…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Tala’ Salapang: Ihwal Sembilan Pokok Lontar Pungunjuk Damai di Makassar

Posted in Sulawesi Selatan by daengrusle on December 29, 2012

 

Tala’ Salapang (dikutip dari majalahversi.com)

Sebagian orang luar mengidentikkan kekasaran orang Makassar pada nama kota dan entitas suku yang melekat pada mereka, MAKASSAR. Merujuk kepada umumnya pola bentukan kata dalam bahasa Indonesia, mereka kemudian mengeja Makassar sebagai kata “Kasar” yang diberi imbuhan me- yang menjadikannnya kata kerja aktif. Maka muncullah pemahaman bahwa Makassar secara historis dibentuk dan dihuni oleh orang-orang yang gemar melakukan kekasaran.

Kecenderungan pemahaman berbau linguistik ini dapat dipahami sesaat meski cacat sejarah. Melekatnya generalisasi bahwa orang-orang Makassar cenderung kasar dan keras, dengan mengambil sampel pengalaman-pengalaman buruk berkenaan dengan orang Makassar tentu menjadi pembenaran. Ditambah lagi dengan eksploitasi kekerasan yang disiarkan rutin oleh media massa terutama TV nasional yang ‘rajin’ meliput drama kekerasan di Makassar menjadi penguat pemahaman sesat ini.

Ketika berada di linikala sejarah, sebuah teks tidak pernah berdiri sendiri. Sebuah teks selalu terikat pada tafsir peristiwa yang mengukuhkan. Tafsir itu kita sebut saja konteks. Konteks selalu membubuhkan pendalaman akan musabab munculnya teks tersebut. Walaupun tak jarang sebuah teks memiliki konteks yang beragam. Konteks-konteks yang beragam ini bisa saja muncul karena banyaknya penutur yang menempelkan kisah pada teks berdasarkan perspektif subyektifnya, kemudian dengan caranya sendiri sampai ke ruang baca kita.

(more…)

Advertisements

Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu

Posted in puisi by daengrusle on December 24, 2012

Ann dan Heru

Sajak Pernikahan: Seikat Pelukan dan Madrasah Ibu

untuk ann&heru

jarak terlalu jauh, juga masa terlampau lama
kita tak hendak memungut keduanya,
di dalam kenang cinta yang nyaris menguap

karenanya kita lantas mengikatnya,
seikat pelukan
mungkin akan membekukan jarak,
juga melelehkan waktu

kau tahu, aku seumpama pelaut sendu
yang mencoba berlabuh di matamu;
telaga yang hendak tumpah itu

tapi seikat pelukan menarikku diam-diam
mengubah debur ombak menjadi endapan bisu
layarku terkulai dan terperangkap dalam lautan senyap
aku tahu, aku takkan bisa mendayung lagi

tapi rentang pelukmu seperti mata ibu,
madrasah yang mengajarkan seribu ciuman, sejuta pelukan
aku menyebutnya tempat kembali
jalan pulang paling lengang,
direntang sejauh ingatanku membawanya

serpihan sepi yang jatuh dari jendela malam
dan bulan yang sendu, melirik lirih pada seikat pelukan
yang kubawa pulang, ke matamu
tempat berlabuh paling rindu

abudhabi, 23desember2012

Catatan Kuru Sumange: Suryadin Laoddang

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 23, 2012

Suryadin Laoddang – Daeng Ading (sumber: laman facebooknya)

kuru sumange atas sharingnya daeng Adin.. – sering saya tuliskan untuk mewakili rasa terimakasih saya untuk kawan ini.

Pena Suryadin Laoddang Mengukir Budaya Bugis

Ketika generasi muda kita mulai melupakan bahasa dan budaya Bugis dan lebih menekuni menatap gadget yang mengumbar budaya pop, Suryadin Laoddang menjadi pengecualian. Melalui tulisan-tulisannya, beragam informasi tentang kearifan lokal Bugis menghinggapi ruang baca kita. Sebuah ketekunan yang perlu diapresiasi ketika kita mulai kehilangan penutur muda yang berpengetahuan detail tentang budaya Bugis.

Begitu banyak orang mulai melupakan bahasa Bugis, jangankan bercakap, hendak mengenal bahasa dan juga budaya Bugis sudah enggan karena dianggap tak sejalan lagi dengan budaya pop. Berbahasa daerah identik dengan ketinggalan jaman dan kita sedang dijangkiti anggapan bahwa hanya orang kampung yang berbahasa daerah. Meski banyak orang berseru bahwa kearifan lokal, termasuk bahasa dan budaya, perlu digali untuk menahan laju hedonisme dan ketergesaan budaya instan yang kini menjauhkan masyarakat dari dirinya sendiri. Tapi seruan itu tergerus pergaulan yang menihilkan keikutsertaan semua hal yang menyangkut kedaerahan. Hidup hanya sepenting layar datar berbentuk persegi di hadapan kita saban siang dan malam. TV dan handphone! (more…)

Cerita Muram Tentang Bangsamu

Posted in Indonesia, puisi, Renungan, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 16, 2012

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

bangsamu terlalu banyak menanam dendam.
aku takut jika kembali, jalanan dijejali amarah, buah dendam yang berbiak.
tanahmu memang subur untuk lahan pertengkaran,
lihatlah mahasiswa kini lebih suka memegang badik daripada diktat dan pena.
para dosen konon gemar mampir ke meja proyek berhitung neraca untung rugi
daripada membuihkan tinta di kertas jurnal

bangsamu terlalu banyak menimbun prasangka
aku takut jika kembali, rumah2 menatapku kecut seperti lampu muram
kudengar para pengkhotbah kini suka merentangkan telunjuk, seumpama tongkat guru yang menghukum murid nakal sebagai sesat dan kafir,
padahal para murid juga merapal rukun yang lima, mengingat rukun yang enam.
murid yang nakal, konon karena berani berpendapat beda, entahlah.

bangsamu terlalu sering menumpahkan serapah
aku takut kalau kembali, tiba-tiba menjadi batu, menjadi malin kundang
konon serapah perempuanmu bisa menjadikan siapa saja menjadi batu yang malang

padahal aku menyimpan bekal ribuan maaf di pundakku, juga di telaga mataku
aku dengar karena berbeda, orang mudah meludahi saudaranya dengan serapah
aku takut berlumur lumpur,

maka kuputuskan untuk diam di sini, di negeri asing
aku dianggap asing, karenanya dianggap tak ada,
tak ada juga dendam, prasangka dan serapah.

karena aku asing, tentunya.

(abudhabi, desember 2012)

Goliath dan Gaza

Posted in Kenangan by daengrusle on December 15, 2012

David and Goliath (Source: Wikipedia)

Goliath dan Gaza

Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath. Merujuk pada kitab Bibel, saat perang melawan bangsa Yahudi di Socoh Judah, dikisahkan Goliath yang perkasa setiap dua hari sekali dalam masa empat puluh hari berkoar-koar sesumbar tanpa henti. Ia menantang segenap bangsa Yahudi itu untuk bertarung duel satu lawan satu. Saul, pemimpin Yahudi saat itu sungguh tak mampu menghadapi tantangan Goliath hingga kemudian Daud remaja datang menawarkan diri. Di hadapan Daud, Goliath perkasa itu mampus seketika hanya dengan sebuah lemparan batu kecil tepat di kepala besarnya.

Namun kini ketika ribuan tahun berbilang, keadaannya kini sungguh berbalik. Palestina kini adalah Goliath yang kerempeng, pias dan mengiba. Keperkasaannya terserak bersama puing bangunan yang luluh lantak diterkam buldozer kebiadaban sebuah rezim Setan Kecil. Suara raksasa yang dulu lantang menantang Daud kini tenggelam oleh desing peluru atau hentakan mortir mengarah kepada penduduk Gaza yang seperti sibuk berhitung waktu menunggu ajal menjemput, tak peduli usia, jenis kelamin, bahkan agamanya. Goliath, petarung legendaris Palestina itu kini seperti berada di ujung ring, terdesak dan hanya berusaha bertahan agar tak jatuh. Jatuh, juga mungkin akan berarti punah. Sebuah nasib yang terbilang, dan karenanya kini dipertaruhkan. (more…)

Orowane Tu Malompoe

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 9, 2012

Mallarangeng Bersaudara mengapir Wapres Boediono (Sumber: Reuters)

Tak banyak kekaguman dihantarkan untuk peristiwa yang sesungguhnya biasa saja. Pejabat mundur karena dijadikan tersangka, itu wajar seharusnya.

Menjadi tak wajar karena hal itu jarang terjadi. Jangankan dijadikan tersangka, ada pejabat yang nyata-nyata sudah melakukan pelanggaran etika dan menghina moralitas bangsa pun masih enggan melepas jabatan publiknya. Bahkan, ada tokoh yang sudah melontarkan fitnah SARA masih berbual hendak jadi presiden.

Di negeri yang konon ramah dan mengagungkan perilaku bijak, malu dan kemaluan menjadi barang yang murah meriah harganya. Pejabat yang meski perilakunya sudah malu-maluin, memalukan diri, keluarga dan masyarakatnya, masih enggan mundur dan berdiri tegak dengan muka badak di panggung ketenarannya, di singgasana kekuasaannya.

Jabatan publik, sejatinya dipegang orang-orang yang tanpa cela, pejuang sejati. Yang rela mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemaslahatan ummat, bukan untuk diri sendiri, apalagi untuk kocek sendiri. Demikianlah, harapan mengikut pada jabatan, tuntutan menyertai sebuah wewenang.

Andi Alifian Mallarangeng, hari ini menghiasi lini masa ruang baca kita. Beliau mundur sebagai pejabat hanya sehari setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi proyek Hambalang. KPK menengarai kakak dari Rizal dan Choel Mallarangeng ini menyalahgunakan wewenang sebagai Menpora saat mengegolkan proyek pembangunan kawasan atlet megah di selatan Jakarta itu. (more…)

Tagged with: , ,