…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Semesta Kobokan

Posted in percikrenungan, Renungan by daengrusle on February 21, 2016

semesta-kobokan

[tulisan ini juga dimuat di web Riverpost]

Saya selalu membayangkan Ibu ketika membasuh tangan di dalam kobokan. Ia seperti ibu, yang selalu mengingatkan bahwa pikiran harus sering-sering dibersihkan.

Di masa kanak-kanak, saat yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika makan malam bersama di rumah. Selain menikmati masakan ibu yang selalu sedap di lidah, saya selalu bersemangat memerhatikan bagaimana kobokan berpindah dan berubah warna sedemikian rupa. Bagi keluarga kami yang penutur bahasa Bugis, kobokan dinamai akkenynyong; oleh orang Makassar ia disebut cimbokang, atau kimbokang.

Kami menyantap makanan dengan menggunakan tangan. Sendok hanya dipakai untuk mencedok sayuran dan nasi. Garpu tak ada, karena memang tak pernah kami gunakan. Dengan menggunakan tangan saja, sendok dan garpu tak akan punya peranan sama sekali di atas piring kami. Di meja makan, hal pertama yang menjadi perhatian kami semua adalah kobokan, wadah air yang berbentuk mangkok kecil dari bahan gelas atau besi yang cukup memuat satu kepalan tangan. Kami tak akan bisa memulai santap bersama kecuali kobokan sudah tersedia, untuk membersihkan tangan sebelum menyentuh makanan. Air bening yang mengisi kobokan ini diambil dari bak penampungan di dapur atau kamar mandi. Pada saat itu, meski kami berlangganan air bersih yang mengalir melalui keran, tapi aliran air hanya bisa dinikmati pada saat-saat tertentu saja dan biasanya tengah malam. Dan karenanya, kobokan menjadi satu-satunya alat bantu bagi kami untuk membersihkan tangan sebelum makan dengan lahap.

(more…)

Tagged with: , ,

UNREG [spasi] MAMA: Dari Ketiadaan Menuju Ketiadaan

Posted in agama, My Self-writing, Nasional, percikrenungan by daengrusle on May 18, 2010

Perencana atau istilah kerennya planner adalah profesi turunan dari peramal juga. Seorang perencana adalah perancang peta masa depan, dengan berbekal informasi-informasi pendukung baik yang sudah ada maupun yang dirancang sedemikian rupa untuk diadakan, untuk merekayasa masa depan agar sesuai dengan target capaian yang diinginkan.

Peramal juga berusaha memetakan masa depan, dengan ‘membaca’ penanda-penanda alam yang bermunculan di masa kini atau masa sebelumnya. Sebenarnya peramal hanya mencoba memformulasikan pengetahuan yang lazim dipakai binatang atau manusia ketika membaca alam. Bagi yang bisa membaca bagaimana reaksi hewan-hewan hutan yang lain dari biasanya, maka bisa diramalkan akan terjadi gempa atau bencana alam di kawasan yang berdekatan dengan hutan tersebut. Hal paling mudah adalah dengan melihat awan gelap berarak-arak yang disertai guntur menggedor angkasa berbarengan dengan kilat menyambar-nyambar, maka suatu kelaziman bahwa akan turun hujan yang bisa saja membawa bencana lain; angin ribut, banjir, atau longsor.

Tanda-tanda alam itu lebih banyak yang tersirat dibanding tersurat, lebih sering tersembunyi daripada kasat mata. Karenanya banyak orang gagal mengantisipasi musibah, bahkan ketika teknologi sedemikian canggihnya saat ini. Kemampuan membaca tanda-tanda yang tersembunyi itu konon tidak dimiliki oleh semua orang. Disamping memang karena bakat yang dibawa lahir, juga diperlukan latihan dan disiplin yang intens. Mama Lauren dan para ahli nujum ‘mungkin’ menjalani ritual yang ketat dalam mencapai pengetahuan membaca tanda-tanda alam ini.

Namun ada anomali yang membuat kita kadang meluruhkan rasa percaya pada ahli nujum ini, mereka terkadang tak mampu meramal nasib sendiri. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap premis kemampuan ahli nujum untuk memetakan masa depan. Mama Lauren, ahli nujum kesohor itu pernah terjebak banjir di rumahnya di bulan Januari 2009. Sementara tetangga-tetangganya yang bergerak cepat dgn mengungsi ke daerah aman bisa ‘membaca’ tanda-tanda banjir itu beberapa jam sebelumnya. Ki Joko Bodo mesti menjomblo terus meski sudah berupaya berpartisipasi dalam acara Takes Celebrity Out yang digeber salah satu stasiun televisi. Sementara banyak ‘pasien’nya mudah saja mendapat jodoh. Ki Gendeng Pamungkas pun demikian, alih-alih memenangkan masa depan, dia takluk dalam pilkada Bogor beberapa waktu lalu. Ustad Quraish Shihab mengajukan proposisi yang cukup telak untuk memvonis semua ahli nujum: peramal berbohong, walau kebetulan benar. Itu karena tidak semua masa depan yang dipetakannya terjadi. Bahkan lebih banyak salahnya, mungkin. (more…)

Tagged with: ,

Jika Anda Mengaku Melihat Tuhan

Posted in percikrenungan by daengrusle on April 14, 2010

Alkisah seorang berperawakan kurus, berbusana kumal dan kulit yang gelap memasuki sebuah kota bernama TakBertuan. Kota ini hanya dihuni oleh lima orang sahaja, seorang teolog – ahli kalam, seorang filosof, seorang sufi, seorang qawariyyun, dan seorang fuqaha bermanhaj apa-aja-yang-penting-sesuai-dengan-ulama-tempo-doloe.

Sesampai di gerbang Kota TakBertuan, si orang asing itu berteriak lantang, “Hai penduduk kota, saya baru saja bertemu Tuhan di luar gerbang kota ini!

Dialog Dengan Teolog
Sang teolog adalah orang yang pertama-tama menjumpai sang orang asing, kemudian mewawancarainya.
“Siapakah Anda yang menyatakan baru saja menjumpai Tuhan?
“Saya seorang Nabi”
“Apa buktinya Anda seorang Nabi?
“Saya baru berjumpa Tuhan, dan Dia mengangkat saya sebagai Nabinya”
“Apa lagi yang diberikan Tuhan pada Anda?
“Saya dianugerahi mujizat dan membawa risalah kenabian”
“Coba terangkan risalah yang Anda dapatkan itu dan mujizat seperti apa?
Sang Nabi kemudian menjelaskan risalahnya, rukun-rukun nya, perintah-perintahnya dan lengkap dengan mujizat.
Sang teolog mencatat semua penjelasan sang Nabi dan menuliskan semua dogma-dogma yang terkandung dalam risalahnya. Sang teolog puas, kemudian pulang ke rumah untuk menyimpan dogma-dogma tersebut.

Dialog dengan Filosof
Sang Filosof, yang mendapatkan kesempatan ke-dua kemudian menghampiri sang orang asing.
“Anda baru saja menjumpai Tuhan, betulkah?
“Betul. Baru saja saya menjumpai nya di luar gerbang”
“Seperti apa wujud Tuhan. Apakah pernyataan Anda otentik dan memenuhi semua alasan yang cukup untuk membenarkan pernyataan itu?
Sang filosof kemudian berdebat dengan sang orang asing tentang Tuhan yang baru saja ditemuinya. Mulai dari kemutlakan wujud nya, sifatnya, hingga bagaimana Tuhan bisa bermanifestasi menjadi wujud yang dijumpai sang orang asing”.
Selesai berdebat, dengan segala macam aksioma yang dihasilkan dari perdebatan serius itu, sang filosof pulang ke rumah dan membuat rangkaian alasan-alasan yang bisa membenarkan atau meragukan pernyataan si orang asing.

Dialog dengan Qawariyyun.
Sang qawariyyun hanya bertanya sekali, “Apakah betul Anda baru saja bertemu Tuhan?
“Betul, Dia berada di jarak lima puluh hasta dari gerbang ini” kata sang orang asing. “Dan aku lah Nabi yang diutusnya”
Sang Qawariyyun kemudian berjalan menuju gerbang kota. Dan memandang ke kejauhan seperti tercenung, seperti apa rupa Tuhan yang baru menjumpai si orang asing. Dia terpaku lama sekali, hingga kemudian setelah puas pulang ke rumah. Merenungi rupa Tuhan yang baru dijumpai si orang asing.

Dialog dengan Sufi
Sang sufi tak bertanya sepatah kata pun dengan orang asing. Ia langsung menuju gerbang kota dan keluar menuju tempat yang ditunjukkan oleh sang orang asing sebagai tempat pertemuannya dengan Tuhan. Sang sufi tak pernah kembali lagi bahkan hingga keesokan harinya.

Dialog dengan Fuqaha bermanhaj apa-aja-yang-penting-sesuai-dengan-ulama-tempo-doloe.
Sang Fuqaha keluar dari rumahnya membawa golok. Demi melihat sang orang asing yang mengaku baru saja melihat Tuhan dan mengaku nabi, ia segera menghunus golok.
Sekali tebas, kepala sang orang asing terlepas dari tubuhnya.
“Persoalan selesai!
Demikian ujar sang fuqaha dengan senyum tipis mengembang di bibirnya sambil membersihkan sisa darah yang masih melekat di bilah goloknya. Ia kemudian pulang ke rumah kembali beribadah sesuai manhaj yang diyakininya. “Terimakasih Tuhan telah membimbing tangan saya untuk menegakkan yang hak dan menumpas kemungkaran“.

Termasuk yang mana Anda?

dikutip dari kuliah Mysticism-ICAS, dengan banyak penyesuaian dari saya