…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

menjadi dirimu, barangkali

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

ada angka dan tanda-tanda, menyelinap diam di setiap lipatan ingatan
kita menyebutnya sebagai tanggal, dan membendung semua peristiwa
agar waktu menjadi beku, membekas seumpama batu di mataku

aku berharap matamu menjadi telaga, menampung seluruh ingatanku
meluruhkan semua angka, juga tanda-tanda sampai musim dingin tiba
ketika hatimu menjelma selimut, menghangatkan semua tanda
agar kau lekas terjaga pada ingatan-ingatan

aku tahu kau kadang lupa, ketika remah ingatan tertanam debu luka
dan aku tak paham menyembuhkan luka, juga tak pintar menjadi tabib
tapi aku selalu berusaha luruh di telaga matamu, menjadi ingatan-ingatanmu
menjadi dirimu, barangkali.

malam setelah supermoon

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on November 15, 2016

super-moon

[pic was copied from this link]

aku mungkin rindu pada kesejukan

di pipimu,

ketika kulit wajah kita beradu

kau tahu, rindu seperti itu

akan melukis sebaris senyum di bibirku,

bibir yang mungkin cemburu.

selalu cemburu. nasib nya selalu saja tak beruntung

bibir yang hanya bisa bermimpi. betul, bermimpi saja

(auh, malam setelah supermoon)

Tagged with: ,

Beriman Pada Media

Posted in agama, Random, Uncategorized by daengrusle on September 17, 2016
14344259_1204955849583588_4493759079424414387_n.jpg

this picture taken from Facebook or somewhere else, not mine.

Seorang kawan yang baik, yang saya kenal kebaikannya sejak belasan tahun, suatu kali menyatakan bahwa ia lebih mempercayai media non-mainstream daripada media yang sudah dikenal. Alasannya bahwa banyak fakta-fakta yang disampaikan media non-mainstream ini tidak diungkap oleh media besar. Sepintas saya menghargai sikapnya ini.

Namun, ketika menelusuri media non-mainstream mana yang dimaksud dengan melihat link-link yang biasa ia sampaikan di social media, saya tiba-tiba masygul. Kebanyakan adalah media yang menurut saya agak “abu-abu”, terutama karena dua hal; pertama, media itu tak menampilkan penanggungjawab redaksi perorangan secara jelas, kedua, kebanyakan berita atau artikel yang disampaikan oleh media itu nyata-nyata menyerang pihak atau tokoh pemerintahan tertentu, dengan dibumbui hal-hal yang dikaitkan dengan agama,ras,dan hal-hal primordial lainnya. Pun, berita yang disampaikan, dan dianggap fakta oleh kawan saya itu, sifatnya masih dugaan yang jauh dari konstruksi sebuah fakta. Selain tak dikutip dari narasumber yang akurat dan kompeten, juga lebih banyak hanya menyajikan sepihak, tanpa ada perimbangan opini dari pihak seberangnya.

Dan kawan baik saya ini ngotot menyatakan bahwa berita-berita semacam itulah fakta dan kebenaran yang coba ditutupi media mainstream. Dengan tambahan dugaan bahwa media mainstream itu sudah dikuasai (atau dibayar) oleh pihak yang tak disukainya. Sebagaimanapun kita berusaha membantunya dengan sajian informasi tabayyun/klarifikasi terhadap berita absurd itu, kawan saya tak akan mudah goyah dari keyakinan akan kebenaran media itu.

Saya seperti menemukan bentuk keimanan baru, sebagaimana agama atau kepercayaan. Kawan saya itu beriman pada media non-mainstream yang gemar dia kutip, dan di sisi yang berseberangan, dia menganggap media mainstream sudah kufur dalam pemberitaan sehingga tak layak masuk ke dalam konstruksi keimanan medianya. Kita yang memaparkan informasi berseberangan akan justru dianggap menyampaikan ketidakbenaran, meskipun hanya dalam rangka tabayyun.

Saya berpikir akan sia-sia rasanya berdiskusi dengan kawan seperti itu. Saya akan memilih abstain dan coba meninggalkan masalah itu. Toh, dia sudah punya keyakinan berbeda. Namanya juga keyakinan, bukan ketidak yakinan, tentu sulit sekali berubah atau bergeser. Dalam dunia psikologi, itu namanya WAHAM. Dalam istilah humor sufistik, mereka dianggap tersesat dalam keyakinannya.

