…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hidup Riang Gembira

Posted in percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on July 29, 2017

Dulu, saya mungkin termasuk paling antusias untuk bergelut dalam diskusi tentang bagaimana keyakinan ditempatkan, terutama di ranah maya. Mungkin sisa-sisanya masih ada sampai sekarang. Saking antusiasnya – ditambah bekal merasa diri benar, saya terkadang kepo bergerilya ke blog atau status social media kawan-kawan untuk mengklarifikasi pernyataan atau informasi yang mereka tulis yang menurut saya absurd, tak berdasarkan data, atau hanya sekadar persekusi tanpa sumber valid. Dahulu, dengan modal tekad “meluruskan” itu, saya memandang tema pemahaman agama sebagai hal yang sangat penting untuk di “diskusi” kan. Itu dulu, masa lalu.

Tapi kini, setelah melewati masa ke-kepo-an itu, pada titik tertentu saya merasa tak ada artinya segala bentuk kengototan dalam setiap diskusi. Sampai suatu ketika, ada quote Paulo Coelho yang berseliweran di timeline menyentak saya dengan bebaris kata-kata bijaknya ini “Don’t waste your time with explanations: people only hear what they want to hear” – gak usah habiskan waktu dengan penjelasan berbusa-busa, toh orang gak akan peduli – mereka hanya mau mendengar apa yang mereka suka. Baiklah.

Kita beruntung hidup di masa orang-orang sangat menghargai Hak Asasi, terlebih ada perangkat hukum yang membuat semua orang menjadi berhati-hati untuk mengambil tindakan. Di masa modern dengan pranata sosial yang sedemikian tertata baik, perilaku masyarakat mau tak mau dibatasi oleh norma-norma tersebut. Anda boleh berbuat apa saja, asal rambu umumnya jangan dilanggar. Anda boleh berkata apa saja, asal ingat jangan sampai membuat orang lain terluka. Anda boleh merasa diri benar, tapi tindakan anda dipantau oleh hukum. Hukum tentu jangkauannya lebih luas, tidak terbatas pada keyakinan diri benar. Di ranah hukum, keyakinan Anda akan berhadapan dengan kepentingan umum, kepentingan orang banyak, yang dilindungi oleh hukum positif.

**

Apa yang perlu dibagikan saat ini?

Tidak usah hal-hal berat. Sekira hendak menguliti sesuatu, maka seriusilah dengan menelisik ke sumbernya. Carilah ahlinya, atau bacalah buku yang membahas tuntas soal itu. Dari social media anda tak akan dapatkan, kecuali hanya serpihan atau kutipan yang tak tuntas. Jauh lebih baik membagikan hal-hal ringan yang membuat kawan manapun, rela melirik dan kemudian dengan senang hati memencet tombol “suka”.

Hidup memang harus dibuat sebahagia mungkin. Tak ada yang perlu dibuat susah, apalagi membuat kepala dan pikiran berkerut-kerut. Kita lahir tanpa memiliki apa-apa, ketika mati pun demikian, tanpa membawa apa-apa. Dunia ini kecil, remeh dan enteng. Untuk apa dibuat jadi beban berat.

Di linimasa kita banyak terdengar kabar kawan-kawan mati muda. Atau depresi, atau kecewa. Mungkin akumulasi dari semua kekecewaan itu mendatangkan beban jiwa, memudahkan penyakit masuk. Badan menjadi lemah, kematian sewaktu-waktu mengintai. Mati dalam keadaan depresi, kecewa atau susah itu begitu menyedihkannya.

Kalau memang mati itu keniscayaan, kenapa tak berusaha mati dalam keadaan riang gembira. Tak perlu susah-susah memikirkan hidup. Buat dia riang, apalagi ini hidup yang singkat.

Advertisements
Tagged with: , ,

Hartman: Menomorduakan tuhan

Posted in Uncategorized by daengrusle on July 10, 2017

Hartman: Putting God Second

Ada kisah yang terjadi di masa lalu. Seorang kafir yang bertobat mendekati seorang pemuka agama. Dalam penyesalan dirinya mengingat dosa masa lalu, ia mengharap lirih “ajari aku tentang kitab sucimu”. Sang agamawan tersenyum ramah, “Mudah saja, bro. Apa yang kau benci, jangan lakukan ke orang lain. Inilah inti kitab suci, selebihnya hanya tafsiran-tafsiran saja. Laksanakan itu dan dirimu sudah memahami kitab suci seluruhnya”.

