon, penduduknya mencapai jumlah seratus ribu jiwa pada tahun 1615. Sayangnya popularitas nama Makassar justru membuat nama Gowa-Tallo menjadi terpendam. Gowa-Tallo sendiri lebih memusatkan pemerintahannya di Somba Opu, juga Galesong yang letaknya cukup jauh dari Makassar.

Sebuah ensiklopedia lawas bertajuk “British Cyclopedia” terbitan Orr and Smith London tahun 1836 juga memuat kekeliruan ini. Ensiklopedia tersebut hanya menyebut nama “kerajaan” Makassar sebagai representasi kerajaan yang sebenarnya, Gowa-Tallo. Meski ada juga kata Goa dalam buku itu, tapi merujuk ke nama daerah di India yang saat itu dikuasai Portugis. Nama Gowa ataupun Tallo tak disebutkan sama sekali. Di halaman 764 dari volume-2 ensiklopedia itu, sang penulis Prof Charles Partington membuka pemaparan tentang kota ini dengan cukup dramatis;

Makassar, dahulunya merupakan sebuah kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda, terletak di barat daya pulau Celebes, kekuasaannya pernah membentang dari teluk Bone hingga Tanete. Puncak kejayaanya terjadi pada masa pertengahan abad ke-17, dengan tak hanya menguasai sebahagian besar pulau Celebes, tapi juga menjangkau Loma, Mandelly (Mandar?), Bima, Tambora, Dompo and Sangar (Sangir?). Pemerintahannya juga berhasil menaklukkan Buton, Bungay, Gapi, Xulla Island (Sulu?) dan Sumbhawa. Mereka juga menguasai Salayr (Selayar?) yang merupakan wilayah pemberian Baabullah (Sultan Ternate yang berkuasa kurun 1528-1583, pen)

Ensiklopedia ini juga mengulas bangsa asing yang mula menginjakkan kaki di kerajaan ini. Disebutkan bahwa orang Portugis menjejak sejak tahun 1512, juga orang-orang Melayu mulai berdatangan pada periode setelahnya. Orang Melayu bahkan diperbolehkan mendirikan masjid di perkampungannya. Agama Islam (disebutkan sebagai Mohammedan religion) disebutkan belum dianut oleh orang-orang Makassar saat kedatangan Portugis, meski juga tak bisa ditelusuri agama apa yang diyakini oleh orang2 Makassar saat itu, walaupun diakui bahwa mereka sudah punya peradaban tinggi. Baru pada tahun 1603, keseluruhan Makassar beralih menjadi penganut Islam dengan masuknya Raja Tallo berikut bangsawan Gowa-Tallo.

Tagged with: ,

PASUKAN RAMANG: Teaser Posternya

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 27, 2013

Alhamdulillah, teaser awal sudah beredar. Untuk foto lebih besar bisa di klik di link ini.

Berita lain seputar pembuatan film dokumenter panjang ini, silahkan buka Web Pasukan Ramang.

Teaser Pasukan Ramang - (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi

Teaser Pasukan Ramang – (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi

Tata Saraila, Sang Legenda Dunia Kelam Makasar

Posted in Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 27, 2013

Kisah tentang Tata Saraila kini memudar. Tak banyak lagi orang-orang mengingatnya, kecuali beberapa kilas. Bagi yang masih mengingatnya tentu tak lain karena bertaburnya cerita seram terutama tentang mitos perilaku menyimpang yang membuat anak-anak lelaki usia sekolahan bergidik. Sang Tata pernah menjadi salah satu ikon paling menakutkan di Makassar tahun 1980an. Kini, ia hidup dalam dunia yang putih, seputih rambutnya yang kini beruban.