Bibir

Posted in Uncategorized by daengrusle on August 30, 2016

[sebuah prosa]

home-remedies-for-lips.jpg

BIBIR. Kau tahu bagian apa di wajahmu yang tak akan menua? Kawan-kawanku mengatakan bahwa pikiran lah yang selalu muda, segar dan bisa melawan waktu. Tapi kakekku berkata selain itu. Katanya, bibir lah yang akan selalu legit menemanimu, bahkan di hari-hari senjamu. Rasa hangat yang dia raba pada setiap sentuhannya di tepi gelas yang kau minum, sedari bocah hingga tua akan selalu sama. Hangat. Juga rasa gigil yang memeluknya saat musim dingin atau ketika berada di ruang berpendingin maksimal akan terasa sama.

Aku ingat bagaimana ketika masih bocah dan kesadaran pertamaku muncul. Hari sudah menjelang sore di ruang tunggu sebuah klinik. Bibirku bergetar menahan dingin, meski kuingat ibuku sudah membungkusku dengan jaket tebal. Tapi udara dingin dari mesin pendingin itu seakan menembus jaket itu, hingga ke tulang. Dan menurut ibuku, bibirku membiru karenanya. Berbilang tahun sampai aku dewasa, bibirku tetap membiru seperti itu. Ingatanku tidak sesegar bibirku kurasa. Ingatan lekas runtuh, keropos seperti logam yang digerogoti karat. Jangan ditanya sudah berapa banyak memori yang menguap ketika aku menjejak ke umur 35, kemudian 40. Kadang-kadang aku mengutuk umur yang seperti pelari ini. Terlalu cepat dia sampai di garis senja.

Tapi bibirku tidak. Dua baris daging lembut empuk di wajahku itu seperti antitesis dari wajah dan rambutku. Ia masih kuat mengingat setiap detail benda yang pernah dikecupnya. Makanan, minuman, juga sentuhan lembut ke kulit teman, pacar, istri hingga anak-anakku. Punggung tangan, kening, pipi, lengan, leher atau bibir. Bibirku bisa meresapi berlama-lama ingatan itu, siapa dan apa saja yang pernah berjarak terlalu dekat darinya. Karena bibir selalu menolak menjadi masa lalu, sepertinya.

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Posted in Uncategorized by daengrusle on June 1, 2016

Berlomba Merasa Benar Ataukah Berlomba Berbuat Baik

Kemarin sore, di salah satu rest area saat balik dari Dubai menuju Abu Dhabi, saya tetirah sholat Ashar sambil meregangkan kaki. Seusai sholat seseorang yang saya kira berperawakan negeri gurun, atau mungkin dari asia selatan memperhatikan saya. Pakaiannya gamis panjang berwana coklat muda.

Meski juga memperhatikan gerak geriknya, saya berusaha tidak melakukan kontak mata. Sesaat kemudian dia menghampiri saya, tersenyum dan menyalami. Saya balas senyum dan menjawab salam sambil menjabat tangannya. Setelah menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris dan saya iyakan, matanya yang seakan penuh selidik mulai melontarkan pertanyaan yang langsung membuat saya ilfil, gak enak. “Apakah kamu menganut mazhab ini atau itu? Dahi saya berkerut dan menanya balik “Kenapa nanya itu?

Seingat saya selama hidup lima tahun di negeri gurun ini, pertanyaan semacam itu tak begitu umum, cenderung dihindari. Orang-orang tak begitu peduli dengan sesuatu yang sesungguhnya urusan pribadi Anda dengan Tuhan. Orang itu berkata bahwa ia memperhatikan cara sholat saya (dan mungkin membandingkan dengan tatacara sholat yang ia pahami). Saya memang sholat tak bersedekap, saya (memilih) untuk sholat dengan meluruskan tangan, juga melakukan qunut sebelum ruku di setiap rakaat kedua.

Dan mulailah ia menceramahi saya dengan hal-hal yang sesungguhnya tak begitu saya sukai. Di antara khotbah sore yang saya dapatkan gratis itu, saya ingat dia menganjurkan saya untuk “Banyak-banyaklah membaca buku. Carilah cara sholat sesuai protocol Rasulullah” Saya memilih diam, senyum dan mengangguk-anggukkan kepala saja selama khotbah itu. Untuk mengakhiri khotbah agar tak terlalu panjang, saya segera ulurkan tangan, mengguncangkan kepalan tangannya dengan sungguh-sungguh sambil menutup dengan doa untuk dia “Barokallahu fikum ya my brother”. Dia ikut tersenyum, puas dan kemudian berlalu.

