…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

ITB Panggung Punggung Kita

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 18, 2014


(Presiden RI Ir. Soekarno & Presiden Vietnam Utara Ho Ci Minh (Paman Hoo) meresmiskan kampus ITB 1959- sumber: kaskus.co.id)

Menarik mencermati penolakan mahasiswa ITB baru-baru ini atas kedatangan capres PDIP yang juga Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Capres yang terkenal dengan panggilan Jokowi ini datang atas undangan Rektor ITB Ahmaloka untuk peresmian kerjasama ITB-DKI sekaligus diharapkan memberikan kuliah Umum. Namun, pihak mahasiswa ITB kemudian melakan demonstrasi menolak kehadiran Jokowi dengan alasan menjaga netralitas kampus atas symbol-symbol politik.

Di social media, berseliweran ragam pendapat alumni ITB dan lainnya mengenai aksi penolakan mahasiwa ITB ini. Ada yang mendukung, banyak pula yang menyayangkan. Tapi apapun itu, kita menghargai sikap mahasiswa ITB. Berbeda pendapat adalah lumrah, namun juga tak perlu berlebihan menunjukkan ketidakberpihakan atau keberpihakan. Masyarakat akan menilai, apakah kita menjaga panggung sakral kampus ITB yang terkenal anti otoritarianisme pejabat atau menunjukkan punggung buruk karena kebablasan menolak apapun yang berbau politik atawa apolitis.

==

Saya ingat ketika masih berstatus mahasiswa ITB, saat Indonesia sedang mengalami turbulensi politik jelang reformasi, kampus banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik. Sebahagian besar juga merupakan alumni ITB. Mereka datang ke kampus atas undangan teman-tema aktifis kampus, demi untuk sekadar bertukar pikiran atau lebih tepatnya menyerap pengalaman dan mengais informasi-informasi sensitive yang tak sempat diberitakan media. Koran-koran clandestine macam “ApaKabar” dan “Independen” menyebar dalam bentuk fotokopian. Juga Koran Kampus “Ganesha10” yang dikelola aktifis kampus jadi rebutan bacaan saat itu. Di kampus sejuk itu, kami mahasiswa di akhir 90-an ikut merasakan atmosfir politik Indonesia yang makin memanas.

Meski kampus ITB dibersihkan dari segala persentuhannya dengan politik, melalui kebijakan represif Orde Baru yang memberlakukan NKK/BKK sejak awal 1980-an, mahasiswa ITB tidak benar-benar absen dari diskusi atau kegiatan politik skala kecil. Demo-demo kecil menyikapi beberapa peristiwa politik seperti kasus Marsinah, KedungOmbo, dan sebagainya secara sporadis masih berlangsung. Meski tak benar-benar massif karena saat itu gerakan mahasiswa kampus terserak menjadi sebatas unit-unit kegiatan berskala jurusan atau seni-budaya. Organisasi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang sejak awal 1980an diajukan pemerintah sebagai pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) tak pernah diterima oleh mahasiswa ITB. Mereka mencurigai independensi organisasi itu karena dalam aturannya, pihak rektorat punya kewenangan tertentu yang dianggap merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Akhirnya para mahasiswa bersepakat untuk “kembali” ke himpunan, tanpa perlu membentuk organisasi besar semacam Dema, meski sesekali para ketuanya berkoordinasi dalam FKHJ (Forum Komunikasi Himpunan Jurusan).

Dalam setiap diskusi kemahasiswaan yang digelar teman-teman aktifis itu, saya hanya selalu berada di lingkar terluar, sebagai penggembira dan juga pelengkap. Mungkin karena sifat inferior saya sebagai mahasiswa yang tak melek politik tak banyak yang bisa saya sumbangkan saat itu, meski saat itu juga duduk di kepengurusan inti HMS, UKSS (Unit Kesenian Sulsel) dan Persetama (Persatuan Sepak Takraw Mahasiswa). Tapi saya mencatat lekat-lekat dalam ingatan, betapa nama-nama seperti Rene Conrad, Hery Akhmadi, Fadjroel, Ucok, Jumhur, Syahganda dan lain-lainnya menjadi rujukan pergerakan disamping nama-nama lainnya. Koleksi memorabilia kami adalah kertas-kertas fotokopian yang mencoba merawat ingatan kami bahwa ITB punya sejarah panjang melawan kezaliman penguasa. Sempat kami dijejali mitos bahwa di Indonesia hanya ada 3 gerakan kaderisasi yang paling berhasil “ABRI, PKI dan ITB”. Tak sekadar itu, kami juga riuh ketika membaca bajakan atau selundupan Buku Tetralogi Pram yang tetiba menjadi bacaan romantis kala itu.

Saat memuncaknya gerakan reformasi tahun 1998, ITB juga ikut meneriakan agenda reformasi. Saya ingat bagaimana symbol telapak tangan berwarna merah di atas latar putih diproduksi massif di ITB. Sepertinya “logo” reformasi itu memang produk anak-anak ITB, yang kemudian dikibarkan di setiap demonstrasi, termasuk saat pendudukan gedung parlemen di Senayan.
ITB, kampus tercinta saya itu sepertinya tak benar-benar bersih dalam arus lini masa sejarah politik Indonesia. Kalaupun ada yang berusaha netral dan tak mau membawa symbol politik ke kampus, mungkin maksudnya adalah menjaga ketidakberpihakan terhadap salah satu instrument politik yang sedag bertarung saat ini. Tapi bukan berarti bahwa kampus ITB dan mahasiswanya menjadi apolitis dan tak berpihak kepada, kepentingan masyarakat umum.

ITB adalah panggung kita, bahkan hingga kemudian menjadi sekadar panggung nostalgia yang bagi kami, alumni ITB, tempat kami mengumpul ingatan dan mengenang romantisnya menjadi anak muda yang anti-kepentingan politik. Tapi jangan sampai masyarakat kemudian melihat ITB seagai punggung yang tak penting, tak dikenali dan sehingga, tak bisa diharapkan kontribusinya kepada kepentingan mereka. Ingatlah 1978, 1989 dan 1998. Itulah panggung kita, bukan punggung kita.

Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Muhammad Ruslailang Noertika, SI-95 (Ketua Ikatan Alumni ITB Komisariat UAE)

(more…)

Advertisements
Tagged with: