…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hartman: Menomorduakan tuhan

Posted in Uncategorized by daengrusle on July 10, 2017

Hartman: Putting God Second

Ada kisah yang terjadi di masa lalu. Seorang kafir yang bertobat mendekati seorang pemuka agama. Dalam penyesalan dirinya mengingat dosa masa lalu, ia mengharap lirih “ajari aku tentang kitab sucimu”. Sang agamawan tersenyum ramah, “Mudah saja, bro. Apa yang kau benci, jangan lakukan ke orang lain. Inilah inti kitab suci, selebihnya hanya tafsiran-tafsiran saja. Laksanakan itu dan dirimu sudah memahami kitab suci seluruhnya”.

Semua tahu bahwa seorang agamawan tentunya bisa mengeja satu persatu semua dalil kebenaran yang bisa membela agama yang dia yakini. Semuanya ada dalam kitab suci, dan buat kita ketersediaan lembaran-lembaran kitab suci sungguh berlimpah. Tapi sang agamawan dalam kisah diatas memilih untuk tidak membacakan lembaran-lembaran kitab suci itu begitu saja. Ia memilih untuk menyederhanakannya, dengan bahasa yang teramat jelas. Ia membaca ulang keseluruhan kitab suci, tapi menggantinya dengan kalimat sederhana itu “apa yang kau benci, jangan lakukan ke sesamamu”.

Kisah diatas menjadi sumber inspirasi Donniel Hartman, seorang Rabbi yang hidup di Jerusalem, ketika ia menulis buku yang cukup unik “Putting God Second; How to Save Religion from Himself” [Menomorduakan Tuhan, Bagaimana Menyelamatkan Agama dari Dirinya Sendiri]. Donniel Hartman, rabbi Yahudi yang juga ikut mengkampanyekan solusi dua-negara di Israel-Palestina, cukup gusar dengan kenyataan bahwa agama-agama monoteis, yang asalnya adalah sumber ajaran moral, alih-alih menjadi salah satu musabab kehancuran dunia modern saat ini. Atau paling tidak, dijadikan semacam pembenar untuk saling membunuh.

Kita boleh setuju, atau menolak kegalauan Hartman. Tapi mengakui bahwa banyak persoalan muncul karena klaim keagamaan pihak tertentu, kemudian dijadikan aksi sepihak yang kadang merusak tatanan yang ada adalah keniscayaan. Kata Ibnu Rusyd, filosof Aristotelian yang terkenal itu, “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yg batil dengan kemasan agama”.

Tentu saja agama yang dimaksud bukanlah agama yang diperjuangkan para nabi dan mereka yang mendudukkan ajaran moral dan etis sebagai landasan hidup. Agama yang dibincangkan diatas adalah agama yang sudah tercemar oleh kekuasaan, apapun itu.

https://www.brookings.edu/…/putting-god-second-how-to-save…/