==

Sedari dulu saya selalu gamang oleh pertanyaan yang kepo “apa standar kebenaran itu? Beberapa orang yang mengaku soleh dan solehah menyatakan “benar itu mesti sesuai Alquran dan Sunnah”. Tapi bukankah dua hal yang sedang kita bicarakan itu sepanjang 1500 tahun usianya sudah melahirkan banyak mazhab, belasan sub-mazhab, puluhan aliran teologis, ratusan aliran tasawuf, jutaan karya buku yang bisa saja saling mengkoreksi satu sama lain.

Semuanya merasa dirinya benar, karena mengambil patokan dari dua hal yang benar itu. Bahkan banyak juga menghasilkan sinkretisme antar agama (islam disatukan dgn hindu krn kesamaan prinsip — menjadi agama Sikh, islam menyatu dgn majusi menjadi Bahaism, dsb-nya — mohon dikoreksi kalau ini anggapan keliru).

Standar yang kita bicarakan itu menghasilkan begitu banyak cabang, sehingga apa pantas ya seseorang mendaku sebagai pemilik sah dan satu2nya yang benar. Mungkin orang itu memang bercita-cita melampaui Nabi, yang sejatinya seorang yang terbuka dan memberikan kesempatan kepada sahabat2nya untuk berlomba2 berbuat baik, bukan berlomba2 untuk merasa benar

Seorang Ayah Yang Berulang Tahun dan Anak Perempuannya Yang Beranjak Remaja

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 31, 2016

Seorang Ayah Yang Berulang Tahun dan Anak Perempuannya Yang Beranjak Remaja

dad-toddler-silloutte-on-beach.jpg

Silhouette of father and little daughter walking on sunset beach [fathers.com]

Cobalah bertanya pada seorang ayah yang berulangtahun hari ini, bagaimana ia menghitung panjang hidupnya. Kalau ia memiliki seorang anak perempuan, matanya akan berkaca-kaca sambil mengingat pelan-pelan bagaimana gadis kecil itu belajar berjalan, tertatih-tatih ditemani pandangan cemas ayahnya.

Punggung tangannya yang berkulit kasar dengan urat menyembul berwarna hijau menyusup ke tulang jemari rapuhnya akan bercerita banyak, bagaimana ia dengan gugup merentangkan tangan hendak menangkap si bocah berwajah bulat dan mata berbinar itu. Lima jemarinya akan merasakan tubuh gadis kecilnya yang empuk, hangat seakan-akan darahnya sendiri yang mengalir menjadi sungai di sekujur tubuh montok tapi ringkih itu.

Tanyalah berapa usia sang ayah, dan ia mungkin akan menghitung malam2nya yang penuh mimpi bahwa ia akan selalu hadir di saat2 penting anaknya kelak; ketika lulus sekolah, bekerja atau memulai usahanya sendiri, dan paling penting ketika menghantar si gadis periang itu ke pelaminan. Kalau perlu ia menyempatkan bermimpi agar suatu hari kelak bisa ikut menimang bayi yang secara ajaib lahir dari rahim gadis kecilnya itu.

Tanyalah ayah yang sedang berulangtahun itu, kepada matanya yang sembab ketika kau, si gadis kecil itu bertanya berapa besar sisa cintanya kepadamu.

[Abu Dhabi, 13Sept16]

Pantang

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 11, 2016

book2.jpg

Malam ini saya melirik tumpukan pakaian yang habis dicuci dan digosok di kamar saya. Juga beberapa lemari yang isinya berlembar-lembar pakaian milik saya dan anak-anak. Nyaris penuh. Tiba-tiba ingatan saya terlempar kepada seorang kawan lama di Bandung dulu, 20 tahun yang lalu.

Kawan saya itu merasa pantang memiliki pakaian lebih dari yang dia butuhkan. “Saya takut berdosa, memiliki sesuatu yang tidak saya butuhkan” begitu alasannya. Ketika ia kuliah, ia hanya memiliki tidak lebih dari tiga pasang pakaian. Jadilah ia hanya memakai pakaian itu-itu saja. Tapi ia tak malu, malah kelihatan bangga dengan segala kesederhanaan itu.

