…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

perempuan dan mataku

Posted in poem, puisi by daengrusle on November 22, 2014

mata

perempuan dan mataku

ribuan hari silam, seorang perempuan celaka
menggali lubang di mataku, menanam jelaga
pohon luka tumbuh, berbuah duka
katanya: ini obat untuk masa lalu,
biar ia gelap saja – kemudian pergi

ratusan hari berlalu
seorang perempuan buruk hati menjenguk pohon luka
bongkah garam dipupuknya ke akar jelaga
pohon luka berdaun rimbun: amarah
ini baik agar kau waspada pada masa kini, katanya
hidupmu mahal, jangan mudah tertipu cinta
kemudian pergi

hari ini perempuan lain datang, memeluk perigi kecil
dipetiknya buah duka, dedaun amarah
ia biarkan pohon luka meranggas
: aku hendak menimbun jelaga di matamu
menjadi telaga lagi.

tapi ia lupa,
mataku telah karam oleh petaka

(Abu Dhabi, November 2014)

Advertisements