…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Rara Avis in Terris

Posted in percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on October 27, 2017

maipa reading book

Rara Avis in Terris*

Saya bersepakat dengan Javheer, si sopir taxi, ketika suatu pagi ia menyambut saya di pelataran apartemen. Baru lima menit saya bersama anak-anak duduk menunggu bis sekolah yang selalu tepat waktu itu; 06.54 pagi kendaraan berbentuk kotak kuning panjang itu tiba seperti biasa.

Kemudian Gale, perempuan Filipina yang bertugas mendampingi anak-anak selama perjalanan itu turun dari bus dengan sebaris senyum tipis; menyambut anak saya yang paling kecil. Gale kemudian meraih tas sekolah si kecil yang tampak keberatan, dan menuntun tangan murid kelas tiga itu naik ke undakan bus. Dua kakaknya yang lain sudah lebih dulu naik, menyodorkan papan nama untuk dipindai oleh Singh, bapak sopir bertudung biru. Selepas prosesi yang berlangsung tak lebih dari satu menit itu, pak Singh kemudian melambaikan tangan sebentar ke saya sambil tersenyum. Kumisnya yang tipis menempel diatas bibirnya ikut merekah membentuk busur panah ketika ia tersenyum sesaat.

Javheer, si sopir taxi yang selalu membanggakan asalnya dari Pakistan itu mendekat ketika saya masih tersenyum. Senyum saya masih tersisa sambil mengikuti laju bis sekolah itu meninggalkan tempat saya berdiri. Ia menyapa dengan senyum yang setiap hari ia lemparkan ke saya dan anak-anak. Dengan didahului sedikit berbasa-basi bertanya kabar masing-masing, Javheer kemudian menunjuk ke bis sekolah yang sudah nyaris berbelok ke jalan yang lain.

“Tahukah kamu, dia beragama Sikh!

Saya tak menghiraukan si Javheer, terlebih karena tak mengerti apakah dia sedang bertanya atau menguji pengetahuan saya soal busana.

Ekor mata saya masih mengikuti bagian belakang bis sekolah itu sampai kemudian hilang ditelan belokan jalan. Barulah kemudian saya berpaling ke si Javheer yang menunggu tepat di sisi kanan.

“Saya tahu” sambil menatap matanya kemudian. “Memang kenapa?”

“Iya, dia itu orang Sikh. Lihat tudung kepalanya, itu bukan sorban. Dia bukan muslim seperti kita”

Perbincangan pagi ini seharusnya ringan saja, tapi apa yang disampaikan Javheer sebetulnya membuat saya sekelebat mengalami sedikit trauma. Ketika dulu saya masih berpikir soal kotak dan hal-hal yang menjadi sekat antara saya dan orang lain. Ketika saya masih berkutat dengan keyakinan primordial bahwa apa yang saya anut ini lebih baik dan yang selainnya pasti salah. Pikiran seperti ini sudah lama saya tinggalkan, dan tentu teramat malas untuk saya buka kembali. Saya tak perlu kembali lagi ke soal remeh itu.

“Javheer, saya tahu dia bukan muslim. Tapi dia orang yang baik”.

Dia sedikit tertegun, kemudian tangannya mengusap rambutnya yang bermodel belah dua, khas orang-orang Pakistan sepertinya.

“Iya, dia orang baik” Javheer mengulang ucapan saya, terpaksa bersepakat.

Saya kemudian berbalik masuk kembali ke apartemen, sedang Javheer masih berdiri merapikan rambutnya, menunggu anak sekolah jemputannya yang tampaknya tak lama lagi datang.

Abu Dhabi, 27 Oktober 2017

==
*Rara avis in terris (latin) = a rare bird upon the earth, sebuah keanehan dalam berpikir atau berperilaku ketika hanya terpaku pada penampakan lahir saja.

Advertisements
Tagged with: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: