…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Mengurai Jejak Jibril as Dalam Sejarah

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on October 25, 2011

Sepanjang jalan menuju tujuan, kita biasanya abai dengan gang-gang kecil yang terdapat di sisi jalan. Kita terkadang hanya fokus kepada jalan utama, arah kemana kita akan menuju hingga titik akhir tujuan. Padahal, tak jarang gang-gang kecil itu menyimpan banyak kisah-kisah kecil yang menjadi pilar pembangun keseluruhan cerita dan jejak-jejak perjalanan.

 

Agama juga demikian, tidak hanya melulu soal ritual teknis belaka sebagai penunjuk jalan utama. Tapi juga mengandung banyak cabang-cabang jalan yang kalau ditelusuri lebih detail akan membantu membentuk formasi keimanan menjadi lebih kuat dan mendekat ke sang Tujuan Agung. Mengimani Jibril as pun demikian, semakin kita mengenal dekat sang spesialis kurir penyampai wahyu ini, insya Allah pondasi iman kita akan menuju ke penciptaNya. Tentu saja dengan tetap merunut pada jalan utama yang wajib kita tempuh.

 

Jibril as, malaikat utama ini, juga rupanya menyimpan banyak jejak cerita di bumi manusia. Sejak Adam hingga rasul terakhir, Muhammad SAWW, yang dianggapnya sebagai kekasih terbaik sepanjang mengemban tugas menyampai wahyu dariNya, Jibril banyak bergelut dengan ragam manusia. Terutama karena ia banyak ikut andil secara aktif dalam berbagai pergulatan dengan manusia-manusia terkutuk, ketika tangan dan bibir para nabiullah membutuhkan bantuannya untuk menghalau sang musuh agama. (more…)

Tagged with: , , ,

Making Cappuccino

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on October 19, 2011

Sejak beberapa bulan lalu, saya ketagihan Cappuccino. Pasalnya, seorang office boy bernama Syarif, asal Kerla, Southern India pernah menyuguhi saya segelas cappuccino buatannya saat siang selepas duhur. Meminumnya serasa nikmat sekali, baru kali itu saya merasakan lidah dan tenggorokan saya meluruh setiap teguk yang terlewat. Manis dan rasa kopi nya menyentuh sekali, serasa menyeruput permen kopi berbentuk cair.

 

Sejak itu, saya selalu minta Syarif untuk membuatkan saya cappuccino yang sama, tentu saja dengan menyelipkan ‘wasta’ setiap akhir bulan sebagai imbalan untuk kebaikannya. (more…)

Catatan Mudik 2011

Posted in Abu Dhabi, Indonesia by daengrusle on October 6, 2011

bersama Mahdi dan Maipa di Tanah Lot Bali, 2011

Mudik adalah ritual. Ini menurut sebahagian besar perantau yang masih punya keterikatan emosional dengan kampung yang membesarkannya. Setiap periode tertentu, mereka pulang untuk mencicil kerinduan dan menapak tilasi kenangan yang tersimpan bertahun-tahun di benak mereka. Kenangan yang sulit atau enggan mereka hilangkan begitu saja, karena menyangkut banyak hal yang turut membangun peradaban individualnya. Tentang tempat, masa dan orang-orang yang masuk dalam bentara kedalaman perjalanan hidupnya.

Mudik bukan melulu karena hari perayaan tertentu. Tapi sejatinya mudik adalah berkumpul kembali. Mencoba merajut kembali apa yang terberai, mengikat kembali yang terserak, meski hanya untuk beberapa saat. Di momen yang sama, beberapa orang akan memanfaatkan mudik untuk menyambung kembali silaturahmi, melenturkan yang tegang dan mencairkan yang beku. Tiang-tiang keangkuhan mungkin akan direbahkan saat itu, berganti rupa menjadi maaf yang tulus. Tidak ada hubungan yang lekang karena permusuhan, karena bara api dendam itu tak punya keabadian. (more…)

Ia bertengger di pelupuk benak

Posted in puisi by daengrusle on October 2, 2011

foto sticker di pintu kamar Diana, Pannampu

:: mengenang Diana (1974-2008)

Keramaian. Di mana gerangan keramaian, ketika semua sama menggenggam ide, melemparkan bicara dan hilir mudik seperti dunia tak akan berlari tanpa gerak kaki kita. Di mana gerangan keriuhan, apakah ia masih membopong semua petuah bagaimana cara praktis untuk sibuk mengisi dunia, mencernanya dan melahap habis semua kesempatan yang hinggap bertengger di pelupuk benak.

Di tengah keramaian, kesenyapan mengendap segan dan memamah yang tersingkir. Didekapnya diriku, si masygul yang bodoh, dan dibisikkan bahwa tak pantas aku berada di dunia yang ramai. Keramaian hanya alat untuk menjauhkannya dari jiwa, memotong setiap mata rantai yang menghubungkanku dengan semesta. Lihatlah semesta hitam, dan masukkan ia ke matamu. Bukankah semesta adalah dirimu, ketika senyap?

Sekali ia menampar pipiku. Bukankah hidup adalah perpanjangan kelahiran, juga pendahulu kematian? Bukankah kelahiran dan kematian sejatinya berada dalam ruang yang senyap, tanyanya. Aku tak begitu tahu, aku terlalu bodoh dan belia untuk memahami ruang senyap. Saat lahir, aku belum menjadi diriku, pun aku belum benar-benar paham seperti apa kematian, apakah senyap atau ramai dengan dunia roh seperti yang sering kutonton.

di sana, ramaikah kakak?

abudhabi, 02.10.2011