…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Kapan Pulang Ke Kampung?

Posted in Kenangan by daengrusle on September 8, 2010

Pertanyaan ini mengusik saya sekelebat pagi ini, di sela kemalasan luar
biasa menyelesaikan *clearance* pekerjaan tersisa.

Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan
sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita
dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?

Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian.
Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang
berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian
orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.

Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi
selamanya?

Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika
tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban
subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan
aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang
setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil
dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa
dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu
yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua
dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang
telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita,
menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing
yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.

Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan
yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah
dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita
mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke
kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme
kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian
mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti
belingsatan menjadi penyanyi.

Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk
disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota
besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa
padanya.

Tagged with: , ,