Tata Saraila di usia senja - kanan berbaju kuning (foto dikuti dengan izin dari @sushibizkid)

Tata Saraila di usia senja – kanan berbaju kuning (foto dikutip dengan izin dari @sushibizkid) – berfoto bersama salah satu penggiat MUFC Makassar

Di suatu siang yang terik di tahun 1988, saya melintasi kawasan Pusat Pertokoan Ujungpandang bersama seorang kawan. Ketika itu saya masih tercatat sebagai siswa kelas satu di salah satu SMP negeri di bilangan Pecinan Makassar. Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar teriakan bernada mengejutkan. “Whoaaaaaa!” Suara itu berat dan terkesan sangar. Seketika kawan saya berteriak “Tata Sarailaaaaa!. Saya bergidik, secepat mungkin berlari menjauhi pemilik suara. Sang kawan sudah jauh berada di depan, dan saya terengah-engah menyusulnya, menyeberangi hilir mudik pete-pete yang lumayan padat di jam makan siang itu. Ketika mencapai jalan Timor dan kemudian setengah berlari masuk ke jalan Bali, saya sudah merasa aman. Kawan saya menunggu depan Makassar Theatre, salah satu bioskop terkenal di Makassar saat itu. Sudah aman rupanya.

Tapi pengalaman singkat itu menyimpan trauma yang tak lekang hingga kini. Bukan karena ketakutan mendengar teriakan seram nan berat itu, tapi karena kisah seram di balik sosok Tata Saraila yang belakangan baru saya dapatkan dari obrolan kawan-kawan dan kakak saya.

==

Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)

Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)

Gondrong Baluta’. Demikian anak-anak sekitaran Pusat Pertokoan Makassar menyebut sosok preman sangar itu.  Gondrong baluta’ mengindikasikan rambut gondrong yang dibiarkan tumbuh panjang tak terurus. Sekujur tubuhnya dilukisi tatto dengan segala macam gambar, paling banyak mungkin rajah dengan bentuk yang menakutkan, tengkorak, ular atau naga. Jari dan lengannya  juga dihiasi dengan asesoris cincin akik besar dan gelang hitam. Tahun 1980-an ketika Pusat Pertokoan masih ada, Tata Saraila dikenal menguasai kawasan pusat perniagaan kota yang saat itu masih bernama Ujungpandang. (more…)

Lebih Tangguh Dari Kartini

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 22, 2013

Sudah saatnya pemerintah  Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk sosok lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa, semisal sosok Colliq Pujie, pejuang dan sastrawan asal Bugis.

Ilustrasi (sumber: sijarangpulang.wordpress.com)

==

Kartini adalah monumen sejarah yang dirawat secara bersama dan berkelanjutan oleh rangkaian penguasa negeri ini. Sosok perempuan asal Rembang ini dipuja-puji tidak saja oleh penjajah asing, tapi juga pemerintah paska penjajahan. Sejak sosoknya dipopulerkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan politik etisnya, pemerintah Jepang turut pula mengharumkan namanya dengan memulai tradisi perayaan hari lahirnya sebagai hari Kartini sejak tahun 1944.  Upaya ini semakin dilestarikan oleh pemerintah Indonesia di masa Soekarno, Orde Baru hingga Orde Reformasi kini.

Namanya makin harum dengan lagu, buku dan dihelatnya perayaan untuk mengingat “perjuangan” putri kelahiran Jepara ini. Melalui hari Kartini, bangsa negeri ini mengenal tradisi anak-anak putri yang berkebaya dan berkonde – sesuai dengan busana Kartini yang dikenal luas dalam semua potretnya, dan mengheningkan cipta untuk sang pejuang emansipasi. Meski telah ditahbiskan sebagai pahlawan, namun kontribusi nyatanya ke perjuangan kemerdekaan Indonesia masih dipertanyakan hingga kini. Ada banyak pejuang perempuan Indonesia yang se-zaman bahkan lebih dahulu dan lebih tangguh dari Kartini namun terkesan senyap di lintas sejarah Indonesia dan tak diistimewakan seperti laiknya Kartini.

Mengapa Kartini Saja

Kartini muncul di saat yang tepat, ketika pemerintah penjajah Belanda sedang menggiatkan politik etis. Ideologi politik yang juga dikenal sebagai politik Balas Budi ini dicetuskan pertama kali oleh Van Deventer (w. 1915) dan lantas dikukuhkan oleh Ratu Belanda Wilhelmina yang naik tahta tahun 1901, dengan maksud untuk lebih memerhatikan kondisi penduduk negeri jajahan termasuk Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia saat itu. (more…)

Tagged with: ,