…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Bersiap Menuju Abu Dhabi Lagi

Posted in Kenangan by daengrusle on May 30, 2011

Di Bandara Soekarno Hatta, jam 17:20:54
Ruang tunggu E1.

Advertisements
Tagged with: ,

Menemui Sang IndoBrad dan Kang Achoey

Posted in Indonesia by daengrusle on May 29, 2011

Akhirnya, di sela-sela kunjungan singkat di Bogor, saya menyempatkan diri menemui sang inspirator, Om Bradley Marissa, sambil makan siang di Warung Mie Janda, Cibinong yg dikelola pentolan komunitas Blogger Bogor: Blogor Achoey alHaris.

Pertemuan segitiga ini tak direncanakan, meski didoakan :). Obrolan banyak hal, terutama soal bagaimana prosesi menerbitkan buku yang self publisher dengan istilah ‘print to order’ sampai berapa biaya menerbitkan buku.

Sepertinya menarik, karena kang Achoey, yang akan launching buku ke-4 nya bulan Juni ini banyak berbagi pengalaman yg tentu berharga terutama untuk Om Brad yang ‘konon’ terpicu untuk juga punya buku karya sendiri dan DITERBITKAN resmi sodara2! Hehehe.

Pertemuan di siang itu menghasilkan banyak hasil, tapi yang terutama adalah perut kami kenyang diasup mie Janda hasil olahan sang penulis novel Sahaja Cinta yang ganteng itu.

Tepat jam 2siang, kami pun berpisah.

Tagged with: , , , ,

Kembali ke Rumah Diana

Posted in Kenangan, Renungan by daengrusle on May 28, 2011

Subuh menjelang pagi dan jarum jam menunjukkan angka 5 lebih beberapa menit di tanggal 12 Februari 2008, berjarak tiga tahun lebih beberapa bulan dari hari ini. Saya masih ingat mengusap terakhir kali kaki Diana yang kaku di atas pembaringannya.

Wajahnya yang putih terlihat pucat, sementara tim dokter masih berusaha memberi bantuan pemicu jantung karena tidak ada deteksi detak jantung di dada Diana.

Suster yang memanggil saya yang tertidur di ruang tunggu, berusaha menenangkan saya yang pagi itu kebingungan. “Sabar dan diikhlaskan ya pak” nasehatnya.

Saya tak begitu peduli ucapan suster, perhatian saya hanya pada tubuh kurus yang menjalani 3 minggu terakhir di ruang ICU RS Melia itu. Tubuh itu tubuh kakak saya tercinta, dokter Rusdiana, yang pagi itu berumur 36tahun lebih 3 bulan.

Bibir saya agak kelu, tapi juga merapal doa dan ucapan perpisahan untuk jiwanya, yang saya yakin saat itu masih berada di sekitar jasadnya yg putih kaku.

Saya sedikti-sedikit coba menatap tajam mata yang belum terpejam itu, sambil menyapa dalam hati..

“seperti apakah rasanya sakaratul maut, ya kakandaku tercinta? semoga dikau melaluinya dengan tentram, buah kesabaranmu menghadapi deraan sakit sejak belasan tahun silam…”

Kenangan di pagi itu, masih melekat kuat hingga hari ini saya berkunjung lagi ke rumah terakhir Diana di Cikuda, Bogor, mengiringi tangis ibunda saya yang hari ini juga berkunjung.

Allah SWT berjanji bahwa kita akan dikumpulkan bersama orang2 yang kita cintai. Saya berharap nanti dikumpulkan lagi bersama Diana dan imam suci ahlulbayt AS, menjumpai Rasulullah SAWW di telaga al-kautsar kelak. Amin.

Tagged with: , ,

Dua Sore, Dua Kemacetan

Posted in Indonesia by daengrusle on May 28, 2011

Sesampai di Indonesia, saya berhadapan langsung dengan hal yang lumrah di Jakarta. Kemacetan. Dua sore saya menjelajahi Bogor dan sekitarnya, dua sore juga saya ‘menikmati’ macetnya.

Titik macet awal ketika menyusuri tol cawang dari arah priuk menuju tol Jagorawi. Titik macet kedua adalah ketika keluar dari tol Gunung Putri menuju rumah Diana di Cikuda.

Sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati (2)

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on May 25, 2011

Begitu kuatnya cerita sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati di benak orang Makassar, hingga kemudian nama kedua tokoh tersebut diabadikan sebagai nama jalan di kota Makassar; Jalan Datu Museng dan Jalan Maipa Deapati. Kedua jalan itu berdekat-dekatan seakan-akan bahkan pemerintah kota pun merestui hubungan mereka.

Di ujung barat jalan Datu Museng, terdapat situs makam dengan dua nisan kayu berdiri bersanding kukuh, mengkilap kehitaman, konon itulah makam kedua pasangan cinta abadi tersebut; Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati. (more…)

Parachinar (was: Dera Ghazi Khan)

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on May 25, 2011

Sebelumnya saya tak menyangka bahwa identitas itu sangat berpengaruh dalam pergaulan keseharian di negeri minyak ini. Di Abu Dhabi yang lebih dari 70% penduduknya adalah pendatang, keragaman sudah menjadi keniscayaan. Negeri ini membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun infrastruktur, juga menggerakkan roda perekonomian yang sebahagian besar ditopang oleh industry perminyakan.

Penduduk lokal yang hanya sejumlah 300,000 jiwa tidak mampu mengerjakan semua hal, disamping karena mereka sudah terlahir kaya karena subsidi pemerintah yang melimpah (GDP USD 50,000/tahun). Alhasil, penduduk pendatang dengan jumlah lebih dari 700,000 atau 70% dari berbagai negara mendominasi negeri ini. Yang terbanyak diantaranya adalah: warga India, Pakistan, Pilipina dan warga arab lain terutama dari mesir, syria dan jordan. Indonesia? Hanya maksimal sekitar 10ribuan dan umumnya bekerja sebagai housemaid.

(more…)

Tagged with: , , ,

Sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati (1)

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on May 24, 2011

(Ket gambar: Passinriliq, sumber link)

Saya menamai anak perempuan saya Maipa Deapati. Bagi orang asli Sulawesi Selatan, biasanya akan langsung paham bahwa nama ini adalah khas dari semenanjung selatan pulau Sulawesi itu. Nama Maipa Deapati, terabadikan dalam cerita folkrole rakyat Sulawesi Selatan yang mulanya dituturkan lisan dalam cerita sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati.

Sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati yang merupakan cerita percintaan abadi ini kemudian diadaptasi ke dalam bentuk sastra roman oleh Verdy R Baso diterbitkan Merappi Makassar tahun 1967. Hingga kini lakon Datu Museng – Maipa Deapati masih dipentaskan dalam drama pertunjukan di berbagai panggung kesenian.

 

Sinriliq atau sinrilik merupakan bentuk seni tutur puitis berirama yang dikenal oleh penutur bahasa Makassar. Di suku bugis, bentuk kesenian ini dinamakan Kacaping atau Akkacaping. Dalam budaya nusantara lain bisa juga ditemui ragam yang mirip, misalnya sinden di sunda atau jawa. Berbeda dengan budaya Jawa/Sunda, cerita Sinriliq dan Akkacaping ini dibawakan lansung oleh pemain music tunggal nya (solois).

(more…)

Pindah Blog

Posted in Abu Dhabi, Blogging, komunitas by daengrusle on May 22, 2011

Yah, sekali lagi terinspirasi dari Opa Brad yang (kembali) ngeblog dengan domain sendirinya, saya coba juga beralih kembali ke blog berdomain bayar sendiri. Sebelumnya, nun di tahun 2007-2009 saya masih memaintain blog dengan domain sendiri: http://www.daengrusle.com . Namun berhubung satu dan lain hal, saya tak mampu mempertahankan kelangsungan hidup blog tersebut. Dan akhirnya kembali ke blog domain gratisan: http://www.daengrusle.wordpress.com.

Domain daengrusle.com itu sendiri saya peroleh dengan gratis sebenarnya, hasil memenangkan lomba postingan dan lomba foto di blogfam tahun 2007 silam. Namun, keterbatasan kemampuan teknis menyebabkan saya frustasi dan tak bisa meneruskannya.

Nah, dengan racun yang ditularkan oleh Opa Brad, akhirnya saya menghubungi kembali http://www.qwords.com tempat dulu saya memperoleh domain dan hosting berbayar tersebut berharap saya bisa mendapatkan kembali domain daengrusle.com. Tapi harapan saya rupanya tak bisa terkabulkan, domain itu sudah dimiliki orang lain. Heran ya, apa nama saya cukup komersil untuk didagangkan…he2. Demikian juga dengan hosting/isi postingan yang lalu2 sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Tak mengapa sih. 

Anyway, solusi lainnya saya tempuh adalah dengan membeli domain baru yang saat ini sudah saya pakai.

http://www.daengrusle.net

Dengan bantuan teknis dan limpahan hostingan unlimited dari Prof Mustamar, sahabat terkasih yang ringan tangan di komunitas blogger AngingMammiri, maka Alhamdulillah saya dapat nge-blog lagi. Juga, sekiranya tak ada Ipul Daeng Gassing, ketua komunitas blogger AM yang sempat menyentil saya dalam postingannya, tentu saya blum sempat berpikir untuk memulai lagi aktifitas nge-blog ini. Thanks to you, man!

