…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

happy first birthday my mahdi…

Posted in Kenangan by daengrusle on September 30, 2006

 

anakku, Mahdi-ku, kebanggaanku…
selamat Ulang Tahun, di tahun pertamamu ini

tennafodo malampe’ sunge’mu anekku…
madeceng malempu lalengmu ri lino na akherat

lirih pinta kami pada Tuhan
semoga kami bisa mengemban amanah menjadi orang tua yang baik bagimu
membantu mengarahkanmu ke tujuan hidupmu kelak
menjadi manusia yang senantiasa berguna, berakhlak mulia
namun tetap tawadhu kepada sesama…

amin…

bapakmu yang bangga….

foto ultah dirayain…:p 

ini ada sedikit petuah dari teman bapak- jend Mc Arthur
gak apa-apa kalo beliau ini dulunya jenderal militer
yang meluluh lantakkan asia tenggara di WW II,
tp sumpeh, puisinya keren sekali….

Build Me a Son
General Douglas A. MacArthur

Build me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face him self when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be
where his backbone should be;
a son who will know Thee- and that
to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here, let him learn to stand up in the storm;
here, let him team compassion for those who fall.

Build me a son whose heart will be clear, whose goals will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh, yet never forget how to weep;
one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his,
add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious,
yet never take himself too seriously.

Give him humility, so that he may always remember
the simplicity of true greatness,
the open mind of true wisdom,
the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper,
“I have not lived in vain.”

surat cinta untuk makassar

Posted in Random by daengrusle on September 29, 2006

puisi ini ditulis oleh kakanda Hendra Gunawan S Thaif
sedang gambar Mahdi diatas, tentunya saya yang buat tanpa keterlibatan sang penyair :p

SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR
masih belum tidur, sayang?
ketika aku berjalan kaki
di sepanjang jalan ahmad yani
yang telah dibongkar trotoarnya
matamu yang nyalang menyorot-nyorot
bagai lampu menara penjara
sementara di wajahmu semut-semut besi berapi
merayap dan menderum mengepulkan asap dan debu

manisku, siapa namanya si walikota
yang telah berani menggunduli habis
pohon-pohon asam dan akasia di kedua bahumu?
keisengan atau kebodohankah yang telah meringankan tangannya?
siapa namanya si pengusaha
yang dengan bebal meruntuhkan rumah dan gedung belandamu,
menggantinya dengan mal dan gudang
dan bahkan ingin mendirikan asrama di lapanganmu?

aku pergi tidak begitu lama
dan ketika kembali aku terperangah
melihat engkau begitu jauh berubah
ular-ular aspal melilit tubuhmu
mal dan markas orang bersenjata
tumbuh memenuhi dadamu
sementara anak-anakmu
memaparkan pusar mereka
dan memamerkan belahan bokong
bercintaan di pojok angkutan kota

dan betapa mencekam,
ketika mendadak disekelilingku
bermunculan pasar dan plasa
timbul dari lubuk bumi
bagaikan para siluman raksasa
nongol membelah perut ibunya
lalu tumbuh sebagai raksasa tambun
dengan perut buncit dan punggung membungkuk
yang bangun terhuyung-huyung
sembari meraung minta makan
dan para liliput mengalir
datang dari setiap sudut-sudut kota
memasuki mulut mereka yang menganga lebar
dan menebarkan bau aneh

aih, aih, aih, sedihnya sayang,
keningmu berkerut merut
dan matamu keruh berkabut
jadi engkau juga harus ikut menjual diri
demi dolar dan rupiah
demi catatan prestasi pejabat
menggaet dana investasi
demi komisi dan promosi
demi masa jabatan kedua kali
sementara aku justru merasa
lebih aman dan nyaman
dengan kesederhanaanmu yang dulu?

lihatlah, aku berjalan kaki di ahmad yani
dengan perasaan takut serta asing
setelah daeng-daeng becak
yang dahulu mangkal di sini
sembari minum jerigen ballo dan main domino
telah digusur pergi
jalananmu ini bukan untukku lagi
percintaan kita telah jadi mimpi
sejak trotoarmu dicungkil pepohonanmu dicukur
jalan-jalan lama diperlebar dan jalan-jalan baru dibuka
sementara pejalan kaki dibiarkan
dicincang tajamnya panas mentari
dilumuri debu dan polutan
diintai sambaran maut dari semut-semut besi berapi
yang melaju angkuh dan perkasa

masih belum tidur, sayang?
berapa butir penenang yang mesti kau tenggak lagi
sebelum cemas dan gegasmu dapat reda dalam alun tidur
tatapanmu kian jauh dan tak acuh
seperti papan-papan iklan
yang megah tinggi tak tersentuh
mengangkangi si gila yang tersedu-sedu
duduk mencangkung dibawahnya
kau mungkin bahkan tak peduli
bahwa aku telah kembali
dan kehilangan kamu

aku menangis,
manisku

2002

REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya

Mei 2005

marhaban ya syahrul barokah, atawa celamat belpuaca…

Posted in Renungan by daengrusle on September 25, 2006

salam alaikum warahmatullahi wabarakatuh

menghadapi ramadhan 1427H ini, mari kita saling membersihkan hati, mari menjernihkan hati dengan menghaturkan kemuliaan pada semua kebaikan hati, mohon maaf lahir dan bathin atas semua perkataan dan pebuatan masa lalu, semoga di akhir ramadhan yang mulia ini, hati kita senantiasa bersih dan menjadi orang yang muttaqiin.

bahasa bugis nya: (thanks to nawir)

…madduppa ramlangnge – topakacinnongi ati, tosipakalebbi ri ininnawa madecengngE, taddampengengi sininna lukawerekada & ufagaukeng furalaloE, tabe massimana.

note: foto diatas berjudul ‘noertika’ next generation’, foto2 anak, keponakan, dan cucu yang digabungkan, they are our proudly and beloved next generation.

Sajangrennu di Balikpapan

Posted in Renungan by daengrusle on September 21, 2006

Dikenal sebagai kota minyak yang menjanjikan kemakmuran, tak dapat dipungkiri Balikpapan menjadi surga bagi pendatang, termasuk para passompe dari ranah bugis makassar. Tak kurang dari 30% dari total penduduknya merupakan pendatang asal sulawesi selatan (bugis, makassar, mandar, toraja), selebihnya berasal dari jawa, sunda, banjar, batak, melayu, flores dan sedikit suku dayak. Di kota yang berpopulasi sekitar 600,000 jiwa, tanpa penduduk asli ini, nuansa bugis dan makassar bisa dijumpai di banyak tempat, dari penganan kecil, sampai nama jalan nya. Sehingga tak aneh kalo kita menyebut kota kecil nan bersih ini sebagai Makassar Mini.