Saya yakin sebetulnya ia punya uang dan mampu membeli berlembar-lembar baju atau celana. Di rumah kontrakannya yang ia sewa sekian juta setahun, ia menampung kawan-kawannya yang kesulitan menyewa kost-kostan. Jadilah rumah kontrakannya menjadi semacam penampungan mahasiswa. Semua kawan-kawannya boleh menempati kamar yang tersedia, kecuali kamar paling atas yang paling kecil dari semua kamar yang ada. Di situlah ia tinggal, berhadapan langsung dengan ruang terbuka tempat menjemur pakaian sehabis dicuci. Di kamar kecilnya itu, lebih tepat disebut kamar loteng, ia tidak punya banyak barang kecuali satu rak buku dan lemari plastik kecil. Bukunya pun tak banyak, meski saya tahu ia seorang pembaca yang lahap. Saya membayangkan ia memperlakukan buku sebagaimana pakaiannya, seterbatas mungkin. Selesai membaca, semua bukunya akan ia hibahkan ke teman-temannya yang tertarik. (more…)

Sajak-sajak yang dimuat Lombok Post

Posted in Uncategorized by daengrusle on January 17, 2016

6f2a8ad7-582e-4c70-9fc8-84a7a844c6e5

Sajak-sajak saya hari ini dimuat Harian Lombok Post, edisi 17 Januari 2016.

Sehimpun Rindu

Setiap pagi, di seberang jalan. Aku membayangkan dirimu melambai selalu. Menawarkan sehimpun bebungaan yang basah oleh embun subuh. Aku berharap senyumku selalu bisa menyeberangkan tubuhku. Tapi jalan di hadapan kita selalu ramai, oleh waktu, oleh jarak.

Kau tahu, berhari-hari kucari cara untuk masuk ke ruang ingatanmu. Memanggil-manggil kenangan yang karam di lautan lupa. Memanggul setiap lukisan di masa lampau, membawanya kembali ke setiap malam. Aku berharap malam meluruhkan ingatan-ingatan itu. Menjadikan ia puisi, agar kujadikam selimut untuk memeluk tidurmu. Menjadi mimpi, barangkali.

Ketika malam luruh, aku ingin menjadi dingin.

Menjilati sekujur rambut di kulitmu. Agar tubuhmu merekah mencari pelukan-pelukan.

Pelukan-pelukan itu kemudian kurangkai menjadi selimut, menghangatkanmu – kala dipeluk dingin. Ketika malam luruh.

[Abu Dhabi, Oktober 2015]

(more…)

MENJADI BODOH ATAU CERDAS MELALUI INTERNET

Posted in Uncategorized by daengrusle on September 4, 2015

MENJADI BODOH ATAU CERDAS MELALUI INTERNET

Melalui internet [bil khusus social media], peluang anda untuk menjadi bodoh dan pintar sama besarnya, 50-50. Otak anda bisa makin tumpul kalau setiap hari diasupi dengan beragam link berita atau status yang hanya berisikan hujatan, serangan atau celaan ke golongan tertentu. Nyinyir dan sok merasa lebih cerdas dan mampu mengatasi masalah – walaupun hanya sekadar di status socmed, semua orang sepertinya bisa melakukannya. Terlalu mudah. Semudah anda juga akan dicap “haters” atau “bigot” karena terus-terusan bertingkah seperti anak kecil yang berbekal informasi copas sekadarnya sudah berani cuap-cuap gak karuan tentang hal-hal kenegaraan dan ketuhanan sambil menyerang pihak seberang. Itu kalau anda memilih untuk memanfaatkan peluang pertama.

Nah peluang kedua, anda bisa berada di sisi sebelahnya. Menjadi pemakai internet yang positif. Daripada ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, Anda bisa menjadi pembelajar yang kritis. Lakukanlah riset mudah dengan berselancar di dunia maya. Bukankah perintah agama, juga petuah bijak dari kearifan tradisional yang kita anut, meniscayakan keharusan untuk menggali lebih banyak informasi sebelum mengunyahnya menjadi keyakinan?

Selain milyaran artikel penambah pengetahuan, semisal know-how atau motivasi [agama, self-help, popular science], juga bertebaran jutaan buku digital [ebook] yang bisa anda akses dengan gratis. Menurut Wikipedia, ada sekitar 6,000,000 ebook yang sudah diaplod ke berbagai website penyedia layanan ebook. Sebahagian besar adalah gratisan, termasuk yang disediakan googlebooks di mesin pencarinya.

Bagi anda penyuka novel atau sastra, ada sekitar 21% ebook yang disajikan adalah genre fiksi. Tentu saja yang lebih banyak masih ebook jenis non-fiksi, terutama buku-buku ilmiah populer; komputer, sejarah, sains, agama, budaya, dan sebagainya. Anda penyuka penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra, ES Ito, hingga Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami? Buku-buku karya mereka bisa dinikmati hanya dengan sekali klik. Di salah satu web, karya Pramoedya dari Arus Balik, Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai hingga beberapa kumpulan Cerpen Cerita Dari Blora tersedia dan bisa diunduh gratis.

