…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

poligami baik poligami buruk

Posted in Renungan by daengrusle on February 23, 2007

filem

Dato Rukiyah Kebo, (barokallahu alaiha), mendiang ibu angkat saya ketika masih kuliah di Bandung dulu tahun 1998, adalah seorang wanita keturunan bangsawan strata tinggi suku Bugis yang memutuskan menikah dengan tentara asal madura, mendiang Kolonel Sayuti Widjaja. Sang Dato pernah bertutur, ketika memutuskan menikah dengan sang Kolonel, beliau sadar sepenuhnya bahwa sang Kolonel masihlah berstatus suami sah seorang wanita di negeri asalnya Madura. Awalnya beliau menolak pinangan sang Kolonel, karena merasa takut tak mampu menjalani hidup sebagai madu dari wanita sesamanya. Namun ketika membaca surat sang istri pertama yang ditujukan ke beliau, menghaturkan perkenannya bagi sang suami untuk menikah lagi, sang Dato kemudian luluh dan jadilah mereka pasangan suami istri kala itu. Sejak pernikahan sampai kepada kematian mereka, ketiga hamba yang dikasihi Tuhan itu bersama-sama anak mereka hidup rukun dan damai. Mereka menikmati kebahagiaan tersendiri dalam berbagi cinta. Sang Dato, wanita bangsawan itu kemudian meninggal tahun 2000 karena stroke, mewariskan gelar pribadi buat saya, Daeng Kiyo’, yang dalam bahasa makassar berarti Orang yang Memanggil. Tak tahu maksudnya apa. (more…)

tktq+ ??

Posted in Renungan by daengrusle on February 19, 2007

tktq+

http://www.tktq.net

Selama sepekan sebelumnya, saya sempat bergulat otak dengan sebuah web quiz teka teki yang sangat menarik dan menggelitik daya juang dan daya pikir. informasi awal mengenai kuiz ini diperoleh dari rekan di milis bloggermakassar. setelah mencoba beberapa kali, dengan memanfaatkan clue dari forum dan rekan sesama blogger makassar, akhirnya saya berhasil mencapai level 31.

Tapi level ini rupanya masih level kacangan karena setelahnya masih bejibun quiz dan puzzle yang disajikan untuk dilahap oleh otak kita. kalo liat di forum nya, untuk kelas 1, ada 20 level (level 1-20), untuk kelas 2 ada 20 level juga (21-40), level 3 ‘mungkin’ ada 20 level juga (mungkin karena di forum diskusi nya, topik diskusi level tertinggi masih di level 48). Nah kebayang kan masih ada sekitar 30 level lagi yang harus saya tuntaskan untuk menjadi ‘jagoan’ puzzle ini.

Namun, saya kemudian memutuskan untuk berhenti ‘berjuang’ mengingat kondisi kesehatan saya yang kurang baik akhir-akhir ini, juga banyaknya kesibukan di kantor yang mengejar-ngejar untuk dientaskan. Quiz ini sendiri cukup menyita waktu saya selama 2-3 hari pertama kenal, dan saya pikir sudah waktunya untuk diakhiri, mungkin saat luang lain dilanjutkan lagi. (more…)

aburizal bakrie: media membesar2kan soal banjir?

Posted in Renungan by daengrusle on February 7, 2007

jakarta

saya yang tinggal jauh dari Jakarta, menonton TV dan membaca Koran yang memberitakan bencana banjir ini sulit percaya kalau memang bencana ini “hanya” dibesar-besarkan oleh Media, apalagi kalau mencoba percaya bahwa pengungsi masih banyak yang tersenyum….
memang sikap legowo dan ikhlas menghadapi bencana merupakan sikap yang positif, tapi menafikkan penderitaan itu sendiri mungkin sesuatu yang berlebihan….

mungkin memang menjaDi kewajiban pemerintah untuk menenangkan masyarakat, sebesar apapun bencaNA yang menimpa mereka, tapi sekali lagi, menafikkan ‘penderitaan’ itu malah menunjukkan sikap ‘acuh tak acuh’ dan sejalan dengan pernyataan pak gubernur kalo ini “hanyalah’ fenomena alam biasa yang tak mungkin bisa dihindari…

nauzubillah, banjir tiap tahun dengan puncaknya setiap 5 tahun ini dianggap force majeure? kalau menjadi rutinitas tahunan ini bukan lagi bencana, tapi ketidakmampuan antisipasi.

saya yakin, pemerintah kota yang lain di dunia juga mengalami hal serupa. Kita sejak SD diajarkan bahwa negeri Belanda adalah negeri dengan sistem drainase dan tata air kota yang baik, sehingga selama RIBUAN tahun tidak pernah terendam air walaupun kenyataannya bahwa elevasi daratannya lebih rendah dari tinggi air permukaan laut….

memang saatnya tidak lagi mengharapkan pihak lain untuk menyelamatkan diri sendiri. masyarakat seperti pengemis saja, hanya diperhatikan ketika kesusahan, sementara masalah utama yang menjadi laten setiap saat tidak dicoba untuk dientaskan…. (more…)