Semua tahu bahwa seorang agamawan tentunya bisa mengeja satu persatu semua dalil kebenaran yang bisa membela agama yang dia yakini. Semuanya ada dalam kitab suci, dan buat kita ketersediaan lembaran-lembaran kitab suci sungguh berlimpah. Tapi sang agamawan dalam kisah diatas memilih untuk tidak membacakan lembaran-lembaran kitab suci itu begitu saja. Ia memilih untuk menyederhanakannya, dengan bahasa yang teramat jelas. Ia membaca ulang keseluruhan kitab suci, tapi menggantinya dengan kalimat sederhana itu “apa yang kau benci, jangan lakukan ke sesamamu”.

Kisah diatas menjadi sumber inspirasi Donniel Hartman, seorang Rabbi yang hidup di Jerusalem, ketika ia menulis buku yang cukup unik “Putting God Second; How to Save Religion from Himself” [Menomorduakan Tuhan, Bagaimana Menyelamatkan Agama dari Dirinya Sendiri]. Donniel Hartman, rabbi Yahudi yang juga ikut mengkampanyekan solusi dua-negara di Israel-Palestina, cukup gusar dengan kenyataan bahwa agama-agama monoteis, yang asalnya adalah sumber ajaran moral, alih-alih menjadi salah satu musabab kehancuran dunia modern saat ini. Atau paling tidak, dijadikan semacam pembenar untuk saling membunuh.

Kita boleh setuju, atau menolak kegalauan Hartman. Tapi mengakui bahwa banyak persoalan muncul karena klaim keagamaan pihak tertentu, kemudian dijadikan aksi sepihak yang kadang merusak tatanan yang ada adalah keniscayaan. Kata Ibnu Rusyd, filosof Aristotelian yang terkenal itu, “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yg batil dengan kemasan agama”.

Tentu saja agama yang dimaksud bukanlah agama yang diperjuangkan para nabi dan mereka yang mendudukkan ajaran moral dan etis sebagai landasan hidup. Agama yang dibincangkan diatas adalah agama yang sudah tercemar oleh kekuasaan, apapun itu.

https://www.brookings.edu/…/putting-god-second-how-to-save…/

Balian

Posted in agama, cerita, Uncategorized by daengrusle on June 30, 2017
balian.jpg

foto from http://www.defenderofjerusalem.com/

Ia sempat merinding ketika bersiap menyerahkan kota suci itu ke Salahuddin Al-Ayyubi, atau nama lain Sultan Saladin, panglima pasukan Islam yang mengepung kota itu.

Balian Of Ibelin, sang penjaga kota suci Yerusalem saat perang Salib III berakhir (1192M) – ketika para Knights yang lain sudah takluk tak berdaya, ia mampu berdiri gagah menahan gempuran ribuan pasukan Saladin. Dengan kekuatan tersisa, Ia berharap perang melelahkan itu berakhir dengan damai.

“Akankah kau melakukan hal yang sama 100 tahun lalu, ketika pasukan Salib Eropa menjarah dan membunuhi seluruh penduduk muslim kota ini?

“Aku bukan mereka” jawab Saladin singkat dengan senyum terlukis di raut wajah kerasnya.

Alhasil, tidak ada pembantaian di akhir perang.

Penduduk kota yang kalah itu dibolehkan tinggal menetap atau meninggalkan Yerusalem dengan damai. Versi cerita lain menyebutkan bahwa, penduduk diperkenankan menebus kemerdekaannya dengan sejumlah uang. Bagi yang tak memiliki harta, terpaksa menerima nasib menjadi budak. Tapi sekali lagi, tak ada pembantaian seperti yang terjadi ratusan tahun sebelumnya. Trauma buruk yang mengendap dalam kenangan kedua umat saat itu.

Itu adegan yang muncul di akhir film “Kingdom of Heaven” (2005) – dibintangi Orlando Bloom dan menjadi salah satu film Hollywood yang konon cukup obyektif melukiskan perang Salib – perang ratusan tahun (1096 – 1204), terpanjang dan berjilid-jilid sepanjang sejarah, yang melibatkan dua agama besar dunia; Katholik dan Islam.

Perang ini lokusnya hanya di satu tempat; Yerusalem, kota suci tiga agama besar dunia. Silih berganti penguasa Muslim dan Kristen merebut kota suci tempat kelahiran Yesus atau Isa bin Maryam alaihissalam itu, namun hingga kini, seribu tahun sejak Paus Urban II mendeklarasikan perang suci itu, kota itu tak kunjung damai.