Bulan Mei ini, saya rekor lagi memposting 6 postingan! Rekor terbaik dalam dua tahun terakhir..he3

Reborn dan Ngeblog Lagi

Posted in Kenangan by daengrusle on May 22, 2011

Yah, sekali lagi terinspirasi dari Opa Brad yang (kembali) ngeblog dengan domain sendirinya, saya coba juga beralih kembali ke blog berdomain bayar sendiri. Sebelumnya, nun di tahun 2007-2009 saya masih memaintain blog dengan domain sendiri: www.daengrusle.com . Namun berhubung satu dan lain hal, saya tak mampu mempertahankan kelangsungan hidup blog tersebut. Dan akhirnya kembali ke blog domain gratisan: www.daengrusle.wordpress.com.

Domain daengrusle.com itu sendiri saya peroleh dengan gratis sebenarnya, hasil memenangkan lomba postingan dan lomba foto di blogfam tahun 2007 silam. Namun, keterbatasan kemampuan teknis menyebabkan saya frustasi dan tak bisa meneruskannya. (more…)

Nahnu

Posted in Renungan by daengrusle on May 19, 2011

Saya memandang hidupnya sebagai sebuah ironi. Tapi hati kecil saya berdoa semoga anggapan saya salah se-keliru-kelirunya.

 

Nahnu, adalah satu diantara beberapa teman awal saya ketika sama-sama menginjak kampus Ganesha di Bandung. Kesan pertama melihat wajahnya, terutama matanya, bahwa anak ini cerdas dan curious akan segala hal. Dia berasal dari sebuah desa di Jawa Tengah atau Jawa Timur, saya lupa tepatnya dimana. Mungkin dia anak yang paling cerdas di sana, dan berhasil menembus persaingan ketat masuk ITB. Peringkat UMPTNnya sepertinya bagus, masih lebih bagus dibanding saya yang sudah masuk di zona degradasi karena nilai saya mendekati limit bawah.

 

Yang membuat saya, dan kami teman-teman di teknik Sipil ITB kala itu tercengang adalah cerita tentang perjuangannya masuk ITB. Bermodal kecerdasan saja tidak cukup, perlu dukungan financial yang memadai. Apalagi dia berstatus perantau di Bandung, butuh biaya kost, makan, transport dan semacamnya.  Dia bercerita, untuk mendapatkan dana buat memenuhi persyaratan pendaftaran masuk ITB yang saat itu tahun 1995 sekitar Rp 1jutaan, orang tuanya yang petani terpaksa menjual asset produksinya: sawah.

 

Saya lupa, apakah dia juga bercerita bagaimana kegiatan usaha ayah-ibu setelah sawah itu terjual, ataukah mereka masih punya sawah ladang lain. Entahlah, tapi cerita berikutnya bisa meraba apa yang terjadi pada kehidupan keluarganya di desa.

 

Setiap bertemu di kampus, saya selalu menunggu cerita baru darinya. Sebenarnya ini menjadi semacam refleksi diri buat saya untuk selalu bersyukur dengan keadaan kala itu. Nahnu, menjadi sosok mirror dalam keterbatasan saya, bahwa saya sungguh jauh lebih beruntung karenanya tak guna menggelontorkan banyak keluhan di hidup yang seharusnya indah selayak menjalani masa mahasiswa di kota Paris Van Java itu.

 

Ke kampus, pakaiannya agak kumal dan lusuh. Buku-bukunya yang kusam a la kadarnya juga menjadi penanda hidupnya yang sulit. Rambutnya sering dibiarkan tak tersisir dan agak kecoklatan. Kelihatannya sisa dari tidur yang sulit semalam. Bandung saat itu sedang dingin-dinginnya dan dia menghabiskan malam dengan menumpang di Masjid Salman depan kampus ITB. Tak bisa saya bayangkan dengan keadaan terbuka seperti itu dia bisa tidur dengan nyenyak. Saya saja sempat sakit beberapa hari karena didera dingin kala pertama menginjak Bandung.

 

Kwartal pertama 1995 kelihatannya bisa dilewati dengan perjuangan sulit. Nahnu hidup berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu asrama ke asrama mahasiswa yang lain. Satu hal yang membuat dia tidak betah adalah ketika merasa dirinya dilecehkan. Jamak dimaklumi saat itu, untuk menjadi penghuni asrama mahasiswa, ada banyak lika-liku orientasi yang wajib dilewati. Terkadang orientasi yang diterapkan oleh mahasiswa senior sungguh terasa menghina kemanusiaan kita. Dari tugas-tugas a la cleaning service, sampai bentakan atau hinaan verbal mungkin bisa saja diterima sebagai new comer.

 

Dan kawan saya Nahnu seperti bergeming dengan semua pelecehan itu. Tidak ada dalam kamusnya pendewasaan dengan cara melecehkan, meski pada saat yang sama dia malah berhasil melewati OS Himpunan Mahasiswa yang tidak kalah kerasnya. Di saat OS Himpunan, oleh mahasiswa senior (swasta), dia didaulat menjadi Presiden Republik Mampus. Yakni group peserta yang Mampus atau yang tidak bisa mengikuti kegiatan OS secara normal karena terganggu kesehatannya. Saya kurang ingat apa sakitnya saat itu, tapi yang saya ingat saya juga masuk di ‘kabinet’nya karena saat itu saya baru saja sembuh dari penyakit Tipes.

 

Nahnu tak bisa hidup dengan semua keterbatasan, saya yakin diam-diam dia menghimpun rencana untuk mengentaskan dirinya dari semua yang membuatnya sulit. Selepas semester awal, dia sedikit demi sedikit mulai menemukan jalannya. Jalan yang mudah bagi seorang mahasiswa ITB: mengajar privat anak sekolah untuk mata pelajaran Ma-Fi-Ki (matematika, fisika, kimia). Kerja sambilan mengajar ini sangat umum dijalani mahasiswa ITB. Saat itu, rata2 upah mengajar sekitar Rp 12ribu/jam atau Rp 100ribu per bulan. Kadang-kadang lebih, tergantung negosiasi dan kondisi keuangan keluarga si anak privat.

 

Kerjaan mengajar ini sebenarnya gampang, karena aktifitas utama hanya mengerjakan PR atau soal-soal yang diajukan si anak privat. Tidak perlu mendalami ilmu pedagogi atau psikologi pendidikan. Cukup meluangkan waktu untuk mengasah ulang kemampuan dasar berhitung dan sedikit teori fisika/kimia yang sungguh sederhana. Jam mengajar bisa disesuaikan untuk tidak bentrok dengan waktu kuliah. Terkadang mengajar dilakukan malam/sore hari, atau saat weekend. Lumayan duit yang terkumpul bahkan dari satu anak privat bisa menutupi uang makan sebulan. Apalagi kalau anak privatnya gadis SMA yang cakep, tentu nambah lagi keuntungan psikologis lepas dari beban tugas kuliah yang ribet dengan pemandangan yang menyejukkan. He3.

 

Tapi Nahnu kelihatannya melampaui batas. Ia bukannya mencocokkan jadwal mengajar dengan lowongnya jam kuliah. Tapi ia lebih rela mengorbankan jam kuliah untuk mengajar di beberapa anak privat. Konsekuensinya, dia menjadi lebih sering tidak masuk kuliah. Alasannya, sibuk mengajar privat. Dia hanya masuk kuliah kala jam mengajarnya lowong. Saya dan teman-teman prihatin dan mencoba ‘mengarah’kan acap kali bertemu Nahnu di saat-saat yang jarang. Tapi sepertinya dia cuek saja. Mungkin buat dia kuliah di ITB tidaklah sesulit yang kami jalani.

 

Hidupnya sepertinya sudah agak longgar karena mengajar ini. Dia sudah bisa menyewa kamar kos di bilangan Cisitu, tidak perlu lagi menumpang ke teman atau menjajaki asrama yang penuh ‘cobaan’ itu. Saya bahkan pernah bertemua dia sedang bersama adiknya di pinggir jalan. Rupanya ia memfasilitasi adiknya untuk berlibur di Bandung. Dan juga memberikan orientasi agar bisa ‘kuliah’ di ITB juga seperti dirinya.

 

Dan akhirnya, ketika kuliah kami menginjak tahun ke-3, tahun ke-4, Nahnu seperti hilang di telan bumi. Kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi meski kami yakin dia masih berseliweran di Bandung dengan rutinitas mengajarnya. Hingga suatu saat ada teman yang ‘menemukan’ dia sedang berjualan dompet dan tas di emperan masjid Salman.

 

Kabarnya, dia tak lagi mengajar karena sudah menikah dengan salah satu anak didik privatnya. Karena menikah ini, ia mungkin butuh usaha lain yang lebih produktif untuk membiayai keluarga barunya. Kuliahnya, sudah berantakan tak terurus karena absen selama hamper 2-3 tahun. Kami masih sempat mencoba membujuknya untuk kembali ke bangku kuliah, tapi ia sepertinya gamang untuk bisa masuk ke lintasan. Dia menyerah dan memilih berdamai dengan hidup barunya.

 

Beberapa tahun selepas wisuda, saya dan teman2 masih sering menyempatkan bertemu dengan Nahnu di lapak jualannya di emperan depan mesjid Salman ITB. Saya kemudian membayangkan bagaimana raut wajah kedua orang tuanya, yang ikhlas menjual sawah untuk membiayai kuliah Nahnu di ITB, salah satu kampus terbaik di negeri ini, reservoir kelas menengah masa depan Indonesia.

 

AbuDhabi, 19 Mei 2011

-kala mengenang kawan itu-