…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Keluarga Dekat Kami

Posted in Kenangan by daengrusle on October 29, 2013
Ilustrasi, diambil dari web merdeka.com

Ilustrasi, diambil dari web merdeka.com

Keluarga Dekat Kami

Sepertinya baru kemaren saja kami bercengkerama di rumah itu. Padahal kejadian itu sudah berbilang dua puluh tahun sejak tahun 1993-1994. Dulu sepulang sekolah, kadang kala masih berseragam putih abu-abu SMAN 1 Makassar, kami sering berkumpul entah untuk kegiatan apa saja. Kadang cuman datang untuk main domino, atau yang lebih serius; belajar bersama dan mengerjakan soal2 latihan menjelang ujian. Tapi lebih sering kami datang hanya untuk mencicipi masakan Mammi, panggilan akrab kami untuk ibu Haji Ramlah, ibu dari sahabat kami si kembar emas Yayu dan Dedy, Budi dan Sari. Kami juga sesekali mencandai Pappi, H Syahabuddin, yang kala itu masih aktif sebagai syahbandar pelabuhan Makassar.

Keluarga itu, selama 20 tahun hingga kini ‘menjadi’ keluarga dekat kami, seperti keluarga sendiri. Sesekali ketika Bhabe mengenalkan kami ke kerabatnya yang lain, selalu berucap ”kenalkanki, ini saudara-saudarakuji semua”. Kami, sekelompok anak2 (alumni) SMAN 1 Makassar yang jumlahnya hampir 20-an itu; S-15, Jas Five, anak-anak Maksi, punya banyak kenangan yang membekas sangat di rumah keluarga itu; rumah bercat hijau di jalan Tinumbu Makassar.

Hingga kemudian Dedy, Yayu dan Budi pindah dan melanjutkan kehidupan di Jakarta, Pappi dan Mammi juga memasuki masa pensiun dan sesekali berkunjung ke sana. Yayu menikah dengan Irzal, teman main kami juga, yang juga meniti karir di ibu kota. Sari masih tinggal di Tinumbu, melanjutkan kuliah dan bekerja di Makassar. Tempat ngumpul kami kemudian berpindah juga ke di ibu kota itu, terlebih karena memang sebagian besar teman-teman sepermainan juga ikut hijrah selepas kuliah. Tak putus karena “ikatan kekeluargaan” sudah kami rentang secara emosional, ketika jauh kami saling mencari, pun ketika dekat kami lebih sering merapat. Apalagi memang keluarga ini sangat terbuka, seperti sebuah cawan kebaikan yang bisa menampung seluruhnya.

Di Jakarta, terutama ketika saya masih kuliah sambil menunggu bekerja, rumah Dedy dan Yayu di Pisangan Jakarta Timur sering menjadi tempat menginap saya bersama yang lain, kawan-kawan yang jumlahnya tak terhitung banyaknya. Menikmati masakan Tante Siah, tante yang setia menemani keluarga ini, merupakan magnet tambahan yang membuat saya dan teman-teman betah berlama-lama berdiam di rumah mereka.

Hari berbilang, bulan berjarak dan tahun-tahun pergi sekelebat angin. 20 tahun rasanya seperti baru kemarin saja. Kami, kawan-kawan yang menyaru sebagai saudara dan keluarga dekat mereka terserak dan berdiam dengan kehidupan sendiri. Tapi komunikasi kami dengan keluarga mereka masih kami rawat sehangat mungkin, baik melalui pesan singkat, telepon atau lewat BBM Group. Sekali waktu kami punya kesempatan berjumpa di kota yang sama, Jakarta atau Makassar, atau di mana saja, maka kami akan meluangkan waktu untuk bersua; menarik kembali kehangatan yang dulu kami rasakan bersama. Mereka, keluarga dekat kami. Karena jejak hati tak punya jarak.

***

Dua kali terakhir saya datang kembali ke rumah Tinumbu itu, dua kali pula saya dijejali perasaan pilu yang berlipat-lipat. Tahun 2008 dan 2013.

Tahun 2008, Mammi Haji Ramlah wafat karena sakit jantung. Saya sempat membezuk beliau di RS Akademis sebelum wafatnya, juga ikut mengantarkan jenazahnya dimakamkan di pekuburan Beroanging, dekat rumah saya. Bulan Agustus tahun 2013 baru-baru ini, saya menghadiri takziah berpulangnya sahabat dan saudara saya Dedy “Bhabe” Wahyudi yang berpulang karena penyakit menahun yang dideritanya. Kotak kenangan tentang keluarga dekat itu kemudian seperti membuncah mengalirkan beragam perasaan yang menahan laju air mata. Ketika itu kami menyempatkan juga membezuk Pappi yang terbaring lemah karena stroke. Masih sempat kami cium tangan beliau, persis seperti ketika beliau masih sehat dan mengajak kami bercanda.

Beberapa hari yang lalu, kabar duka kembali tiba melalui BBM; Pappi wafat. Telaga air mata seakan tumpah ruah kembali. Entah bagaimana tembok ketabahan yang harus dibangun oleh Yayu, Budi dan Sari. Kepergian Pappi yang hanya berselang dua bulan kurang lebih dari Dedy Bhabe seperti rentetan kepiluan berganda. Hanya doa dan rasa simpati yang setulus mungkin yang bisa kami sampaikan untuk keluarga dekat kami itu. Saya yang tak bisa menjangkau pemakaman Pappi hanya bisa merapal doa dan menitip pesan untuk saudara-saudara kami itu.

Kini Mammi, Pappi dan Dedy Bhabe sudah di alam sana, mendahului kami yang masih perlu menuntaskan tugas kehidupan sebelum sang Maha Pemilik Jiwa memanggil kami juga. Yang kami harapkan, semoga perjumpaan yang indah kelak dapat kami rasakan kembali di alam sana, alam yang kekal dengan segala macam kebaikan di sana. Amin ya rabbal alamin. Selamat jalan Pappi, sampaikan salam cinta kami untuk Mammi dan Dedy Bhabe di sana. Sampai jumpa nanti.

Abu Dhabi, 29 Oktober 2013.

Advertisements