Di masa kini, kota yang menjadi tempat berdakwah nabi welas kasih yang menentang kekerasan itu “kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu pula” masih menjadi pusat bara konflik. Masa modern malah menambah satu pihak yang sebelumnya tak terlibat perang Salib berkepanjangan itu; kaum yahudi Zionist, yang mengangkanginya sekarang.

Film ini juga membuka satu hal yang selama ini tertutupi; bahwa perang Salib bukanlah melulu tentang perang antar agama untuk merebut kota suci; tetapi soal politik; tentang siapa berkuasa dan menguasai apa; tentang siapa yang mengejar kemuliaan nama dengan jalan kekerasan atau damai; dan paling utama; Tuhan sebenarnya menghendaki perang atau hanya nafsu manusia saja yang membonceng namaNya.

Kini perang tak berkesudahan itu berpindah ke dunia maya, tempat nyaman kita sebagai sesuatu yang lain. Lain dari kenyataan, sepertinya.

Meski sering kita berkeyakinan “Aku bukan mereka”, tapi nyatanya kita kadang melakukan hal yang sama; mengumpat, mencaci, memaki, atau berprasangka buruk hanya karena sudah merasa beda sejak awal. Perasaan dan pikiran seperti itu, kata Tuhan, akan menghambatmu naik ke derajat kemuliaan.

Lebaran Tak Berlebaran

Posted in Abu Dhabi, agama, Renungan, Uncategorized by daengrusle on June 26, 2017

11796213_10153430497541327_7660910469704979051_n.jpg

Ini tentang Lebaran yang tak lebaran. Tentang mesjid di dekat rumah saya.

Salah satu yang membuat saya selalu berusaha menyempatkan sholat berjamaah di masjid itu karena soal ringan: salaman dan jabat tangan. Di masjid-mesjid lain di negeri gurun ini, saya agak kesulitan menemukan “ritual” salam-salaman ini seperti yang saya alami waktu kanak-kanak. Mungkin karena ada fatwa sekelompok ulama yang menganggap salaman sehabis sholat itu bid’ah dan tidak ada dalil nya menurut mereka, selain juga berdoa sehabis sholat yang tak dilakukan berjamaah. Di masjid ini, bahkan kita bisa bersama-sama melantunkan doa dan munajat dengan suara nyaring pada bagian-bagian tertentu. Pada akhir doa, kita bersama mengakhirkan dengan bacaan sholawat dan alfatihah, kemudian menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan jamaah yang ada di sebelah kiri, kanan, depan dan belakang. Persis di Indonesia.

Rasa bahagia berjamaah di masjid itu semakin membuncah ketika sholat jumatan. Pasalnya, sehabis ritual doa dan salam-salaman, akan ada sesi khusus untuk bersalaman dengan khatib yang juga merangkap sebagai imam sholat jumat. Para jamaah akan membentuk barisan antrian panjang seperti di pesantren. Yang menarik bahwa kita tak hanya bersalaman, tapi juga berkesempatan mencium kening, atau sekira memungkinkan bersentuhan pipi kanan dan kiri dengan sang Imam. Betapa bahagianya! Saya kadang menambahi dengan merapatkan wajah dan hidung saya ke jubah sang Imam tepat di dada kanannya. Wangi harum jubah dan rasa takzim bercampur baur setelahnya.

Saat akhir Ramadan kemaren, masjid ini menyatakan bahwa bulan puasa genap 30 hari. Hal ini menjadikan penentuan 1 Syawal berbeda dengan pemerintah setempat yang diumumkan sehari sebelumnya. Ketika saya menemui Ejaz, salah satu petugas di Mesjid itu, dengan wajah tersenyum dia berkata singkat, “Iya, hari Eid kita jatuh di hari Senin, bukan Ahad seperti yang lain. Tapi kita tak menyelenggarakan sholat Eid tahun ini”.

Saya tak perlu menanyakan musababnya. Dalam hati saya mencoba mencari pembenaran. Mungkin mereka hendak menjaga situasi yang nyaman untuk semuanya. Perbedaan tak melulu mesti ditunjukkan ke semua orang, terkadang keharmonisan bermasyarakat menjadi hal yang jauh lebih penting. Di tengah keriuhan dunia yang rawan oleh konflik sektarian, bersabar dan mendiamkan diri tentu lebih baik. Dan kegiatan di masjid itu kembali berjalan normal tanpa berubah sedikitpun, meski tanpa Sholat Eid.

Oh iya, Masjid itu bernama Al Rasool Al A’adham Mosque, atau Mesjid Rasul (Muhammad) Yang Agung. Di dinding depannya, terpampang lima nama sosok suci keluarga Rasul; Muhammad, Ali, Fatima, Hasan dan Husein. Mesjid ini menjadi tempat peribadatan muslim bermazhab Jakfari yang bermukim di kota ini. Tahun ini, mereka berketetapan untuk tak menyelenggarakan sholat Eid di masjid itu karena jatuhnya berbeda dengan masyarakat setempat. Mereka ber-lebaran di hati.

Tagged with: ,

Kairouan Kota Suci Anti Poligami

Posted in agama, Sejarah, Uncategorized by daengrusle on June 24, 2017

orig-mosque-of-uqba-in-kairouan-tunisia-17.jpg

Namanya selintas mirip dengan kata karavan, serapan dari bahasa Persia yang bermakna tempat beristirahat. Di masa perang, nama ini identik dengan basis militer atau penduduk sipil. Di masa sekarang, caravan juga bermakna sebagai sekelompok orang yang bepergian dalam barisan yang sama. Kota Kairouan, berdiri di ujung bulan Ramadan, 29 tepatnya, di tanduk daratan Tunisia. Adalah jendral tersohor dari dinasti Umayah, yakni Uqbah bin Nafi, keponakan tokoh Amr bin Ash yang mendirikan kota Kairouan ini di tahun 670M (48H). Saat salah satu pasukan Uqbah menemukan sumur sumber air di kota itu, banyak yang menyebut airnya berasal dari air yang sama dengan air zamzam di Mekkah.

Kairouan, berkembang pesat, terlebih kemudian menjadi pusat pemerintahan kekhalifaan Umayah di barat Afrika. Setelah jatuh bangun karena serangan dari bangsa lokal Berber, dan juga silih berganti penguasa hingga pernah dikuasai kaum Fatimid, dinasti Syiah yang mendirikan Kairo dan AlAzhar di Mesir, Kairouan kemudian berkembang menjadi pusat kebudayaan Islam.

Mesjid besar di tengah kotanya, yang dinamai dari pendirinya, Mesjid Besar Sidi Uqbah, sejak abad ke-9 hingga 11M, menjadi tempat berkumpulnya ulama dan sufi dari mazhab Maliki. Mesjid dan kota ini menjadi tujuan para pelajar muslim dari seluruh Afrika untuk belajar ilmu Islam dan Sains. Salah satu tradisi khas yang berkembang di kota tua ini adalah kewajiban untuk menghargai monogamy, alih-alih poligami sebagaimana yang banyak dipraktekkan di tempat lain. Di kota itu, para isteri berhak mengajukan tuntutan hukum sekira sang suami berniat menikah lagi.

Saking berkembangnya kota ini, selain mitos bahwa air yang mengalir di kota itu berasal dari sumber yang sama dengan sumur Zamzam di Mekkah, kota Kairouan sempat didaulat sebagai kota suci ke-4 peradaban Islam, setelah tiga kota suci lainnya: Mekkah, Medinah dan Yerusalem. Konon penduduk kota Kairouan percaya bahwa berziarah sebanyak 7 kali ke Mesjid agung Sidi Uqbah, sama derajatnya dengan berziarah 1 kali ke Mekkah.

Itulah kota Kairouan, alQayrawaan, atau caravan, kota suci ke-4 peradaban Islam, pusat pembelajaran mazhab Maliki, dan juga kota yang anti poligami. Kota tua ini kemudian dilindungi sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO sejak 1988.

Khamim Pejalan Kaki Ke Baitullah

Posted in Abu Dhabi, agama, cerita, Uncategorized by daengrusle on June 3, 2017

kamim2-e1496491833416.jpg

“Iya nih, saya mesti menghapus beberapa akun dulu baru bisa menambah pertemanan,” ujarnya tersenyum ketika saya menanyakan jatah pertemanan di akun Facebook nya yang sudah penuh. Mohammad Setiawan, 29 tahun – pemuda pejalan asal Pekalongan itu kami undang untuk berbagi cerita pengalaman perjalanannya sore itu, Kamis 1 Juni 2017 ke acara buka puasa bersama IA-ITB dan IATMI UAE di Abu Dhabi, UAE.

Ia memang semakin disibukkan oleh banyaknya permintaan pertemanan di akun Facebook-nya sejak namanya menjadi viral di beberapa media massa nasional lantaran memuat kisah gila petualangannya berjalan kaki untuk berhaji dari tanah air. Media sosial Facebook dan WhatsApp dia gunakan untuk berkomunikasi dan berkirim kabar dengan teman-temannya, juga keluarganya. Di akun Facebooknya, ia banyak meng-upload foto-fotonya di perjalanan, termasuk beberapa video seputar kesehariannya dalam perjalanan.

“Awalnya saya menolak untuk diwawancarai wartawan. Saya tidak ingin perjalanan ini dimuat media,” ujarnya tersenyum ketika disinggung tentang kisahnya yang sudah terlanjur viral.

Padahal, menurutnya perjalanan spiritual yang dia lakukan ini bukan sekadar aksi gagah-gagahan. Tapi merupakan panggilan Tuhan yang harus dipenuhi. Sekitar empat tahun silam, Khamim merasa mendapatkan muhadatsah, sebuah komunikasi spiritual yang menuntunnya untuk melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki menuju .

(more…)

Tagged with: , ,

Anak Indonesia dan Nama Yang Teramat Panjang

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

Suatu hari saat mendaftarkan anak saya ke sekolah barunya, Sekolah Internasional Berkurikulm Kanada di Abu Dhabi, UAE — bapak petugas pendaftaran tiba-tiba nyeletuk, “Nama anak-anak Indonesia itu panjang-panjang ya” sambil menghela napas panjang. Saya tidak kaget, sambil menghitung-hitung ada berapa huruf yang tertera di nama anak-anak saya.

“Iya, kami itu suka banget nonton film, sinetron dan sebagainya. Jadi sebahagian dari kami, para orang tua Indonesia ini, jadi keranjinganmemberi nama anak-anak dengan nama selebrities, nama aktor atau aktris yang terkenal”.

Bapak itu kemuding manggut-manggut. Mudah-mudahan dia tak menertawakan dalam hati keranjingan memakai nama-nama seleb ini. Padahal, saya belum menambahi tentang bagaimana para orang tua Indonesia juga ikut-ikutan mengambil nama dari artis asing yang untuk mengeja namanya saja lidah kami mesti terlipat-lipat.

Satu hal yang saya selalu teringat soal nama-nama sulit ini, adalah betapa repotnya mengisi kolom nama saat ujian masuk Perguruan Tinggi yang menggunakan sistem komputerisasi. Sayang membayangkan berapa lama seorang anak menuliskan namanya, kemudian menghitamkan kolom-kolom huruf di lembar isian komputer itu kalau ia memiliki nama “ Yuriexa Razanaraghda Odhiyaulhaq”! Ini belum seberapa dibanding bingungnya guru sekolah TK atau SD-nya yang tak terbiasa dengan nama-nama asing. Lidah yang kelu antara mengeja nama susah dengan konsonan yang bejubel, atau mulut yang belepotan mencoba melafalkan nama itu sesuai bahasa aslinya (bahasa asli dari mana, Latin, Rusia, Arab, atau mana?). Padahal, saat anak itu dipanggil, dengan centilnya ia membalas pendek “Panggil saja aku Aco, bu guru!

Saya pernah juga membincangkan hal ini dengan istri, kala kami menyebut nama-nama teman sepantaran anak bungsu saya; Mahra (2,5 tahun). Di antara nama teman-temannya, ada terselip nama Samir. Nama ini sudah lama kami tak dengar, sejauh lemparan waktu ke masa kanak-kanak. Juga nama Amir, Wati, Anwar, Syamsu, Budi, dan lain-lain yang kami anggap sebagai nama asli Indonesia (walaupun sebagian juga ternyata serapan dari nama India dan Arab). Sudah sangat jarang rupanya para mamah-mamah muda di Indonesia rela menamai anaknya dengan nama yang jarang muncul di sinetron. Semakin sederhana nama anak, mungkin dianggap semakin jadul dan kudet. Sebaliknya, semakin sulit mengeja nama anak maka dianggap semakin canggih, terkini dan maaf, berbakat jadi sosialita atawa metroseksual. Auw!

menjadi dirimu, barangkali

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on March 8, 2017

ada angka dan tanda-tanda, menyelinap diam di setiap lipatan ingatan
kita menyebutnya sebagai tanggal, dan membendung semua peristiwa
agar waktu menjadi beku, membekas seumpama batu di mataku

aku berharap matamu menjadi telaga, menampung seluruh ingatanku
meluruhkan semua angka, juga tanda-tanda sampai musim dingin tiba
ketika hatimu menjelma selimut, menghangatkan semua tanda
agar kau lekas terjaga pada ingatan-ingatan

aku tahu kau kadang lupa, ketika remah ingatan tertanam debu luka
dan aku tak paham menyembuhkan luka, juga tak pintar menjadi tabib
tapi aku selalu berusaha luruh di telaga matamu, menjadi ingatan-ingatanmu
menjadi dirimu, barangkali.

malam setelah supermoon

Posted in puisi, Uncategorized by daengrusle on November 15, 2016

super-moon

[pic was copied from this link]

aku mungkin rindu pada kesejukan

di pipimu,

ketika kulit wajah kita beradu

kau tahu, rindu seperti itu

akan melukis sebaris senyum di bibirku,

bibir yang mungkin cemburu.

selalu cemburu. nasib nya selalu saja tak beruntung

bibir yang hanya bisa bermimpi. betul, bermimpi saja

(auh, malam setelah supermoon)

Tagged with: ,

Beriman Pada Media

Posted in agama, Random, Uncategorized by daengrusle on September 17, 2016
14344259_1204955849583588_4493759079424414387_n.jpg

this picture taken from Facebook or somewhere else, not mine.

Seorang kawan yang baik, yang saya kenal kebaikannya sejak belasan tahun, suatu kali menyatakan bahwa ia lebih mempercayai media non-mainstream daripada media yang sudah dikenal. Alasannya bahwa banyak fakta-fakta yang disampaikan media non-mainstream ini tidak diungkap oleh media besar. Sepintas saya menghargai sikapnya ini.

Namun, ketika menelusuri media non-mainstream mana yang dimaksud dengan melihat link-link yang biasa ia sampaikan di social media, saya tiba-tiba masygul. Kebanyakan adalah media yang menurut saya agak “abu-abu”, terutama karena dua hal; pertama, media itu tak menampilkan penanggungjawab redaksi perorangan secara jelas, kedua, kebanyakan berita atau artikel yang disampaikan oleh media itu nyata-nyata menyerang pihak atau tokoh pemerintahan tertentu, dengan dibumbui hal-hal yang dikaitkan dengan agama,ras,dan hal-hal primordial lainnya. Pun, berita yang disampaikan, dan dianggap fakta oleh kawan saya itu, sifatnya masih dugaan yang jauh dari konstruksi sebuah fakta. Selain tak dikutip dari narasumber yang akurat dan kompeten, juga lebih banyak hanya menyajikan sepihak, tanpa ada perimbangan opini dari pihak seberangnya.

Dan kawan baik saya ini ngotot menyatakan bahwa berita-berita semacam itulah fakta dan kebenaran yang coba ditutupi media mainstream. Dengan tambahan dugaan bahwa media mainstream itu sudah dikuasai (atau dibayar) oleh pihak yang tak disukainya. Sebagaimanapun kita berusaha membantunya dengan sajian informasi tabayyun/klarifikasi terhadap berita absurd itu, kawan saya tak akan mudah goyah dari keyakinan akan kebenaran media itu.

Saya seperti menemukan bentuk keimanan baru, sebagaimana agama atau kepercayaan. Kawan saya itu beriman pada media non-mainstream yang gemar dia kutip, dan di sisi yang berseberangan, dia menganggap media mainstream sudah kufur dalam pemberitaan sehingga tak layak masuk ke dalam konstruksi keimanan medianya. Kita yang memaparkan informasi berseberangan akan justru dianggap menyampaikan ketidakbenaran, meskipun hanya dalam rangka tabayyun.

Saya berpikir akan sia-sia rasanya berdiskusi dengan kawan seperti itu. Saya akan memilih abstain dan coba meninggalkan masalah itu. Toh, dia sudah punya keyakinan berbeda. Namanya juga keyakinan, bukan ketidak yakinan, tentu sulit sekali berubah atau bergeser. Dalam dunia psikologi, itu namanya WAHAM. Dalam istilah humor sufistik, mereka dianggap tersesat dalam keyakinannya.