Wikipedia mencatat bahwa 42% dari ebook yang tersedia di internet itu tergolong non-fiksi, sebahagian besar mungkin buku serius untuk menambah pengetahuan Anda. Semacam perpustakaan besar untuk Anda meraup sebanyak mungkin pengetahuan. Anda bisa jadi sarjana, tanpa perlu memasuki jenjang formal kependidikan. Untuk apa mengejar gelar akademik kalau tujuan utama anda adalah Ilmu semata. Buku-buku yang pernah ditulis Gus Dur, Nurkholis Majid, hingga Buya Hamka juga tersedia di sana. Yang masalah mungkin tidak begitu banyak buku berbahasa Indonesia yang bisa didapatkan, karena sebahagian besar buku referensi dalam bahasa inggris, kecuali dari penulis2 Indonesia tentunya. Buku-buku klasik Agama Islam yang berbahasa Arab juga bisa didapatkan. Kitab-kitab babon semacam Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lain dalam bahasa dan tulisan aslinya juga tersedia.

Ya, internet menyediakan segalanya. Anda bisa menyusun kurikulum sendiri dengan rujukan yang mirip dengan apa yang Anda dapatkan di Universitas. Kalau Anda ingin terbebas dari ketidaktahuan, misalnya tentang “Apa itu Mazhab Mu’tazilah?” . Anda bisa menyusun kerangka belajar sendiri dengan menyusun formulasi tema seperti: 1) Sejarah Mu’tazilah dan Ajarannya, 2) Pandangan Luar Terhadap Mu’tazilah 3) Karya2 Pemikir Mu’tazilah Masa Awal 4) Mu’tazilah di era Modern 5) Mu’tazilah di Indonesia (melalui pemikir Harun Nasution dan Cak Nur). Ketimbang mengutuk dan mencemooh, justru lebih mulai mempelajari dan memahaminya dari riset atau karya langsung yang bersangkutan. Nyaris semua karya besar pemikir2 agung itu tersedia di internet melalui ebooks gratisan. Hampir semua ebook itu memuat keseluruhan halaman buku fisiknya, dari halaman judul hingga indeks dan daftar referensi. Dari daftar referensi, Anda bisa kembali menelusuri buku-buku lainnya dengan tema yang sejenis untuk memperkaya bacaan. Dan sekali lagi, bukan tidak mungkin buku-buku rujukan itu juga tersedia bebas dalam bentuk ebooks.

Siapa yang menyediakan ebooks ini? Semua bermula dari niat mulia, berbagi ilmu. Mungkin ada segeintir mereka yang bermaksud menyebarkan ideologi untuk dikenali seluruh dunia dengan buku-buku yang disebar. Tapi tentu saja kita mesti bijak menanggapi. Ilmu adalah bebas nilai, anda boleh menggunakan tidak saja untuk mendukung kepentingan anda, tapi juga bisa untuk menyerang kepentingan orang lain. Terserah Anda. Bahkan kitab suci pun kalau ditanggapi dengan sinis, bisa anda gunakan untuk menyerang siapa saja, termasuk Tuhan bukan?

Dari sekian situs penyedia ebook yang saya sering kunjungi maka ada tiga website ini yang paling lengkap menurut saya:

http://en.bookfi.org/

http://libgen.io/

http://www.gutenberg.org/

Sebenarnya ada masih banyak penyedia ebook dan artikel positif lainnya di dunia maya, termasuk yang temanya khusus. Website2 dengan orientasi keagamaan atau ideologi tertentu bisanya menyediakan semua bahan bacaan untuk mengenali pemikiran mereka. Itu tinggal diklik aja ke situs resmi mereka dan dari situ akan diarahkan ke arsip bacaan mereka.

Satu masalah etik yang mungkin jadi pertimbangan adalah soal pelanggaran hak cipta. Di hampir setiap buku yang diterbitkan ada disclaimer untuk tidak menyebarluaskan dan memperbanyak buku tersebut tanpa seizin penulis atau penerbit. Tentu saja ini dilema, apalagi sepertinya masih banyak buku tersebut tersedia dalam bentuk fisiknya. Ya, agar barokah lebih baik memang membeli buku fisiknya, sekira masih bisa didapatkan dengan mudah di toko buku atau toko online. Bukankah rasa membaca buku sambil membaui aroma kertas itu lebih nikmat dan eksotik ketimbang memelototi layar monitor desktop atau tablet?

Ayo, jadikan internet sebagai tempat Anda belajar menjadi cerdas!