Jika anda ingin menikmati angkutan murah di Balikpapan, cobalah menumpang taxi yang muat sampai 9 orang, ongkos terjauh hanya Rp 3,000. Lho kok bisa? Tidak usah heran, taxi adalah sebutan umum untuk angkot berbentuk mikrolet atau toyota kijang di Balikpapan, sedang untuk taxi yang ‘asli’ mereka menyebutnya ‘argo’, walaupun banyak taxi tersebut tidak terbiasa menggunakan argometer alias borongan. So, anda akan menumpang taxi dengan nomor trayek dan jalur tertentu pula, kecuali kalo diatas jam 9 malam, sopir taxi ini akan melayani anda untuk rute apapun dan kemanapun sesuai orderan. Taxi di Balikpapan ini agak lebih manusiawi dalam memperlakukan penumpangnya, deretan kursi penumpang menghadap ke depan sebagaimana umumnya mobil, tidak seperti saudaranya pete’-pete’ di Makassar atau kota lain yang penumpangnya duduk berhadap-hadapan. Juga, jarang ditemui taxi dengan full capacity, biasanya maksimal hanya ditumpangi oleh 4-6 penumpang. Selain untuk kenyamanan penumpang, juga ada kesepahaman tak tertulis diantara sopir taxi Balikpapan untuk berbagi rejeki dengan sesama sopir taxi. Bagi anda perantau asal Sulawesi Selatan yang lumayan mengerti bahasa bugis dan makassar, taxi yang juga bisa berfungsi sebagai studio musik ini bisa memanjakan anda dengan lagu pengiring dari bugis makassar, dari lagu bugis abadi semisal ‘mabbura mali dan sajang rennu’ sampai lagu pop mutakhir dari Art2Tonic dan Ribas bisa juga anda nikmati. Perbincangan di atas angkot pun acapkali menggunakan bahasa bugis dan makassar, karena hampir 70% sopir taxi di kota ini merupakan pendatang asal bugis makassar. “Tau Ogi tokki pale’na?, Ogi pole fegaki?” sapaan akrab Kahar, sopir taxi nomor 3 ini, ketika tahu kalau saya juga berasal dari Bugis. Sesekali, jika kebetulan duduk di samping sopir bugis semisal Kahar ini, saya akan menanyakan kenapa jauh-jauh cari uang ke Balikpapan, hampir semua jawabannya seragam, “disini, walaupun apa-apa mahal, tapi gampang sekali gappa doe, perputarannya cepat cess…”, itu juga sebabnya mereka betah dan bahkan, mengajak saudara-saudara mereka di kampung untuk hijrah ke Balikpapan. Kalau anda menyempatkan diri menumpang taxi nomor 3, maka akan melewati daerah bernama Karang Bugis, dan juga Jalan Bonto Bulaeng. Di daerah karang Bugis ini juga, berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah, yang dikenal sebagai Pesantren dengan cabang terbanyak dan terbesar di Indonesia. Pendiri nya adalah perantau asal Makassar, almarhum ustad Abdullah Said, atau juga dikenal sebagai ustad Mukhsin Qhahhar. Pengajar dan santri nya juga banyak berasal dari Bugis Makassar.

Lain lagi dengan penjual Sanggar ini, dari logat bicaranya yang medok, orang akan mudah menaksir asalnya dari suku Jawa, apalagi ketika tahu namanya, Mas Bagong. Sehari-harinya dia berjualan sanggar di sebuah kedai kecil di kilo 2, pinggiran kota Balikpapan. Jangan mengirta bahwa sanggar ini semacam tempat kongkow2 para pencinta seni, tapi sanggar ini adalah nama lain dari pisang goreng yang kita kenal, penganan gorengan khas merakyat yang digemari oleh semua lapisan masyarakat. Lho, kenapa kok nama pisang goreng berubah jadi sanggar? Beberapa orang Balikpapan yang saya temui berusaha menjelaskan bahwa sanggar adalah singkatan untuk pisang goreng, dengan menggabungkan suku kata akhir di kata pisang dengan suku kata awal di kata goreng dengan penyesuaian huruf o menjadi a. Namun, saya yang besar di makassar, punya pemahaman yang lain. Sejatinya, sanggar adalah sebutan awam untuk pisang goreng di makassar (sanggara’). Entah, karena banyaknya penggemar pisang goreng yang berasal dari makassar, sehingga mereka merasa berhak menamakan penganan nikmat di pagi hari itu dengan sebutan dari daerahnya. Di Balikpapan, beberapa kata asal bugis makassar terserap menjadi istilah umum masyarakat kota itu, semisal kata mandre untuk makan, buto untuk (maaf) kelamin pria, badik untuk semua senjata pisau, kaluruk untuk rokok, sekke’ untuk pelit, pale’ untuk imbuhan sekalinya/kalo begitu dan lain-lainnya.

