…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

PASUKAN RAMANG: Teaser Posternya

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 27, 2013

Alhamdulillah, teaser awal sudah beredar. Untuk foto lebih besar bisa di klik di link ini.

Berita lain seputar pembuatan film dokumenter panjang ini, silahkan buka Web Pasukan Ramang.

Teaser Pasukan Ramang - (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi

Teaser Pasukan Ramang – (design by @asnurSV photo by @aiwajdi) pic.twitter.com/OgoKGCfiSi

Tata Saraila, Sang Legenda Dunia Kelam Makasar

Posted in Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 27, 2013

Kisah tentang Tata Saraila kini memudar. Tak banyak lagi orang-orang mengingatnya, kecuali beberapa kilas. Bagi yang masih mengingatnya tentu tak lain karena bertaburnya cerita seram terutama tentang mitos perilaku menyimpang yang membuat anak-anak lelaki usia sekolahan bergidik. Sang Tata pernah menjadi salah satu ikon paling menakutkan di Makassar tahun 1980an. Kini, ia hidup dalam dunia yang putih, seputih rambutnya yang kini beruban.

Tata Saraila di usia senja - kanan berbaju kuning (foto dikuti dengan izin dari @sushibizkid)

Tata Saraila di usia senja – kanan berbaju kuning (foto dikutip dengan izin dari @sushibizkid) – berfoto bersama salah satu penggiat MUFC Makassar

Di suatu siang yang terik di tahun 1988, saya melintasi kawasan Pusat Pertokoan Ujungpandang bersama seorang kawan. Ketika itu saya masih tercatat sebagai siswa kelas satu di salah satu SMP negeri di bilangan Pecinan Makassar. Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar teriakan bernada mengejutkan. “Whoaaaaaa!” Suara itu berat dan terkesan sangar. Seketika kawan saya berteriak “Tata Sarailaaaaa!. Saya bergidik, secepat mungkin berlari menjauhi pemilik suara. Sang kawan sudah jauh berada di depan, dan saya terengah-engah menyusulnya, menyeberangi hilir mudik pete-pete yang lumayan padat di jam makan siang itu. Ketika mencapai jalan Timor dan kemudian setengah berlari masuk ke jalan Bali, saya sudah merasa aman. Kawan saya menunggu depan Makassar Theatre, salah satu bioskop terkenal di Makassar saat itu. Sudah aman rupanya.

Tapi pengalaman singkat itu menyimpan trauma yang tak lekang hingga kini. Bukan karena ketakutan mendengar teriakan seram nan berat itu, tapi karena kisah seram di balik sosok Tata Saraila yang belakangan baru saya dapatkan dari obrolan kawan-kawan dan kakak saya.

==

Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)

Toko Sentral Jaya, salah satu ujung Pusat Pertokoan yang masih bertahan (foto dari http://www.skyscrapercity.com/)

Gondrong Baluta’. Demikian anak-anak sekitaran Pusat Pertokoan Makassar menyebut sosok preman sangar itu.  Gondrong baluta’ mengindikasikan rambut gondrong yang dibiarkan tumbuh panjang tak terurus. Sekujur tubuhnya dilukisi tatto dengan segala macam gambar, paling banyak mungkin rajah dengan bentuk yang menakutkan, tengkorak, ular atau naga. Jari dan lengannya  juga dihiasi dengan asesoris cincin akik besar dan gelang hitam. Tahun 1980-an ketika Pusat Pertokoan masih ada, Tata Saraila dikenal menguasai kawasan pusat perniagaan kota yang saat itu masih bernama Ujungpandang. (more…)

Lebih Tangguh Dari Kartini

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 22, 2013

Sudah saatnya pemerintah  Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk sosok lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa, semisal sosok Colliq Pujie, pejuang dan sastrawan asal Bugis.

Ilustrasi (sumber: sijarangpulang.wordpress.com)

==

Kartini adalah monumen sejarah yang dirawat secara bersama dan berkelanjutan oleh rangkaian penguasa negeri ini. Sosok perempuan asal Rembang ini dipuja-puji tidak saja oleh penjajah asing, tapi juga pemerintah paska penjajahan. Sejak sosoknya dipopulerkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan politik etisnya, pemerintah Jepang turut pula mengharumkan namanya dengan memulai tradisi perayaan hari lahirnya sebagai hari Kartini sejak tahun 1944.  Upaya ini semakin dilestarikan oleh pemerintah Indonesia di masa Soekarno, Orde Baru hingga Orde Reformasi kini.

Namanya makin harum dengan lagu, buku dan dihelatnya perayaan untuk mengingat “perjuangan” putri kelahiran Jepara ini. Melalui hari Kartini, bangsa negeri ini mengenal tradisi anak-anak putri yang berkebaya dan berkonde – sesuai dengan busana Kartini yang dikenal luas dalam semua potretnya, dan mengheningkan cipta untuk sang pejuang emansipasi. Meski telah ditahbiskan sebagai pahlawan, namun kontribusi nyatanya ke perjuangan kemerdekaan Indonesia masih dipertanyakan hingga kini. Ada banyak pejuang perempuan Indonesia yang se-zaman bahkan lebih dahulu dan lebih tangguh dari Kartini namun terkesan senyap di lintas sejarah Indonesia dan tak diistimewakan seperti laiknya Kartini.

Mengapa Kartini Saja

Kartini muncul di saat yang tepat, ketika pemerintah penjajah Belanda sedang menggiatkan politik etis. Ideologi politik yang juga dikenal sebagai politik Balas Budi ini dicetuskan pertama kali oleh Van Deventer (w. 1915) dan lantas dikukuhkan oleh Ratu Belanda Wilhelmina yang naik tahta tahun 1901, dengan maksud untuk lebih memerhatikan kondisi penduduk negeri jajahan termasuk Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia saat itu. (more…)

Tagged with: ,

Rempah: Aroma dan Petaka Mencari Indonesia

Posted in Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 21, 2013

Setiap menyantap nasi briyani atau nasi mandi yang disajikan restoran Arab dan India di Abudhabi, selalu lidah saya mengecap sesuatu yang rasanya pernah menjadi milik Indonesia; rempah, terutama cengkeh dan lada.

Musabab rempahlah, Indonesia menjadi negeri paling menarik bagi bangsa Arab dan Eropa; Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Mereka rela bercapai-capai mengelilingi dunia hanya untuk menjejakkan kakinya di negeri yang pernah dianggap mitos surga rempah. Inilah yang kemudian menjadi muasal bergeraknya roda nasib dari bangsa yang berdaulat dan berkebudayaan tinggi kemudian terpuruk menjadi kaum paria yang terjajah ratusan tahun; rempah!

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Malabar_MapExplorationRoutes

Seribu tahun silam, orang Eropa muak dengan sajian menu hariannya. Daging yang amis dan sayuran hambar setiap hari menghiasi meja makan mereka. Hanya karena tuntutan untuk terus bertahan hidup mereka menjejalkan makanan-makanan itu, dengan sedikit tambahan garam sebagai penawar rasa hambar, ke dalam perut mereka. Sejak lama selera makan mereka sudah runtuh bersama abad kegelapan yang pekat.

Hingga kemudian sekelompok pedagang yang kembali dari Levante, negeri-negeri di bibir laut Mediterania, memperkenalkan serbuk beraroma tajam yang kemudian dikenal dengan nama el picante dalam bahasa Iberia. Di dunia kuliner, kita menyebutnya rempah (spice) yang menjadi penyedap sekaligus pengundang selera makan. Orang Eropa yang hidup di negeri empat musim itu kegirangan, mereka seakan menemukan babak baru dalam kehidupan mereka. Adios masakan hambar! Begitu kira-kira pekik mereka.

Namun rempah rupanya tak lantas mudah didapatkan. Juga tak murah. Serbuk eksotis ini diperdagangkan secara monopoli oleh orang Venesia dan hanya di tempat tertentu sesuka mereka; di pasar-pasar Venesia, Belgia dan London. Kalaupun menemukannya di lapak dagang, orang Eropa memerlukan merogoh pundi emasnya dalam-dalam. Secuil lada, pala, cengkeh, atau kayumanis, dihargai teramat mahal. Harganya nyaris lebih tinggi dari emas dan bisa dipertukarkan laiknya uang. Di Prancis, dua ons lada bisa membeli seorang budak dewasa, sedang di Inggris jumlah yang sama bisa membayar sewa rumah setahun. Di Genoa, para prajurit bahkan diberi upah sebesar satu kilogram lada untuk setiap perang yang dimenangkannya. Rempah menjadi barang prestisius dan simbol status sosial. Orang pun mahfum menjadikan rempah sebagai tabungan. Di Prusia (Jerman), penduduk menggunakan satuan pepper-sack, kantong rempah, sebagai ukuran kekayaan. (more…)

Tagged with:

Dekat Rumah dan Bermewah Dalam Bahasa

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 9, 2013
Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011

Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011

Hidup berpindah merupakan kemewahan. Terutama dalam mencerap bahasa dan ragam budaya berbeda di “dekat rumah”. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Saya lahir di Wajo dan besar di Makassar. Terlahir dari keluarga berlatar suku bugis maka saya dibesarkan dengan bahasa bugis sebagai bahasa lidah ibu sehari-hari (mother tongue). Kedua orang tua saya dan kakak-kakak berkomunikasi dalam bahasa bugis. Seperti dirancang sebagai pembeda tempat lahir, adik-adik saya yang lahir di Makassar diperkenalkan dengan komunikasi bahasa indonesia dialek makassar.

Alhasil, penghuni rumah menggunakan dua bahasa pengantar; bugis dan indonesia dialek makassar. Meski agak aneh, tapi komunikasi dalam dua bahasa itu bisa nyambung saja. Kedua orang tua saya masih mempertahankan moda komunikasinya dalam bahasa bugis, sedang adik-adik saya menimpalinya dengan bahasa Indonesia. Mereka bercakap dalam bahasa berbeda, tapi saling memaklumi maksud masing-masing.

Sejak tahun 1980, keluarga saya menetap di Pannampu. Tetangga dekat rumah saya umumnya juga bersuku bugis; bone, wajo, soppeng, sidrap, maros dan sekitarnya. Namun lingkungan Pannampu secara umum dihuni oleh penduduk berbahasa Makassar, terutama bagi para pedagang pasar Pannampu yang lokasinya berdempetan dengan rumah kami (Baca juga: Menunggu Mereka Bermain Api di Pasar Pannampu). Juga, kawan-kawan di sekolah umumnya bersuku Makassar.

Jadilah saya dalam sepergaulan menggunakan bahasa yang bercampur baur; bugis, makassar dan Indonesia. Dalam masa kecil saya itu, tanpa saya sadari, saya bermewah-mewah dengan alam linguistik yang beragam. Tiga bahasa berbeda bisa berkelindan dan tak menimbulkan kecanggungan dalam berkomunikasi. (more…)

Tagged with: