…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

perempuan dan mataku

Posted in poem, puisi by daengrusle on November 22, 2014

mata

perempuan dan mataku

ribuan hari silam, seorang perempuan celaka
menggali lubang di mataku, menanam jelaga
pohon luka tumbuh, berbuah duka
katanya: ini obat untuk masa lalu,
biar ia gelap saja – kemudian pergi

ratusan hari berlalu
seorang perempuan buruk hati menjenguk pohon luka
bongkah garam dipupuknya ke akar jelaga
pohon luka berdaun rimbun: amarah
ini baik agar kau waspada pada masa kini, katanya
hidupmu mahal, jangan mudah tertipu cinta
kemudian pergi

hari ini perempuan lain datang, memeluk perigi kecil
dipetiknya buah duka, dedaun amarah
ia biarkan pohon luka meranggas
: aku hendak menimbun jelaga di matamu
menjadi telaga lagi.

tapi ia lupa,
mataku telah karam oleh petaka

(Abu Dhabi, November 2014)

Agama KTP

Posted in Uncategorized by daengrusle on November 7, 2014

berbagai simbol agama dunia

AGAMA KTP

Saat kuliah di ITB dulu, kami dibebaskan untuk mengambil mata kuliah agama apapun. Meski Anda muslim, Anda boleh mengikuti perkuliahan Agama Hindu, atau agama lainnya asalkan tercantum dalam Kartu Studi Mahasiswa. Dan benarlah, dengan entah karena ingin dapat nilai A atau hal lain, beberapa teman muslim atau kristiani mengambil mata kuliah Agama Hindu atau Buddha. Konon, yang paling mudah mendapatkan nilai bagus adalah Mata Kuliah Agama Hindu. Selain dosennya baik, juga tak ada jam tambahan berupa mentoring. Perkuliahan yang padat membuat beberapa teman menjadi pragmatis, toh ikut kuliah Agama berbeda tak membuat mereka menjadi murtad. Hal lainnya adalah mereka dapat nilai bagus, mendongkrak IPK dan tentu saja jadi ikut memahami ‘perbedaan’ agama yang dia anut dengan agama yang dia pelajari itu.

==
Saya termasuk tak begitu peduli apa agama yang tercantum di KTP Anda. Sepanjang anda berperilaku baik, maka Anda layak jadi teman saya. Kalau Anda suka tersenyum, membantu orang kesusahan, maka Anda layak menjadi kembang harum di masyarakat. Kalau anda berperilaku buruk, suka bergunjing, merebut paksa hak orang lain, maka saya yakin agama apapun yang anda cantumkan di KTP tak akan menjadikan Anda disanjung-sanjung. Anda akan jadi sampah masyarakat.

Kalau Anda mau menikah, calon pasangan Anda tentu tak perlu payah-payah memeriksa kolom agama anda di KTP, tapi cukup mengamati keseharian Anda. Apakah anda rajin ke mesjid, atau ke tempat ibadah lain. Meskipun di KTP Anda tercantum identitas agama formal anda, tapi kalau rupanya Anda tak melaksanakan ritual peribadatan keseharian, lantas apa gunanya? Bukankah itu akan sedikit membelokkan anggapan orang lain, bahwa kalau Anda menganut agama tertentu sesuai KTP maka serta merta Anda diharapkan ‘rajin’ beribadah dan dengan demikian akhlak Anda pun baik.

Juga, kalau Anda bangga dengan Agama yg tercantum di KTP, tapi lantas gemar mengusik iman atau mazhab saudara se-agama Anda dengan mencela keyakinan mereka, lantas apa gunanya persamaan itu? Bukankah agama seharusnya menebarkan kedamaian, bukan permusuhan. Sesama mahluk Tuhan saja wajib saling menghargai, apalagi kalau KTP Anda mencantumkan agama yang sama dengan rekan yang Anda caci-maki itu. (Ingat fitnah massif yang digencarkan ke salah satu capres tertentu di masa kampanye, meski ia sudah menunjukkan scan copy KTP dan bahkan Surat Nikahnya? )

Dahulu ada istilah yang cukup menggelikan, dikenakan ke sebagian orang; “Islam KTP” atau “Kristen KTP” atau “Hindu KTP”. Maksudnya, Agama mereka itu hanya pelengkap status saja di KTP, tapi kenyataannya mereka tak mempraktekkan amalan agama tersebut. Mudah-mudahan sih memang pada akhirnya, ketika menjelang ajal, dia tak lagi sekadar ber-agama KTP. Tapi sudah tobat nasuha.
Meski demikian, pencantuman agama di KTP tetap ada gunanya juga. Misalnya untuk keperluan statistik, dan data ini bisa dipakai pemerintah untuk mengajukan kuota haji ke Arab Saudi misalnya. Atau hal lainnya, demi menjadi alat diplomasi (atau dagang) ke negara-negara Arab bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk sekian persen yang seiman dengan mereka.

Di Uni Emirat Arab ini, tak ada kolom Agama di Kartu Emirat Identity saya. Tapi saat mengisi formulir, jelas kami wajib menyampaikan informasi pribadi itu. Bahkan kalau Anda mencantumkan Islam sebagai Agama Anda, akan ada pertanyaan tambahan yakni mazhab yang dianut, apakah bermazhab Sunni atau Syiah. (Di UAE, hanya Syiah dan Sunni yang diakui sebagai mazhab dalam Islam). Kalau tak mengisinya, formulir Anda akan ditolak. Tapi saat Emirate ID saya dicetak, data yang ditampilkan hanya foto, nama, kebangsaan, tanggal lahir, jenis kelamin, dan nomor ID. Tak ada kolom Agama.

Apakah saya menolak Agama dicantumkan di Emirat ID? Tentu saja bukan maunya saya. Itu maunya pemerintah