Di kecamatan Gunung Sari, tepatnya di Gang Maryati, sekiranya perlu, Anda bisa singgah menunaikan sholat di Masjid Andi Massiona. Nama masjid diambil dari nama pemberi wakaf tanah dan bangunannya, yang sudah barang tentu merupakan nama khas bugis. Di daerha maryati yang agak padat ini juga, sekitar 80% penduduknya merupakan pendatang asal bugis makassar. Tak heran kalau bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa bugis dan makassar. Di ujung gang, anda bisa berhenti sebentar membeli penganan ‘pisang gapit’ yang menurut penjualnya yang bersuku jawa, merupakan penganan hasil modifikasi dari ‘pisang epe’ yang dikenal di makasar. Kalau di makassar, pisang epe dibuat dari pisang raja yang dibakar kemudian di jepit, dan diberi parutan kelapa dengan gula merah cair, maka pisang gapit ini diproses dengan cara yang sama hanya di’gunting-gunting’ menjadi kecil-kecil sebesar koyo dan dihidangkan ke dalam piring kecil berisi gula merah cair. Rasanya manis dan enak, se-enak pisang epe di pantai Losari. Bila anda penggemar Coto Makassar, Sop Saudara dan Konro, anda akan dengan mudah menemukan warung coto di Balikpapan karena hampir di setiap sudut kota terutama di kawasan Sudirman dan Klandasan, akan banyak dijumpai warung coto, sebanyak toko penjual krupuk amplang, krupuk dari ikan khas Balikpapan. Namun disini, coto disajikan agak berbeda dengan di Makassar, hampir semua warung mengolah kuah coto dengan menambahkan santan, sehingga mungkin agak kurang nikmat menurut saya karena bisa mengaburkan rasa coto aslinya. Bagi anda penggemar Kapurung dan Pallu Mara, anda hanya bisa menikmati makanan berlendir ini di Warung Palopo, yang berlokasi di daerah Manggar, Selatan Balikpapan

Pendatang asal Bugis Makassar diduga berdatangan ke kota Balikpapan sejak dekade 60-an, umumnya bekerja di sektor non formal, dengan menekuni pekerjaan kasar mulai dari menjadi sopir angkutan kota, pedagang sayur dan ikan, buruh kontraktor, tukang kayu dan bangunan sampai ke preman pasar. Teman saya orang Makassar yang bekerja sebagai tenaga Security Chevron bertutur bahwa kerabat dia merupakan ‘orang’ yang ‘pegang’ kompleks Plaza Rapak, so kalau ada perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan beritahu dia. Memang agak tragis bahwa orang bugis makassar yang dikenal bertemperamen keras malah meninggalkan kesan negatif bagi penduduk Balikpapan, dan tidak jarang keonaran dipicu oleh perkelahian yang melibatkan suku Bugis Makassar ini, walaupun demikian, rekan kerja saya yang juga asli Bugis mengatakan bahwa ini semacam ‘blessing in disguise’ karena orang sekitar akan menjadi segan terhadap kita kalau sekiranya mereka tahu bahwa kitra orang bugis makassar. Agak memilukan sebenarnya. Saya tidak tahu apakah kriminalitas ini menjadi pemicu diberlakukannya regulasi ‘uang jaminan’ oleh Pemkot Balikpapan bagi para pendatang yang hendak menjadi warga kota, dimana para pendatang ini diwajibkan untuk membayarkan uang jaminan sebesar harga tiket mudik (untuk pendatang Sulawesi, nilainya sebesar Rp 300,000/jiwa selama 6 bulan). Uang jaminan akan dikembalikan utuh sekiranya si pendatang dapat membuktikan bahwa dia sudah bekerja setelah 6 bulan. Sekiranya si pendatang  dalam kurun 6 bulan tidak mendapatkan pekerjaan, maka uang jaminan ini bisa dipakai oleh aparat Pemkot untuk me’mulang’kan si pendatang ke daerah asal.

