…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Catatan dari Temasek

Posted in Kenangan by daengrusle on January 26, 2010

Ahad sore selepas ashar, pintu keberangkatan D-44 di Changi International Airport riuh oleh calon penumpang. Nyaris tak ada kursi tunggu yang kosong. Tidak kurang dari 200 calon penumpang menunggu diterbangkan sang burung besi kembali ke Jakarta. Meski begitu, hawa dingin dan segar yang keluar dari mesin pendingin udara bandara tercanggih di kawasan Asia ini membuat nyaman semua penumpang.

Beberapa pelancong berwajah melayu-jawa menyempatkan diri berfoto-foto ria di salah satu sudut, mencoba mengabadikan momen seperti hendak berkata “I was here”.Yang lainnya asyik menata kantong-kantong belanjaan berlogo wahana-wahana shopping yang jamak dikunjungi pelancong di Singapura; Takashimaya, Paragon, Suntec, Ionorchad, Vivocity, Mustafa, dsb. Wisata belanja memang menjadi semacam magnet yang menarik para pelancong ke negeri yang dulunya bernama Temasek ini. Beda harga barang ber-merk antara Jakarta dan Singapura saat “Sale” bisa jomplang gak ketulungan. Menurut cerita kawan bisa sampai beda 2-3x lipat. Belum lagi pajak yang bisa di-reimburse. Singapura memang sorga para shopaholic.  Sementara Jakarta adalah antitesisnya.

Ketika flight announcer mengumumkan pesawat siap boarding, para calon penumpang kemudian bergegas menuju labirin persegi berbentuk belalai yang menghubungkan terminal dengan pesawat. Seorang lelaki hitam bertubuh besar dan kasar tak mau ketinggalan. Ditentengannya, dua kantong plastik besar berwarna kuning menggayut paksa. Dari tentengan di tangan kirinya, menyembul dua botol besar berwarna coklat. Entah minuman keras atau obat-obatan. Tampangnya yang hitam dan keras mungkin memberi petunjuk arah tebakan kita. Silahkan menebak sendiri, tentu tak penting isinya apa buat kita. (more…)

Advertisements
Tagged with: ,

Wisata Miskin Membuat pak Menteri Terhina, Lantas apa Mobil Dinas Mewah Crown itu tidak kurang Menghina nya?

Posted in Kenangan by daengrusle on January 20, 2010

Saya tentu bukan jenis manusia yang bersih dari segala kejumawaan. Karenanya, sering berintrospeksi diri sebelum dan sesudah menyampaikan serapah untuk hal-hal terlihat yang mengguncang nurani. Kadangkala malah saya menyerapahi diri sendiri, berhubung karena dengan congkaknya melakukan sendiri hal-hal yang seharusnya masuk dalam kantong sampah serapah saya.

Anyway, untung saya bukan pejabat publik. Hanya seorang pemimpin keluarga dan anggota masyarakat yang diberi fasilitas tidak sebanyak para pejabat publik. Jadi kadar dosa karena menggunakan fasilitas yang didapatkan dari uang rahayat juga tidak sebanyak kaum ambtenaar itu.

Terhinakan tentu ada kadarnya. Kadar terhina seseorang beda dengan yang lainnya. Terhina sangat berkaitan dengan pride atau kehormatan. Kalau kehormatan kita tersenggol sedikit apatah lagi tercabik, maka outputnya bisa disalurkan dalam bentuk kemarahan. Entah kemarahan yang diungkapkan dalam bentuk laku negatif, entah kemarahan yang dipendam dalam diam, cemberut atau pun doa sebagai korban kezaliman – tentu dengan perspektif kezaliman sendiri.

Pagi ini melihat berita di detik (Jero Wacik: Wisata Kemiskinan Menghina Kita), menteri Jero Wacik merasa terhina dengan adanya jenis wisata kemiskinan yang digelar oleh Ronny Poluan, dengan menggiring para wisatawan asing ke sentra-sentra pemukiman kumuh di seputar Jakarta. Tentu kita semua, warga ibu kota ini sudah terbiasa dengan tontonan mengenaskan yang ada di sekitar lingkungan kita. Saking terbiasanya, kita menganggap hal mengenaskan ini lumrah adanya. Inilah ampas dari sebuah modernitas, collateral damage dari sebuah ideologi pembangunan. Namun para turis bule itu pasti sulit mendapatkan tontonan ‘menarik’ ini di negeri mereka yang tergolong maju.

Ronny Poluan menyelenggarakan jenis wisata unik ini sejak tahun 2008, konon peminatnya cukup banyak. Bagi mereka yang sekedar hendak menengok kehidupan bawah dan ber-empati dengan hidup mereka yang susah, tentu wisata ini bisa menyegarkan nurani dan religiusitas mereka memaknai hidup yang kadang tak menentu. Roda berputar, mereka bisa jadi berganti kedudukan. Hidup memang tak bisa di-absolutkan.

Namun, kadar keterhinaan pak menteri perlu ada parameternya. Juga penyeimbangnya. Apakah memang wisata kemiskinan ini menghinakan nurani dengan standard yang semestinya, atau ternyata ini adalah sebuah cermin atas diri sendiri. Kalau wisata kemiskinan itu menghina kemanusiaan pak menteri, lantas apa atribut untuk sebuah kemewahan fasilitas yang diberikan kepada sang menteri itu sendiri? Sebuah mobil dinas mewah bertajuk Toyota Crown Royal Saloon apakah bukan merupakan sebuah penghinaan juga? Apakah ia tidak mencabik perasaan para pembayar pajak yang susah payah menyisihkan sebagian penghasilannya demi untuk menunjukkan baktinya kepada negara? Mobil dinas berbanderol nyaris Rp 1,3 milyard itu tentu bahkan dijejalkan ke dalam mimpi para pemukim kumuh pinggir rel kereta tidak akan ngepas, apalagi terbayang.

Terhinanya pak menteri adalah sebuah aib yang memercik ke muka sendiri!

=====
Rabu, 20/01/2010 13:08 WIB
Jero Wacik: Wisata Kemiskinan Menghina Kita
Nograhany Widhi K – detikNews


Dok. pribadi
Jakarta – Ada jenis wisata yang membuat Menteri Pariwisata Jero Wacik kesal. Wisata ini bukan untuk melihat keindahan Indonesia, tapi malah memamerkan kemiskinannya.

“Itu tidak ada wisata kemiskinan. Kalau ada orang yang menggagas itu saya tidak setuju. Itu menghina kita,” kata Jero Wacik di Istana Presiden, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2010).

Jero Wacik menyatakan, kemiskinan tidak boleh dipakai untuk berwisata dan seharusnya dientaskan. “Kemiskinan itu harus dientaskan dan itu merupakan tanggung jawab kita semua,” katanya.

Wisata kemiskinan digagas Ronny Poluan sejak Januari 2008. Ronny menawarkan tur ke daerah kumuh di Jakarta dan bukan lokasi bersejarah atau tempat-tempat indah dan modern, seperti yang dilakukan sejumlah biro perjalanan wisata pada umumnya.
(nal/iy)

======

Senin, 28/12/2009 11:33 WIB

Semua Pimpinan Lembaga Tinggi Negara Terima Toyota Crown

Elvan Dany Sutrisno – detikOto
Gambar
Mobil dinas Menko Perekonomian (hen)

Jakarta – Bukan hanya menteri yang mendapat mobil dinas baru Toyota Crown Royal Saloon. Semua pimpinan lembaga tinggi negara juga menerimanya.
(more…)

Tagged with: ,

Apa Daya

Posted in Random by daengrusle on January 19, 2010

Lama tak meng-update blog ini, sepertinya ada rasa bersalah. Padahal salah satu resolusi tak tertulisku di tahun 2010 ini adalah akan mengupdate blog minimal sesering mungkin, minimal seminggu sekali. Namun kenyataannya, seperti biasa, inkonsistensi mendera diriku. Belum lagi soal kepentingan stakeholder yang menyita banyak energi, hehe2 alasan klasik, meski sebenarnya kalau mau dipaksakan waktu bisa dibekukan dengan memaksa diri ini mematut muka di depan layar komputer. Apa daya, kombinasi kemalasan dan inkonsistensi membuat satu resolusi ini terbengkalai.

Demikian penjelasa tak tuntas. He3.