Tapi tidak sedikit juga orang bugis makassar yang menjadi pekerja formal, dari pegawai kantor perusahaan minyak; pertamina, chevron, total dan vico, juga banyak yang menjadi pegawai negeri. Bahkan di periode sebelumnya, Mukmin Haeruddin yang asli Bugis, berhasil menduduki kursi wakil walikota, dan kemudian maju menjadi calon walikota Balikpapan di periode selanjutnya, namun kalah di pilkada 2006. juga beberapa nama lain lumayan berkibar memenuhi daftar pengurus cabang partai. PDK, yang didirikan oleh pak Ryaas Rasyid juga bisa menangguk suara yang lumayan banyak di Balikpapan ini, terutama karena didukung oleh suara para passompe. Paguyuban daerah semacam KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) dan KKM (Kerukunan Keluarga Mandar) juga tumbuh berkembang di kota ini, bahkan organisasi massa ini kerap memiliki pengaruh yang besar terhadap kebijakan publik pemerintah kota.

Di hampir semua kota rantauan para passompe di Indonesia, mulai dari Jakarta, Cilacap, Cirebon, Surabaya, Jambi, Riau dan juga Balikpapan, agak sulit rasanya memisahkan orang bugis makassar dari pelabuhan. Ibarat kumbang dan bunga nya atau borok dan lalatnya, dimana ada pelabuhan, disitu banyak dijumpai orang Bugis Makassar. Di Balikpapan, ada dua pelabuhan besar tempat singgah kapal Pelni, yakni pelabuhan Semayang dan pelabuhan Kampung Baru. Dan berbicara tentang orang Bugis di Balikpapan, tidak klop rasanya tanpa mengaitkannya dengan Kampung Baru. Walaupun bernama Kampung Baru, kecamatan ini malah tergolong paling kumuh dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Balikpapan. Orang Balikpapan kadang memberi sebutan ‘daerah Texas’ untuk kecamatan Kampung Baru ini. Jangankan orang non-Bugis Makassar, orang Bugis Makassar pun merasa perlu berhati-hati sekiranya punya keperluan di sini. Di sepanjang jalan yang membelah distrik pelabuhan ini, tidak terlalu sulit menemukan istilah-istilah bugis makassar. Mulai dari nama toko “Sinjai Putra, Putra Wajo, Wija to Bone,” warung ikan bakar, sampai kedai cukur pun penuh dengan nuansa Bugis Makassar. Bila anda membutuhkan menikmati ikan Baronang bakar dengan sambal khas bugis, carilah di Kampung Baru, namun anda mesti siap merogoh kocek dalam-dalam karena harga yang dipatok lumayan mahal, bisa dua kali lipat dari harga di Makassar atau Muara Angke, Jakarta. Di Kampung Baru ini juga, setiap selasa dan jumat pagi, anda bisa berburu barang-barang selundupan dengan harga miring di atas kapal pelni yang berlabuh dari Tarakan. Tapi menurut orang, sekarang banyak yang didagangkan barang palsu dengan harga yang cenderung sama saja dengan harga di darat. Bagi orang Bugis Makassar yang mau mudik, bisa menumpang kapal ini karena setelah selesai dengan aktifitas ‘pasar kaget’ ini, kapal tersebut akan berlayar menuju pelabuhan Makassar atau Pare-pare. Selain kapal Pelni, juga banyak kapal feri yang melayani rute Balikpapan – Mamuju pp. Bagi yang berduit lebih, bisa menikmati perjalanan Udara dengan pesawat Merpati dan Lion Air yang melayani rute Balikpapan-Makassar setiap hari

juga dimuat di http://panyingkul.com

met ultah Lhe

Posted in Renungan by daengrusle on September 15, 2006

met ultah Lhe

wish u all the best

hopefully u will get the better and worthed life than current

and all of ur life are far from sadness

Not so much people who can love and care others with wholehearted, but u r one of them

if there is another chance to reborn, u will be born as an angel….with beautiful wings, so beautiful voice, and lithesome eyes…